Found Love In Kyoto

Found Love In Kyoto
43


“penculiiiikkkkkkk” Livia berteriak sekeras mungkin sambil mememjamkan matanya karena takut


Dan mulutnya kini benar benar di tutup oleh telapak tangan pria itu.


Berakhir!!!


Kali ini hidupnya benar benar berakhir di tangan penculik batinnya, hana menjebaknya, sekarang livia hanya bisa menangis mengingat nasib kedua putranya, namun samar samar ia menghirup aroma yang pernah ia kenal


“jangan berteriak” suara itu berbisik pelan di dekat telinganya, dan suara itu sangat familiar...


Livia membuka sebelah matanya sedikit, bermaksud untuk mengintip dan samar samar ia melihat wajah yang bukan hanya di kenalnya, namun juga membayangi pikirannya.


Naoki....!!!


Pria di depannya adalah Naoki.


Livia langsung membuka kedua matanya dan menjauhkan telapak tangan naoki yang menutupi mulutnya dengan kesal


'hana... awas kamu!' batin livia


“kalian hampir saja membuatku gila karena ketakutan” gerutu livia sambil memegang dadanya


Naoki terkekeh


“naoki ini sama sekali tidak lucu, kalian menyebalkan” kata livia mengeluarkan sifat aslinya yang kekanak kanakan


“maaf livia, aku hanya ingin berbicara denganmu”


“astaga tidak harus seperti ini kau bisa menelefonku naoki, dimana calon istrimu?”


“kenapa mencari calon istriku? dia ada di sini”


“dimana dia?” tanya livia lagi sambil pandangan matanya menyapu ruangan itu


“untuk apa kau mencarinya?”


“kita hanya berduaan di dalam kamar ini seperti pasangan selingkuh, aku tidak nyaman” livia berbalik hendak keluar dari kamar itu


“apa kau mau selingkuh denganku?” tanya naoki sambil memeluk livia dari belakang


“jangan bercanda naoki lepaskan aku” livia meronta ronta jantungnya terasa bergemuruh tidak menentu


“livia, aku merindukanmu” bisik naoki lembut di telinga livia “anata mushi dewa ikete ikenai*” lanjutnya lembut


*aku tak bisa melupakanmu


“tidak naoki kau sebentar lagi beristri kau tidak boleh berkata seperti itu”


“bagaimana jika aku belum memiliki calon istri apa aku boleh mengatakannya?” tanya naoki, jantung livia berdetak semakin kencang bahkan rasanya terdengar hingga ke rongga telinganya bahkan ia merasa aliran darahnya seperi menjadi sedikit panas, livia sangat gugup.


“naoki hanaste kudasai” pinta livia dengan suara sedikit tertahan


*tolong lepaskan


“livia aku mencintaimu, menikahlah denganku”


“naoki jangan bercanda” kata livia seraya tertawa hambar


“aku serius livia”


“kau akan menikah”


“betul aku akan menikah"


"konyol sekali, kau akan segera menikah tapi kau juga melamarku" sekali lagi livia tertawa hambar, ia sedikit emosi mengingat perselingkuhan andrew. 'apa semua pria hatinya begitu mudah tergoda?' batinnya


"bahkan jika aku beristri saat ini juga aku akan menceraikannya”


“kau jangan gila...!”


“tidak, tentu saja aku tidak gila”


“naoki tolong jangan membuatku marah”


“apa benar kau tidak pernah mencintaiku livia? Jawab aku”


“aku.... aaaa aku tidak”


“katakan dengan jelas” naoki membalik tubuh livia menjadi menghadap ke arahnya, kedua tangannya di letakkan dibahu livia “tatap aku dan katakan dengan jelas”


“naoki jangan seperti ini.... lepaskan aku”


“tidak akan ku lepas hingga kau katakan kau tidak mencintaiku sedikitpun sambil tatap mataku” titahnya tegas


“naoki aku tidak bisa” livia menundukkan kepalanya “itu tidak sopan” livia mencoba menghindar


“katakan livia...”


“naoki aku akan kembali, ini sudah malam” ia tak mengerti ia sangat gugup dan mengapa jantungnya semakin berdebar hebat.


“baiklah, jika kau terus bersikeras tidak mengakuinya dan ingin melarikan diri dariku” kata naoki melepaskan tangannya dari bahu livia


“sejak awal kebersamaan kita kau tidak menyadari kau mencintaiku, kau selalu menyangkal perasaanmu dan enggan mengakui, lalu ketika andrew datang kau mungkin sedang bosan padaku karena aku terlalu sibuk hingga kau mencari pelarian, kau mulai bimbang memilih, saat kau telah menikah kau juga masih mencintaiku, kau bahkan tak menolak dan merespon ketika aku menciummu di kantor polisi” naoki berhenti sejenak sambil memasukkan tangannya ke dalam saku celananya.


Livia diam tak bergeming, ia tak mampu menyangkal, ia juga tidak berani mengangkat kepalanya untuk melihat wajah pria di depannya.


Kata kata naoki tepat menghujami jantung livia tanpa satupun yang salah, livia telah lama menyadari namun tak ingin mengakui.


Memang betul selama ia berumah tangga dengan andrew bayangan naoki tidak bisa di tepis, bahkan ia sering merindukan naoki diam diam


“dan kau juga banyak menyimpan fotoku lalu diam diam memandangi fotoku di lapotopmu” livia terhenyak dengan kata kata naoki yang terakhir ‘dari mana ia tahu?’ batin livia


Livia memberanikan diri mengangkat kepalanya


“siapa yang memberitahumu?” tanya livia memandang wajah naoki sambil menyipitkan kedua matanya


“apa tebakanku benar?” tanya naoki penuh kemenangan


“siapa memberitahumu?” ulang livia


“jawab dulu pertanyaanku”


“iya, aku sering melihat foto kita di laptop, apa masalahnya itu laptopku” livia mencoba berkilah menyembunyikan rasa malunya


“kau sangat menyebalkan...!” kata livia kesal dan hendak memukul lengan naoki, namun naoki menyeretnya ke dalam pelukannya dan menyegel bibir livia yamg telah lama ia rindukan


Livia ingin menolak namun tubuhnya tidak mendengarkan akalnya, tangannya bahkan telah melingkar di leher naoki. Setelah berciuman hingga hampir kehabisan oksigen mereka melepaskan ciuman itu.


“derren putraku memberitahuku bahwa uncle naoki adalah orang yang ada di laptop mommynya dan sering dipandangi, bahkan sering di sentuh layar laptopnya” bisik naoki pelan di telinga livia, sebenarnya naoki tidak akan mengambil langkah secepat ini jika derren tidak menceritakan padanya perihal foto di laptop livia.


‘Oh astagaaaa penghianat berkeliaran di mana mana, bukan hanya hana, ternyata putranya juga penghianat...’ Batin liviia kesal


“dia bukan putramu” protes livia


“sejak awal dia putraku, dan akan menjadi putraku selamanya” kata naoki mengecupi kening livia penuh kasih sayang


“aku harus pulang, aku khawatir calon istrimu datang dan menemukan kita, kau harus menjaga perasaanya” kata livia berusaha melepaskan dirinya dari pelukan naoki


“tidak masalah”


“naoki jangan gila”


“apa kau mau menjadi selingkuhanku?” tanya naoki sembari tertawa kecil


“dalam mimpimu”


“kalau begitu tidak usah selingkuh, kita menikah saja”


“aku bukan wanita lajang, aku mempunyai dua orang putra, kau akan kerepotan nantinya”


“tidak masalah, kita tinggal menambah satu atau dua lagi”


“kau sebentar lagi akan menikah naoki”


“ya betul, aku akan segera menikah denganmu?”


“naoki jangan bercanda lagi, cukup, kumohon...”


“baiklah, dengarkan baik baik livia. Aku ingin melamarmu, aku ingin menikahimu, menjagamu, menjaga derren dan jonathan, dan mio bukan calon istriku” naoki mengucapkan kata katanya dengan penuh kesabaran agar livia dapat mencerna kalimatnya dengan baik


“apa?” livia tak percaya dengan pendengarannya “jadi dia? siapa?” tanya livia


“aku tidak pernah bilang itu calon istriku, kau sendiri yang menebaknya, sampai saat ini aku masih pria lajang itu faktanya”


“lalu siapa dia?”


“ia sekretarisku”


“hah? Sejak kapan kau memiliki sekrteris wanita?”


“sakura memaksaku, ia ingin aku dekat dengan wanita, ia yang mengaturnya”


“uso...” livia menjawab dengan sengit


*bohong


“kau bersamanya setiap kali kita bertemu dan tidak pernah menyapaku” livia menggerutu tanpa ia sadari


“cemburu?”


“mana mungkin”


“Terserah kau saja” naoki mengacak acak rambut di kepala livia dengan gemas


“lalu untuk apa kalian masuk ke toko permen?”


“entahlah, tuhan menyuruhku masuk ke toko itu" faktanya naoki memang membuntuti livia ke kyoto, ia tau semua aktifitas livia karena ia memantaunya melalui ponsel livia kemudian di toko permen naoki mengambil kesempatan ia sengaja menabrakkan dirinya pada livia.


Livia mengatupkan bibirnya kesal “lalu di mana sekretarismu?”


“sudah ku suruh kembali ke tokyo, akan ku pindah ke divisi lain, apa kau puas?” tanya naoki


“naoki kau sangat menyebalkan” livia tersenyum senang


“livia kau yang menyebalkan, berhenti bersikap angkuh dan selalu melarikan diri dariku, sekarang mari kita menikah, aku tidak bisa lagi melepaskanmu apapun yang terjadi”


“menikah? Ku katakan sekali lagi naoki sama aku sekarang wanita dengan 2 anak, tidak seperti dulu lagi gadis lajang yang bebas”


“dan ku katakan sekali lagi livia aku tak perduli kau mamiliki 10 anak pun asalkan kau wanitanya aku siap menikahimu dan merawat anak anak mu sebagai anakku sendiri”


“naoki aku mulai bosan berdebat”


“baiklah kita bercinta saja agar kau tak bosan”


“hey.... kenapa kau jadi mesum?”


“3 tahun kau meninggalkanku tentu bukan hal yang mudah, aku pria normal livia” jawab naoki sambil memeluk livia dan mencimunya.


“*ecchi.....”


*berpikir mesum


Livia menyembunyikan wajahnya di dada naoki


“naoki aku ingin kembali, bundaku akan menghawatirkanku”


“tunggu sebentar aku masih ingin memelukmu, sebentar saja...”


Livia menurut ia juga ingin berlama lama di dalam pelukan hangat pria yaang bayangannya memenuhi isi kepalanya.


“livia, mau atau tidak mau aku tetap akan menikahimu, kau cinta pertamaku, aku tidak ingin cinta yang lain, aku tidak ingin wanita lain dalam hidupku” kata naoki meyakinkan livia “*zutto anata to isshoni itai desu” bisik naoki dengan lembut dan menusuk masuk ke dalam hati livia.


*aku ingin bersamamu selamanya


“naoki, kenapa kau begitu keras kepala mencintai wanita kejam sepertiku?” tanya livia serius


“berhenti mengutuk dirimu sendiri” naoki menjentikkan jarinya dengan pelan di antara kedua alis livia “karena kau gadis bodoh, manja, tidak bisa merawat dirimu, suka membuat masalah, siapa yang mau mengurusmu jika bukan aku?” ejek naoki


“dasar bar bar, setelah menyuruhku berhenti mengutuk diriku lalu kau sendiri melanjutkan mengutuk ku...” Livia tertawa lepas “apa kau ingin ku hukum?” tanya livia sambil mendorong pelan tubuh naoki hingga terduduk di atas ranjang dan ia naik ke atas paha naoki


“dengan senang hati nona manis” kekeh naoki sambil merebahkan tubuhnya lalu merentangkan kedua tangannya di atas kasur dengan gaya pasrah


“dalam mimpimu” livia menjulurkan lidahnya turun dari tubuh naoki lalu menyeret kekasihnya keluar dari kamar itu. KEKASIHNYA.....