
Sudah 3 bulan livia dan andrew pindah ke tokyo, livia menikmati hari harinya dengan sangat baik, karena andrew harus bekerja pada siang hari jadi untuk membunuh kebosanannya hampir setiap hari livia pergi bersama hana atau yukari untuk makan dan berbelanja, terkadang sakura juga pergi bersama livia, bahkan mereka seperti kakak adik yang serasi, namun sebisa mungkin livia tidak pernah menanyakan apapun tentang naoki dan sakura juga selalu menahan dirinya berbicara hal hal yang ada kaitannya dengan kakaknya.
Perut livia telah semakin membuncit, ia selalu mengeluh pada suaminya karena hampirbkeseluruhan koleksi pakaiannya di lemari setiap hari semakin tidak bisa di kenakan di tubuhnya, berbeda dengan andrew ia sangat menyukai tubuh livia yang sekarang, dadanya membesar sempurna, bagian pantatnya juga sangat indah, pipinya tidak terlalu tirus lagi seperti dulu.
Livia ingin sekali segera melahirkan agar kembali langsing, karena ingin melahirkan secara normal livia rajin mengikuti program program senam dan yoga khusus untuk ibu hamil, andrew sebisa mungkin mendampingi livia karena livia akan merajuk dan mengomel jika andrew berkata tidak bisa menemaninya pergi.
“sayang hari ini aku kayanya telat, kamu pesan makan malam lewat uber eat aja atau aku suruh anak buah ku beliin dari restoran? Kamu pilih aja” kata andrew melalui telfon
“enggak drew aku mau makan masakan mbak siti aja, oh iya drew perasan akhir akhir ini kamu sering banget deh pulang telat, sibuk banget?” tanya livia
“iya sayang ada yang harus di urus” jawab andrew lembut “oke aku tutup telfonnya dulu, jangan begadang istriku sayang” lanjutnya
Setelah mematikan sambungan telfonnya livia menuju dapur untuk memberi tahu mbak siti asisten rumah tangga mereka untuk memasak tidak terlalu banyak, mbak siti adalah keponakan mbok Zaenab asisten rumah tangga keluarga livia di yogyakarta, livia sering merindukan masakan rumahan yang seperti di kampung halamannya sehingga andrew berinisiatif membawa asisten rumah tangga yang ia datangkan langsung dari yogyakarta.
Setelah makan livia duduk di depan macbooknya seperti biasa, ia mengotak atik foto foto dan videonya, ia mengklik sebuah folder khusus, itu berisi foto foto ia bersama naoki di berbagai penjuru dunia.
Ia menyentuh sebuah foto yang tampak sangat menggemaskan, ia berada di punggung naoki saat itu mereka berjalan di depan menara eifel dan naoki menggendongnya karena livia tidak mampu lagi berdiri ia kedinginan, dan dengan sengaja livia berfoto selfie dengan manis di atas punggung naoki.
Foto foto mereka berdua tampak selalu ceria, ada juga foto livia dan naoki di di kyoto, berdiri di sebuah bangunan bergaya tua mereka berdua menggunakan yukata, naoki bahkan memegang samurai di tangannya, “tampan” gumannya tanpa sadar.
Ada juga foto livia dan naoki saat melihat pameran hanabi musim panas tahun lalu, livia tersenyum ceria dan naoki sedang melihat kenarahnya sambil tersenyum tipis, di atas mereka kembang api bermekaran di langit langit kyoto.
*hanabi : kembang api
Livia tersenyum sendiri “apa kabar naoki?” guman livia
Dulu naoki setiap hari sepulang dari menyelesaikan pekerjaaannya ia akan kembali ke apartemen yang di tempati livia, kemudian baru akan kembali ke rumahnya setelah mereka makan malam, livia mengira ia akan menjadi istri naoki, namun takdir mengantarkannya pada andrew dengan cara yang menyakitkan pihak naoki...
Sejujurnya sampai saat ini livia masih merasa malu dan takut untuk bertemu naoki, ia masih merasa bersalah atas perbuatannya sendiri menghianati naoki. Suatu saat jika takdir mempertemukannya pada naoki kembali livia akan meminta maaf satu kali lagi batinnya.
Livia melirik jam di macboocknya, sudah jam 9 dan suaminya belum ada tanda tanda akan kembali, ia mengecek pesan dan panggilan di ponselnya, tidak ada satupun pesan dari andrew.
Ia menutup macbooknya dan pergi menggossok giginya kemudian merebahkan tubuhnya di ranjangnya. Mencoba memejamkan matanya, semenjak menikah ia tidak terbiasa lagi jika harus tidur tanpa memeluk suaminya.
Livia terbangun ketika suara bell pintu apartemennya di tekan berulang ulang, biasanya yang melakukan hal menyebalkan seperti ini adalah hana, livia bangkit dari ranjangnya untuk membukakan pintu, namun livia terkejut karena orang yang berdiri di depan pintunya adalah sakura.
“livia oneesan, maafkan aku, apa aku menganggumu?” tanya sakura
“masuklah” livia mengajak sakura masuk
“sakura ada apa?” tanya luvia setelah sakura duduk di sofa ruang tamu “apakah terjadi sesuatu dengan kakakmu?” tanya livia khawatir
“apakah suamimu ada di rumah?” tanya sakura hati hati
Livia melirik jam dan itu menunjukkan pukul 12 malam, suaminya juga belum pulang
“tidak, andrew bilang ada urusan, dia belum kembali” jawab livia
“oneesan” kata sakura ragu ragu “oneesan maafkan aku” kata sakura lagi
“sakura katakan ada apa?” livia mulai panik
“aku melihat andrew di hotel bersama seorang wanita berambut pirang” kata sakura.
2 hari yang lalu
Sakura kebetulan harus menghadiri makan malam bersama client mewakili kakaknya naoki di restauran sebuah hotel, tanpa sengaja ia melihat andrew bersama seorang wanita berambut pirang dan seorang anak kecil, mereka tampak berbincang dengan serius.
Karena jauh sakura tak dapat mendengar pembicraan mereka dengan jelas, namun sakura mendengar beberapa kali anak kecil itu berteriak memanggil daddy pada andrew.
Karena penasaran sakura menunggu mereka selesai makan dan membuntuti mereka, rupanya mereka menginap di hotel tersebut.
1 jam yang lalu
Sakura baru saja mengirim tamu tamu perusahaannya setelah pertemuan ke hotel yang beberapa hari ini selalu ia kunjungi, kebetulan salah satu dari mereka adalah wanita dan meminta sakura membantunya mengecek beberapa pekerjaan di dalam kamar, ketika sakura keluar ia berpapasan dengan andrew dan wanita pirang itu wanita itu berjalan agak jauh di belakang dari andrew, andrew yang sibuk menunduk berbicara dengan anak lelaki itu tidak melihat sakura.
Setelah mereka masuk ke dalam kamar sakura berbalik untuk memastikan nomer kamar tersebut, itu adalah presiden 1001 suite room.
Pikiran sakura berkecamuk dan Tanpa sadar sakura melesat menuju apartemen livia, untunglah livia pernah membawanya mengunjungi apartemen Livia hingga ia tak kesulitan mencari livia.