
Keesokan paginya London masih di gemparkan dengan di tangkapnya ayah Merry karena beberapa kasus, salah satunya adalah pemalsuan data kesehatan dan psikologis merry yanb ternyata selama ini dimanipulasi, gadis itu dinyatakan mengalami depresi sejak 10 tahun yang lalu. Ia bahkan bergantung pada obat penenang dalam jangka waktu yang panjang.
Dan dalam sekejap rumah sakit itu kehilangan citra baiknya, para pemegang saham murka dan menarik saham yang di investasikan di rumah sakit itu, bahkan banyak pasien yang memutuskan pindah ke rumah sakit lain.
Konspirasi di rumah sakit itu telah menyeret banyak pihak karena pemalsuan data tentu saja tidak bisa di lakukan hanya oleh satu orang.
“Derren, apa harus sejauh itu?” tanya Olivia pelan ia berada dalam pelukan Derren pagi itu
“kau bandel sekali Olivia, ini masih terlalu pagi kau sudah memainkan ponselmu”
“Derren, seorang pengangguran bisa memainkan ponselnya kapan saja” gurau Olivia, teman temannya tak henti hentinya meneror Olivia dengan berita berita tentang Merry bagaimana mungkin Olivia bisa mengabaikan ponselnya
“kau pandai sekali menjawab” kata Derren gemas
“jadi sampai mana kau akan menggali kasus Merry?”
“aku masih bisa lebih kejam lagi” kata Derren serius
“apa lagi yang akan kau lakukan?”
“apa kau mengizinkan aku bertindak lebih jauh sayang?”
Olivia berpikir sejenak
“jangan, kumohon hentikan, aku tidak ingin melihat sisi iblismu” kata Olivia sambil mengelus pipi Derren “sudah cukup”
“kenapa kau sangat baik hati Olivia?”
“Aku tidak baik Derren, tapi Merry sudah cukup menderita, kita tidak tau seperti apa beratnya masa lalunya hingga ia mengalami depresi”
“jika kau mau aku bisa mengambil alih rumah sakit itu untukmu, kau bisa melakukan apa pun dengan rumah sakit itu, kau bisa mengubahnya menjadi yayasan seperti cita citamu” kata Derren
Olivia menggeleng
“Tidak Derren, aku tidak ingin tinggal di sini lagi, aku... aku takut” Olivia mengeratkan pelukannya ke tubuh Derren, ia benar benar takut dengan penculikan itu, ia ingat bagaimana ia di suntik bius oleh Merry, betapa mengerikannya semua berubah gelap dan tubuhnya berubah menjadi lemah tak berdaya. Olivia sudah tidak ingin lagi tinggal di London, bahkan gelarnya maupun izin praktik mandirinya akan ia dapatkan atau tertunda lagi ia sudah tidak peduli!!!
“baiklah, secepatnya kita ke Tokyo” Derren mengecup pucuk kepala Olivia
Hening sejenak
“Derren... bisakah aku bertemu Merry?”
“itu berbahaya aku tidak setuju”
“aku ingin berbicara dengannya, sebagai sesama wanita”
“aku takut ia mencelakaimu”
“kau bisa mengawasi kami, atau beberapa polisi mungkin bisa bersamaku”
“baiklah, akan ku pikirkan secepatnya”
“Derren...” lirih Olivia memanggil Derren “kau terlalu tampan... kau bisa membuat seorang gadis sampai kehilangan akal”
“omong kosong, aku bukan faktor pemicu depresi Merry” kata Derren sambil berpikir mungkin memang benar Merry memiliki masa lalu yang suram hingga ia mengalami depresi “apa kau yang kehilangan akal karenaku?” goda Derren pada Olivia
Olivia tertawa ringan
“sayangnya iya” jawab Olivia jujur
“hei.... jadi kau kehilangan akalmu mama?” tanya Derren bersemangat
“hahahaa” Olivia tertawa lagi “Derren apa yang kau suka dariku? Bukankah dulu kau selalu membenciku karena aku manja dan cengeng?”
“entahlah, melihat wajahmu yang tampak begitu lemah dan kecil aku merasa harus menindasmu sepanjang hidupku”
“kau?!” Olivia mendongak dan melotot galak pada Derren
“tapi sejak aku menyadari perasaanku padamu, aku ingin menindasmu dengan cintaku hingga kau tidak akan bisa berkutik, kau harus mencintaiku seperti aku mencintaimu Olivia” kata Derren sambil memandang wajah kecil Olivia, yang Derren rasakan sekarang ia sangat mencintai Olivia, hingga perasaan itu bahkan sulit untuk ia gambarkan.
“Derren... setelah menikah aku tidak ingin ada perpisahan” kata Olivia dengan nada khawatir
“tidak akan, percayalah padaku, aku tidak ingin Crystal memanggil pria lain dengan sebutan papa, cukup aku dan Joe yang merasakan kepahitan itu”
“tapi Daddy Naoki sangat baik pada kalian”
“ya, kau tau itu” Derren berhenti sejenak “aku yakin, Daddy Andrew menyesal setiap melihat kedekatan kami dengan daddy Naoki, dan aku tidak ingin mengalami hal serupa” nada suaranya terdengar begitu pahit.
Ketika mereka keluar dari kamar, mereka mendapati Keiko yang sedang bermain piano bersama Crystal, gadis mungil itu duduk di pangkuan Keiko sambil menekan tusts piano sembarang sementara Keiko memainkan lagu anak anak dengan penuh semangat.
“kalian sudah bangun rupanya” kata Livia yang sedang menyiapkan sarapan bersama Lelya.
“selamat pagi mommy, biar kami saja yang menyiapakan” kata Olivia merasa tidak nyaman
“kalian duduklah, tidak apa apa” kata Livia sambil menuangkan susu yang telah di hangatkan ke dalam beberapa gelas.
Dan pagi itu mereka semua memulai sarapan mereka dengan penuh kebahagiaan
“oh iya Olivia apa kau telah mendapatkan gaun untuk upacara pemberkatan pernikahan kalian nanti?” tanya Livia di sela sela sarapan mereka
Olivia memandang Derren
“kami belum memilihnya” jawab Olivia
“kalau begitu hari ini kita pergi untuk melihat lihat” kata Livia “Derren tidak perlu ikut” ia tidak ingin Derren menganggu waktunya bersama menantunya
“mommy apa aku boleh ikut?” tanya Keiko
“bukankah kau menjaga Crystal di sini? Untuk apa kau ikut?” jawab Livia seolah tidak peduli pada Keiko
“mommy kau tidak menyayangiku lagi karena ada Crystal?”
“tentu saja mommy lebih menyayangi Crystal sekarang” kata Livia menggoda Keiko
Keiko berdecih malas
“kau kembalilah ke mansion grandad, kau sangat berisik di sini Kei”
“oniisan, kenapa kau tidak adil? Aku adikmu” keluh Keiko
Derren sedikit terkekeh, ia juga senang membuat Keiko marah namun tidak separah ia menggertak Olivia di masa lalu.
“jangan pedulikan kakakmu Kei, tinggallah di sini selama kami belum kembali ke Tokyo” kata Olivia
“benarkah?” Keiko sangat bersemangat
“tentu saja, tinggallah di sini semaumu Kei”
Derren memandang Olivia dengan tatapan protes namun Olivia mengabaikannya, melihat hal itu Livia merasa ia mengalami Dejavu!!!
Dulu Naoki juga selalu merasa terganggu karena Sakura yang setiap hari datang untuk bermain bersama Jonathan dan Derren, Livia juga selalu membela Sakura.
Livia tersenyum bahagia melihat anak anaknya.
Siangnya Livia membawa Olivia dan Keiko untuk mencari gaun pengantin yang cocok untuk Olivia, tidak seperti kata Livia sebelumnya, justru yang di tugaskan menjaga Crystal adalah Derren! Dan ketiga wanita itu melenggang pergi.
Beberapa butik pakaian pengantin yang di rancang oleh desaigner gaun pengantin terkenal telah mereka datangi, sebenarnya Olivia adalah gadis yang simple ia tidak ingin gaun yang mencolok dan mewah, ia lebih suka gaun yang sederhana, namun Keiko dan ibu mertuanya lebih antusias dari pada ia yang akan menjadi pengantin.
Bahkan Keiko sangat sibuk memilih desain pakaian untuk Crystal, ia begitu terobsesi pada keponakannya.
”mommy, ini sangat cocok untuk Crystal dan aku” kata Keiko sambil menunjuk dua gaun pesta untuk ibu dan anak
“kenapa Crystal harus serasi denganmu? Crystal seharusnya serasi dengan Olivia” kata Livia meluruskan.
Keiko cemberut
Melihat itu Olivia terkekeh,
“Kei bisa saja tahun depan mungkin kau yang akan jadi pengantin, nanti giliran Crystal dan kau yang memakai gaun serasi itu” kata Olivia berusaha menengahi
“baiklah kali ini aku mengalah” jawab Keiko masih dengan nada kecewa.
Setelah memesan gaun pengantin mereka tidak langsung kembali ke tempat tinggal, Livia justru membawa kedua putrinya berbelanja!
Ya berbelanja, menghabiskan uang suaminya yang tidak pernah habis!!!
OH IYA KALIAN UDAH BACA SPOILER LANJUTAN CERITA KEIKO DI KOMENTAR DEPAN BELUM????
CHEK YAAA 😍😍😍