Found Love In Kyoto

Found Love In Kyoto
#Series 69


Di Tokyo


Olivia kembali bekerja seperti biasa, namun Derren memberikan Olivia 2 bodyguard dan satu asisten pribadi.


Olivia tidak berdaya, ia bukan seperti seorang dokter sekarang ia justru terlihat seperti tawanan, ia tak mampu melayangkan protes karena Derren pasti tidak akan menggubrisnya.


Derren tidak melarang Olivia hendak melakukan apa pun, namun pengawal harus selalu berada di sekitarnya setiap Derren tidak bersama Olivia.


Derren juga telah mendaftarkan Olivia untuk melanjutkan studynya di bidang spesialis anak, jadwal Olivia semakin padat, ia kini mulai masuk kuliah di hari sabtu dan minggu.


Sedangkan Crystal gadis cilik itu lebih banyak di urus oleh Livia di rumahnya.


“necan... Crystal ingin bermain dengan uncle Ken” rengek Crystal siang itu


“Crystal, little uncle berada di New York sekarang” Livia berusaha menjelaskan pada Crystal, 3 hari yang lalu Kenzo telah mulai tinggal di New York untuk melanjutkan studynya.


Putra sulungnya mendapatkan beasiswa di Harvard University, Kenzo bahkan membawa Luna ke New York karena di Tokyo tidak ada yang bersedia mengurus Luna, dan Crystal adalah satu satunya yang merasa kehilangan Luna.


“apa Luna bersama uncle Ken?”


“ya... Luna bersama Uncle Ken”


“ayo necan kita ke New York, Crystal rindu Luna” rengek Crystal, gadis kecil itu tidak mengerti di mana New York berada.


“Crystal New York itu tempat yang sangat jauh” Livia memberikan pengertian, Crystal hanya mengerjap erjapkan mata bulatnya, ia sama sekali tidak mengerti, “bagaimana kalau kita pergi ke perusahaan granddad saja?” tawar Livia


“ayo ayo... ayo Crystal rindu granddad” seru Crystal bersemangat, Livia tersenyum puas, suaminya memang pria yang pandai mengambil hatinya, anak anaknya bahkan cucunya juga kini bertekuk lutut pada Naoki.


“baiklah Crystal, tunggu necan disini” Livia menginstruksikan nanny Crystal untuk menjaga cucunya sedangkan ia pergi ke kamarnya untuk bersiap siap.


Seampainya di perusahaan, ruang kerja suaminya tampak kosong, jadi Livia duduk bersantai di kursi direktur sedangkan Crystal ia mulai mencoret coret kertas kosong dengan pensil warna yang tersedia, Naoki memang menyediakan peralatan menggambar milik Crystal di ruang kerjanya karena bukan hanya sekali dua kali Crystal ikut dengannya ke perusahaan. Gadis kecil itu bisa di bilang hampir setiap minggu datang menyusulnya,


“where is granddad?” Crystal mulai merengek karena 30 menit telah berlalu dan ia belum bertemu Naoki


“granddad masih dalam pertemuan”


jawab Livia


“Crystal ingin bertemu granddad” rengeknya lagi “can i?” pinta Crystal dengan tatapan puppy eyesnya


“bisakah kau menunggu sebentar lagi?” tanya Livia


Crystal mengerjap erjapkan matanya lalu mulai membuat drama, bibirnya tampak melengkung ke bawah, seperti sedang mengancam akan menangis jika keinginannya tidak di penuhi.


Akhirnya Livia menghubungi suaminya, memberitahu bahwa dia dan Crystal sedang menunggu di ruang kerja.


Lima menit kemudian datang sekretaris Naoki untuk menjemput Crystal, membawanya ke ruang pertemuan.


Livia menggelengkan kepalanya melihat tingkah Crystal yang benar benar seperti dirinya.


Di dalam ruang pertemuan, Crystal dengan patuh duduk di kursi yang di sediakan, tepat di sebelah Naoki. Ia duduk dengan patuh sambil memperhatikan orang orang yang dengan serius mengikuti pertemuan, Naoki sesekali melirik gadis mungil yang dengan serius duduk di sampingnya seolah olah ia juga terlibat dalam pertemuan tersebut. Dalam hati Naoki ia sangat gemas pada Crystal, bagaimana tidak, gadis kecil itu seperti istrinya, dari wajahnya, perilakunya dan sifatnya yang suka membuat drama.


Satu jam kemudian pertemuan itu selesai dan gadis kecil itu telah tertidur, Naoki mengangkat tubuh Crystal dan membawa menuju ke dalam ruang kerjanya.


Ketika memasuki ruang kerjanya ia mendapati istrinya sedang duduk di kursi direktur sementara Nanami duduk di kursi tepat di seberangnya, tanpa menyapa Naoki berlalu melewati ruangan itu, Naoki membaringkan Crystal di kamar yang ada di balik ruang kerja, menutupi tubuh Crystal dengan selimut dan mengatur suhu ruangan dengan tepat agar gadis kecil itu merasa nyaman.


Kemudian ia bergegas mendatangi kedua wanita yang tampak akan bersitegang itu.


“selamat siang Nanami” sapa Naoki, ia segera berdiri tepat di samping Livia


“selamat siang, aku sengaja berkunjung, aku ingin memeriksa jumlah saham yang ku investasikan di YAMADA CORP” kata Nanami langsung


“semuanya masih seperti dulu” jawab Naoki “saham keluargamu ada 30% di sini, sebenarnya jika kau merasa tidak aman, kau bisa menjualnya, kami dengan senang hati akan membeli keseluruhan saham itu” lanjut Naoki


“bukan begitu, aku hanya perlu mengetahui saja” jawab Nanami “ibumu memintaku untuk mengunjungimu” kata Nanami sinis, ekor matanya melirik kepada Livia.


Sedangkan Livia ekspressinya begitu tenang sejak Naoki berada di sampingnya, berbeda dengan sebelumnya yang seolah olah hendak menerkam Nanami.


“kau lebih baik mengunjungi mamaku, ku rasa mamaku lebih perlu kunjungan darimu di bandingkan dengan perusahaan ini” jawab Naoki


“baiklah, kalau begitu aku permisi dulu” Nanami segera berpamitan, ini bukan sekali dua kali ia mendapatkan bahu dingin dari Naoki, ia telah mendapatkan perlakuan seperti itu sejak dulu, namun ia masih berusaha mendekati pria tampan itu meskipun mereka tak muda lagi.


Setelah kepergian Nanami, Livia segera masuk ke dalam kamar dimana Crystal berada. Merebahkan tubuhnya di samping Crystal, ia benar benar tidak mengerti mengapa mertuanya masih saja berbuat curang di belakangnya, bukankah mertuanya akhir akhir ini bersikap baik padanya setelah kedua orang tua kandung Livia di temukan, tapi di belakangnya masih saja terus mendorong Nanami pada Naoki.


“apa yang kau pikirkan?” tanya Naoki sambil memeluk Livia dari belakang


“mamamu” guman Livia


“biarkan saja” jawab Naoki dengan nada penuh kasih sayang pada istrinya


“seberapa sering Nanami datang?” tanya Livia dengan nada kesal, semenjak Nanami bercerai dari suaminya, bukan sekali dua kali ibu mertuanya mendorongnya pada Naoki kembali.


“apa kau tidak percaya padaku?”


Livia hanya diam mengatupkan bibirnya


Mereka saling diam untuk beberapa saat.


“apa saham keluarga Nanami begitu berharga di bandingkan keutuhan rumah tangga kita?” tanya Livia memecah keheningan yang menyeruak, nada suaranya penuh dengan rasa pahit persis seperti rasa pahit yang kini menjalari perasaannya.


“jangan di pikirkan lagi”


“aku kesal” gerutu Livia


“iya aku tau, lagi pula tidak masuk akal, saat Nanami muda aku tidak pernah tergoda padanya, apalagi sekarang kita semua telah menua” kekeh Naoki


“tetap saja aku kesal” dengus Livia


“lalu bagaimana agar istriku tidak kesal lagi?” tanya Naoki menggoda Livia, ia menciumi punggung istrinya, berpindah ke bagian leher belakang hingga Livia bereaksi dan menggeliat.


Livia tersenyum, membalikkan tubuhnya, lalu menciumi bibir suaminya.


“hubby, ada Crystal” bisik Livia pelan setelah ciuman panas mereka terlepas.


“mmmm tidak masalah dia tidak akan bangun” geram Naoki


“omong kosong” kekeh Livia “ia akan terbangun jika kau terlalu banyak bergerak”


“baiklah, kalau begitu di rumah saja nanti malam” seringai Naoki, sambil membelai rambut di kepala istrinya.


Livia menyembunyikan wajahnya di dada suaminya, menghirup aroma khas suaminya yang tidak berubah sejak dulu, menenangkan dan masih membuat degup jantungnya berpacu dengan cepat.


Tidak lama mereka berdua juga tertidur, hingga mereka terbangun saat Crystal memaksa ingin berpindah ke tengah tengah mereka.


“necan... jangan peluk granddad, granddad milik Crystal” rengeknya


Livia dan Naoki sontak membuka matanya dan saling berpandangan, mereka bahkan tertawa dengan apa yang di ucapkan gadis kecil itu.


Gadis kecil yang possesive, seperti Derren...


“Crystal, granddad milik necan” kata Livia menggoda Crystal


“no! Necan no!!! Big no! Granddad mine! He is mine!” rengeknya sembari berusaha memisahkan Livia dan Naoki


Naoki hanya terkekeh, sementara Livia tetap menempel pada suaminya, ketika bibir Crystal mulai melengkung ke bawah akhirnya Livia melepaskan pelukannya dari suaminya dan berguling ke sisi ranjang yang kosong.


“astaga hubby, apa kau memakai sihir?” tanya Livia “semua orang tersihir padamu dan mencintaimu?”


“karena aku terlalu tampan, kau saja yang terlambat menyadarinya” kekeh naoki sambil meraih Crystal ke dalam pelukannya “Crystal apa kau ingin melanjutkan tidurmu?” tanya Naoki


Crystal menggeleng “granddad ayo pulang”


Naoki melirik jam di pergelangan tangannya.


”baiklah, ayo kita pulang” kata Naoki “tapi kau harus cium granddad terlebih dahulu” pinta Naoki, dan dengan patuh Crystal menciumi pipi Naoki


“necan juga ingin ciuman dari Crystal” pinta Livia


“tidak mau” jawab Crystal cepat


“hubby...” kata Livia dengan tatapan cemburu dan iri kepada suaminya


Naoki terkekeh, wajahnya tampak penuh kemenangan.


“Crystal kenapa kau tidak mau?” tanya Naoki lembut


“Crystal hanya mencintai granddad” bisik Crystal di telinga Naoki


“benarkah?” tanya Naoki


“sssstttttt....” Crystal meletakkan jari telunjuknya berdiri di depan bibirnya


“apa yang kalian rahasiakan?” tanya Livia semakin kesal


“nani mo nai” jawab Naoki dan Crystal mengangguk angguk setuju meskipun ia tidak tau apa yang di katakan Naoki.


*tidak ada



JANGANKAN CRYSTAL, AUTHOR AJA KLEPEK KLEPEK SAMA DADDY NAOKI 😍😍😍😍


TAP JEMPOL KALIAN SHEYEEENG 😍😍😍