
Malam harinya Richard datang, tampaknya ia belum kembali ke kediamannya terlihat ia masih mengenakan pakaian resmi dan menenteng tas kerjanya.
“kak Richie apa kau memiliki adik?” tanya Keiko dengan wajah polos saat baru saja Richard masuk kedalam ruang tamu.
“tentu saja, aku memiliki 5 adik” jawab Richard sambil tersenyum
“pasti sangat menyenangkan memiliki kakak yang hangat sepertimu, bisakah nanti kau kenalkan aku pada mereka?” pinta Keiko
Richard terus tersenyum sambil mengusap usap rambut di kepala Keiko mereka berjalan beriringan menuju ruang makan di mana Derren dan Olivia sedang bekerja sama menyusun hidangan untuk makan malam
“Richie.... bagaimana kabarmu nak?” sapa Livia yang melihat Richard datang, mereka saling berpelukan “kau tinggi sekali” kata Livia
“aku baik, kau tampak semakin muda, tentu saja aku tinggi, aku seorang pria, berapa tahun kita tidak berjumpa mommy?” tanya Richard
Mendengar Richard memanggil ibunya dengan sebutan 'mommy' Keiko mengerutkan alisnya
“terakhir kau datang ke Kanada bersama daddy Naoki saat aku wisuda”
“yaaa itu sudah sangat lama”
“mommy kau mengenal kakak Richie?” tanya Keiko kebingungan.
“tentu saja, dia juga putra mommy”
“Kei, aku putra angkat mommymu dan daddy Andrew” Richard menjelaskan garis besar hubungannya dengan Livia
Keiko mengerjap erjapkan matanya, masih sedikit bingung dengan penjelasan Richard.
“jadi kelima adikmu itu?” tanya Keiko
“kau salah satunya” kata Richard
“benarkah? Jadi kau kakakku? Akhirnya aku memiliki kakak yang tidak membosankan di London” seru Keiko menyindir Derren, kakak teraneh yang hanya tertarik pada Olivia.
Olivia tersenyum sambil melirik ekspresi Derren yang tampak tidak terpengaruh.
Livia menggeleng gelengkan kepalanya
“kakak Richie sejak sekarang jaga aku di London oke?” pinta Keiko langsung
“baiklah tuan putri” kekeh Richard, tentu saja ia senang memiliki adik, terlebih adik perempuan, ia telah hidup sebatang kara selama ini, hidupnya sangat kesepian, tidak oernah merasakan hsngatnya keluaga, kasih sayang seorang ayah dan ibu.
“Richie bagaimana kabar Camelia ibumu?” tanya Livia
Richard menghela nafas dan wajahnya mendadak berubah murung
“maaf Richie, lupakan saja” Livia merasa sepertinya ia salah mengajukan pertanyaan.
“dia di dalam penjara karena penyalahgunaan narkoba dan percobaan pembunuhan”
“ya tuhan!!” Livia merasa telah salah mengajukan pertanyaan
“aku tidak mengerti mengapa aku lahir dari dia, bukan kau” kali ini nada bicara Richard sedikit bercanda
“kau bisa saja, kelak kau harus pandai memilih wanita agar kelak putramu tidak mengalami hal seperti dirimu” kata Livia sambil menuangkan air putih di beberapa gelas
Mereka makan sambil bercakap cakap dengan obrolan obrolan ringan.
Besok paginya Olivia di dampingi Richard bertemu dengan Merry. keadaan gadis berambut pirang itu sangat mengenaskan, tatapan matamya kosong, wajahnya sembab oleh air mata, rambutnya juga dibiarkan tergerai, kulitnya tampak pucat.
Kamar inap yang di tempati Merry cukup bagus, mereka bertiga duduk di atas sofa yang berhadap hadapan.
Tidak ada yang bersuara, beberapa menit kemudian Olivia memberanikan diri membuka suara
“Merry.... apa kabarmu?” tanya Olivia pelan
Merry hanya diam, tidak ada reaksi sama sekali hingga 15 menit kemudian ekspresi di wajahnya masih sama.
“Merry....” sapa Olivia lagi
Merry mengedipkan matanya, ia memandang Olivia dengan tatapan dingin.
“kau? Kenapa kau belum mati?” desis Merry
Olivia agak takut, ia merasa sedikit gemetar dan telapak tangannya mulai berkeringat.
“kau mencuri Derren dariku” Desis Merry
“benarkah Derren yang kau cari dalam hidupmu?” tanya Richard
Ekspressi Merry mendadak berubah, wajahnya muram, ia tampak sangat sedih dan tertekan.
Merry memandang Richard, mendadak bangkit dan menggenggam telapak tangan Richard
“Richard, aku ingin bertemu dengannya, aku ingin melihtnya aku akan meminta maaf”
“siapa?”
“dia...” tatapan matanya berbinar
“aku tidak tau siapa yang kau maksud?” tanya Richard hati hati
“Dave aku ingin Dave” Merry menyebutkan nama Dave! tatapan matanya berbinar lebih cerah lagi
“dimana dia tinggal?”
Merry menggeleng, binar indah di matanya seketika sirna bagai udara yang menguap begitu saja.
Richard menepuk nepuk telapak tangan Merry dengan pelan
“kita akan mencarinya nanti, kau harus tenangkan dirimu dulu” kata Richard dengan nada kembut,
Merry terdiam lagi tatapan matanya juga kosong seolah jiwanya kembali pergi dari raganya.
Richard menuntun Merry menuju ranjangnya, lalu menekan tombol untuk memanggil perawat.
“istirahatlah” kata Richard ketika perawat telah datang dan membantu Merry merebahkan tubuhnya.
“Olivia, ayo keluar” ajak Richard mengajak Olivia keluar dari ruangan itu.
Sesampainya di luar Derren langsung menghampiri Olivia dan Richard
“bagaimana?” tanya Derren sedikit khawatir.
“tidak banyak perkembangan, tapi yang jelas yang mematahkan hatinya adalah pria bernama Dave” jawab Richard
“baiklah, terima kasih untuk hari ini” kata Derren “ayo pulang sayang” ajak Derren
“Richard terima kasih” kata Olivia dengan sopan
“oke, kalian pulanglah tidak perlu memikirkan ini lagi, urus saja pernikahan kalian” kata Richard
“baik terima kasih, sampai jumpa” kata Derren mereka menuju kembali ke tempat tinggal mereka.
Sepanjang perjalanan Olivia tampak berpikir keras
“kau memikirkan Merry?” tanya Derren ketika mereka dalam perjalanan pulang
“iya, tampaknya dia sangat menderita” jawab Olivia dengan ekspresi iba.
----
Di dalam kamar Merry memejamkan matanya, pikirannya melayang pada 10 tahun yang lalu.
10 tahun yang lalu ia adalah seorang putri yang tidak mendapatkan kasih sayang penuh dari kedua orang tuanya yang terlalu sibuk bahkan mungkin untuk bertemu dengan ayahnya ia harus menunggu berminggu minggu. Bahkan ketika ia lulus sekolah menengah pertama, ia lulus dengan predikat terbaik. Ia bermaksud menunjukkan kepada orang tuanya namun ayahnya tidak peduli....
“daddy aku mendapatkan peringkat 1 dan aku busa masuk sekolah menengah atas favorite di kota ini, apa aku mendapat hadiah?” Merry memberi tahu ayahnya melalui panggilan telefon.
“ya, daddy sedang sibuk kau pergilah berlibur bersama Dave”
Dan tut..... ayahnya menutup saluran telefon tanpa peduli perasaan putrinya.
Ibunya....
Ibunya juga seorang dokter, hidupnya mewah berlimpah harta ia hanya peduli dengan gaya hidup sosialnya dan karirnya, meski tak sesibuk ayahnya namun ibunya hanya peduli dengan dirinya dan kecantikannya, ia hanya mrngurus dirinya.
Sementara Merry ia di besarkan oleh pengasuh dan Dave, Dave adalah anak dari pengasuh yang membesarkannya. Usia Dave 2 tahun lebih tua dibanding Merry, namun mereka tumbuh bersama dan Merry menjadi gadis tomboy, mungkin karena ia tidak tumbuh di bawah asuhan ibunya.
Dave dan Merry
Dave sekolah di sekolah yang sama dengan Merry, ayah Merry lah yang menginginkan hal itu. Namun seiring berjalannya waktu Merry dan Dave menjadi anak remaja, mereka mau tak mau mengalami masa puber.
Merry yang haus kasih sayang, Dave yang memperlakukan Merry selayaknya adik yang di kasihi, menuruti apa semua kehendak Merry, Dave menjaga Merry, menemani Merry tertawa, menangis, bersedih dan terluka karena ketidak pedulian orang tuanya, mendengrkan semua keluh kesah Merry dengan baik.
Merry mulai salah mengartikan kebaikan dan kasih sayang Dave.
LIHAT JOE DULU BIAR SEGER 😙😙😙😙
TAP JEMPOL KALIAN PLEASE 😋😋😋