
Sesampainya di kediaman Olivia kedua orang tua Derren sedang berkemas
“tante apa kalian akan kembali ke Tokyo?” tanya Olivia
“iya sayang, kami akan kembali, kami harus bekerja” Livia
Olivia hanya mengangguk dengan wajah murung
“Olivia, kau adalah putri kami dan anggap Derren sebagai kakakmu sendiri, dan dari sekarang kau harus panggil aku mommy ya”
“Olivia, sekarang apa pun keperluanmu kau harus bicara pada kami panggil aku daddy juga” kata Naoki
“terima kasih, Olivia akan belajar mengurus perusahaan peninggalan papi perlahan” kata Olivia
“sayang, itu tidak mudah, kau harus fokus pada studymu, biarkan om Yudha yang mengurus semua itu” kata Livia
“benar apa yang dikatakan mommymu Olivia, kau konsetrasi pada studymu saja. Sekarang sebaiknya kalian juga bersiap siap untuk kembali ke London, daddy sudah menyiapkan penerbangan kalian besok, kalian tidak boleh terlalu lama membolos” kata Naoki lagi
“baiklah uncle” kata Olivia
“panggil daddy” pinta Naoki dengan nada senang, namun seringai wajahnya jelas ia menggoda Livia istrinya
Derren menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia menjadi salah tingkah.
“baiklah, aku akan belajar membiasakan” kata Olivia gugup
“Derren malam ini kau tidur di kamar tamu bersama daddy” kata Livia
“iya mommy” kata Derren tidak membantah
“Olivia tidur dengan mommy” kata Livia, ia sengaja ingin mengobrol dengan Olivia dan menyelidiki hubungan mereka
Malam itu sebelum tidur
“Olivia apa Derren masih sering membullymu?” tanya Livia
“tidak tante, eh mommy, Derren telah berhenti membullyku”
“ooooo syukurlah, mommy tidak perlu khawatir lagi. sejak kapan Derren berhenti membullymu?”
“mmmmmm.....” Olivia bingung menjawab pertanyaan itu karena ia sendiri juga tidak tau kapan ia dan Derren tidak lagi terlibat dalam pertengkaran
“baiklah, tidur saja sudah larut malam” kata Livia dan mereka akhirnya tertidur.
Di sisi lain Derren gelisah, selama di Yogyakarta ia selalu memeluk Olivia setiap malam, dan malam ini ia tidur bersama Naoki ayahnya.
Derren merasa tersiksa, ia ingin tidur sambil memeluk Olivia, menghirup aromanya dan membelai rambutnya yang lembut.
“mau main catur?” tanya Naoki memecah keheningan
“ini sudah larut daddy yang benar saja”
“kau gelisah sekali, ada apa?”
“aku hanya insomnia...... kurasa” kata Derren pelan
“sejak kapan kau insomnia, apa kau sedang memikirkan seseorang?”
“daddy kau omong kosong, apa kau sedang puber kedua?” Derren membalikkan pertanyaan
“kau yang terlambat puber, seharusnya kau memiliki pacar di usiamu”
“bahkan kau juga hanya memiliki 1 orang mantan pacar dan kau mengguruiku”
“kau pandai sekali menjawab Derren”
“aku mencontohmu daddy”
“tidurlah atau temani aku main catur, aku tidak bisa tidur tanpa memeluk mommymu, kau sudah dewasa aku tidak mungkin memelukmu lagi”
“ayo main catur” kata Derren sambil bangkit dari tempat tidur dan pergi ke dapur untuk membuat 2 cangkir kopi
Dan mereka mulai memindah mindah bidak catur mereka hingga pukul 4 pagi.
Derren dan Olivia telah kembali berada di London, Derren menyerahkan sebuah kartu bank pada Olivia.
“beli apa pun yang kau mau, gunakan ini” kata Derren
“Derren tidak perlu, keperluanku sudah tercover semua, kata nenek pengacara papi akan mengurusnya”
“iya aku tau, tapi kau pegang saja, gunakan siapa tau kau memerlukannya” kata Derren
“baiklah, jangan marahi aku jika aku memakai terlalu banyak” Olivia berkata dengan gaya manjanya
“terserah kau saja” kata Derren sambil mengelus kepala Olivia
Derren mulai sibuk dengan program profesi dokter, sebagian waktunya mulai habis di rumah sakit terjun langsung berinteraksi dengan para pasien.
Olivia juga sangat mengerti dan paham akan hal itu karena secepatnya ia juga akan menjalani peran itu.
Karena kesepian Olivia sering menghabiskan waktunya di ruang club paduan suara atau ia bermalas malasan di kamar asrama bersama Miranda.
Kadang ia juga pergi bersama Tiffany.
Seperti hari ini ia bersama Miranda dan Tiffany sedang mengobrol di sebuah cafe
“Olivia bagaimana kuliahmu?” tanya Tiffany
“menjadi dokter bukan hal yang mudah ternyata, tau begini aku dulu mengambil study ekonomi bisa melanjutkan bisnis mendiang papiku”
“jangan berkata seperti itu Olivia” kata Miranda
“Miranda maafkan aku”
“seberapa pun sulitnya masa depan, kita akan berjuang bersama” kata Miranda pada Olivia
“Miranda, kau memang yang terbaik”
Miranda memang teman terbaik bagi Olivia sejak awal mereka berkenalan
“Olivia, aku tidak tau mengapa dunia ini begitu sempit” kata Tiffany
“ada apa Tiffany?”
“lihat siapa itu” kata Tiffany sambil menunjuk siapa yang datang
“Joe? Siapa gadis itu? Apa Tasya dan Joe sudah putus?” tanya Olivia polos
“Olivia kau tidak tau siapa sebenarnya Joe itu ia berganti pacar seperti berganti tisu di toilet” kata Tiffany dengan nada jijik
“hah benarkah?”
“sejak kami kecil kami tumbuh bersama dan di sekolah menengah pertama hingga sekolah menengah atas kami satu sekolah, aku tau semuanya”
“pantas kau nenolaknya”
“kau tau aku menolak Joe?”
“ya Joe menceritakan semua padaku”
“aku tidak sudi memiliki kekasih yang play boy seperti Joe” kekeh Tiffany
Olivia tertawa mendengar pengakuan Tiffany
“apa yang kalian bicarakan?” tanya Miranda
Kedua gadis itu menunjuk Jonathan yang baru saja duduk bersama seorang gadis, tampak begitu mesra dan dekat.
“bukankah itu Joe sepupumu? dia juga pacar temanku...” Miranda terkejut
“siapa temanmu?”
“sepupumu itu ia berpacaran dengan Claudia tetangga kita di asrama apa kau mengenal Claudia?” tanya Miranda pada Olivia
“Claudia berpacaran dengan Joe? iya aku mengenal dia” guman Olivia
“sepertinya akan seru jika play boy itu di keroyok 3 wanita” kekeh Tiffany
“bagaimana jika aku panggil Claudia kesini?” tanya Miranda
“dan aku panggil Anastasya”
“cepat” kata Olivia setuju lalu masing masing memanggil gadis yang mereka sebutkan.
Dalam hitungan menit cafe itu menjadi ramai dengan percekcokan 3 gadis yang memperebutkan cinta Jonathan.
Karena tidak ingin terlibat Miranda, Olivia dan Tiffany telah mengamankan diri mereka, mereka melarikan diri dan pulang ke tempat tinggal mereka masing masing.
Jonathan hanya duduk menekan pelipisnya mendengarkan 3 gadis itu berdebat dan saling mengakui kepemilikan status pacar Jonathan.
“Joe kau membohongiku” isak Anastasya
“kau berkata tidak akan menghianatiku karena aku cantik” kata Claudia
“kau berkata aku satu-satunya pacarmu” kata gadis yang datang ke cefe bersama Jonathan
“dan semua yang kau katakan pada gadis gadis ini ternyata itu kata kata yang pernah kau ucapkan padaku, ada berapa gadis kau tipu Joe?” tanya Anastasya sambil dengan emosi menyeka air matanya
Jonathan bangkit dan membayar tagihannya lalu meninggalkan ketiga gadis itu tanpa kata kata.
“Joe tunggu” Anastasya mengejar Jonathan hingga ke area parkir
“ada apa Tasya? Kau sudah tau siapa aku, untuk apa kau mengejarku?” tanya Jonathan sambil mempermainkan ujung rambut Anastasya, bibir Jonathan terenyum licik.
“berjanjilah untuk meninggalkan semua kebiasaanmu, aku akan memaafkanmu kali ini”
Jonathan terdiam sambil menatap mata Anastasya, manik mata berwarna biru yang sedang bercucuran air mata itu membuat Jonathan sedikit iba, ya siapa saja yang menangis di depannya, ia pasti akan merasa iba. Bagi Jonathan wanita adalah mainan berharga yang harus di nikmati namun harus tetap di jaga dan di beri kebahagiaan dengan cara yang manis.
“Tasya, aku mungkin akan menyakitimu lagi suatu saat” kata Jonathan dengan nada seolah olah ia kasihan
“aku yakin kau akan berubah” kata Anastasya merengek
“Tasya, kau berhak mencari pria lain, hubungan kita sampai di sini” seolah olah ia pria yang bijaksana
“tidak Joe, tidak.... aku ingin mempertahankan hubungan kita” Anastasya menangis tersedu sedu
Jonathan tidak mampu melihat isakan gadis di depannya, direngkuhnya Anastasya ke dalam pelukannya
“maaf Tasya” kata Jonathan dengan nada rendah
“aku tidak ingin putus denganmu, mari kita perbaiki hubungan kita” rengek Anastasya manja, Anastasya terus memohon dan membujuk Jonathan untuk tidak mengakhiri hubungan mereka.
Jonathan akhirnya menyerah, sudut bibirnya menyeringai ‘Tiffany, tunggu pembalasanku’ batinnya, Jonathan tau siapa yang memanggil Anastasya datang.
Sejak hari itu Anastasya tidak pernah lagi bertegur sapa dengan Tiffany, Anastasya selalu membuang muka setiap bertemu dengan Tiffany, Tiffany tidak mengerti apa salah dirinya pada Anastasya? bukankah baik jika mengetahui kedok kekasihnya ternyata pembohong. Kenapa ia justru dimusuhi oleh Anastasya?
Di fakultas ilmu ekonomi Tiffany termasuk gadis yang yang populer dan memiliki banyak teman karena kecerdasan dan bakatnya meskipun wajahnya tidak secantik Anastasya.
Jadi bagi Tiffany kehilangan Anastasya sebagai salah satu temannya tidak menjadi masalah besar, ia tidak ingin ambil pusing.
Derren menyiapkan sarapan paginya bersama Oliva sementara Jonathan ia sedang menonton televisi.
“aku akan mengantarmu pergi ke kampus” kata Derren
“apa tidurmu cukup?”
“aku telah tidur 3 jam, tidak masalah, nanti jika ada waktu aku akan tidur”
“lebih baik kau tidur Derren, aku bisa berangkat naik bus”
“aku ingin mengantarmu”
“baiklah, setelah itu kau pulang dan tidur oke?”
“baik tuan putri”
Olivia tersenyum senang bahkan wajahnya merona merah setiap kali Derren menyebutnya tuan putri.
Sesampainya di fakultas Olivia bergegas menuju ruang kelasnya.
Ia sedang asik mengobrol bersama beberapa temannya ketika Merry menghampirinya
“Oliva apa kabar?” tanya Merry berbasa basi
“baik Merry. Kau apa kabar?”
“seperti yang kau lihat” gadis itu tersenyum lebar “bagaimana kabar Derren?” tanya Merry langsung
“dia baik baik saja”
“barusan aku melihatnya mengantarkanmu”
“ya” kata Olivia malas
“aku akan menelfonnya” kata Merry sambil memandangi wajah Olivia
Namun Olivia mempertahankan ekspresi santainya
“ooo...” jawab Olivia ‘apa apaan Merry itu bukankah ia juga seharusnya magang? Kenapa masih sering sekali berkeliaran di kampus?’
Bersamaan dengan itu dosen pengajar memasuki ruangan, Merry bergegas keluar dari ruangan itu.
Keesokan harinya Derren pulang dari tugas di rumah sakit sekitar pukul 7 malam, Olivia terkejut karena Derren datang bersama Merry
“hey Olivia selamat malam” sapa Merry penuh kemenangan
“hay Merry selamat malam”
“kebetulan aku ada beberapa masalah yang perlu bantuan Derren” kata Merry menjelaskan
“ooo” kata Olivia tampak tidak tertarik
Ia beralih kedapur sementara derren pergi ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya.
Ketika Derren keluar dari kamarnya Olivia sedang membuka lemari pendingin, sementara Merry duduk di ruang keluarga ia mulai membuka laptop dan buku buku tebalnya untuk memecahkan masalah yang menurut pengakuannya memerlukan bantuan Derren.
“Derren apa kau sudah makan?” tanya Olivia
“belum, apa yang ingin kau masak?”
“mmmmm aku tidak tau, apa yang ingin kau makan malam ini?”
“bagaimana jika nasi goreng saja?”
“baik, tunggu aku akan memasaknya”
“apa kau perlu bantuanku?” tanya Derren
“kau temani saja tamumu” kata Olivia
“baik, panggil aku jika perlu bantuan”
“oke”
Derren duduk di ruang keluarga dan membantu menjelaskan beberapa soal yang di tanyakan Merry. Sesekali Olivia menguping pembicaraan mereka.
Baru saja mereka bertiga mulai makan malam mereka Jonathan datang dan segera bergabung, mereka berempat makan malam dengan kecanggungan luar biasa. Terutama Olivia, ia cepat cepat menghabiskan makannya dan segera bangkit meninggalkan meja makan.
“Joe rapikan meja setelah makan” perintah Olivia sambil berlalu pergi
“baik nyonya besar” kata Jonathan santai
Sudah dua jam berlalu namun sepertinya Merry masih bearada di ruang keluarga, Olivia sudah berguling guling di atas ranjangnya dan berulang kali memaksa matanya untuk terpejam, namun tetap saja ia kesulitan. Jadi ia memutuskan untuk berpura pura mengambil air di dapur, dan mengecek apa yang sedang Derren dan Merry lakukan.
Ia berjalan dengan kaku melewati Merry dan Derren yang duduk berseberangan, perasaan Olivia sedikit lega.
Kemudian di dapur ia meneguk air minumnya dari gelas hingga tandas.
“kenapa belum tidur?” tanya Derren yang tiba tiba telah berdiri di samping Olivia
Olivia diam saja namun jari jemarinya menarik bagian bawah ujung pakaian Derren dan memainkannya, bibirnya terkatup rapat dengan eksperssi cemberut.
“tunggu 10 menit, aku akan menyusulmu tidur” kata Derren yang seolah mengerti dengan apa yang ada di pikiran Olivia, ia mengacak acak rambut di kepala Olivia.
Setelah Olivia masuk ke kamarnya Derren kembali duduk, selang beberapa menit Derren mengecek jam di ponselnya.
“Merry, kurasa ini sudah terlalu larut, tidak baik seorang gadis berada di apartemen seorang pria” kata Derren “kau bisa melanjutkan di rumahmu aku telah menjelaskan semua garis besarnya tadi”
“Derren, sepertinya hubunganmu dengan sepupumu bukan hubungan normal sebagai saudara” Merry tiba tiba berucap
Mendengar itu ekspresi wajah Derren menjadi gelap, ia menyipitkan matanya “Merry” Derren berhenti sejenak “apa pun hubunganku dengan Olivia ku rasa itu bukan urusanmu” lanjut Derren dengan nada dingin
Merry tersentak dengan jawaban Derren yang di luar dugaannya
“Derren aku tidak bermaksud...”
“pulanglah Merry sudah larut”
“baiklah” kata Merry seraya membereskan barang barangnya
“terima kasih Derren atas bantuanmu, sampai jumpa” kata Merry ketika ia berada di ambang pintu
“sampai jumpa” kata Derren tanpa ekspresi.
Beberapa detik berikutnya Derren telah memeluk tubuh Olivia di atas ranjang.
“jangan berpura pura tidur” bisik Derren tepat di dekat telinga Olivia
Olivia tersenyum senang dan perlahan membalikkan tubuhnya, tatapan mata mereka beradu cukup lama.
Tiba tiba Derren mengecup kening Olivia.
“tidurlah” kata Derren sebelum Olivia protes
“Derr...”
Derren menyegel bibir Olivia, Olivia membeku
Ia tidak menyangka Derren akan menciumnya di bibir, lembut, perlahan dan hangat. Pelahan Olivia membuka bibirnya menikmati ciuman Derren, setau Olivia ini adalah ciuman pertamanya, ia sangat gugup kaku dan canggung. Jantungnya terasa berdegup kencang memenuhi rongga dadanya bahkan sepertinya jantungnya siap melompat melalui kerongkongannya.
“tidurlah” Derren seraya membawa Olivia ke dalam pelukannya, memeluknya dengan erat seakan ingin menyatukan tubuhnya dengan Olivia.
Olivia merasa tidak berani bergerak, ia juga tidak berani menatap wajah Derren. Dalam pelukan Derren bahkan ia dapat mendengar suara detak jantung Derren yang tidak kalah kencangnya dengan suara detak jantung miliknya sendiri..
BIAR MAKIN GREGET AKU KASIH BOCORAN NIH 😄
BESOK MEREKA JADIAN 😄😄
CATAT TANGGAL JADIANNYA 👍😄
JANGAN LUPA TAP JEMPOLNYA MANNTEMAN