
Sore hari ketika Olivia kembali ke asrama Miranda menyambutnya dengan tatapan meminta penjelasan.
“Miranda, hubungan kami bukan seperti yang kalian kira” kata Olivia sambil menghempaskan tubuhnya di sofa
“kau diam diam mengenal pria idola nomer satu di kampus bahkan aku yakin kalian sangat dekat”
“aku mengenalnya sejak balita, karena kami bersepupu”
“apaaaa?!” Miranda sangat terkejut
“Miranda kau berlebihan, kami bersepupu papiku dan mommy Derren mereka kakak beradik”
“tapi wajahmu Asia dan Derren...”
“tentu saja berbeda, ayahnya Derren berdarah Eropa” Olivia menjelaskan “dan Derren adalah musuh terbesarku sejak kecil, aku membencinya dan ia juga membenciku, aku sangat membenci Derren dan ingin mencekiknya hingga mati” racau Olivia sambil menceritakan seluruh keburukan Derren yang membuatnya muak.
Miranda tertawa karena sikap Olivia menceritakan semua keburukan Derren dengan begitu menggebu gebu dan seolah olah benar benar ingin mencekik saudara sepupunya.
“aku yakin wanita yang menjadi istrinya kelak ia akan menjadi wanita yang paling malang di muka bumi ini” kata Olivia yakin.
---
Sudah satu minggu Olivia lalui dengan tenang tinggal di asrama, melakukan kegiatan belajar dan mengikuti club paduan suara tanpa gangguan.
Sore itu ia baru saja hendak keluar dari ruang club paduan suara sosok tampan menjulang di depannya dan langsung meraih pergelangan tangan Olivia untuk menyeretnya ke mobil dan membawanya ke apartemen. Siapa lagi jika bukan Derren.
“mulai hari ini tinggalah di sini” kata Derren sambil menutup pintu tempat tinggalnya.
“Derren ku mohon jangan paksa aku, kau tau kita tidak cocok aku lelah jika harus terus terusan berdebat denganmu” kata Olivia dengan nada rendah
Derren mendekati Olivia, meraih telapak tangannya dan menatap mata Olivia
“aku janji aku tidak akan lagi membuatmu marah” kata Derren meyakinkan
“hahaha.....” Olivia tertawa renyah
“actingmu luar biasa...” Olivia tertawa “Oscar mungkin berhutang piala padamu hahaha”
“aku serius” kata Derren ‘setidaknya selama Keiko disini, aku perlu bantuanmu untuk menemani Keiko yang cerewet sama sepertimu’ cibir derren dalam hati
“aku tau, Keiko akan tinggal di sini dan kau perlu sandiwara untuk menutupi kelakuanmu pada mommymu, baiklah aku akan bekerja sama” kata Olivia
“terima kasih atas pengertisnmu Olivia”
“tapi semua ada harganya” kata Olivia dengan nada sombong
“berapa harganya?” tanya Derren dengan nada sinis
“kau harus jadi pelayanku”
“apa??? kau...?!” tentu saja Derren terkejut mendengar syarat yang konyol itu.
“pilihanmu hanya iya atau tidak”
“baiklah” kata Derren cepat
“apa?” Olivia perlu mendengarnya sekali lagi
“baiklah” Kata Derren mengulanginya
Seorang Derren mengalah begitu cepat pada Olivia?
‘aku harus mawas diri untuk menghadapi rencana licik Derren’ batinnya
“barangku ada di asrama aku harus mengambil beberapa keperluan”
“beli baru saja aku akan mengantarmu”
“kau baik sekali aku enggan menolak kebaikanmu Derren”
Dan mereka berdua benar benar pergi berbelanja bahkan Derren dengan sabar mengikuti Olivia kemanapun ia memilih barang dan kesempatan itu tidak Olivia sia siakan, Olivia memperalat Derren untuk memegangi kantong belanja dan menggunakan kartu bank Derren sesuka hatinya. Hari itu Derren tidak mengeluh dan tidak menolak semua keinginan Olivia.
Setelah selesai belanja mereka makan malam di sebuah restoran jepang.
Derren menuangkan sake dan mengulurkan pada Olivia, Olivia menolak
“tidak, aku tidak mau mabuk lagi, kau akan melecehkanku lagi”
“kau menuduhku? Apa kau memiliki bukti?” tanya Derren datar namun ia menatap Olivia dengsn tatapan manis.
Olivia berpikir sejenak, memang tidak ada bukti.
Dan melihat tatapan manis Derren padanya Olivia memilih menerimanya, Derren terus saja menuangkan hingga Olivia mabuk dan tertidur di atas meja.
Segera Derren membayar tagihan makan mereka dan membawa Olivia kembali ke apartemen, Derren merebahkan Olivia di kamarnya mungkin karena suasana hati Olivia sedang baik gadis itu tidak berteriak memaki Derren seperti ketika mabuk di Tokyo. Derren memandangi wajah cantik sepupunya, bibirnya tipis berwana pink, Derren menyentuh bibir Olivia dengan ujung jarinya lalu mencicipi bibir Olivia mengecupnya dengan lembut sedikit melumatnya. Lalu ia naik ke atas ranjang dan membawa Olivia kedalam pelukannya
Entah sejak kapan ia merasa tidak bisa hidup terpisah lagi dari Olivia, kenapa gadis yang mulai mencuri hatinya adalah sepupunya sendiri?
Ada sedikit rasa getir dalam hatinya, sepertinya ia merasakan jatuh cinta pada sepupunya sendiri, benar benar konyol.
Derren mencoba berpikir jernih, mungkin ini hanya efek dari sake yang diminumnya. Ia berusaha menepis perasaan di dadanya dan memaksa matanya untuk terpejam.
Paginya ketika bangun tidur Olivia mendapati dirinya berada di kamar Derren.
Ketika ia keluar dari kamar, ia mendapati Derren berada di dapur sedang memasak, Olivia reflek mendekati Derren dan mulai menggodanya.
“Derren apa kau mendapatkan pencerahan?” tanya Olivia sambil duduk dan meminum air dari gelas yang di pegangnya.
Tidak seperti biasa Derren tidak membalas
“cepat ganti pakaianmu, cuci wajahmu untuk sarapan” kata Derren dengan nada dewasa.
“baiklah tuan pelayan” kata Olivia sambil terkekeh lalu ia melesat menuju kamarnya dan terkejut mendapati kamar itu rapi dengan seprei berwarna nude pink, dan beberapa paper bag belanja Olivia tadi malam tersusun rapi di atas ranjang, bahkan ada beberapa yang tampak baru, Derren telah membelikan untuknya.
Ketika membuka paper bag itu ada 5 pasang piyama Kembar, pasti untuk dirinya dan Keiko.
Olivia bergegas mencuci wajahnya dan mengganti pakaiannya dengan piyama barunya dan kembali menuju dapur
“Derren terima kasih” kata Olivia
“cepat makan” kata Derren dengan santai
Dulu biasanya Derren pasti akan mengatainya “makan, agar tubuhmu tidak semakin tipis”
Olivia makan sarapannya dengan bahagia, yang pasti ia bahagia karena Derren tidak mempermainkannya hari ini. mereka juga sedikit mengobrol, hanya sedikit karena tidak banyak memiliki bahan obrolan.
“jam 3 sore kita jemput Keiko ke Air Port”
“oke” jawab Olivia singkat
Sudah satu minggu Keiko berada di London, ia membawa 1 asistennya yang bernama Lelya dan 1 asisten rumah tangga yang di kirim ibunya untuk merawat kebutuhan makan Keiko selama di London. Jadi masalah memasak Derren tidak perlu lagi repot repot melakukannya, hanya tinggal membeli kebutuhan mereka saja, dan itu semua Derren yang melakukan.
Sedangkan Keiko setiap hari ia berlatih dengan tuts pianonya yang terletak di tengah ruang keluarga.
“besok kompetisinya di mulai mekipun hanya babak penyisihan aku tetap merasa sangat gugup” kata Keiko pada Olivia
“besok kami akan mendampingimu, kau jangan khawatir” kata Derren
“sebelum aku tampil bisakah oniisan membawaku belanja agar aku tidak gugup?” tanya Keiko “aku urutan ke 46 aku tampil jam 4 sore” Keiko, ia mewarisi sifat ibunya, segala masalah yang mengganjal otaknya bisa di selesaikan dengan berbelanja.
“baiklah kita akan belanja terlebih dahulu” jawab Derren dengan sabar dan manis, berbeda dengan cara berbicara pada Olivia, membuat Olivia merasa ingin menguliti wajah asli Derren.
Setelah berbelanja dan makan mereka menuju gedung untuk pertunjukan, karena masih jam 1 siang mereka menonton beberapa kontestan lain. Keiko mendengarkan dengan seksama, Olivia juga demikian.
Jam 2 siang keiko, Olivia dan Lelya asisten Keiko masuk ke bagian belakang panggung, Keiko bersiap siap, mengganti gaunnya dan menata rambutnya. Olivia yang menata rambut Keiko dan asistennya sedikit mendandani dengan memakaikan lipstik berwarna natural pink, merapikan alisnya dan memakaikan sedikit maskara.
Di balut dengan gaun berwarna putih setinggi lutut tanpa lengan dan memakai sepatu tak terlalu tinggi Keiko nampak sangat bercahaya di atas panggung, setelah memberi hormat pada penonton gadis berusia 15 tahun itu mulai memainkan tuts pianonya membawakan chopin 1 semua orang tampak diam mendengarkan alunan music yang di mainkan Keiko,
Olivia kembali ke barisan bangku penonton bahkan tanpa sadar menggenggam telapak tangan Derren, tentu saja Derren juga membalas genggaman tangan Olivia. Mereka saling menggenggam erat.
Tuan Edward pollini salah satu juri dan master piano sangat terkesima melihat permainan Yamada keiko, gadis itu tampak sangat bersemangat, melankolis dan dari music yang di bawakannya terdengar seperti ia memiliki ambisi yang sangat besar. Semangat itu persis seperti dirinya ketika muda, meskipun kadang emosinya masih terlalu tampak naik turun di musik yang ia mainkan namun pria tua itu benar benar merasa tertarik pada permainan music gadis itu, ia harus mendapatkan gadis kecil itu untuk diambil menjadi muridnya, Edward merasa Keiko adalah bibit pemusik handal yang harus terus di asah.
Bahkan tuan Edward lah orang yang pertama bertepuk tangan membuyarkan para hadirin dan disusul gemuruh tepuk tangan seluruh orang yang berada di gedung itu.
Olivia menyeka air matanya ia kembali menuju belakang panggung menjemput keiko, setelah Keiko mengganti pakaiannya mereka kembali duduk di barisan penonton.
Kompetisi berlangsung hingga jam 6 sore dan mereka menunggu di depan luar ruang perlombaan untuk melihat hasilnya.
Derren sedang berdesak desakan untuk melihat pengumuman sementara Keiko berdiri bersama Olivia dan asistennya.
“nona Yamaa keiko” panggil tuan Edward pada Keiko
“hallo master Edward pollini” sapa Keiko ia tak menduga juri dan master piano yang ia kagumi mengingat namanya
“aku tertarik dengan permainanmu, kau sangat berbakat” puji pria tua itu langsung
“terima kasih master”
“jika kau memerlukan guru musik aku bisa merekomendasikan guru sekolah music terbaik di seluruh dunia” kata pria tua itu seraya mengulurkan kartu namanya
Keiko dengan senang hati menerimanya.
“terima kasih master saya sangat senang mendengarnya, saya pasti akan mencari Anda kelak” kata Keiko sopan
“Kei chan kau masuk 10 besar” kata Derren yang datang sambil terengah engah ia sangat bersemangat.
Edward melihat wajah Derren dengan seksama, ia sedikit terkejut melihat wajah pria muda didepannya, seperti familiar di mata Edward.
Keiko mengenalkan kakaknya dan Olivia pada Edward pollini.
“master, ini Derren kakak saya” kata Keiko memperkenalkan kakaknya
“hallo saya Derren kakaknya Keiko” Derren menjabat tangan pria tua di depannya, Derren tau pria itu adalah Edward pollini juri dan seorang master piano.
“apa kalian tinggal di London?” tanya tuan Edward
“saya kebetulan mahasiswa di Oxford University, sedangkan Keiko adik saya tinggal di Tokyo”
Tuan Edward hanya mengangguk angguk tanda mengerti, setelah berbincang bincang sedikit mereka akhirnya berpisah dengan tuan Edward dan kembali menuju tempat tinggal mereka.
Besoknya setelah kompetisi berakhir Keiko harus puas dengan peringkat nomer 3, gadis remaja itu tentu saja kecewa namun di atas panggung ia tetap tersenyum dengan manis saat menerima pialanya.
Dan ketika hendak meninggalkan gedung itu keiko mencari tuan Edward, ia ingin mengatakan bahwa ia ingin belajar dari master piano itu. Namun Keiko kembali kecewa karena ia tak menemukan pria tua itu.
Sepanjang perjalanan pulang gadis itu cemberut, Olivia dan asistennya tak berani mengajaknya berbicara.
“permainanmu sangat bagus kei-chan” kata Derren memecah keheningan
“tapi aku tidak memenangkan juara 1” Keiko tampak begitu kecewa
“kau masih sangat muda, kau bisa belajar lagi tahun depan kau bisa mengikuti kompetisi lagi” kata Derren mencoba menghibur
“tapi aku ragu tidak bisa mendapatkan juara 1 tahun depan” Keiko mulai mengeluh di susul keluhan keluhan lain.
Sementara Derren mulai kehilangan kesabaran, ia seperti Andrew ayahnya yang tidak memiliki banyak stok membujuk orang lain “aku akan merekam videomu yang sedang mengeluh dan mengirimkan ke daddy agar kau tidak di izinkan mengikuti kompetisi la...”
Olivia mencubit paha Derren yang sedang menyetir karena kesal dengan kata kata yang di ucapkan Derren pada adiknya.
‘oh tuhan pria ini tidak bisakah sedikit saja bermulut manis untuk menghibur adiknya’ rutuk Olivia dalam hati?.
“Kei-cian, belajarlah lebih giat, bukankah master Edward juga menawarkanmu untuk membantumu menjadi pianis hebat?” Olivia membuka suaranya
“neesan, kenapa kau tahan tinggal bersama kakakku?” tanya Keiko langsung, ia memang anak kecil tapi bukan berarti ia tidak mengerti suasana tegang di dalam mobil itu dan sandiwara keduanya selama Keiko tinggal bersama mereka.
“kakakmu hanya kelelahan kei” Olivia menutupi kelakuan Derren yang sangat menyebalkan
Derren melirik senang pada Olivia.
Paginya Derren menghubungi master Edward untuk menyampaikan niat Keiko bertemu beliau, mr edward meminta Derren membawa adiknya ke fakultas ilmu seni di Oxford University tempat beliau mengajar.
Derren segera membawa adiknya ke sana.
“Keiko, apa kau ingin belajar di sini?” tanya master Edward
“tentu saja master, tapi saya baru kelas 1 sekolah menengah atas”
“oh baiklah, kau harus menyelesaikan studymu di Jepang terlebih dahulu lalu datanglah ke sini, kau akan menjadi murid spesialku”
“benarkah? Saya tidak sabar menunggu saatnya tiba, Terima kasih master”
“Bahkan kau bisa datang kapan saja saat kau memiliki hari libur, aku akan membimbingmu hingga kau menjadi pianis nomer satu di dunia”
“maser saya sangat senang dan tersanjung, saya pasti akan berusaha untuk menjadi pemain piano seperti master” kata Keiko bersemangat.
“kapan kau akan kembali ke Tokyo?”
“lusa saya akan kembali”
“besok datanglah kembali kesini aku akan memberikan padamu beberapa bukuku” kata pria tua itu.
“master, terima kasih”
Mereka bertiga berbincang bincang dengan hangat hingga menjelang sore dan akhirnya kedua kakak beradik itu berpamitan undur diri.
Sepulangnya Keiko ke Tokyo Olivia kembali tinggal di asrama bersama Miranda, ia juga tidak pernah berbicara lagi pada Derren. Hidup Olivia kini benar benar terasa damai.
Namun tidak untuk Derren, ia merasa hidupnya kurang. Ia ingin setiap malam meja makan di tempat tinggalnya itu terisi dengan makan malam bersama Olivia. Entah dorongan dari mana datangnya, keinginannya untuk memiliki Olivia begitu menggebu gebu datang begitu saja.
Namun sadar akan posisi mereka, Derren berusaha membunuh perasaannya, ia tidak bisa membiarkan perasanannya tumbuh begitu saja karena suatu saat pasti akan menjadi mala petaka dalam keluarganya, itulah sebabnya ia tidak melarang Olivia untuk kembali ke asrama.
MOHON LIKE DAN KOMENNYA BABY BABY AKKUUUUUUU 😍😍😍😍
BIAR SEMANGAT AUTHOR MEMBARA!!!!
yang tanya prlilly dimana?
ini aku jawab.
semua novel yang di update sekarang itu novel yang udah jadi. saat ini author lagi ada sedikit pikiran yang mengganggu, bikin kacau mood. maafkan blm dpt cerita yang greget untuk melanjutkan prilly.