
Malam itu livia mengemudikan mobilnya yang baru saja datang, ia sangat menyukai audi A6 nya, selain nyaman tentu saja itu karena itu satu satunya hadiah termewah yang pernah ia terima sepanjang hidupnya 1,26 milyar rupiah hanya untuk hadiah ulang tahunnya, naoki benar benar tidak pernah menyayangi uangnya jika untuk memanjakan livia
Hana lebih dulu pergi ia mengatakan lupa membeli kado, dan menyuruh livia untuk menyusulnya di restoran yang telah di sebutkan,
Livia menuju sebuah restoran yang terdapat di hotel mewah, namun sesampainya di sana livia merasa ragu karena di restauran yang telah di dekorasi dengan romantis itu tampak sepi, tidak tampak ada pengunjung. Ia merasa telah salah masuk tempat jadi ia hendak berbalik untuk pergi, tapi seorang pelayan menyapanya
“nona livia?” tanya pelayan itu
“iya saya livia”
“nona hana telah menunggu anda di dalam, mari saya antar”
Livia mengikuti pelayan itu tanpa curiga melewati lilin lilin kecil yang menyala dan dengan bunga pink peony yang di rangkai sepanjang jalan masuk restauran.
Livia tertegun dan menghentikan langkahnya, ia mungkin terlalu terbawa suasana romantis saat itu hingga berhayal melihat andrew yang berdiri tidak jauh di atas panggung kecil dikelilingi lilin dan bunga peony ia memegang seikat bunga mawar merah. Berkali kali livia mengerjap erjapkan matanya mengira ia benar benar sedang berhalusinasi melihat andrew.
Tiba tiba hana berada di sampinya dan menuntunnya naik ke atas panggung kecil itu dan memposisikan livia tepat di hadapan andrew lalu meninggalkan mereka berdua di atas panggung itu.
Livia masih dengan kelinglungannya dan matanya telah banjir oleh air mata, andrew mengulurkan buket mawar merah pada livia yang ragu ragu menerimanya, namun andrew dengan paksa meletakkan buket bunga itu di lengan livia.
“gadis cengeng” sapa andrew “livia....” lanjutnya “aku sudah lelah mengejarmu 4 kali, jadi kali ini jika kau menolakku aku tidak akan lagi mengejarmu” andrew mengambil telapak tangan livia dan dengan cepat memasukkan sebuah cincin ke jari manis livia.
Livia hendak menarik telapak tangannya namun sudah terlambat, pria itu bahkan tidak sedikitpun membiarkan telapak tangannya terlepas dari genggamannya
“livia menikahlah denganku, tidak ada penolakan” tegasnya
“drew aku” livia menatap andrew
“gak usah ngomong apa apa, bilang iya aja Cuma 3 huruf apa susahnya” paksa andrew
“Udah terima aja repot banget livi” livia menoleh ke arah suara dan....
itu suara saudara kembarnya yudha,
Bukan hanya yudha, tapi juga danu, gendis, dan kedua orang tuanya, tidak ketinggalan kedua orang tua andrew.
Livia sangat bahagia melihat semua keluarganya kini berada di kyoto, ia segera mengangguk tidak memikirkan apapun lagi, andrew memeluk livia dengan erat menciumi pipinya tanpa henti, livia yang masih canggung mulai meronta melepaskan tubuhnya dari pelukan andrew kemudian livia pergi menghampiri seluruh keluarganya dan memeluk mereka satu demi satu,
“dasar pencipta drama” ujar livia saat memeluk sahabatnya hana “kamu jual aku?"
“untung banyak dari tuan kaya lumayan bisa buat tambah modal travel” kata hana senang
“pacarmu sangat menyebalkan” kata livia saat pacar hana yang telah ia kenal menyalami livia untuk memberi selamat
Kemudian mereka semua makan malam dengan suka cita, hanya livia yang cemberut, ia masih ingin menanyakan banyak hal pada andrew, ia ingin memarahi pria yang membuatnya hamil.
Mereka bahkan telah mendaftarkan pernikahan mereka di cacatan sipil di indonesia.
Apa apaan? Livia merasa di kerjai oleh keluarganya sendiri, ia ingin marah marah dan membuat drama merajuk, tapi karena malu terhadap kedua orang tua andrew yang akan menjadi mertuanya livia menahannya.
Berulang kali livia melirikkan matanya penuh dendam ke arah andrew.
Setelah acara lamaran mendadak itu selesai, semua orang akan kembali ke hotel, livia hendak pergi mengikuti bundanya namun andrew menahannya dan memaksanya untuk ikut.
Livia dengan cemberut mengikuti andrew dan duduk di kursi mobilnya, andrew yang mengemudikan mobilnya menuju apartemen yang di tempati livia, di tengah perjalanan andrew membuka suara
“nanti gak boleh lagi pakai mobil ini” kata andrew sambil menyetir mobil livia
“kenapa emang?”tanya livia
“jelek” kata andrew singkat, ia hanya tidak suka jelas jelas ia tau itu mobil pasti dari naoki
“kamu bisa gak sih drew jangan ngejek terus...” kesal livia
“besok aku beliin bugati” kata andrew sombong
“ngomong aja, buktiin kalo emang lebih sayang aku dari pada uang kamu” tantang livia
“mau tinggal di sini apa di indonesia? Biar gampang ngirimnya” tanya andrew
Livia hanya diam karena merasa kalah dengan tantangannya.
Sesampai di apartemen livia langsung menutup pintu tanpa menyuruh andrew masuk dan melesat ke dalam kamarnya mengganti pakaiannya dengan emosi.
Tapi tak di sangka pria itu bisa masuk ke dalam apartemennya.
“penyeludup dari mana bisa masuk?!” pekik livia saat melihat andrew telah berada di kamarnya
“ini apartemenku, terserah aku dong” kata andrew sambil menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang “bahkan bangunan apartemen ini semua milik keluarga kami” lanjutnya
Livia yang masih kesal masuk ke dalam selimutnya, ia benar benar kesal pada semua orang, terutama hana, jadi kepergian mereka ke kyoto semua karena persekongkolan hana dan andrew.
“kamu gak tanya apa apa livia sama aku?” tanya andrew
“gak penting” jawab livia ketus
“jangan judes judes nanti anak kita takut loh sama mommynya yang judes” kata andrew sambil menarik livia ke dalam pelukannya, ia mengecup kening livia dan tanganya meraba perut livia yang masih rata.
“makasih livia udah mengandung calon anak kita” bisik andrew
“jadi kamu mau nikahin aku karena aku hamil?! Kamu gak usah nikahin aku gapapa kok bisa besarin anak aku sendiri”
“anak kita” jawab andrew sabar “kamu keras kepala banget sih livia?” andrew gemas pada livia dan memeluk livia sampai livia merasa sesak nafas
“lepasin, aku susah nafas drew” omel livia
“gak akan aku lepasin lagi, aku capek ngejar kamu” andrew meregangkan pelukannya dan memejamkan matanya, “tidurlah, ibu hamil gak baik bergadang” andrew mengelus punggung livia pelan
Livia menatap wajah tampan andrew dengan sebal, merasakan livia masih menatapnya andrew membuka matanya
“kangen sama aku?” tanya andrew
“iiih pede banget”
“trus kenapa mandangin gitu banget?”
“pembohong....”
“katanya mau ke jogja gagalin pernikahanku buktinya kamu gak datang drew”
“siapa yang nikah? Kamu kan gak nikah masa aku menggagalkan pernikahan mas danu?”
“dasar nyebelin...!”
“jadi kamu marah sama aku, sampai blokir nomerku aku karena aku gak datang?” tanya andrew
Livia mengangguk pelan
Andrew terkekeh melihat tingkah calon istrinya
“gak lucu ngapain kamu ketawa!”
“lucu aja, ada gadis cengeng yang keras kepala, tinggal ngakuin aja, bilang cinta aja susah amat” goda andrew
Wajah livia memerah, mungkin tampak seperti kepiting rebus tapi ia masih kesal dan cemberut
“livia” andrew membelai rambut livia penuh kasih sayang “aku datang mencari kamu ke jogja, 5 gereja aku datangi pagi itu” lanjut andrew lembut
Flash back on
Andrew mencoba menghubungi livia namun ponsel gadis itu sibuk,
Gadis itu tidak pernah menjawab panggilan telfonnya sejak berpisah di bandara jakarta, andrew sangat kesal ia sama sekali tidak mengerti jalan pikiran livia setiap mereka bersama livia seperti anak kucing yang jinak, tapi setiap kali terpisah livia seketika tak pernah menghiraukannya sama sekali.
Andrew membuka aplikasi pemesanan tiket, dan semakin frustasi karena penerbangan untuk besok pagi ke yogyakarta telah full.
“sialaaaaannnn” teriak andrew dari dalam kamarnya, ini sudah jam 6 sore dan tidak ada waktu lagi untuk berfikir, ia segera pergi menuju mobilnya, menginjak pedal gasnya melesat menuju ke stasiun kereta api.
Dan sialnya lagi yang tersisa hanya kursi kelas ekonomi, Andrew menghubungi sekretarisnya untuk menyiapkan sewa mobil dan hotel selama ia berada di yogyakarta dan meminta sekretarisnya mengirim beberapa bajunya ke stasiun yang ia sebutkan.
Malam itu andrew tunggal seorang billioner yang mempunyai jaringan ruko ruko di seluruh indonesia, yang mempunyai banyak saham dan properti berbahagai negara maju, yang mempunyai jaringan restoran kelas atas di dunia, pergi ke yogyakarta dengan mengendarai kereta api kelas ekonomi.
Baru ketika kereta api berjalan ia mendapatkan idenya kenapa tidak memakai jet pribadinya???? Livia benar benar mengacaukan akalnya.
“ssshhhiiiiiiitttt” ia frustasi dan ingin menghancurkan gerbong kereta api itu sekarang juga.
'liviaaaaaaa' geramnya dalam hati 'akan ku rebut kau dari suamimu apapun caranya!!!'
Sesampainya di stasiun tugu yogjakarta ia segera memasuki mobil sewa yang telah di siapkan oleh sekretarisnya, ia menginstruksikan sopir untuk mencari gereja yang memungkinkan sedang ada pemberkatan pernikahan.
Baru saat gereja ke 5 yang ia datangi ia menemukan informasi bahwa yang menikah di situ adalah danu putra artajaya, bukan livia putri artajaya.
Andrew merasa kesal, ternyata ia menjadi sangat bodoh hanya gara gara livia, gadis itu membohonginya habis habisan, mempermainkannya, bukan hanya hatinya namun juga fisisknya.
Andrew bahkan tidak tidur semenitpun sejak malam tadi hingga kepalanya terasa seperti melayang. Ia perlu istirahat dan perlu dokter.
Karena di liputi amarah walaupun ia telah tau dimana resepsi pernikahan kakak livia di adakan ia tidak ingin menemui livia karena dalam keadaan emosi , ia akhirnya memutuskan untuk pergi ke hotel untuk memejamkan matanya sebentar jika di teruskan mencari livia mungkin ia akan membuat kegaduhan di tengah acara, dan lagi pula saat ini dadanya terasa sangat sakit, ia harus segera kembali ke jakarta, ia akan menghubungi livia ketika emosiinya telah mereda, ia menyimpulkan livia hanya bermain main dengannya, hanya ingin mengerjai dirinya, andrew kemudian menghabiskan tiap harinya dengan bekerja dan mabuk di club pada malam hari untuk melupakan gadis pembuat onar yang telah menyiksanya.
Apalagi beberapa hari ia melihat postingan livia di media sosial yang seakan tidak terjadi apa apa, pergi berlibur dan bersenang senang seperti tidak merasakan kekecewaan andrew sedikitpun, andrew merasa lelah mengejar gadis itu, ia beberapa kali menghubungi nomer ponsel livia namun tidak bisa, ia menyimpulkan gadis itu memblokir panggilannya, ia semakin yakin livia hanya mempermainkannya.
Hingga hana mengirim pesan, ketika itu ia baru saja turun dari pesawat menuju guangzhou china.
Hana mengatakan livia hamil anaknya, kemudian menceritakan tentang hubungan livia dan naoki, hana juga Menceritakan semua tentang perasaan livia yang ia tahu, prasangka livia yang mengira andrew tidak datang dan mengira andrew mempermainkannya, hana menceritakan dengan sabar dan di bumbui drama sedikit tentunya. juga menceritakan bagaimana livia menagis ketika mereka berpisah di kyoto...
Hari itu juga andrew membatalkan urusannya di guangzhou dan kembali ke indonesia memberi tahu kedua orang tuanya bahwa livia hamil dan ia akan menikahinya, kemudian pergi ke yogyakarta untuk menemui orang tua livia mengatakan bahwa andrew mencintai putri mereka, juga mengakui perbuatannya bahwa ia menghamili putri mereka, ia akan bertanggung jawab dan menikahi livia, andrew juga menceritakan pada orang tua livia bahwa mereka dalam kesalah pahaman dan sedang berselisih.
Kemudian orang tua andrew menyusul andrew ke yogyakarta untuk melamar livia secara resmi.
Setelah mempersiapkan semua, mereka semua akhirnya pergi ke kyoto untuk pernikahan livia dan andrew.
Flash back off
“jadi bunda sama ayah tau aku udah hamil?” livia tampak panik
“gapapa, aku udah request buat di marahin duluan, biar mereka gak ada yang marahin kamu”
”trus kamu di marahin gak?
“khawatir ya kalo aku di marahin?”
“enggak lah”
“Cuma di pukulin danu” kata andrew mengingat ingat tinju danu yang mendarat beberapa kali di wajahnya.
“jadi benneran kamu di pukulin mas danu?” livia justru tersenyum
"kok kamu senyum? seneng?" protes andrew
"sakit gak?" livia masih senyum senyum
“sedikit, masih sakit di sini kelamaan gak ketemu kamu” kata andrew mengambil telapak tangan livia dan meletakkan di antara selakangannya.
“hentai” livia melotot dan menarik tangannya
“gapapa kan sama istri aku sendiri”
“gak ada kontak fisik ya sebelum aku resmi jadi istri kamu”
“ya udah besok kita nikah ya”
Livia menempelkan punggung telapak tangannya di dahi andrew
“jadi pikiran kamu cuma mau gituan aja drew?”
“abisnya enak surga dunia” kekeh andrew
“kata dokter gak boleh dulu sampe 3 bulan usia kandungan” kata livia sambil membelai perutnya yang rata
“tega banget tu dokter pasti homo, makanya gak tau enaknya syurga, pake nyuruh puasa” keluh andrew
Livia mencubit lengan andre dengan gemas.