Found Love In Kyoto

Found Love In Kyoto
#Series 14


Paginya ketika terbangun Derren tidak ada lagi di samping Olivia, Olivia menyentuh bibir dengan ujung jarinya. Kemudian ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan menghempas hempaskan kedua kakinya di atas kasur, lalu berguling guling di atas ranjang ke kanan dan ke kiri.


Setelah mandi dan bersiap Olivia menuju dapur, hanya ada Jonathan di sana. Olivia tidak berani menanyakan keberadaan Derren, tidak seperti biasanya. Olivia duduk sambil menyantap sarapan yang di buat oleh Jonathan.


“Olivia apa kau sakit?” tanya Jonathan


“ti.... tidak, kenapa kau mengira aku sakit?”


“wajahmu sangat merah ku pikir kau sedang demam” kata Jonathan sambil mengamati wajah Olivia


Olivia buru buru menghabiskan makannya tanpa menanggapi perkataan Jonathan, ia merasa salah tingkah sendiri di depan Jonathan.


“aku akan berangkat Joe” kata Olivia setelah membereskan piring bekas makannya


“aku akan mengantarmu”


“tidak perlu"


“Derren memintaku mengantarkanmu dan menjemputmu selama ia sibuk” kata Jonathan


“aku bisa naik bus” kata Olivia sambil memasang sepatunya


“kau membuatku dalam kesulitan, Derren akan menyalahkanku jika terjadi sesuatu”


“bukankah selama ini aku sering naik bus dan baik baik saja?”


“kau tinggal menurut, apa susahnya Olivia?” keluh Jonathan


Akhirnya Olivia menyerah dan mengikuti perintah Derren.


Namun sudah satu minggu Olivia tidak pernah bertemu Derren, Olivia juga tidak berani menghubungi Derren melalu ponsel, ia merasa takut bertemu sepupunya setelah kejadian malam itu, Olivia bingung bagaimana harus bersikap di depan Derren.


Sedangkan Derren ia juga bingung harus bagaimana bersikap di depan Olivia, ia takut Olivia marah atau malu padanya, jadi ia memutuskan memberikan waktu pada Olivia, berharap Olivia mencarinya. Namun hingga satu minggu Derren menghindari Olivia, gadis itu tidak juga menghubunginya.


“di mana Olivia?” tanya Derren pada Jonathan saat ia baru saja kembali ke tempat tinggal mereka


“ia mengatakan ingin tidur di asrama” kata Jonathan santai sambil memainkan game di ponselnya


“kenapa kau tidak melarangnya?”


“apa hak ku melarangnya?”


Derren melirik jam di dinding, sudah jam 10 malam.


Derren menekan nomer ponsel Olivia dan memanggilnya, gadis itu tidak menjawab panggilan Derren.


Derren segera menyambar kunci mobil dan menuju asrama putri di mana Olivia berada, ia merindukan Olivia!


Sesampainya di asrama ia meminta petugas penjaga asrama menyambungkan telefon ke kamar Olivia namun petugas penjaga mengatakan Olivia pergi 2 jam yang lalu dan belum kembali.


Derren *** ponselnya seakan akan ingin menghancurkan ponsel itu di tangannya.


Ia kemudian masuk ke dalam mobilnya dan memanggil Jonathan


“Joe, cek lokasi Olivia dalam waktu 5 menit” titahnya langsung


“Derren kau berlebihan, Olivia mungkin hanya pergi bersama temannya” Jonathan yang baru saja mulai terpejam matanya benar benar tidak mengerti kenapa kakaknya kehilangan akal sehat akhir akhir ini.


“jangan banyak bicara waktumu tinggal 4,5 menit”


Jonathan dengan patuh mengikuti kemauan kakaknya membuka laptopnya dan mengklik sebuah aplikasi lalu memasukkan nomer ponsel Olivia, segera ia mengirimkan titik lokasi Olivia berada pada kakaknya.


Derren segera melajukan mobilnya menuju sebuah club dimana titik lokasi ponsel Olivia berada.


Ketika Derren sampai Olivia dan teman temannya baru saja keluar dari club itu sambil tertawa riang, Olivia, Theo, Miranda, Claudia dan beberapa pria lain.


Karena Olivia kebetulan di rangkul oleh Theo tanpa pikir panjang dengan terburu buru Derren mendekati mereka, menyeret lengan Olivia untuk menjauhkan dari Theo lalu meraih kerah baju Theo dan hampir saja memukul Theo


“jangan pernah mendekati Olivia” Derren berkata penuh dengan tekanan kemarahan


Theo yang tidak mengerti dengan apa yang terjadi beberapa saat sempat terbengong, tentu saja ia terkejut


“Derren.... hentikan” Olivia menarik lengan Derren “Miranda tolong bawa Theo”


Miranda membawa Theo menjauh karena Theo juga tampak emosi saat kesadarannya kembali.


“kau membelanya?!”


“astaga Derren!!! kendalikan dirimu, jika kau memukulnya dan Theo tidak terima kau akan berurusan dengan hukum!” kata Olivia kesal


“jadi kau tidak menjawab panggilanku dan pergi berkencan dengan dia? Bukankah sudah ku katakan jika kau ingin bernyanyi atau ke club aku bisa menemanimu? Kenapa kau sangat bandel Olivia!” nada suara


Derren meninggi terlebih lagi pakaian yang dikenakan Olivia benar benar membuat Derren kesal!!! Pakaian itu terlalu mengekspos tubuh indah Olivia, Derren tidak rela Pria lain memandang tubuh Olivia.



Olivia mengatupkan bibirnya cemberut, ia memandang Derren dengan kesal


“satu, Theo bukan teman kencanku, dia temanku dan dia gay, kedua ia kemarin ulang tahun dan hari ini ia mentraktir kami semua, ketiga kau menghilang satu minggu bagaimana cara aku berbicara padamu?”


Faktanya mereka memang ingin datang ke club khusus itu hanya karena ingin tau, dan setelahnya mereka akan merayakan ulang tahun Theo di club yang lainnya.


Derren mengerutkan keningnya dan membaca papan nama club itu, benar saja itu club untuk kaum gay.


“kau harus minta maaf pada Theo atau aku semakin marah padamu, aku malu pada teman temanku karena tindakanmu!”


“baiklah aku akan meminta maaf, ayo bawa aku pada teman temanmu aku akan traktir mereka minum” kata Derren dengan mudahnya mengalah


Akhirnya Olivia membawa Derren pada teman temannya untuk menjernihkan masalah, Theo dan Derren berjabat tangan berdamai. Lalu Derren membawa mereka semua ke sebuah restoran yang berada di dalam sebuah hotel mewah dan mentraktir mereka untuk menikmati wine. Derren memesan beberapa botol wine dan beberapa hidangan Sambil mengobrol santai membicarakan apa saja kekonyolan dalam hari hari mereka menjadi mahasiswa.


Jam 1 malam teman teman Olivia meninggalkan tempat itu untuk melanjutkan malam mereka yang masih panjang, namun setelah teman teman Olivia pergi Derren justru kembali memesan sebotol wine dan juga berulang kali mendentingkan gelasnya kepada Olivia.


“Derren kau suka sekali membuatku mabuk” keluh Olivia


“ya kau sangat menyebalkan jika mabuk”


“hahahaa... Derren kau yang menyebalkan, kau selalu memiliki cara untuk membuat aku marah” Olivia mulai kehilangan kendali dirinya


“jika kau mabuk malam ini aku akan menciummu” Derren membisikkan kata katanya di telinga Olivia sukses membuat Olivia merona karena karena teringat ciuman di bibirnya seminggu yang lalu, jantungnya berdegup kencang


“cium saja jika kau berani” tantang Olivia


Bibir Derren menyunggingkan senyum tipis sambil tangannya menuangkan wine ke dalam gelas Olivia, hingga akhirnya botol wine itu kosong.


“Derren aku tidak ingin pulang” Olivia mulai berbicara acak karena kesadarannya mulai menipis


“Ini sudah malam Olivia”


“aku ingin menghabiskan malam ini denganmu”


“kau ingin ke mana?” tanya Derren lembut


“ayo tidur di hotel ini saja, aku tidak mau pulang” rengeknya


Jujur saja Derren merasa mendadak kepalanya berdenyut, jadi ia menuruti keinginan Olivia dan menginap di hotel itu.


“bisakah kau berjalan sendiri?” tanya Derren saat mereka meninggalkan meja receptionis


“aku masih sadar” kata Olivia meskipun ia sempoyongan hampir terjatuh namun ia berusaha menahan keseimbangan kakinya.


Derren memapah Olivia, ia tak mampu menggendong Olivia, entah kenapa mendengar ucapan Olivia ingin berduaan dengannya di kamar hotel membuat efek anggur yang di minumnya lebih memabukkan 7 kali lipat padahal jika dipikir pikir waktu mereka berduaan di tempat tinggal mereka juga sangat banyak dan hampir setiap hari.


Entah siapa yang memulai dan entah bagaimana malam itu Derren dan Olivia mereka mulai saling berciuman, lembut, lalu mulai sedikit menuntut hingga keduanya menginginkan hal yang lebih dari sekedar ciuman. Tangan Derren mulai menyusup ke dalam pakaian yang dikenakan Olivia, mulai menyentuh kulit Olivia, mereka berdua semakin menghilangkan akal sehat, kehilangan kendali atas tubuh dan dalam sekejap mereka telah polos tanpa busana, namun Derren segera tersadar dan menghentikan aktifitas itu, ia tidak ingin mengambil moment seperti ini saat mereka dilanda mabuk. Derren menarik Olivia ke dalam dekapannya untuk tidur.


“Derren....” panggil Olivia dengan nada mabuk


“Kau mabuk Olivia?” tanya Derren


“aku sadar” Olivia menjawab dengan nada kesal memang jika Olivia mabuk berat ia akan tertidur seperti pinsan, jika masih berbicara berarti ia memang masih sadar.


Hening....


“Derren aku... menyukaimu” guman Olivia kemudian ia tertidur.


Mendengar pengakuan Olivia justru derren merasa jantungnya bagai tertusuk jarum, awalnya ia bahagia namun dalam sekejap rasa bahagianya lenyap seperti pasir tersapu ombak. Yang tersisa hanya kekhawatiran.


Olivia terbangun saat matahari tampaknya telah tinggi, hanya pancaran sinar yang sedikit menyeruak dari tirai yang menutupi jendela kamar hotel.


Ia tidak terkejut ketika terbangun berada di dalam dekapan lengan Derren, itu bukan hal pertama baginya. Ia menyibakkan selimut yang menutupi tubuh mereka namun saat mendapati mereka berdua bener benar polos tanpa memakai sehelai kain pun Olivia berteriak.


“Derren.......!”


Derren terkejut dan segera membuka matanya,


“ada apa?”


“apa yang kita lakukan tadi malam?” tanya Olivia panik


“kau memanfaatkanku Derren kau jahat sekali” tuduh Olivia sambil menangis tersedu sedu


“Olivia aku belum melakukan apa pun, apa kau merasakan sakit disana?” tanya Derren sambil memandang wajah sepupunya “dan apa kau ingat apa yang kau katakan tadi malam?”


Olivia mengatupkan bibirnya ia memang tidak merasakan sakit berarti mereka memang belum melakukan hal apa pun. Olivia sedikit mengingat yang terjadi malam itu dengan tidak tau malu tadi malam ia juga menciumi Derren, bahkan ia juga yang membuka pakaiannya sendiri. Ia juga mengatakan menyukai Derren!!!!


‘triple shiiiit’ jerit Olivia dalam hati, ia sangat malu


Olivia menutup wajah dengan telapak tangannya karena malu.


Derren merebahkan tubuh Olivia lalu menyeret selimut dan menutupi tubuh telanjang mereka, tangannya dengan lembut menyingkirkan telapak tangan Olivia yang menutupi wajahnya.


“tidak perlu malu”


“Derren kenapa kita seperti ini? kita bersaudara”


“bagaimana jika kita tidak bersaudara?”


“faktanya kita bersaudara”


Hening sesaat, ya... faktanya mereka bersaudara, mereka berhubungan darah!!!


“Olivia, jujur saja entah sejak kapan aku merasa aku menyukaimu, aku tidak tau apa ini yang dinamakan jatuh cinta?” Derren menatap dalam dalam mata Olivia yang masih sedikit basah karena sisa air mata.


“Derren aku... aku...”


“aku telah lama yakin kau juga merasakan perasaan seperti yang aku rasakan”


Olivia juga menatap mata Derren lekat lekat lalu mengangguk, benar ia menyukai Derren entah sejak kapan, yang pastinya ia mulai merasa kesal setiap melihat di kampus Derren berdekatan dengan mahasiswi lain.


“Derren, aku benci setiap kau berdekatan dengan Merry” kata Olivia dengan nada manja penuh kekesalan.


“begitu juga aku, aku tidak suka kau berdekatan dengan pria lain meskipun itu Jonathan”


“Jonathan adikmu” protes Olivia


“tetap saja ia pria”


Olivia tersenyum senang karena akhirnya ia mengetahui bahwa perasaan mereka sama, mereka sama sama jatuh cinta. Derren mendektkan wajahnya lalu mengecup lembut bibir Olivia, mengecupnya lagi lalu melumatnya, untuk pertama kalinya Derren mencium Olivia dalam keadaan sadar dan tidak terpaksa.


“tunggu aku sukses, aku akan membawamu pergi jauh jika keluarga kita tidak merestui hubungan kita” kata Derren setelah ciuman mereka terlepas


“kau telah memikirkannya?”


“aku memikirkannya sejak lama, sejak kita berada di Tokyo natal tahun lalu”


Jika di pikir pikir memang sejak mereka kembali dari Tokyo Derren sudah tidak pernah membullynya lagi.


“Derren, ayo kita sukses bersama” kata Olivia mantap “jadi, jadi bagaimana?” tanya Olivia


“maksudmu?” tanya Derren sambil memainkan ujung rambut Olivia dengan jarinya


“hubungan kita apakah sekarang kau pacarku?” tanya Olivia malu malu


“tidak, kau bukan pacarku tapi calon istriku aku akan menikahimu, apapun yang terjadi nanti”


“apa tidak masalah, bagaimana jika keturunan kita mengalami cacat?”


“kalau begitu cukup habiskan sisa umur kita berdua saja, hanya kau dan aku” Derren meraih kepala Olivia dan mengecup pucuk kepala Olivia.


Olivia merasakan hatinya sangat bahagia. Ia tidak tau harus berkata apa lagi, ia memandangi wajah Derren sepupunya yang kini resmi menjadi kekasihnya.


“kenapa memandangiku seperti itu?” tanya Derren


“Derren kita harus merahasiakan hubungan kita”


“baiklah, terserah apa maumu”


Olivia menatap wajah Derren lagi, akhir akhir ini dimata Olivia wajah Derren tampak semakin tampan.


“kenapa lagi sayang?”


“Derren aku akuuuu aku lapar” kata Olivia berbohong


“panggil aku sayang” goda Derren


“Derren, kau narsis”


“aku ingin di panggil sayang oleh calon istriku apa salahku?"


Olivia mencubit perut Derren, Derren dengan lembut menangkap tangan Olivia dan menuntunnya ke arah bagian kecil dirinya, tangan Olivia mendadak kaku dan bermaksud menariknya namun Derren menahannya


“dia ingin kau sentuh sayang” bisik Derren dengan nada menggoda


“Derren kau mesum” protes Olivia dengan wajah merah padam.


“kapan kau siap?”


“siap untuk apa?” tanya Olivia polos


“menyatukan tubuh kita”


Olivia makin merona merah,


“Derren aku lapar” Olivia ingin melarikan diri karena jantungnya berdegup kencang, ia juga tidak tau harus bagaimana menghadapi pertanyaan Derren.


“ayo mandi setelah itu pesan makan di kamar saja”


“kau mandi dulu”


“kita mandi bersama”


“tidak, itu memalukan”


“sayang, kenapa harus malu? Aku sudah melihat semua tadi malam dan juga ketika kita masih kecil kita juga mandi dalam satu bak mandi dan bermain gelembung sabun dan kau tidak malu” goda Derren sambil tangannya *** bokong Olivia


“Derren hentikan, kau mesum seperti Joe” sungut Olivia


“dari mana kau tau Joe mesum? Mmmmmmm” Derren semakin gemas


“sayang jangan nakal” rengek Olivia dengan manja


“panggil aku sayang lagi”


“tidak mau.... Derren kau licik”


“kalau tidak mau, aku akan memakanmu sekarang”


“sayang, baiklah, oke... jangan sekarang, aku lapar” Olivia benar benar sangat gugup.


“baiklah, aku semakin tidak sabar Olivia, katakan kapan kau mengizinkan aku memasukimu?”


“mmmmmmm....” Olivia mempermainkan jari jarinya di dada Derren “ayo kita berkencan dulu sebagai pasangan baru” kata Olivia


“baiklah tuan putri” kata Derren senang “dan ngomong ngomong dari mana kau tau Jonathan mesum?”


Olivia tertawa kemudian ia menceritakan tragedi 3 gadis yang memperebutkan Jonathan di cafe beberapa minggu yang lalu.


“Tiffany menceritakan Joe itu bergonta ganti pacar dan berkelakuan mesum pada gadis gadis sejak di sekolah menengah”


“bagaimana jika aku juga di kejar banyak wanita dan aku berkelakuan seperti Joe apa yang akan kau lakukan?”


“aku akan pulang ke Indonesia dan tidak mau melihat wajahmu lagi”


“itu memang sifatmu yang hanya bisa merajuk” kata Derren disusul tawa ringan lalu bangkit dari ranjang dan menggendong Olivia dan mereka mandi bersama di bawah pancuran shower, seperti saat mereka kecil mereka sering mandi bersama bahkan Olivia kecil pernah menanyai Derren mengapa ia tidak memiliki belalai seperti Derren!!!


Setelah selesai menyantap sarapan yang kesiangan mereka segera Derren dan Olivia kembali ke apartemen karena Derren harus segera pergi ke rumah sakit, untunglah Jonathan sedang tidak berada di tempat tinggal mereka. Olivia tidak perlu malu menghadapi Jonathan karena mereka datang berdua setelah sama sama tidak kembali semalaman.


“jam 8 malam aku akan kembali, jangan ke mana mana, jangan berkeliaran, jika ingin pergi minta temani Joe, panggil saja dia, ingat untuk memberiku kabar dan makan dengan benar”


“baik mr. pengatur” jawab Olivia senang


Derren mendekatkan wajahnya lalu menyentuh hidung Olivia dengan hidung milliknya, menggesek geseknya.


“Olivia, aku mencintaimu”


Bagai terhipnotis dengan kata kata itu Olivia merasa jiwanya terbang entah ke mana. Ia memejamkan matanya, menikmati kebahagiaan di dalam benaknya.


Derren mengecup bibir Olivia kembali dan mereka kembali saling melumat tenggelam dalam ciuman penuh cinta. Bahkan rasanya Derren tidak ingin pergi ke rumah sakit, ia ingin terus berada di samping Olivia.


YUHUUU 👍😄


DASAR ANAK ANAK ANDREW YA, BIAR YANG PENDIAM JUGA TETEP AJA MESUM 😅😅 TAP JEMPOL DAN KOMEN!!!