Found Love In Kyoto

Found Love In Kyoto
#Series 72


Di sisi lain kota Tokyo seorang pria mencengkeram ponselnya hingga buku buku jemarinya memucat seperti darah berhenti mengalir setelah melihat sebuah foto.



Keluarga kecil yang harmonis.


Takumi menghisap tembakaunya lebih dalam lagi, menghembuskannya perlahan, seolah menikmati setiap nikotin yang menggerogoti paru parunya.


Ia mengambil pena dan mulai menuangkan isi hatinya di atas selembar kertas, bayangan wajah kecil seorang gadis menari nari di otaknya.


Ingin sekali ia memilikinya, wajah, rambut ikalnya, cara biccaranya yang anggun, senyumnya yang menggemaskan, dan yang pasti tatapan sayunya yang tampak rapuh itu, seperti badai yang tiba tiba memporak porandakan perasaan takumi.


LONDON


Richard memarkirkan mobilnya dengan buru buru di halaman rumah sakit di mana Merry di rawat, ia bahkan tidak sempat mengantarkan Miranda sampai tempat tinggal mereka.


“honey, kau susul aku, atau kau tunggu di mobil?” tanya Richard sedikit panik


“kau duluan, biar aku mengurus mobilnya” kata Miranda, Richard bahkan parkir sembarangan di halaman rumah sakit.


Richard buru buru datang ke atap gedung di mana petugas keamanan memberitahunya, di sana para perawat sedang membujuk Merry untuk menyingkir dari tepi atap gedung itu. Sementara di bawah polisi dan para petugas keamanan telah membentangkan jaring untuk mengantisipasi jatuhnya Merry.


Ini bukan kali pertama gadis itu mengancam untuk bunuh diri melompat dari atap bangunan itu.


“Merry” kata Richard sedikit berteriak dan terengah engah “menyingkir dari situ, kemarilah” kata Richard dengan nada lembut


“aku ingin mati, Richard aku ingin mati, biarkan aku mati”


“mati tidak menyelesaikan masalah Merry, kau masih bisa sembuh, percayalah padaku”


“tidak ada yang menyayangiku di dunia ini, tidak ada” rintihnya pelan


“setidaknya sayangi dirimu sendiri Merry” Richard maju selangkah


“jangan mendekat, aku tidak ingin hidup lagi Richard”


Richard mendengus kesal, ia begitu lelah hari ini, dan kejadian ini juga berulang ulang, tiga hari yang lalu juga Merry membuat drama merepotkan ini.


“sudah berapa jam ia membuat drama seperti ini?” tanya Richard pada petugas keamanan yang berada di atap itu.


“sejak anda pulang, ia langsung berlari ke atap dan mengancam akan bunuh diri jika anda tidak datang sir”


“Holly shit!!!” maki Richard sambil mengacak acak rambutnya kesal, ia seharusnya di rumahnya menikmati makan malam dan bercengkerama bersama Cassandra putri cantiknya yang bermata Biru seperti dirinya, bayi berusia 2 bulan yang sangat menggemaskan.


“baiklah, Merry, aku lelah dengan dramamu, mungkin aku mengundurkan diri menanganimu, mulai besok kau kan di tangani psikiater lain, atau jika kau ingin mati silakan saja” Richard berbalik dan melangkah hendak pergi namun tiba tiba tubuhnya di tubruk dari belakang, Merry memeluknya erat.


“Richard jangan tinggalkan aku” isaknya “Richard bawa aku pergi dari rumah sakit ini”


“ayo kembali ke kamarmu” ajak Richar


“aku tidak mau”


“Merry jangan keras kepala”


“Richard keluarkan aku dari tempat terkutuk ini, aku muak” keluh Merry


“kita bicarakan dikamarmu oke?” bujuk Richard


“temani aku malam ini” rengeknya Merry


“ayo ke kamarmu”


Miranda yang sedari tadi memandangi adegan itu menyipitkan matanya, dadanya bergemuruh naik turun tak berirama.


Andai saja Merry bukan gadis yang mengalami gangguan psikologis tentu saja Miranda dengan senang hati akan menjambak rambut pirangnya hingga membuat gadis itu tersungkur ke lantai tanpa ampun., lalu ,enginjal injaknya hingga perasaan Miranda puas.


Richard memandang wajah Miranda dengan tatapan lembut dan penuh arti, ia membawa Merry ke dalam ruangannya, mendudukkan di sofa dan mencoba mengajaknya berbicara.


“Merry, kau ingin keluar dari sini dan bertemu Dave?”


Merry menggeleng


“orang orangku masih mencari keberadaan Dave”


“Dave tidak menyayangiku, dia memperkosaku” isak Merry, ia telah menceritakan semua yang ia alami pada Richard seolah olah di dunia ini hanya Richard satu satunya orang yang ia percaya.


“kau ingin meminta maaf padanya bukan?”


Merry mengangguk


“bagaimana jika kau saja yang bersamaku Richard? Rumah sakit milik ayahku bisa kau kelola”


Richard tertawa kecil “aku sudah memiliki Miranda, aku tidak bisa bersamamu”


Merry pasti tidak tahu, ibunya tidak pernah memberitahu Merry apa pun. Rumah sakit milik keluarga Merry bukanlah sejak lama sahamnya telah di akusisi oleh ayah angkatnya, Andrew dan di kelola langsung oleh Tommy, bahkan Richard juga salah satu pemegang saham di sana meskipun tidak besar, Andrew mengajarinya sedikit cara menginvestasikan uang miliknya agar berkembang pesat, tidak hanya mengandalkan gajinya untuk menunjang masa depannya dan anak anaknya kelak.


“tinggalkan saja dia” rengek Merry “hanya kau yang paling baik padaku di dunia ini Richard”


“karena aku adalah doktermu” jawab Richard dengan sabar


“tapi aku mulai menyukaimu Richard”


“tidak masalah kau menyukaiku, itu wajar, tapi kau harus kendalikan dirimu, jangan menyusahkanku, apa kau mengerti?” tanya Richard lembut


Merry mengangguk


“sekarang kau makan malam dan minum obatmu”


“aku tidak lapar”


“perawat akan mengurusmu”


“aku ingin kau yang mengurusku”


“Merry...” Richard menghela nafas berat “kau juga seorang dokter bukan?” tanya Richard


Merry mengangguk


“siapa yang bertugas mengurus pasien?”


“perawat”


“gadis pintar, aku akan menunggumu di luar, setelah kau minum obatmu aku akan kembali ke sini, aku akan mengecek apa kau menurut atau tidak”


Merry mengganggu dengan patuh


“jangan berbohong, aku menunggumu”


Richard mengangguk, setelah itu ia memanggil perawat untuk mengurus Merry, memberinya makan dan meminum obatnya, tentu saja 10 menit kemudian setelah minum obat kantuk Merry menyerang dan ia telah lupa dengan apa yang ia tunggu.


Masalah Merry teratasi namun tidak masalah Richard karena istri tersayangnya mendengar semua percakapan mereka dan menatap Richard dengan pandangan dingin yang seolah olah bisa membekukan seluruh ruang mobil Audi A8 yang mereka tumpangi.


Miranda membanting pintu mobil dengan kasar, ia langsung menuju lift, masuk dan menekan tombol penutup pintu lift lalu menekan angka yang ia tuju di mana tempat tinggalnya berada.


Ia juga segera membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaiannya dengan gaun tidurnya, lalu menuju kamar putrinya tanpa mempedulikan suaminya.


Sementara Richard ia juga membersihkan tubuhnya, mengganti pakaiannya lalu menyiapkan makan malam untuknya dan Miranda.


Kadang lapar juga mempengaruhi kondisi psikologis seseorang, sebagian orang tidak mampu lagi berpikir jernih di saat lapar melanda tubuhnya.


Setelah selesai menyiapkan makan malamnya, Richard memasuki kamar putrinya dan mendapati Miranda merebahkan tubuhnya disisi tubuh putrinya


Dengan lembut Richard menyentuh bahu istrinya,


“sayang ayo makan dulu”


“aku tidak lapar”


“kau harus makan, perhatikan kualitas Asimu” Richard menyentuh pipi bulat Cassandra, putri mungilnya yang memiliki wajah secantik Miranda namun memiliki manik mata biru seindah dirinya.


Miranda mengatupkan bibirnya, ia tidak bergeming.


Richard sudah cukup lelah dan lapar hari ini, ia tidak memiliki lagi stok kesabaran untuk membujuk siapa pun lagi, dengan cepat ia mengangkat tubuh Miranda ala bridal style dan membawanya ke meja makan, mendudukkannya di kursi dan memaksa istrinya untuk makan.



**SELAMAT MALAM 😙😙😙😙


SENGAJA AUTHOR KASIH FOTO MAKANAN BIAR PADA LAPAR, TAPI AUTHOR BAIK HATI KOK GAK KASIH FOTO INDOMIE KUAH PAKE CABE DAN TELUR SETENGAH MATENG, KARENA MUSIM HUJAN NANTI BANYAK YANG NGILER KALAU KASIH FOTO INDOMIE REBUS 😀😀😀😀


ADA YANG KANGEN MERRY??? RICHARD DAN MIRANDA????


YANG MAU BADAI BADAI RUMAH TANGGA SABAR DULU YA, NANTI DI KIRIM BADAINYA 😅😅😅


JANGAN LUPA TAP JEMPOL KALIAN DAN KOMEN 😙😙😙😙**