
Dua belas tahun yang lalu.
“Ah!” Amelia sedikit menjerit karena ponselnya terjatuh dan parahnya lagi ponselnya terinjak oleh pria yang berdiri di depannya.
Pelan, Amelia menepuk pundak pria yang menginjak ponselnya itu. “Maaf, Tuan. Ponsel saya terinjak,” katanya pelan. Mereka di dalam kereta dari Osaka menuju Kyoto. Kebetulan sekali kereta penuh dan Amelia berdiri.
“Sumimasen,” kata pria itu yang tak lain adalah Andrew. Ia menekuk kakinya untuk mengambil ponsel yang berada di bawah sepatunya.
Andrew mengamati layar ponsel yang telah tak berbentuk. Ia adalah pria berbobot tubuh 75 kg dan ponsel sekecil itu tentu saja tidak mampu menopang berat tubuhnya. Andrew kembali berdiri ya menimang-nimang ponsel di tangannya kemudian ia mengalihkan fokusnya kepada gadis di depannya. Seorang gadis yang cantik dan mirip Livia.
Andrew tersenyum. “Nona, aku akan mengganti ponselmu,” katanya.
“Tidak Tuan, tidak perlu. Aku bisa memperbaikinya, lagi pula itu bukan salahmu karena aku menjatuhkannya,” ucap Amelia sungguh-sungguh.
“Tidak Nona, aku akan bertanggung jawab. Di Kyoto apa Ada banyak toko yang menjual ponsel, aku akan menggantinya,” ucap Andrew dengan nada bersungguh-sungguh pula.
“Tidak, jangan, Itu tidak perlu.”
Andrew menatap Amelia dengan tatapan memohon. “Jangan membuatku merasa bersalah, aku akan menggantinya,” katanya.
Amelia akhirnya mengangguk, mereka tidak saling berbicara hingga tiba di Kyoto kemudian menuju ke toko yang menjual ponsel di dalam sebuah pusat perbelanjaan.
“Tuan, ini terlalu mahal,” kata Amelia karena jenis ponsel yang diberikan oleh pria yang menginjak ponselnya itu adalah keluaran terbaru.
“Tidak masalah, anggap saja sebagai permintaan maafku karena mungkin data pekerjaanmu dan kenanganmu ada di sini. Aku tidak yakin datamu bisa diselamatkan atau tidak,” kata Andrew.
“Tidak apa-apa nanti jika aku kembali ke Indonesia aku akan mengganti layarnya,” kata Amelia.
Andrew menaikkan kedua alisnya, “Oh, jadi kau berasal dari Indonesia?”
Amelia tersenyum. “Ya, apa kau tahu Indonesia?”
Andrew tertawa renyah. “Orang tuaku berasal dari Indonesia hanya Ibuku saja yang berasal dari Eropa, Perkenalkan, namaku Andrew Tjiptadjaja.”
“Tjiptadjaja?”
“Ya.”
“Kau... keluarga Tjiptadjaja?”
“Apa aku tidak meyakinkan?” Andrew menaikkan sebelah alisnya.
Amelia justru tertawa ringan sambil mengibaskan telapak tangannya di depan wajahnya. “Maaf-maaf,” katanya.
“Tuan, saya kira keluarga Tjiptadjaja itu... tapi, Anda naik kereta,” kata Amelia. Ia pernah mendengar tentang keluarga Tjiptadjaja tetapi ia tidak menyangka jika pria tampang dengan usia matang di depannya adalah keluarga Tjiptadjaja.
Andrew menjelaskan mengapa ia menaiki kereta sambil mereka berjalan menuju sebuah restoran yang berada di dalam pusat perbelanjaan yang mereka datangi.
“Oh ya? Omong-omong Siapa namamu?” tanya Andre setelah mereka duduk dengan nyaman di dalam restoran.
“Namaku Amelia,” jawab Amelia.
“Nama yang manis,” kata Andrew. “Apa kau di sini sedang berlibur?”
“Aku bekerja di sini sebagai reporter,” jawab Amelia.
“Reporter?”
“Iya, aku bekerja di salah satu stasiun TV dan aku ditempatkan di sini.” Amelia menjawab pertanyaan Andre dengan wajah yang berbinar sepertinya Ia memang sangat mencintai pekerjaannya.
“Sudah berapa lama di sini?”
“Tidak terlalu lama, hanya beberapa tahun. Aku sangat menyukai negara ini, rasanya aku ingin tinggal di sini selamanya tetapi ada masalah, aku tidak mungkin tinggal di sini selamanya,” jawab Amelia dengan nada ringan dan santai.
“Masalah?”
Amelia terkekeh. “Karena untuk menjadi penduduk negara Jepang aku harus mendapatkan suami orang Jepang sedangkan di sini sepertinya tidak ada pria Jepang yang tertarik kepadaku,” jawabnya dengan nada bercanda.
“Kota mana yang paling kau sukai di Jepang?”
“Kyoto, aku ingin tinggal di sini selamanya," jawab Amelia tanpa berpikir panjang.
Diam-diam Andrew semakin tertarik kepada Amelia karena bukan hanya wajahnya yang mirip Livia tetapi juga obsesinya untuk tinggal di Kyoto.
Mereka berdua terus mengobrol seputar pengalaman dan pekerjaan, tepatnya pekerjaan Amelia. Setelah hidangan yang mereka pesan telah selesai mereka santap dan saling bertukar nomor ponsel keduanya berpisah. Sejak saat itu, Andrew beberapa kali menemui Amelia. Ia mulai mendekati Amelia dengan cara yang manis hingga gadis itu masuk ke dalam perangkapnya. Terjatuh di dalam pelukannya dan berakhir dibatas ranjangnya. Berkali-kali juga Amelia menolak saat Andrew mengajak Amelia menikah karena pertimbangan Andrew adalah pria beristri tetapi Andrew begitu gigih memperjuangkan Amelia hingga Amelia berkata iya.
Pada faktanya Amelia tidak pernah tahu bahwa ia memiliki kemiripan dengan Livia. Tetapi, sejauh mereka berumah tangga Andrew selalu memberikan yang terbaik untuk Amelia dan kedua putranya. Pria itu membagi waktunya dengan baik agar kedua anak-anaknya tidak kekurangan kasih sayang. Amelia juga tidak pernah menuntut waktu Andrew dan tidak menuntut ingin menguasai diri Andrew. Ia bisa menepatkan posisinya dengan baik.
Yo! Silakan Andrew di bully!
hehehehe.
1 Chapter lagi besok ya.
Ada Daddy Naoki yang tampan 😍😍😍