Found Love In Kyoto

Found Love In Kyoto
#Series 5


Setibanya di kuil seperti biasa hanya derren yang tampak tidak antusias sedangkan Oivia menganggap itu adalah sesuatu yang unik jadi ia sangat antusias. Jonathan dengan sabar menjelaskan pada Olivia setiap detailnya.


Setelah berdoa mereka mengambil kertas ramalan, olivia membuka kertas ramalan “joe bacakan untukku” pinta Olivia karena tulisan pada kertas ramalan adalah huruf kanji, Olivia tidak mengerti.


“keberuntungan dan cinta” kata Jonathan


“benarkah?” Olivia tampak senang


“bodoh, itu hanya akal akalan manusia yang membuat ramalan” Derren yang selalu berdiri di dekat Olivia mengejek ramalan yang Olivia dapatkan


Olivia merebut kertas di tangan derren tanpa melihatnya “Joe bacakan ini”


Jonathan membacanya “kemalangan dan putus asa” Jonathan membaca ramalan Derren dengan mimik wajah sedih


“hahahhan” Olivia tertawa puas hingga terpingkal pingkal, wajahnya penuh dengan aura kemenangan!!!


“Joe berhenti omong kosong” kata Derren “kau harus belajar membaca huruf kanji lagi” karena tulisan yang ada di kertas yang Derren dapatkan jelas jelas sama dengan milik Olivia.


Jonathan menyeringai.


“apa ramalan yang kau dapat Joe?” tanya Olivia


“banyak hal baru menanti anda” kata Jonathan antusias


Derren mengambil kertas ramalan di tangan Jonathan dan membacanya, Jonathan tidak berdusta kali ini.


“kau mengatakan hanya akal akalan manusia tapi kau juga penasaran bukan?” ejek Olivia pada Derren


Derren tidak memperdulikan Olivia, ia berjalan menghampiri ayahnya Naoki yang berada beberapa meter jaraknya dari mereka berdiri.


“daddy bisakah ku pinjam mobilmu?”


“kau mau kemana Derren? jangan bilang kau ingin melarikan diri karena bosan?” ayahnya sangat mengerti sifat Derren


“aku ingin membawa Olivia berkeliling Tokyo karena besok kami harus kembali ke London” sebenarnya ini hanya alasan Derren agar bisa terbebas dari ritual membosankan itu


“baiklah, jangan buat ia kesal lagi” kata Naoki sembari mengulurkan kunci mobilnya


Derren meraih kunci mobil dan mengucapkan terima kasih pada ayahnya kemudian ia menghampiri Olivia tanpa basa basi ia meraih pergelangan tangan Olivia dan menyeretnya ke mobil dan membawanya berkeliling Tokyo.


Entah apa yang di rasakan Derren pada Olivia, kini ia merasa ingin selalu berada di sekitarnya, entah karena terbiasa telah hidup satu atap dengannya selama hampir setengah tahun atau karena hal lain.


“besok sore kita akan kembali ke London jadi nikmati waktumu hari ini” kata Derren datar


“kau baik sekali Derren kau pasti memiliki maksud jahat padaku” Olivia selalu berfikir buruk pada derren, bukan tanpa alasan namun karena derren memang selalu menjahili dirinya seumur hidup mereka.


Tiba tiba ponsel Olivia berdering, itu sebuah panggilan video.


Karena Olivia tidak membawa earphonenya Olivia terpaksa menjawab panggilan itu dengan suara yang bisa di dengar derren meskipun ia telah mengecilkan volume speakernya,


“Olivia kamu dimana?” tanya Theo pria yang berada dalam video


“aku di Tokyo”


“aku merindukanmu, kapan kembali?”


“besok aku kembali Theo”


“baiklah, anak anak di club paduan suara telah menantikanmu” kata Theo ia adalah ketua club paduan suara di Oxford University


Mereka larut dalam obrolah akrab, tiba tiba Derren meraih ponsel Olivia dan mematikan sambungan video call, lalu memasukkan ponsel Olivia ke dalam sakunya.


“jangan pernah berbicara dengan siapa pun ketika bersamaku” kata Derren dingin


‘hell!!!’ batin Olivia


Olivia hanya mengatupkan bibirnya karena kesal, ingin sekali mencekik leher sepupunya hingga Derren meminta ampun.


Mereka bahkan tidak turun dari mobil, berkeliling tanpa arah dan tanpa percakapan dari mulut mereka berdua.


Dan berakhir di sebuah restoran yang tampak sangat ramai, lalu derren mengajak Olivia untuk makan ramen, masih dengan suasana saling bungkam.


“coba ini” kata Derren meletakkan secangkir sake pada Olivia setelah makanan di piring mereka telah kosong.


“aku tidak mau minum alcohol”


“ini hanya sake biasa kau tidak akan mabuk” kata Derren meyakinkan “usiamu telah dewasa tidak ada yang melarang minum alcohol di sini, ini bukan Indosesia”


Kali ini Olivia menurut, karena ia sebenarnya juga penasaran dengan minuman fermentasi dari beras itu.


Ragu ragu Olivia membawa minuman itu kebibirnya


“pahiiiiitt” olivia hampir meludahkan sake di mulutnya tapi melihat ekspepressi Derren yang dingin dan menatapnya dengan tatapan seolah menyuruh Olivia menelan sake itu ia terpaksa menelannya,


Derren menuangkan lagi dan lagi, entah kenapa Olivia mulai terbiasa dan meneguknya tanpa hambatan.


“Derren ayo pulang kepalaku sakit” rengek Olivia manja


Derren segera membayar tagihan di meja mereka dan memapah Olivia menuju mobil.


“Derren bodoh, aku benci Derren aku benci kau pria bpdoh, hahahaha aku ingin mencekikmu” Olivia terus saja mengatai Derren tanpa ampun sepanjang jalan menuju rumah.


Derren hanya tersenyum mendengar rucauan Olivia, ketika sampai di depan rumah Olivia masih belum sadarkan diri, ia tertidur namun bibirnya terus berguman untuk mengutuk Derren.


“bodoh akan ku balas kau Derren”



Derren mencoba menggoyang goyangkan bahu Olivia


“bangun, atau mommyku akan melihatmu mabuk”


Olivia berusaha membuka matanya dan menatap Derren dengan susah payah “kau meracuniku Derren, kau jahat, bod....”


Tiba tiba Derren menyegel bibir Olivia yang terus mengutuknya, kesabarannya telah habis karena sepupunya terus saja mengatakan hal hal buruk tentangnya.


“Mmmmmmmm” Olivia berusaha meronta dan melepaskan bibirnya namun Derren perlahan mulai melumatnya penuh perasaan, itu adalah ciuman pertama Derren juga ciuman pertama Olivia. Tidak banyak yang terjadi karena Olivia hanya diam tidak bereaksi. Gadis itu tertidur.


Derren melepaskan ciumannya dan memandang wajah Olivia, menyentuh bibir Olivia dengan ujung jarinya kemudian mengecup keningnya, lalu membopongnya membawa masuk ke dalam rumah.


“Derren apa yang terjadi?” itu suara Livia panik karena melihat Olivia dalam gendongan Derren


“tidak ada mommy Olivia hanya tertidur” kata Derren sambil berlalu membawa Olivia ke dalam kamarnya, ia berjalan dengan buru buru.


“Derren bodoh... aku benci Derren....” guman Olivia


“kalian minum? Derren??? kau keterlaluan... kau mengajak Olivia minum alcohol?” Livia mengikuti Derren menuju kamar putranya


“Olivia hanya minum beberapa gelas dan ia sendiri yang ingin mencicipi sake” Derren jelas berbohong, jika Olivia tau pasti gadis di gendongannya akan memakinya habis habisan.


“pindahkan Olivia ke kamar Keiko, kalian sudah dewasa tidak boleh tidur di ranjang yang sama lagi”


“aku akan tidur di sofa mommy, jangan khawatir” Derren mencoba meyakinkan Livia ibunya


“tidak, mommy akan tidur di sini”


“mommy kau terlalu banyak berpikir”


“panggil asisten untuk menggantikan pakaian Olivia” kata Livia memerintahkan derren tanpa memperdulikan protes Derren, dan Derren dengan patuh menuruti seluruh perintah ibunya.


Malam itu Derren tidur di sofa ruang santai di lantai atas dan Olivia tidur di ranjang bersama Livia, jam 6 pagi Livia bangun dan meninggalkan ranjang itu. Derren segera bangkit berpindah ke dalam kamar dan mengunci kamarnya lalu ia melanjutkan tidurnya memeluk Olivia.


Paginya Olivia terbangun dan mendapati ia dalam pelukan Derren. Seperti biasa ia langsung berteriak dan memarahi Derren


“Derren kau mengambil kesempatan saat aku mabuk...!”


“kau sangat merepotkan tadi malam” guman Derren


“siapa yang mengganti bajuku?” tanya Olivia galak


“aku, kenapa?”


“tidak sopan!!!!” bentak Olivia


“siapa yang tidak sopan?” Derren menaikkan kedua alisnya


“kau....” Olivia membelalakkan matanya bertambah galak


“aku telah melihat semua, memegang dan menikmati” kata Derren menggoda Olivia


“kau... kau melecehkanku....” Olivia mulai menangis


“kita sama sama menikmati, kita mabuk” Derren semakin semangat menggoda Olivia


“kau benar benar cabul, kau bodoh dan kau kurang ajar” maki Olivia


Derren bangkit dari tidurnya dan duduk di depan Olivia yang mulai menangis sambil menatapnya galak


“gadis terbodoh di dunia, asisten rumah tangga yang menggantikan bajumu” kata Derren santai sambil meninggalkan ranjang “oh iya Olivia tubuhmu itu tidak sexy sama sekali tidak menarik dimataku” lanjutnya dengan nada malas.


“bodoh....!” teriak Olivia kesal ia benar benar benci pada Derren, dadanya terasa bengkak terisi kemarahan dan kebencian pada pria yang tak lain adalah sepupunya sendiri.


Sudut bibir Derren terangkat, tidak menarik?


Justru tubuh Olivia yang pertama kali bisa membuat kelelakian Derren bereaksi saat ia pertama kali melihat dada Olivia tepatnya saat itu mereka berada di London.


LONDON


Sesampainya mereka berdua di London Olivia masih mengalami jetlag, ia hanya berguling guling di atas tempat tidurnya. Ia bahkan mulai frustasi karena tidak bisa memejamkan matanya, akhirnya ia memutuskan untuk mandi meskipun waktu telah menunjukkan jam 12 malam, ia merendam tubuhnya di air hangat.


Setelah mandi ia kemudian mencoba memejamkan matanya kembali dan berhasil tertidur.


Paginya setelah membuat sarapan untuk Derren dan dirinya, gadis itu bergegas pergi ke kampus tanpa mempperdulikan Derren yang belum keluar dari kamarnya.


“meranda apa kabarmu?” sapa Olivia pada sahabatnya sambil mendudukkan pantatnya di samping Miranda “aku baik baik saja, bagaimana denganmu?”


“baik, Miranda apa kau telah mengumpulkan tugasmu?”


“tugas? Tugas apa?” Miranda tampak bingung ia mengerutkan keningnya


“mata kuliah anatomi, bukankah minggu lalu...”


“tidak ada tugas Olivia” kata miranda tak kalah bingung


“siaaaalll” jerit Olivia dengan suara tertahan ‘Derren bajingan ternyata aku di bodohi olehnya lagi’ geramnya dalam hati


“kenapa?” tanya Miranda benar benar bingung


“Miranda mulai besok aku akan tinggal di asrama, aku akan menemui kepala asrama hari ini juga bisakah kau membantuku?”


“benarkah?” Miranda begitu antusias


“yaaa... aku serius” jawab Olivia yakin ‘cukup!!!! Derren kau benar benar di luar batas kali ini" batin Olivia kesal tak terkira.


Hari itu juga Olivia mengurus semua hal hal yang di perlukan untuk tinggal di asrama, dan sore harinya ia kembali ke apartemen lalu mengemas seluruh barang barangnya. Lalu bergegas memanggil taxi menuju asrama putri, ia bahkan tidak lagi bisa menunggu besok untuk segera pindah, Olivia tidak ingin melihat wajah Derren lagi. Titik!!!


Perasaan bencinya pada Derren telah sampai ke ubun ubun, sejak hari ini Olivia akan menganggap Derren sebagai orang yang tak pernah ia kenal.


Sesampainya di kamar asramanya tanpa merapikan barang barangnya Olivia masuk ke dalam selimutnya, mulai memejamkan matanya namun Ponselnya tidak berhenti berdering, Derren tak henti hentinya memanggilnya hampir saja ia membanting ponselnya karena emosi namun Olivia masih berfikir jernih dan memilih mematikan ponselnya, lalu tertidur.


Di temoat tinggalnya Derren menyadari kamar Olivia tampak sepi tidak ada pergerakan ia membuka pintu kamar gadis itu dan menyalakan lampu kamar. Alangkah terkejutnya semua barang gadis itu tidak ada, Olivia melarikan diri.


Berbagai perasaan takut tiba tiba menyeruak, ia takut Olivia pergi bersama pria yang memanggilnya melalui video call beberapa hari yang lalu ketika mereka di Tokyo. Apalagi Olivia tidak menjawab panggilan Derren dan mematikan ponselnya.


Malam itu Derren tidak bisa memejamkan matanya.


Paginya Derren bergegas pergi ke kampus, ia harus menemui Olivia dan menyeretnya kembali tinggal bersamanya, tapi sayangnya ia tak mendapatkan keberadaan gadis itu hingga sore hari.


Sementara Oliva karena tidak ada jadwal kelas hari ia memanfaatkan harinya untuk merapikan barang barangnya, memasak dan membuat kue bersama Miranda lalu memanjakan diri mereka merawat kulit, mengenakan masker wajah dan rambut. Ia bahkan lupa tidak menyalakan ponselnya hari itu hingga keesokan paginya ia pergi ke kampus, dan seorang pria menjulang tinggi menatapnya dengan pandangan dingin bercampur amarah berdiri tepat di depannya.


Olivia melewatinya seolah melewati udara dan masuk ke kelasnya.


Ketika jadwal kelas berakhir Olivia pergi ke kantin bersama Miranda, di sana ia bertemu Theo dan segera bergabung. Mereka bertiga berbicara dengan hangat dan akrab.


“kau terlalu lama bolos di kegiatan club paduan suara” kata Theo


“maafkan aku Theo, aku masih ada 1 kelas lagi nanti setelah kelas berakhir aku akan datang ke ruang club” kata Olivia


“kami menunggumu” kata Theo “Miranda apa kau ingin bergabung?”


“terima kasih Theo tapi ku rasa aku tidak memiliki bakat bernyanyi sayang sekali” kata Miranda


Tiba tiba sebuah tangan besar mencengkram pergelangan tangan Olivia dan menyeretnya


“Derren....”


“kembali bersamaku”


“aku masih ada kelas jam 1 siang”


Derren tidak mempperdulikan dan tetap membawa Olivia menuju parkir dan dengan paksaan memasukkan Olivia ke dalam mobilnya. Sementara Theo dan Miranda keduanya kebingungan, terutama para gadis gadis yang melihat pemandangan Derren yang terkenal dingin dan acuh pada mahasiswi itu menyeret seorang gadis berwajah asia tentu saja hal itu segera menjadi gosip hangat dan menarik.


“jadi kau tinggal bersama pria itu?” tanya Derren dengan nada sinis


“kalau iya kenapa?” Olivia menjawab dengan nada suara tinggi


“akan ku laporkan pada papi” ancam Derren, ia dan Jonathan biasa memanggil Danu papi


“laporkan saja, aku tidak peduli, lagi pula kau tidak ada urusan denganku Derren bodoh” Olivia selalu membalas kata kata Derren dengan nada tinggi


karena sangat emosi mengingat kejahilan Derren membuatnya mengerjakan tugas palsu.


“aku bertugas menjagamu selama kau berada di sini Olivia bodoh” jawab Derren dengan nada tidak senang


“aku bukan anak kecil aku tidak perlu di jaga olehmu orang yang selalu memanfaatkanku” Olivia membesarkan matanya


“minggu depan Keiko datang ada kompetisi piano, ia akan tinggal bersama kita selama kompetisi berlangsung” kata Derren, nada suaranya telah kembali datar


“aku telah memutuskan untuk tinggal di asrama, aku tidak ingin tinggal bersamamu, kau tau aku sangat membencimu Derren dan masalah Keiko datang aku juga tidak ada urusan!” sedikitpun Olivia tak menurunkan nada suaranya, malah semakin galak.


“baiklah, masalah tugas palsu itu aku minta maaf” Derren berbicara lembut


“apa? Seorang derren meminta maaf? Hahahaha” Olivia tertawa sumbang


“kembali atau kau ku seret paksa?”


“aku lebih suka tinggal di asrama, tolong hargai keputusanku”


“Olivia kau benar benar membuatku marah” Derren menggeretakkan giginya kesal.


“Derren kau benar benar pria pemaksa, asal kau tau aku tidak mau perduli padamu” kata Olivia seraya membuka pintu mobil.


“oh iya Derren, A K U – BENCI – KAAAAU!!!!” kata Olivia sambil menutup pintu mobil lalu berlari menjauhi mobil itu.



TAP JENPOL DAN KOMEMNYA PLISH BUAT AUTHOR 💖💖💖💖💖