Found Love In Kyoto

Found Love In Kyoto
#Series 35


“mama ayo cepatlah bangun” goda Derren yang duduk di sisi ranjang, Crystal dengan nyaman menempel didada Derren sambil memegang mainannya


Olivia menarik selimut hingga menutupi kepalanya tanpa mempedulikan Derren,


Derren menarik kembali selimut itu dengan lembut


“Derren aku lelah, aku masih mengantuk” keluh Olivia, dia memang sangat lelah karena sepanjang malam Derren terus memeras tenaganya, tidak memberikan ruang sedikitpun untuk lolos dari kuasanya.


“kau bisa tidur lagi setelah kita kembali dari rumah grandmom”


Olivia membuka matanya sedikit


“grandmom?” tanyanya malas


“aku sudah berjanji membawa kalian ke sana?”


Olivia langsung duduk dengan tegak


“grandmom sudah tau?” tanyanya panik


“cepatlah mama, kami menunggumu bersiap” Derren mengecup kening Olivia dan meninggalkan Olivia yang masih mengumpulkan kesadarannta dengan paksa, ia buru buru bersiap.


Ketika Olivia keluar dari kamar Derren sedang mengoleskan selai ke roti piringnya sedangkan Crystal ia sedang bermain menyusun puzzle bersama nannynya.


“sayang makan dulu sarapanmu” kata Derren


Olivia mendekat ke meja makan


“duduk sayang”


Dengan patuh Olivia duduk dan mulai makan sarapannya di suapi oleh Derren, Ia sudah berkali kali menolak ingin makan sendiri namun Derren bersikeras menyuapinya. Olivia memandang Derren dengan tatapan mata kesal.


“terus saja menatapku seperti itu Olivia” kata Derren dengan nada menggodanya “apa aku terlalu mempesona untukmu?”


“menyebalkan” gumannya ketus


“jadilah gadis penurut, kau tinggal membuka mulut dan mengunyah, tidak sulit bukan?”


“aku tidak sakit aku bisa makan sendiri”


Derren tidak memperdulikan apa pun protes Olivia ia terus memotong roti dan menyuapi Olivia hingga roti di piringnya habis.


Olivia menggendong Crystal dan Derren berjalan di belakang Olivia sambil menggoda Crystal yang terus tertawa ceria, ketika sampai di depan mobil, mereka mendapati seikat bunga mawar tergeletak di atas kap maybach hitam milik Derren, seikat mawar hitam.


Olivia menyerahkan Crystal pada nannyna, lalu mengambil buket bunga itu.


“There floris” guman Olivia, tentu Olivia mengenali toko bunga itu


Olivia mengambil kartu ucapannya dan membacanya


“Derren bunga ini untukmu”


Derren meraih kartu ucapan ditangan Olivia


‘Derren, apa kabar? Apa kau masih ingat peringatanku?’


Derren lalu mengambil bunga di tangan Olivia dan membawanya ke tempat sampah tanpa mengatakan apa pun.


“jangan khawatir” kata Derren setelah mereka semua dalam perjalanan menuju ke mansion master Edward


“apa kau tau arti mawar hitam?”


“itu hanya bunga Olivia, jangan di pikirkan”


“Derren kau kembalilah ke Tokyo, kau dalam bahaya”


“omong kosong apa? Aku tidak memiliki musuh, tidak perlu takut, percayalah padaku” Derren meyakinkan Olivia


“tapi...”


“kau mengkhawatirkanku? Mama?” goda Derren


“kau terlalu percaya diri” kata Olivia dengan nada sinis


Tentu saja Derren tau arti mawar hitam, itu adalah kehancuran atau kematian. Ancaman Merry rupanya tidak main main, gadis itu benar benar menyewa penguntit untuk membuntuti Olivia dan dirinya.



Mereka tiba di mansion master Edward, halaman mansion itu masih sama seperti terakhir Olivia berkunjung 3 tahun lalu.


Suasana di dalam mansion itu tampak ramai, sepertinya bukan hanya master Edward dan Herdiana yang berada di dalam mansion itu, Olivia menghentikan langkahnya. Ragu ragu ia menarik bagian lengan kemeja Derren yang membopong Crystal.


“tidak masalah, semua menunggu di dalam” Derren melihat keraguan di wajah Olivia


“semua???”


“sayangku seluruh keluarga sudah tau keberadaan Crystal”


“tapi aku belum siap” guman Olivia lirih


“tidak akan ada yang memarahimu, aku menjamin” kata Derren seperti mengerti ketakutan Olivia sambil menggenggam satu tangan Olivia.


Ketika mereka memasuki ruang keluarga benar saja semua keluarga Derren di Tokyo telah berkumpul disana. Bahkan kedua kakek dan neneknya!!!


Olivia benar benar ingin mengubur dirinya ke dalam tanah untuk bersembunyi.


Livia langsung menghampiri Olivia sementara Naoki langsung mengambil Crystal dari gendongan Derren, gadis kecil itu sama sekali tidak menolak.


“Olivia, sayang” kata Livia memeluk Olivia “tidak apa apa” bisiknya lembut sambil menuntun Olivia dan mendudukkannya


Olivia membeku, tak mampu lagi menahan genangan air mata yang telah memenuhi kelopak matanya, air matanya segera meluncur turun membanjiri pipinya. Sementara terdengar Crystal sudah berceloteh bersama kakeknya, dan kakek buyutnya gadis kecil itu begitu mudah bergaul.


“Crystal sangat cantik, dan manis seperti dirimu”


“mommy maafkan Olivia”


“mmmmm, tidak jangan minta maaf, yang salah Derren dia satu satunya pria bodoh yang patut di salahkan” kata Livia sambil memelototkan matanya pada Derren


Derren justru tersenyum lebar.


“Olivia tinggallah di sini beberapa hari kami semua merindukanmu, dan tentunya kami sangat senang ada Crystal” kata Herdiana


“Olivia kau pasti rindu masakan nenek kan?” tanya Yunita yang sedari tadi juga matanya telah basah karena air mata.


Olivia hanya mengangguk angguk.


Semua orang memperlakukan dia dengan baik, ia mengira ia akan disalahkan karena menyembunyikan Crystal tapi nyatanya mereka menerima dengan sangat baik. Ia juga mengira neneknya akan marah padanya karena budaya timur yang menganggap tabu memiliki anak di luar pernikahan, ntatanya neneknya berpikiran terbuka.


“Derren kemari” kata Livia ibunya


Derren dengan patuh mendekat berdiri di samping kursi Olivia sambil mengelus kepala Olivia


“kalian juga harus secepatnya membawa Crystal bertemu Andrew” kata Livia


“baik mommy kami akan ke Indonesia” Derren yang menjawab


“dan kalian harus menikah” ada nada getir saat mengucapkan ini, Livia menyesal tidak menikahkan mereka sejak dulu saat Derren meminta restu.


“tapi....” Olivia hendak menolak


“baik mommy” Derren memotong kata kata Olivia


“kapan kalian siap?” tanya Livia


“mommy kami....”


“secepatnya mommy kami akan mencari tanggal yang tepat” kata Derren terus saja memotong ucapan Olivia.


Olivia tentu saja cemberut.


Tidak lama Jonathan datang bersama Tiffany, tampaknya mereka baru saja keluar untuk berbelanja karena mereka memegang beberapa paper bag di tangan mereka.


“Olivia, dimana keponakanku? kami membelikan mainan untuknya” kata Tiffany antusias sambil memeluk Olivia


"Crystal bersama daddy" jawa Olivia


Dan bersamaan dengan itu datang beberapa orang membawakan beberapa kotak berukuran besar berisi mainan


“kalian berlebihan” kata Olivia protes


“salahkan suamiku, ia kalap mata ia sangat bersemangat saat tau Crystal akan datang kesini” kekeh Tiffany sambil melepaskan pelukannya dan memberikan paper bag yang berisi beberapa pakaian baru untuk Crystal.


“aku akan melihat keponakanku yang imut dulu”


Tiffany pergi ke sisi ruangan yang lain untuk menemui Crystal, dalam sekejap suasana di masion itu menjadi sangat ramai oleh canda tawa riang dan celotehan Crystal yang bahagia mendapatkan begitu banyak mainan, dan semua perhatian orang yang berada di mansion itu mendadak sibuk dengan gadis kecil itu.


Sedangkan Olivia masih tertinggal di ruangan itu bersama Derren.


Olivia cemberut, ia menatap Derren yang berdiri di depannya dengan tatapan permusuhan.


“Derren mengecup lembut pucuk kepala Olivia”


Olivia mendorong tubuh Derren dengan kesal,


“jangan terlalu sering cemberut” ucap Derren sambil duduk di samping Olivia “sebelum menikah kita akan ke Indonesia mengunjungi nenek Sofia dan kita ke Yogyakarta mengunjungi makam papi”


Perlahan ekspresi Olivia berubah sedikit melunak, terakhir ia kembali ke indonesia itu 6 tahun yang lalu.


“kau ingin kita menikah di mana? London? Tokyo atau Indonesia?” tanya Derren dengan nada antusias


Olivia justru menegang, Menikah? Menikah dengan Derren? Bagaimana dengan Merry? Jika dulu Derren menghianatinya dan tidur dengan Merry, lalu sekarang justru Derren harus menikah dengan Olivia karena ada Crystal di antara mereka. Besar kemungkinan suatu saat nanti Derren dan Merry akan kembali menyakitinya.


Olivia takut akan hal itu dan tidak siap untuk kembali menghadapinya.


“Derren... aku belum siap untuk menikah” Olivia mencoba mencari alasan


“kalau begitu aku akan menunggumu sampai kau siap”


“untuk waktu itu bisakah kita hidup terpisah?”


OH IYA NANNY = BABBY SITTER YA KALI AJA ADA YANG BINGUNG