
Di kereta menuju Tokyo, Livia bahkan tidak memakan makan yang di belikan Andrew, ia hanya memandanginya tanpa minat, kemudian air matanya mulai turun.
“Livia, kenapa, apa Andrew nyakitin kamu?” Hana bertanya penuh keheranan, 10 tahun berteman dengan Livia ia belum pernah melihat sahabatnya menangis sesedih ini.
“ini pertama kalinya aku gak sanggup meninggalkan Kyoto, aku merasa jiwaku tertinggal di sana, aku gak pengen balik ke Tokyo” Livia semakin terisak
“kamu berat ninggalin Kyoto?”
Livia mengangguk
“kembalilah belum terlambat”
“Hana...” Livia menghela nafasnya dan memejamkan matanya “di Tokyo Naoki menungguku, aku gak bisa meninggalin Naoki gitu aja” gumannya pelan
“Livia, aku belum pernah melihat kamu kaya gini selama kita berteman” hana menggenggam tangan Livia erat erat, mereka telah berteman sejak di universitas, bekerja di Jakarta bersama, pernah berbagi tinggal di kost2an sederhana , mengalami pasang surut berteman, berselisih paham, saling menguatkan, saling mengingatkan dan saling mencela telah mereka lewati bersama, “Livia apa kamu mencintai Andrew?”
Livia hanya terisak tanpa menjawab pertanyaan Hana
“livia kamu mencintai Naoki?”
“aku gak tega ninggalin Naoki, Naoki ngurusin aku bertahun tahun dia baik dia gak pernah menyakiti hati dan fisikku” jawab Livia pikirannya melayang layang entah ke mana.
“tapi udah hampir 3 tahun dia gak ada niat menikahimu wanita perlu status yang jelas, wanita perlu hubungan yang pasti, Naoki juga gak pernah ngenalin kamu sama keluarganya”
“entahlah” Livia tau semua kata kata Hana benar, tidak satu pun kata kata yang di ucapkan sahabatnya itu salah.
“livia, ikuti kata hati kamu, walaupun masa lalu kita gak sebaik biarawati, kita masih berhak mendapatkan cinta dari orang yang kita cintai” kata Hana “jangan menangis, Naoki nanti curiga kalau matamu bengkak” lanjutnya.
Kemudian kedua gadis itu tenggelam dalam pemikiran mereka masing masing, Livia memejamkan matanya berharap bisa tertidur, namun ia sama sekali tidak bisa menemukan kantuknya hingga mereka tiba di Tokyo, Livia dan Hana berpisah di stasiun karena arah tempat tinggal mereka berbeda, Livia memanggil taxi dan menyebutkan alamat apartemennya.
Sesampainya di apartemen Livia memutuskan untuk mengirimi andrew pesan “aku udah sampai, jangan hubungi aku.” kemudian menghapus jejak semua log telfonnya, menyimpan nama andrew dengan nama om Andrew jogja.
Kemudian ia masuk ke dalam kamarnya bergegas untuk mandi dan segera memejamkan matanya, kantuknya datang seperti badai yang tiba tiba menerjangnya.
Ketika terbangun hari telah gelap dan ia menemukan tubuhnya dalam dekapan seorang pria, Livia tersentak sesaat ia mengharapkan pria yang memeluknya adalah andrew, namun dari lengannya yang lembut, dan aroma maskulin yang ia kenal jelas itu Naoki bukan Sndrew
“Naoki....” Livia memanggil Naoki dengan suara parau
“Livia, kau sudah bangun? Apa kau lapar?”
“Naoki.....” Livia takut memandang Naoki, ia merasa takut pengkhianatannya tercium oleh Naoki ia juga merasa sangat berdosa pada pria di depannya
“hhhhmmmmmm, kau merindukanku Livia?” Naoki menciumi pipi Livia dengan lembut
Livia mengangguk dan mulai menangis, entah apa yang ia tangisi sekarang, menangis karena sedih terpisah dari andrew atau menangis merasa bersalah pada Naoki atau menangis karena bimbang memilih antara Naoki atau Andrew?
“maafkan aku terlalu lama meninggalkanmu, jangan menangis lagi ku mohon maafkan aku.” bujuk Naoki
“Naoki aku ingin kita menikah” Livia mulai menuntut tentang pernikahan lagi “kita telah bersama hampir 3 tahun, aku ingin status yang jelas di antara kita”
“aku menyayangimu Livia, mencintaimu, menafkahimu, menjagamu, apa itu tidak cukup? Pernikahan hanya sebuah formalitas yang di legalkan di atas kertas bukan?” jawab Naoki penuh kesabaran
“Naoki kenapa kau seperti itu aku perlu status, aku ingin berumah tangga, tinggal di sini dan setiap pagi bangun dan melihatmu di sisiku” Livia mendesak Naoki seolah ia benar benar mengharapkan pernikahan,
Livia ingin menikah dengan Naoki, pria yang baik mapan secara finnancial, dan tentunya sangat mencintai Livia, Livia tidak pernah mempermasalahkan perasaannya sendiri, baginya di cintai adalah berkah, mencintai..... ia tidak pernah memikirkan untuk melakukan hal bodoh itu, ia pernah mencintai seseorang dan berkorban namun ia kemudian di sakiti karna ulahnya yang mencintai orang itu dengan berlebihan, bahkan setelah pengorbanan terbesarnya orang yang ia cintai tak menghiraukannya.
Itu adalah penyesalan terbodohnya.
“Livia, ayo bangun dan bersiap kamu belum makan bukan?”
“Naoki aku ingin menikah bukan ingin makan”
“kita makan dulu, baru kita bicarakan pernikahan oke?”
Livia akhirnya menurut dan mengganti pakaiannya kemudian pergi bersama Naoki untuk makan malam.
Livia hanya mengenakan dress sederhana dan dipadukan dengan flat shoes, mereka makan di sebuah restoran yang cukup mewah, livia makan dengan enggan makanan di depannya, ia ingin makan masakan Indonesia, bukan makanan Indonesia yang ingin ia makan tepatnya makanan yang di masak oleh Andrew.
“Livia, makan yang banyak” kata Naoki melihat Livia hanya memain mainkan sumpitnya
“aku ingin makan masakanmu” entah bagaimana kata kata itu keluar, untunglah Livia tak menyebutkan nama andrew, 'hampir saja' batin Livia
“nanti aku akan memasak untukmu lagi”
Livia mengangguk
“kau selalu sibuk setahun belakangan ini, kau bahkan jarang memiliki waktu untukku” keluh Livia
“aku sedang membangun perusahaanku sendiri, lepas dari perusahaan orang tuaku, dan itu masih merintis dari bawah aku memerlukan banyak waktu dan energi untuk memikirkannya, aku harap kamu mengerti Livia”
Livia meletakkan sumpitnya dan meminum air di gelasnya hingga tandas, setelah menyeka bibirnya dengan tisu ia mengajak Naoki kembali, Livia hanya ingin melanjutkan tidur, tubuhnya sangat lelah, pikirannya kacau, hatinya ingin bersama Andrew, namun melihat wajah Naoki ia merasa bersalah, kasihan, dan tidak mampu jika harus meninggalkannya.
Ketika mereka melangkah menuju keluar dari restoran mereka bertemu dengan seorang gadis yang mungkin berumur 18an tahun,
“Naoki oniisan” panggilnya
“Sakura, nande kokoni?”
*kenapa disini
“tentu untuk makan, ada papa dan mama juga”
“lanjutkan makanmu, kembalilah jangan berkeliaran” kata Naoki lembut
“dan kakak cantik ini apakah dia pacarmu?” tanya Sakura
“Livia ini adikku Sakura”
Livia mengulurkan tangannya
“hi.. my name is Livia”
“hi... iam Sakura”
“nice name” puji Livia di iringi senyum manis hingga lesung pipinya tampak
“oniisan apakah ia calon oneesanku?” tanya Sakura bersemangat
Naoki mengusap-usap poni sakura sambil melingkarkan lengan yang satunya ke pinggang Livia dan membawanya pergi dari hadapan Sakura,
Sesampainya di mobil Livia tidak mampu lagi menahan kejengkelannya,
“kenapa kita tidak menyapa orang tuamu?”
“nanti kita akan bertemu orang tuaku jika saatnya tepat” jawab Naoki
“apa kurangnya aku? Apa aku kurang menarik? Apa karena aku bukan orang jepang? Kau tidak pernah mengenalkanku pada keluargamu selama 3 tahun, kau tidak serius padaku Naoki” cerca Livia penuh dengan emosi
“Livia, aku serius mencintaimu, aku akan mengenalkanmu pada mereka nanti jika saatnya tepat”
“sampai kapan?”
“bersabar sedikit lagi oke?”
“satu bulan?”
“Livia jangan seperti itu kumohon” bujuk Naoki
“satu tahun? Atau 5 tahun?”
“Livia cukup” kata Naoki dengan penuh kesabaran
“Naoki aku ingin putus jika kau tidak menikahiku, aku ingin mencari pria lain sebelum usiaku tua, 5 tahun lagi mungkin aku akan sulit mendapatkan pria penggantimu” Livia memulai dramanya dengan mengeluarkan air matanya.
“sudah Livia jangan menangis, ayo kita pulang, kau perlu istirahat, malam ini aku akan menginap dan besok pagi kita akan berbelanja, aku tidak akan pergi bekerja untuk menemanimu seharian oke?” bujuk Naoki, ini adalah jurus terakhir setiap mereka berdebat. SHOPING!!!
Livia mengangguk dan menyeka air matanya, ia sangat senang Naoki akhirnya luluh dengan air matanya, dan akan menginap di tempat tinggalnya, malam ini ia takkan kesepian. Setelah hampir satu tahun pria ini benar benar sibuk dan tak pernah lagi menginap di apartemennya.
Sesampainya di apartemen Livia membersihkan wajahnya menggosok giginya mengganti bajunya dengan gaun tidur transparan yang indah dan naik ke atas tempat tidurnya.
Naoki keluar dari kamar mandi ia membuka laci di samping tempat tidur Livia dan mengambil sebuah kotak, Livia tersenyum menggoda dan pura pura menutupi tubuhnya dengan selimut.
TAP JEMPOL JALIAN 👍👍👍👍😁😁😁