Found Love In Kyoto

Found Love In Kyoto
16


Dua hari berlalu begitu cepat, Livia harus pergi ke Yogyakarta seperti yang telah di rencanakan, tidak seperti perpisahan di Kyoto kali ini Livia lebih santai menghadapinya, ia bersikap biasa saja, mampu menyembunyikan perasaannya yang tak ingin berpisah dengan Andrew.


“aku akan menelfonmu nanti” kata Andrew, kali ini ia tak ingin meminta Livia untuk menghubunginya yang berujung Livia mengiriminya pesan dengan isi yang menyakitkan kembali.


“oke” hanya itu yang mampu Livia ucapkan


“tunggu aku di Jogja, aku akan mendapatkanmu” kata Andrew sambil membelai halus pipi putih Livia


“we will see...” Livia terkekeh


Mereka berpisah di depan pintu keberangkatan bandara, air mata Livia segera terdorong keluar sesampainya ia di ruang tunggu, ia tak peduli beberapa orang tampak melirik ke arahnya karena ia terus menyeka air matanya.


Kenapa setiap berpisah dengan Andrew ada perasaan sesakit ini batin Livia, apa ia benar benar jatuh cinta pada Andrew?


Livia mengirimkan pesan pada Yudha saudara kembarnya untuk menjemputnya saat ia telah duduk di kursi pesawat.


Livia kemudian mencoba memejamkan matanya menikmati penerbangan itu hingga pesawat mendarat dengan tidak begitu mulus di Yogyakarta,


Setelah bagasinya keluar Livia mendorong koper kopernya yang menggunung keluar pintu kedatangan, ia mengamati orang orang di sekitar pintu kedatangan mencari saudara kembarnya yang tidak terlihat batang hidungnya, Livia mulai kesal dan mengambil ponselnya .


“mas Yudha lama banget sih Livi dah landing dari tadi” ia mengirim pesan pada Yudha saudara kembarnya, baru saja ia memasukan ponselnya kembali ke dalam tasnya pandangan matanya tertuju pada sosok tampan di depan matanya yang sedang menatapnya



“mas Danu...” gumannya lirih, ‘sialan banget Yudha, awas aja nanti’ batin Livia.


Karena yang menjemputnya adalah Danu, kakaknya sekaligus orang yang ia hindari selama hampir 5 tahun.


Danu tanpa berbicara mengambil alih kereta dorong yang berisi koper dan mendorong menuju mobil mereka, membukakan pintu mobil untuk Livia dan memindahkan koper koper tersebut ke dalam bagasi mobil.


“akhirnya kamu pulang Livi, udah puas kabur dari rumah?” tanya Danu ketika ia mulai melajukan mobilnya


“Livi gak kabur dari rumah” elak Livia dengan nada sebiasa mungkin


“5 tahun gak pulang apa namanya?”


“Livi pulang terus ya sebelum ke jepang mas Danunya aja kebetulan lagi gak di Jogja” elak Livia dengan nada judes, memang benar Livia sebelum ia pergi ke jepang ia masih sering kembali ke Jogja ia memilih waktu untuk kembali ke Yogyakarta saat Danu kakaknya sedang pergi keluar kota, ia biasanya bertanya pada gendis tunangan sekaligus sekretaris Danu untuk mengorek informasi keberadaan dimana kakaknya berada.


Setibanya mereka di halaman kediaman orang tuanya Livia langsung melompat keluar dari mobil dan melesat masuk ke dalam rumahnya tanpa memikirkan Danu yang seperti patung di buatnya sepanjang perjalanan mereka.


“bundaaaa.... ayaaahhhh.... mas Yudha....” teriak Livia seperti anak kecil “Livi pulang” serunya


Bundanya yang sedang di dapur mendengar teriakan putri satu satunya langsung menghampiri pintu untuk menyambut kedatangan Livia


Livia langsung memeluk Yunita, dan Yunita menghujaninya dengan ciuman di pipinya “akhirnya kamu pulang nak” bisik Yunita yang mulai terharu dan mengeluarkan air matanya


“bunda maafin Livi” isak Livia tak kalah haru


“maafin bunda yang gak bisa mengerti keinginan Livi”


sejauh ini Yunita tidak mengerti mengapa putrinya memilih tinggal jauh dari mereka


“bunda gak salah Livi yang egois pengen hidup sendiri”


Ibu dan anak itu berpelukan erat saling melepas kerinduan


“Livi... sini peluk ayah” terdengar suara ayah Livia yang datang dari arah ruang kerjanya.


“Livi, putri kecil ayah” pria yang telah mulai terlihat menua itu memeluk Livia dan mengecup pucuk kepala putri satu satunya, “sudah jangan nangis lagi, sekarang yang terpenting Livi sudah di rumah ayah merasa tenang” lanjutnya


“ayah maafin Livi” isak Livia


“apa yang harus di maafkan? Livi gak salah apa apa sama ayah” kata ayah Livia


“Livi bandel gak mau tinggal di rumah”


“gapapa, nanti juga Livi akan menyadari bahwa keluarga adalah segalanya dan Livi akan kembali, dan sekarang Livi kembali kan?” ayahnya memang selalu memanjakannya lebih dari siapa pun di rumah itu.


“ayah Livi sayang ayah” ucap Livia tulus seraya memeluk ayahnya


“mas Yudha di mana yah?” Tanya Livia


“Yudha tadi mendadak pergi gak tau tuh ke mana” jawab ayahnya


Danu melangkah turun menuruni anak tangga, ia baru saja meletakkan koper koper Livia di kamarnya, ia tersenyum melihat pemandangan Livia dan ayahnya dan berjalan melewati mereka menuju pintu keluar rumah


Yunita menatap curiga, sejak lama sebenarnya Yunita telah menaruh curiga ada api pertengkaran di antara keduanya


“Danu... “ panggil Yunita “jangan pergi dulu, ada yang mau bunda bicarakan, penting”


“Danu sibuk bunda, harus balik ke kantor” elak danu namun tetap menghentikan langkah kakinya


“ini lebih penting dari pada urusan perusahaan kamu” Yunita berkata dengan tegas


“Livi sama Danu ikut bunda ke atas” perintah Yunita seraya membawa 2 gelas air mineral dan dengan patuh Livia mengikuti Yunita


Danu akhirnya mengikuti kedua wanita itu menaiki tangga menuju kamar Livia,


Yunita menginstruksikan Danu untuk duduk di samping Livia, kemudian memberikan gelas air mineral pada Danu “kasih adikmu minum” titah Yunita.


Danu memberikan gelas air mineral dan menusuknya dengan sedotan kemudian memberikan pada Livia


“minum Livi” kata Danu


Livia menerima dengan cemberut dan berguman “makasih”


Jika di pikir pikir Yunita memang sedikit keterlaluan karena Livia baru saja kembali, namun jika di diamkan mereka tidak akan menemukan titik temu dan akan terus saling menghindari.


“Livi, Danu, bunda langsung pada intinya aja,” Yunita memandang kedua anaknya “bunda gak tau ini Cuma perasaan bunda atau memang benar adanya kalau Livi sama Danu kayaknya bertengkar dan saling menghindar sejak lama?” tanya Yunita lembut


Livia diam Danu juga diam...


“kalian kan sudah dewasa, umur Danu sudah 30 tahun, dan Livi juga udah 26 tahun sebentar lagi kalian akan memiliki keluarga masing masing” Yunita mengelus sayang kepala Livia, “sekarang bunda minta sama kalian berdua selesaikan masalah kalian, obrolkan semua ganjalan di hati kalian dengan kepala dingin” pinta Yunita


Kedua anaknya masih saling membisu


setelah beberapa saat mereka masih saling diam dan sama sama menundukkan wajahnya Yunita menggelengkan kepalanya melihat tingkah anak anaknya yang telah dewasa namun bertingkah seperti anak kecil sedang di hukum.


“kalian gak boleh keluar dari kamar ini sebelum salaman minta maaf dan selesaikan masalah kalian sampai tuntas” suara Yunita menjadi tegas “setelah masalah kalian udah selesai segera mandi dan turun” Yunita keluar meninggalkan kamar tersebut


DANU TERLALU TAMPAAAN 😍😍😍😍


TAP JEMPOL KALIAN 😍😍😍