Found Love In Kyoto

Found Love In Kyoto
Andrew


Seperti wajahnya tertampar. Itulah yang pertama kali dirasakan Andrew ketika mendengar apa yang dilakukan oleh Nameera putri satu-satunya. Marah, tentu saja ia marah karena putrinya telah berbuat kejahatan yang sangat serius yang mencoreng wajahnya. Terlebih lagi, orang yang di celakai adalah Keiko. Replika wanita yang sangat di cintai, replika wanita yang pernah membuatnya gila.


“Val, maafkan Daddy. Kalian kembalilah ke Indonesia terlebih dulu.” Andrew membelai rambut putranya yang berusia 5 tahun, anak kecil itu mengerjapkan matanya seolah ia mengerti. Andrew mengusap layar ponselnya kemudian jemarinya jemari ibu jarinya mulai menari dengan lincah di atas layar ponsel untuk memesan tiket kembali ke Uzbekistan.


Tidak lama seorang wanita bersama seorang anak berusia sepuluh tahun masuk ke dalam ruangan tersebut, wanita itu adalah istri Andrew yang bernama Amelia dan anak berusia sepuluh tahun itu adalah anak adalah buah cinta dari Amelia dan Andrew yang pertama bernama Julio.


“Apa aku terlalu lama?” Amelia meletakkan kantong plastik belanjaannya kemudian ia meraih Valentino yang masih duduk di atas meja. Ia menurunkan Valentino yang langsung berlarian menuju tempat di mana televisi berada untuk menonton acara kartun meski mereka tidak mengerti bahasa Jepang karena mereka berada di Kyoto karena sedang berlibur.


“Sayang, ada yang harus kubicarakan kepadamu,” kata Andrew.


“Ada apa?” Amelia menatap wajah suaminya. Jarak usia mereka terpaut lima belas tahun tetapi mengapa pria di depannya masih terlihat tampan.


“Aku harus kembali ke Uzbekistan ada masalah penting,” jawab Andrew. Ia sengaja mengucapkan secara lambat kalimatnya agar Amelia tidak panik dan memberondongnya dengan mulut cerewetnya.


“Bukankah ini waktuku? Anak-anak masih libur sekolah dan ini adalah waktuku bersamamu.”


Benar saja, wanita itu tidak bisa bersikap tenang bahkan tidak bertanya urusan apa yang mewajibkan suaminya harus mendadak kembali. Tetapi, Andrew telah memahami Amelia selama tujuh belas tahun mereka saling mengenal. Ia hanya tersenyum kemudian meletakkan telapak tangannya dibatas kepala istrinya. Mereka telah membangun rumah tangga selama lima belas tahun, mereka mengatur pembagian waktu dengan cermat dan adil hingga sejauh ini belum pernah ada masalah sedikit pun. “Nameera membuat masalah. Dia bisa terjerat hukum, aku mohon pengertianmu. Bisakah?”


Amelia mendongakkan wajahnya, perlahan ia meraih tangan Andrew dan menurunkannya dari atas kepalannya. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis meski awalnya ia hampir saja emosi karena waktunya bersama suaminya terenggut. “Baiklah, ceritakan kepadaku nanti aku akan membantumu dengan doa. Kalau begitu kami juga akan kembali ke Indonesia,” ucapnya.


Andrew tersenyum lega, istrinya sangat penurut. Wajahnya sekilas mirip dengan Livia tetapi Amelia tentu jauh lebih muda di banding Livia. “Maafkan aku, aku berjanji akan mengganti liburan kit dengan liburan berikutnya.”


“Pikirkan nanti, sekarang kembalilah dan selesaikan masalah Nameera.”


Andrew mengangguk. Ia menyapukan bibirnya di bibir Amelia kemudian ia mencium mengecup pucuk rambut Amelia. “Kau yang terbaik, aku mencintaimu,” ucapnya.


“Dan aku mencintaimu,” jawab Amelia dengan tatapan mata berbinar.


“Aku akan berkemas,” kata Andrew.


“Terima kasih,” ucap Andrew.


Tiga belas jam perjalanan dari Osaka menuju Uzbekistan nyaris membuat Andree merasa hampir gila. Amarah didadanya meletup-letup sekolah memohon untuk dilepaskan, ia benar-benar merasa sangat menyesal membiarkan Nameera lahir ke dunia ini. Zakia adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya, Zakia menghancurkan seluruh kebahagiaannya. Meskipun menyadari bahwa hancurnya rumah tangga pertamanya adalah karena ulahnya bersama Zakia bukan hanya kesalahan Zakia tetapi kecenderungan pria menyalahkan wanita tak luput dari diri Andrew.


“Nameera Apa kau siap mempertanggungjawabkan semua perbuatanmu ini?” itu yang pertama kali Andrew tanyakan kepada Namira ketika saya sampai di kediamannya.


“Maafkan aku, Daddy,” jawab Nameera. Ankhrnya ia harus menjawab pertanyaan ayahnya meski suaranya nyaris tersangkut di tenggorokannya.


“Bukan kepadaku kau harus minta maaf tetapi kau harus minta maaf kepada keluarga Yamada,” ucap Andrew dengan nada teramat sangat dingin.


“Apa kau tahu? Perbuatanmu membuat aku tidak memiliki wajah lagi di depan mereka. Aku tidak yakin aku masih berani menunjukkan wajahku di depan keluarga Yamada bahkan di depan kedua kakakmu rasanya aku tidak sanggup,” ucap Andrew penuh dengan penekanan.


Nameera menatap lantai yang pijak. “Aku akan meminta maaf kepada mereka dan aku akan mempertanggungjawabkan semua perbuatanku.” Pada akhirnya Nameera tidak bisa berlari lagi maupun meminta belas kasihan bahkan kepada ayahnya sekalipun, pria yang hanya mendonorkan sp*rm* ke rahim ibunya kemudian membiayai hidupnya.


Andrew menghela napasnya yang terasa sangat berat. Ia sama sekali tidak melirik Zakia yang duduk di samping Nameera. Kecewa, tentu saja kecewa. Sangat kecewa kepada Zakia karena wanita yang berstatus istrinya itu tidak menceritakan kepada Andrew apa yang telah terjadi, meski Andrew mengerti apa yang di lakukannya adalah perwujudan perlindungan seorang ibu kepada putrinya tetap saja bagi Andrew itu salah. Mengetahui perbuatan Nameera dari Livia sungguh menampar wajahnya, bahkan ia merasa tertampar seribu kali.


Keheningan menyeruak beberapa saat, Andrew mencoba mengatur napas dan emosinya. “Ceritakan kepadaku kenapa kau melakukan itu?” nada suara Andrew melunak.


Terbata-bata Nameera menceritakan semuanya kepada Andrew yang menatapnya dengan tatapan dingin seolah Nameera bukanlah putrinya. Untuk pertama kali Nameera merasakan ketakutan luar biasa, ayahnya lebih menakutkan banding Derren kakaknya. Ayahnya seolah membencinya dengan seluruh hidupnya. Andrew mengembuskan napas berat, ia menatap kedua wanita di depannya bergantian. Semula Andrew hanya mengira hubungannya dan Zakia adalah dosa terbesar dalam hidupnya tetapi ia ternyata salah, bukan hanya dosa terbesar namun dosa itu ternyata berwujud dalam seorang anak yang di beri nama Nameera. Apalagi mendengar pengakuan Nameera yang mengaborsi janin di dalam kandungannya. Andrew tidak bisa memaafkan, ia juga tidak mampu berpura-pura lagi untuk bertahan dengan rumah tangga palsu yang ia jalani selama ini.


“Zakia, pengacara akan mengurus gugatan perceraian kita. Kau tandatangani,” ucapnya setelah menceritakan keberadaan Amelia, Julio dan Valentino.


Zakia, ia hanya mengangguk pasrah. Wanita itu juga tidak ingin bertahan lebih lama lagi dalam rumah tangga palsu meski usianya tak lagi muda.


TAP JEMPOL KALIAN ❤️ DAN JANGAN LUPA JEJAK KOMENTAR ❤️ TERIMA KASIH