Found Love In Kyoto

Found Love In Kyoto
30


Sekarang sakura bersama livia menuju hotel itu, sakura tidak ingin membiarkan livia menyetir dalam keadaan kacau, jadi ia memutuskan mengantarkan livia menuju hotel yang di maksud.


Sebenarnya sakura tidak ingin ikut campur masalah rumah tangga mereka, namun jika livia berpisah dengan andrew akan ada harapan untuk kakaknya naoki, semua ini gara gara orang tuanya, batin sakura lagi, ia sangat kecewa kepada orang tuanya yang tidak mengerti perasaan anaknya.


“sakura terima kasih, kau pulanglah aku bisa mengatasi sendiri” kata livia sesampainya mereka di area parkir hotel


“tidak oneesan, aku akan menunggumu di dalam mobil, jika terjadi apa apa panggil aku”


“baiklah” kata livia “aku akan menghubungimu secepatnya”


Livia dengan ragu ragu melangkah memasuki hotel itu dan menuju bagian resepsionis, hotel itu tidak membiarkan orang orang masuk begitu saja hingga livia memerlukan akses khusus, jadi ia harus chek in mengambil kamar presiden suite room juga.


Setelah mendapatkan kartu aksesnya livia menuju lantai dimana kamar yang sakura sebutkan nomernya berada, ragu ragu livia menekan bell, jantungnya seakan akan membengkak dan menyakiti dadanya...


'Bagaimana jika.....'


Livia sungguh tak berani membayangkan apa apa


Cekleeeekkkk


Pintu terbuka dan andrew sendiri yang membuka pintu tersebut. tubuh livia benar benar membeku, ia bahkan merasakan lututnya sedikit goyang. namun ia berusaha menguasai diri dan emosinya.


Paling tidak suaminya mengenakan pakaian lengkap, itu sudah membuat livia merasa sedikit lega.


Sedangkan Andrew ia tentu saja tak percaya dengan apa yang dilihatnya, istrinya saat ini berdiri tepat di hadapannya.


“Li.... livia...?” suara andrew serak


Livia hanya diam membisu memandangi wajah suaminya ia bingung harus berkata apa?


“charles apakah makanan yang ku pesan telah datang?” teriak seorang wanita dari dalam kamar itu dan wanita itu berjalan menuju pintu.


“charles siapa dia?” tanya wanita berambut pirang itu dengan tersenyum sinis


“dia livia istriku” jawab andrew salah tingkah selayaknya pria yang tertangkap selingkuh oleh istrinya sendiri


“suamiku ayo pulang” rengek livia “aku takut tidur sendirian” rengeknya lagi dengan suara manjanya


“baiklah” jawab andrew “aku ambil jaket ku dulu” andrew masuk kembali ie dalam kamar itu tanpa menutup pintu, dan bergegas menyambar jaketnya yang berada di sofa, melewati wanita berambut pirang itu


Livia segera memeluk andrew dengan manja dan mereka pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Di perjalanan pulang livia hanya diam, setelah mengirim pesan pada sakura bahwa ia baik baik saja, livia hanya menatap kosong melalui jendela kaca mobil mereka, mungkin ini balasan dari tuhan, ia menyakiti naoki, menghianati naoki, dan sekarang suaminya menghianatinya, mungkin besok andrew akan menyodorkan surat gugatan cerai kepadanya.


Sesampainya di kamar livia merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya, andrew dengan ragu ragu memeluknya, andrew sangat ketakutan menghadapi livia yang tidak marah, tidak menangis tidak meraung raung mendapati suaminya di dalam sebuah kamar bersama seorang wanita.


“livia....” panggil andrew pada istrinya dengan hati hati


“besok aja, aku ngantuk” jawab livia tanpa membuka matanya, sejujurnya malam itu livia bahkan tak bisa tidur dengan nyenyak pikirannya berkecamuk.


Andrew mengeratkan pelukan pada istrinya seolah olah ia takut livia akan meninggalkannya, dan andrew tak berbeda dengan livia ia sangat takut livia tak bisa menerima penjelasan darinya besok.


Pagi harinya livia terbangun dan melihat sisi ranjangnya telah kosong, ia melirik jam digital di kamarnya menunjukkan pukul 8, andrew mungkin telah berangkat untuk bekerja atau ia sedang mempersiapkan gugatan cerai untuknya, livia menghela nafas dengan berat.


Setelah membersihkan wajahnya, livia menuju kedapur, ia berhenti melangkah ketika melihat suaminya masih dalam rumah mengenakan pakaian santai sedang menyiapkan sarapan.


“sayang udah bangun? sini cepat sarapan” kata andrew


Livia duduk dengan anggun dan memakan sarapannya tanpa berkata apa apa,


Setelah sarapan livia bermaksud hendak bangun dari duduknya dan menjauh tapi andrew menahannya


“livia...., apa kau ingin mendengar penjelasanku?”


“terserah kalau ada yang mau kamu jelasin” jawab livia dingin


“kamu percaya padaku?”


“entahlah” jawab livia singkat


Andrew menghela nafasnya dan mulai menceritakan siapa wanita itu.


Camelia...


Nama wanita berambut pirang itu


Camelia....


Wanita berambut pirang itu adalah mantan pacar andrew yang ia pacari selama berstatus seorang mahasiswa di university of toronto canada, mereka menimba ilmu di universitas yang sama meskipun berbeda fakultas, camelia adalah gadis cantik, tubuhnya indah dan memiliki banyak keunggulan lain, ia juga sangat terkenal di kalangan para mahasiswa.


Andrew bahkan sempat mengejar camelia beberapa bulan hingga gadis itu menerima cintanya dan akhirnya mereka tinggal satu atap selama hampir satu tahun, hubungan mereka sangat manis, camelia sangat pandai mengambil hati andrew.


Setelah menjalin cinta hampir satu tahun lamanya saat itu camelia mengaku bahwa dirinya telah hamil, mendengar itu tentu saja andrew senang dan berniat menikahinya, namun tidak bagi camelia, ia tidak ingin andrew menikahinya, camelia hanya ingin mereka hidup bersama tanpa ikatan pernikahan, andrew tak bisa memaksakan keinginannya untuk menikahi camelia, mereka sepakat hidup bersama tanpa adanya pernikahan, hal seperti itu adalah hal yang lumrah di canada.


Sebagai pasangan yang baik andrew merawat camelia dengan baik, menjaganya, menemaninya memeriksakan kandungannya dan hal hal lainnya.


Andrew saat itu meskipun ia adalah putra tunggal dari seorang billioner di indonseia ia bukanlah tipe orang yang suka menghamburkan uang orang tuanya, ia mempunyai pekerjaan part time untuk mengisi waktu kosongnya dan menopang biaya hidupnya di canada terlebih lagi ia akan menjadi seorang ayah, ia semakin giat bekerja untuk memperoleh tambahan uang untuk camelia dan putranya kelak.