
Olivia dan Derren pergi ke Jakarta, tepatnya untuk menemui kakek Tjiptadjaja yang sedang terbaring sakit, penyakit gagal ginjal yang di deritanya membuat tubuh pria itu semakin terlihat renta.
Sudah beberapa bulan belakangan kakeknya harus tinggal di rumah sakit, pria tua itu menolak untuk menjalani transplantasi ginjal, ia merasa sudah cukup untuk hidup. Ia sangat bahagia melihat cucu cucunya tumbuh dewasa, bahkan sempat melihat cicitnya Crystal dan Kevin tang tumbuh sehat dan menggemaskan.
Pria pendiam seperti Derren itu selalu mengatakan hidupnya sudah sangat sempurna, hingga ia terus menolak untuk di rawat di rumah sakit terbaik di luar Indonesia.
“Sofia, panggil Andrew dan Livia, oh iya Jonathan dan Tiffany juga untuk datang” kata kakek Tjiptadjaja.
Sofia terisak, ia menggenggam telapak tangan keriput suaminya.
“Kau jangan menangis, aku akan sembuh, aku hanya rindu mereka, aku ingin melihat mereka semua berkumpul”
“Baik” kata Sofia, “Derren, panggil ibumu dan Daddymu”
Derren mengangguk sambil keluar dari kamar inap kakeknya untuk menghubungi kedua orang tuanya,
Derren memanggil Naoki, memberitahu apa yang terjadi, kemudian ia memanggil Andrew.
Bournemount
Dave dan Merry telah menikah di London seminggu yang lalu dan mereka hari ini pindah ke Bournemount, Daniel tidak bersedia ikut tinggal di Bournemount karena anak itu lebih nyaman tinggal bersama neneknya.
Umurnya telah 11 tahun, tentu saja ia sudah bisa menentukan pilihannya, meskipun berat namun Dave dan Merry tidak ingin memaksakan kehendak mereka.
Sesampainya di rumah mungil dengan cat putih yang terletak di pesisir pantai Dave mendudukkan Merry di tepi ranjang sedangkan Dave membuka jendela agar udara yang terkurung di dalam ruangan itu berganti dengan udara baru.
Merry bangkit dan mendekati jendela, berdiri sambil memegamg sisi jendela menyapukan pandangannya keluar.
“Aku akan membawamu ke pantai sore ini, jaraknya hanya 500 meter dari sini, sekarang kau istirahatlah dulu” kata Dave sambil membuka kemeja yang masih melekat di tubuh kekarnya.
Merry mengangguk, sejenak keheningan menyeruak di antara keduanya.
“Aku tidak yakin kau akan betah tinggal di sini, ini hanya kota kecil dan sedikit terpencil” kata Dave lirih.
“Tidak masalah” guman Merry
“Kita akan mengunjungi Daniel setiap akhir pekan, saat ia libur sekolah kita akan membawanya ke sini” kata Dave sambil memeluk tubuh Merry dari belakang.
Merry kembali mengangguk, Dave mencium tengkuk Merry perlahan, tubuh Merry tampak menegang.
“Sayang, tolong percayalah padaku” bisik Dave pelan
“Jangan sakiti aku” erang Merry
Dave membalik tubuh Merry, memeluknya dari depan.
“Aku tidak akan melakukan apa pun jika kau tidak mengizinkan” kata Dave, meskipun jiwa kelaki-lakiannya bangkit dan terus menyiksa Dave harus bersabar untuk menyembuhkan trauma istrinya.
“Tapi aku ingin mencobanya” kata Merry pelan sambil menyembunyikan wajahnya di dada Dave, suaminya.
“Baiklah, aku akan berhenti jika kau ingin aku berhenti, jangan ragu ragu katakan saja kapan aku harus berhenti” kata Dave penuh kasih sayang
Merry mengangguk, Dave mulai mencumbu kulit Merry, melumat bibirnya, sedikit turun ke kulit leher dan dadanya lalu membawa istrinya ke atas ranjang.
Ketika sampai di bagian penyatuan tubuh, tampak Merry begitu tegang, tubuhnya bergetar hebat.
Dave mengurungkan niatnya, ia berbaring di sisi tubuh Merry, lalu menarik selimut untuk tubuh Merry lalu memeluknya.
“Kita lakukan saat kau siap” kata Dave sambil mengecup pucuk kepala Merry
“Maaf” isak Merry, nafasnya terengah engah seperti ia telah berlari sejauh berkilo kilo meter.
“Jangan menangis, kita pasti mampu melalui ini”
Merry mengatur nafasnya,
“Dave ayo coba sekali lagi”
“Jangan memaksakan dirimu” kata Dave dengan nada lembut
“Kali ini aku bertekad” kata Merry sambil membuang selimut yang menutupi tubuhnya, ia meraih ponselnya dan menghidupkan musik yang terdengar santai dan romantis “Ku harap ini bisa membantu”
Mereka berdua memulai saling menyentuh, dengan sangat perlahan Dave memberikan dorongan pada Merry.
“Jangan tutup matamu, lihat aku” kata Dave saat mereka tiba di bagian inti permainan yang akan mereka bangun.
Merry mengangguk meskipun tubuhnya sekaku kayu.
“Rileks saja sayang dan lihat aku. Merry, aku mencintaimu” kata Dave lirih, itu pertama kali Dave dalam hidupnya mengatakan ia mencintai seorang gadis, meskipun dulu di masa lalu dalam pelariannya ia berganti ganti gadis yang ia kencani, dan terbukti kata kata itu berhasil membuat Merry rileks “Berikan dirimu padaku sayangku”
Merry mengangguk lagi, ketika kedua tubuh itu bersatu Dave memandang wajjah Merry, tatapan mata mereka beradu cukup lama.
“Apa aku boleh melanjutkan?” tanya Dave
Wajah Merry merona merah padam, bibirnya menyunggingkan senyum, ia mengangguk malu malu.
“Terima kasih sayang” geram Dave, ia menggerakkan pinggulnya perlahan, ia sangat takut menyakiti Merry
“Apa sakit?”
Merry menggeleng, wajahnya masih merona.
“Pejamkan matamu dan nikmati” bisik Dave sambil mere**s gundukan kenyal di dada Merry yang membuat Merry melenguh dan tampak mulai bisa menikmati permainan yang Dave pimpin hingga mereka berdua mendapatkan pelepasan.
Merry menyembunyikan wajahnya di dada Dave, ia tampak kelelahan hingga tertidur nyenyak dan melewatkan sunset pertama di pantai hari itu.
------
Sementara sejak kepergian kakek Tjiptadjaja 3 bukan yang lalu, Sofia Tjiptadjaja memilih tinggal di Tokyo karena di Jakarta ia tidak memiliki siapa siapa lagi, semula ia berniat kembali ke Irlandia namun Derren dan Jonathan tentu saja melarang neneknya, akhirnya Sofia memilih tinggal bersama Livia untuk mengawasi Kevin dan Crystal karena kedua balita itu setiap hari tinggal di kediaman Livia saat kedua orang tuanya bekerja.
Kecemburuan tampak jelas di mata Zakia saat Sofia lebih memilih tinggal bersama Livia, bagaimanapun ia adalah menantu dari putra kandung mereka Andrew, namun sekali lagi ia tidak bisa berbuat apa apa meskipun Zakia terus menggerutu pada Andrew suaminya.
“Uzbekistan tidak akan cocok untuk mommy, ia terbiasa tinggal di Tokyo dan Jakarta sejak menikah dengan mendiang daddyku” kata Andrew, ia tidak membela Livia maupun membual, itu adalah fakta.
Beberapa bukan kemudian Olivia melahirkan seorang putra tampan, tentu saja mirip Derren, Derren memberi nama Sean Ferrell Tjiptadjaja. Olivia tidak di beri kesempatan memberi nama karena menurut Derren, jatah Olivia telah habis saat ia memberi nama untuk Crystal.
Sedangkan Kasus sidang perseteruan Nobu dan Jonathan tentu saja di menangkan oleh Jonathan.
Anastasia di deportasi dan di kembalikan ke negaranya, sedangkan Nobu ia harus mendekam 5 tahun di penjara, sebenarnya Jonathan tidak puas dengan putusan itu, namun Naoki melarang Jonathan untuk mengajukan banding, Naoki telah memperhitungkan suatu saat Nobu akan bebas dan Jonathan harus mempersiapkan diri.
photo by Instagram Lin Yi
YANG MINTA FOTO KENZO 👆👆👆👆
PENGUMUMAN :
BERAT HATI AUTHOR MENGUMUMKAN INI, TAPI MAU GIMANA LAGI, AUTHOR GAK BISA STUCK DI NOVEL INI TERUS MESKIPUN DI SINI MEMGHASILKAN UANG, MESKI SENANG DAPAT UANG TAPI TUJUAN UTAMANYA BUKAN ITU, PURE INI HOBI DAN HANYA NGISI WAKTU YANG BANYAK BANGET GAK KEPAKE.
JADI AUTHOR PUTUSKAN BUAT 1 CHAPTER LAGI, AUTHOR ISTIRAHAT DULU DI SINI, AUTHOR PERLU KISAH BARU 🤗🤗 NANTI DI LANJUT LAGI SAAT MOMENNYA SUDAH PAS 😉
TAP JEMPOL KALIAN 🤗🤗🤗