
Kesal dengan kedua sahabatnya yang ia anggap tidak lagi memihak padanya Olivia menyetir mobilnya menuju cafe milik Theo, di sana Olivia duduk sendiri sambil menggeser geser layar ponselnya.
Tidak lama Theo datang meletakkan secangkir hot matcha tea yang di atasnya ia ukir dengan nama Crystal dan menghidangkan beberapa potong cake kesukasn Olivia.
“ada sesuatu mengganggu pikiranmu?” tanya Theo santai
“aku ingin bekerja, dan aku juga tidak ingin menikah dengan pria yang pernah tidur dengan gadis lain di depan mataku”
“oh ayolah Olivia, mungkin sekarang Derren telah berubah”
“tapi aku masih tidak bisa melupakan kejadian itu Theo” Olivia menggeser hot matchanya dan mengambil foto hot Matcha yang bertuliskan Crystal.
“buang jauh jauh dendam dari hatimu, cabalah memaafkan Derren”
“Theo kau jangan membela Derren” Olivia cemberut sambil mengaduk hot matcha dengan perasasaan tidak rela karena merusak tulisannya, kali ini ia tidak terlalu emosi lagi.
Theo terkekeh
“apa untungnya aku membela kekasih sialanmu itu? Olivia, aku serius andai Derren tidak menikahimu biar aku yang akan menikahimu, apa pun demi Crystal aku sangat menyayanginya”
Kali ini Olivia justru tertawa renyah
“kau menikahiku tapi kau tidur dengan pria lain? Oh tuhan Theo” Olivia menggelengksn kepalanya
“bagaimana jika aku ingin berusaha sembuh?” tanya Theo serius
“itu bagus, aku harap kau bisa sembuh” kata Olivia tulus
Theo tersenyum simpul.
“sebaiknya kau pulang, kau diskusikan baik baik masalahmu dengan kekasih sialanmu itu, jika kau tidak ingin menikah dengannya kau bisa menikah denganku” goda Theo lagi
Theo memang menyukai sesama pria, namun sejak Crystal lahir dan ia mengurus gadis kecil itu sejak pertama kali gadis mungil itu menghirup udara di dunia ini, kadang Theo memandikan Crystal, ia juga menjaga Crystal ketika Crystal sakit, orientasinya perlahan berubah, ia ingin memiliki keluarga normal, memiliki anak dan seorang istri, dan kadang ia berharap Olivialah gadis yang akan menjadi istrinya kelak.
Mereka tertawa renyah lalu melanjutkan mengobrol dengan santai, menceritakan kelucuan Crystal dan hal hal lain.
Theo mengantarkan Olivia hingga mobil gadis itu menghilang dari pandangannya lalu ia masuk ke dalam toko bunga milik ibunya yang berada tepat di samping cafe miliknya.
Baru beberapa detik ia masuk seorang gadis berambut pirang dengan gaya mencolok dan mewah memasuki toko itu, memesan dua ikat bunga, ia mengenakan kacamata hitam yang melindungi mata dan sebagian wajahnya.
“tolong kau tulis di kartu ucapan 1 mawar merah, untuk Olivia aku akan ambil pesananku lusa” katanya pada Theresia ibu Theo.
Theo yang baru mulai memilah milah beberapa batang tangkai bunga di ruangan itu menghentikan aktivitasnya.
Olivia kembali ke tempat tinggalnya, hari sudah mulai gelap ia mendapati Crystal yang sedang duduk di pangkuan Derren sambil menonton acara kartun di televisi, ia berlalu begitu saja tanpa mempedulikan ayah dan anak itu.
Olivia melepas jaketnya dan duduk di sisi ranjang dengan wajah suram sambil mengotak atik ponselnya, ia berpikir memang harus berbicara secara terbuka, namun ketakutan yang di ciptakan olehnya sendiri kembali mulai menggelayuti pikirannya.
Merasa putus asa ia pergi ke kamar mandi dan merendam tubuhnya dengan air hangat, kemudian setelah selesai ia membungkus tubuhnya dengan selimut dan segera tertidur dan melewatkan makan malamnya.
Sementara di luar, Derren menyerahkan Crystal pada nannynya.
“Crystal, papa akan memasak dulu untuk mama, jadilah gadis baik oke?”
Crystal mengangguk dan dengan patuh menonton acara kartun di dampingi nannynya
Derren mulai memasak beberapa hidangan kesukaan Olivia, setelah semuanya siap ia bergegas masuk kedalam kamar, tapi Derren justru mendapati Olivia yang tampak telah tertidur pulas, alisnya tampak berkerut, sepertinya ia dalam keadaan tidak nyaman.
Derren menyentuh dahi Olivia dengan telapak tangannya, ternyata suhu tubuhnya normal.
“sayang...” Derren memanggil Olivia pelan sambil mengguncang bahunya
“mmmmm” Olivia menjawab
“kau belum makan, ayo bangun makan dan setelah itu kau bisa tidur lagi” kata Derren
Olivia membuka matanya dengan enggan
“aku tidak lapar”
“kau harus tetap makan”
“Derren aku tidak mood”
“apa makan harus menunggu mood? Ayolah...” Derren menciumi pipi Olivia agar Olivia membuka matanya.
Akhirnya Olivia menyerah dan menuruti Derren pergi ke meja makan.
“Crystal ayo makan” kata Olivia menghampiri putrinya yang masih asik menonton acara kartun.
Gadis itu menggeleng, enggan meninggalkan acara kesukaannya.
“nanti kita lanjutkan lagi menonton, oke?”
“ayo makan...” seru Crystal
Keluarga muda itu makan malam dengan sedikit percakapan, Derren dengan telaten membujuk Crystal untuk membuka mulutnya, sedangkan Olivia menikmati makan malamnya tanpa mempedulikan Derren.
Baru saja Derren selesai membersihkan peralatan makan mereka ponselnya berdering, Derren menjawab dengan hati hati karena id pemanggil itu tidak di kenal.
“hallo” sapa Derren
“Derren, ini aku Miranda, bisa kita bertemu sebentar? Ada hal yang ingin ku samopikan padamu, jangan sampai Olivia tau” kata Miranda langsung
“baiklah, dimana?”
Miranda menyebutkan nama tempat terdekat dari tempat tinggal Olivia dan Derren
Derren duduk di samping Olivia sambil sesekali menjahili Crystal putrinya.
Derren melirik jam yang tergantung di dinding.
“Crystal kau harus tidur, kita bisa menonton kartun lagi besok” kata Derren
“tidur dengan papa?”
“iya dengan mama juga” kata Derren sambil mengangkat tubuh kecil putrinya “mama ayo kita ke kamar” ajak Derren
Olivia mengekori Derren, ia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu lalu bergabung bersama Derren dan Crystal di atas ranjang.
“Crystal apa kau ingin mama bacakan dongeng?” tanya Olivia
Crystal menggeleng
“mama bisakah kau menyanyikan lagu untukku?”
“tentu saja bisa, lagu apa yang kau inginkan?”
“let it go”
“kau akan bersemangat mendengar lagu itu, bagaimana jika lagu lain? Bagaimana jika lagu timang timang?” tanya Olivia
“aku tidak pernah mendengar” kata Crystal cepat
Derren juga mengerutkan kening karena merasa aneh dengan lagu yang akan di nyanyiaakn Olivia
“lagu itu berasal dari negri yang jauh, tempat mama lahir” Olivia menjelaskan
Olivia mulai bernyanyi dengan suara pelan sambil menepuk nepuk lembut paha Crystal
Timang timang anakku sayang
Jangan menangis mama disini
Timang timang anakku sayang
Jangan menangis mama bernyanyi
Bila kelak engkau dewasa
Sayangi saudara sayangi sesama
Dengan cinta
Jujur lakumu jujur ucapmu
Menjalani hidup
Cantik jiwamu cantik parasmu
Kala engkau tersenyum
Timang timang anakku sayang
Cepatlah tidur janganlah nakal
Timang timang anakku sayang
Mimpi yang indah nyenyakkan tidurmu
Temani dirimu menjalani hidup
Oh anakku
Jujur lakumu jujur ucapmu
Menjalani hidup
Cantik jiwamu cantik parasmu
Kala engkau tersenyum
Doa kami sertakan
Temani dirimu menjalani hidup
Oh anakku
Jujur lakumu jujur ucapmu
Menjalani hidup
Cantik jiwamu cantik parasmu
Kala engkau tersenyum
Jujur lakumu jujur ucapmu
Menjalani hidup
Cantik jiwamu cantik parasmu
Kala engkau tersenyum
(entah kenapa author yakin readers membacanya auto nyanyi juga)
TAP JEMPOL KALIAN PLISH 😏😏😏