
Di tempat Olivia tinggal bersama Miranda.
Olivia sedang menangis sambil memeluk Miranda sahabat baiknya. “jadi bagaimana?” tanya Miranda bingung
Kali ini Miranda lebih bingung dari pada tahun tahun yang telah mereka lalui, ia sudah biasa membukakan pintu tempat tinggalnya untuk Olivia sejak mereka saling mengenal, setiap ada masalah dengan Derren gadis itu selalu datang kepadanya.
*3 tahun yang lalu, ia buru buru kembali dari tugas magangnya di rumah sakit karena Derren mencari Olivia di tempat mereka bertugas magang, firasat Miranda mereka dalam masalah besar karena belum pernah Derren sepanik itu, dan juga Miranda sudah hapal dengan Olivia yang pasti mencari dirinya saat ada masalah dengan Derren.
Dan benar saja Miranda mendapati sahabatnya bersimbah air mata menunggunya sambil memegang sebuah koper di depan pintu apartemennya, hingga 1 minggu Olivia hanya diam, tanpa berbicara, ia hanya menangis dan menangis, dan minggu berikutnya Olivia menceritakan semua yang dia lihat.
Bukan hanya hati Olivia, hati Miranda juga terasa sangat kecewa mendengar apa yang di ceritakan Olivia
“Miranda, boleh aku menumpang di apartemenmu hingga aku mendapatkan apartemen yang cocok?” tanya Olivia saat itu
“kau tinggallah bersamaku selama aku belum kembali ke Italia, tidak perlu menyewa apartemen sendiri meskipun kau sangat mampu menyewanya” kata Miranda “kita bisa membayar sewa berdua” lanjutnya, Miranda tau Olivia tidak akan bersedia tinggal secara gratis*.
“Mirand kita harus pindah dari sini, keluargaku pasti akan menemukanku” kata Olivia di sela isak tangisnya
“Olivia, cepat atau lambat kau harus mengatakan kebenaran” kata Miranda
“aku belum siap melihat wajah Derren”
“kau terlalu takut menghadapi kenyataan”
“aku tidak sanggup melihat Derren dan Merry”
“Olivia ini sudah hampir 3 tahun, kau harus angkat kepalamu, jangan lemah karena penghianat itu”
“aku tidak bisa”
“kau tidak bisa karena kau masih mencintainya” kata Miranda tegas
Olivia menundukkan kepalanya
“apa aku perlu ikut kau ke Tokyo?” tanya Theo.
Setelah Miranda sahabat terbaik Olivia adalah Theo, ada satu lagi bernama dokter Louis, ia calon suami Miranda yang juga berteman dengan Derren dan juga Merry.
“Theo, tidak perlu”
“Olivia, setelah internsip mu selesai lalu apa rencanamu?” tanya Miranda
Olivia hanya menggeleng
“Miranda kau akan menikah dengan Louis dan kalian akan kembali ke Italia, menetap di negara asal kalian aku sangat senang untuk itu, meskipun berat sejujurnya aku kehilangan dua orang sahabat sekaligus”
“kau tidak berencana kembali ke Indonesia?”
“tidak, aku akan mencari pekerjaan di sini”
“kau yakin?"
“aku sangat yakin, kau tau kami orang timur, aku tidak mungkin kembali ke Indonesia dengan membawa Crystal, aku tidak bersuami, tapi aku memiliki seorang anak, aku akan jadi bahan cemoohan” kata Olivia dengan nada perih.
“apa kau ingin ikut bersama kami ke Italia? Ayahku memiliki klinik kecil di sana”
“tidak Miranda, kurasa lebih baik aku di sini saja”
“aku akan menjaga mu dan Crystal, Miranda percayakan Olivia dan Crystal padaku” kata Theo sambil membelai rambut Olivia.
Olivia pergi ke Burford saat itu sebenarnya untuk memberi kejutan pada Derren bahwa dirinya saat itu hamil 3 minggu, tapi semua hancur begitu saja. Kedua orang tuanya telah tiada, Derren berkhianat di depan matanya, itu adalah pukulan telak dan titik terendah dalam hidup Olivia.
Saat itu jujur saja Olivia tidak ingin hidup lagi, namun ada janin yang tak berdosa telah tumbuh di dalam rahimnya, seorang bayi yang kelak akan menjadi keluarga satu satunya. Yang akan berbagi suka dan duka bersamanya selamanya, hanya itu alasan Olivia mampu bertahan menghadapi pengkhianatan Derren saat itu. Sedikit pun tak terlintas di benak Olivia untuk membunuh janin itu.
Apalagi 3 bulan kemudian itu Merry menemuinya dan mengatakan bahwa Derren bosan kepadanya, hanya berpura pura mencintainya karena mereka telah tinggal bersama dan satu lagi, Derren hanya iba padanya karena kedua orang tuanya telah tiada!!!
“Olivia maafkan Derren, ia benar benar tidak bermaksud menyakitimu, mungkin saat itu ia mengira cintanya padamu itu nyata, tapi setelah terpisah denganmu ternyata ia sadar bahwa kalian hanya terbiasa hidup dalam satu atap tidak ada cinta di hati Derren, kami akan menikah nanti setelah 5 tahun membangun karir” kata Merry yang datang menemui Olivia di rumah sakit tempatnya magang kala itu. Semua kata kata Merry berputar putar di otaknya, ia bahkan tidak mampu lagi mendengarkan dengan baik apa saja yang Merry katakan karena sangat sakit rasanya. Seperti belati yang mencabik cabik jantung Olivia kata kata Merry nyaris membuat Olivia merasa ingin mati detik itu juga.
Olivia percaya semua kata kata bualan Merry, Derren tidak mengejarnya ketika Olivia meninggalkan apartemen itu, bahkan hingga putrinya Crystal berumur 2 tahun Derren juga tak sekalipun berusaha mencari di mana keberadaannya, Olivia semakin yakin Derren memang tak menginginkannya, cinta Derren yang selalu ia ucapkan hanya bualan semata!!!
mengingat semua itu Olivia benar benar merasa ia tidak ingin lagi mengenal Derren dan semua yang berhubungan dengan Derren karena hanya akan menambah luka hatinya.
Olivia sukses menyembunyikan kehamilannya karena kebetulan perutnya tidak terlalu membuncit, ia masih bisa mengenakan pakaian longgar dan panjang untuk menutupi, berat badannya juga saat itu tidak terlalu banyak naik. Baru setelah usia kandungannya menginjak 8 bulan Olivia benar benar menunda magangnya hingga ia melahirkan seorang bayi mungil yang ia beri nama Crystal Artajaya.
Tidak seorang pun yang mengetahui keberadaan Crystal selain Miranda, Theo dan Louis. Ralat, ada lagi yaitu pamannya Yudha dan pengacara keluarganya yang mengetahui keberadaan Crystal.
Jika membawa Crystal pergi keluar biasanya Louis dan Miranda yang mengakui Crystal sebagai putri mereka jika bertemu dengan teman teman mereka yang mengenal Derren.
Olivia sangat beruntung, di London ia memiliki sahabat yang baik, Olivia, Miranda, Theo, dan Louis mereka berempat berbagi tugas menjaga Crystal, Olivia juga membayar seorang baby sitter namun karena biayanya sangat mahal Olivia hanya menyewa baby sitter beberapa jam dalam sehari bukan full time, selebihnya ia dan sahabat sahabatnya mengurus Crystal. mereka benar benar tulus menayangi gadis kecil itu.
Justru Olivia terkadang tidak kebagian tugas menjaga putrinya sendiri karena tugasnya di serobot oleh ketiga sahabatnya.
Pagi itu Olivia baru saja menyiapkan beberapa keperluan Crystal sebelum Theo datang datang, biasanya Theo menjaga Crystal dari jam 8 pagi hingga pukul 11 pagi dan di lanjutkan oleh babby sitternya hingga jam 5 sore, dan di lanjutkan oleh Olivia atau Miranda, tergantung siapa yang datang terlebih dahulu. Olivia masih harus pergi bekerja sebagai dokter magang di sebuah perkampungan kecil di pinggiran kota London hingga beberapa bulan lagi. Sedangkan Miranda ia masih bertahan di London dan bekerja di sebuah klinik, ia menunggu Olivia menyelesaikan internsip nya baru ia akan kembali ke negaranya, ia benar benar tidak tega meninggalkan Olivia dan Crystal.
Olivia sangat bersemangat ketika bell pintu berbunyi, ia mengira Theo yang datang karena mustahil Miranda kembali, ia dalam shift malam. Jadi tidak mungkin ia kembali jam 6 pagi.
Namun yang datang ternyata Jonathan lagi!!!
‘Douboe shiiiit’ jerit Olivia dalam hatinya, sepagi ini?
Cyrstal sudah bangun dan pasti akan berteriak ‘mama mama mama’ memanggil dirinya
“Jo Jooe?”
Jonathan mengangkat kedua alisnya
‘triplle kill !!!' harus pindah ke apartemen yang sistem keamanannya sangat ketat sekarang, tidak mungkin tinggal disini lagi 'terlalu berbahaya’ batin Olivia
“oh joe aku harus berangkat bekerja” kata Olivia ia berdiri di depan menutup pintu apartemenya, dan menutup sedikit pintu itu seolah tidak mengizinkan Jonathan masuk.
“Olivia, aku ingin sarapan di tempat tinggalmu” kata Jonathan merengek
“Joe bagaimana jika sore saja, aku terburu buru sekarang”
“Olivia kau pelit sekali sekarang”
“aku harus pergi bekerja Joe”
“ini masih jam 6 pagi, tempat kerja macam apa yang buka jam 6 pagi?”
Olivia semakin gugup, raut tegang di wajahnya mencapai level maximal!!!
“oooh aku aku suamiku tidak ada di rumah sekarang, tidak baik membawa pria lain masuk, maksudku aku merasa tidak nyaman”
“kau bersuami?”
“yaaa...” Olivia meraba saku celananya dan beruntung mendapatkan ponselnya di sana.
“kalau begitu aku ingin berkenalan dengan suamimu”
“ia berada di rumah orang tuanya, kau bisa kesini lain kali” Olivia berkilah sebisanya
“besok aku kembali ke Tokyo Olivia”
“kenapa kau tidak memberitahuku kau akan datang, aku bisa menahan suamiku untuk tidak pergi ke rumah orang tuanya, kau bisa berkenalan” Olivia bersandiwara dengan sangat kaku, tampak jelas ia berbohong
“oh aku akan memanggilnya”
Olivia menekan nomer ponsel Theo dan memanggilnya
“suamiku cepat pulang, aku merindukanmu, oh iya sepupuku ingin bertemu denganmu, dan anak kita sangat cerewet aku tidak tahan lagi, cepat lah pulang sekarang juga oke” Olivia berkata kata seperti tanpa titik dan koma begitu Theo menjawab panggilannya.
Jonathan mengerutkan keningnya.
“anak?” guman Jonathan
"iya, aku memiliki suami dan anak, ku hatap kau tidak datang lagi ke menemuiku joe" jawab Olivia dengan nada seolah mengusir Jonathan.
“mama mama mama....” suara kecil terdengar dari balik pintu
Benar dugaan Olivia gadis kecilnya berteriak di balik pintu, Olivia membuka pintu dengan hati hati
“sayang, ada apa?” Olivia membawa gadis kecil itu masuk ke dalam ruangan dan mendudukkannya di sofa,
“Kuit, icital mau kuit”
Jonathan menatap wajah gadis mungil itu lekat lekat, ini adalah gadis kecil yang berada di stroller kemarin yang bersama Miranda dan Louis teman Derren. Rambutnya coklat, matanya coklat, tidak terlalu mirip dengan Olivia,
“oh kau mau biskuit Crystal? Apa kau lapar sayang?”
Gadis kecil itu menggeleng
Olivia membawakan sekotak biskuit balita dan memberikan satu pada Crystal.
Tapi gadis mungil itu memberikan biscuit di tangannya itu kepada Jonathan dan meminta satu lagi untuk dirinya.
“papa, kuit”
“terima kasih sayang” kata Jonathan sambil menerima biscuit dari Crystal
“Crystal kau mau ikut papa?” tanya Jonathan
Crystal mengangguk dan dengan manja gadis kecil itu duduk di pangkuan Jonathan sambil memakan biskuitnya, bahkan biscuit itu menempel nempel di pakaian Jonathan. bahkan beberapa kali Crystal menyuapkan biscuit nya ke mulut Jonathan.
Olivia semakin gelisah karena Theo belum datang juga.
“Olivia” kata Jonathan “apa yang kau sembunyikan?”
“maksudmu?” Olivia bertingkah polos
“siapa Crystal?”
“oh dia, putriku dan Theo” jawab Olivia berusaha setenang mungkin
“Theo?” Jonathan menatap Olivia dengan tatapan tajam, ‘Olivia apa kau pikir aku bodoh???’ batinnya
“ya, kami telah menikah” Olivia mengarang cerita
‘Theo sialan, kenapa lama sekali’ rutuk Olivia dalam hati.
“Olivia....” Desis Jonathan yang mulai kehilangan kesabaran
“aku tidak mengerti maksudmu Joe” kata Olivia bersamaan dengan Theo membuka pintu
“oh sayang, akhirnya kau datang, ayo Crystal ikut papa dulu” Olivia mengambil paksa putrinya dan memberikan pada Theo.
Theo menyambutnya dan langsung menghujani Crystal dengan ciuman kasih sayang, Crystal tertawa ceria. Jonathan memandangi Olivia dengan tatapan kesal, bagaimana mungkin Jonathan tidak mengenal Theo? Dan Crystal? Gadis kecil itu mirip Livia ibunya, tentu saja ia juga mirip Keiko kecil.
“hei Joe apa kabarmu?” sapa Theo memecah kecanggungan di antara mereka
“Theo, katakan sejujurnya” Jonathan menatap Theo tajam
“tidak ada yang harus di jelaskan, aku dan Olivia memang memiliki putri, ya kami telah menikah” Theo lancar berbohong karena Olivia telah mengirimkan naskah kebohongan melalui pesan singkat yang ia ketik dengan secepat kilat.
Jonathan menyeret pergelangan tangan Olivia membawa keluar dari apartemen itu menuju mobilnya, mendudukkan Olivia dan menginjak pedal gasnya.
“Joe apa apaan kau? Aku harus pergi bekerja”
“aku akan mengantarmu”
“aku belum memakai seragamku”
“katakan Crystal milik siapa?”
“milikku” jawab Olivia acuh
“siapa ayahnya?”
“Theo" Jawab Olivia tegas
“siapa ayahnya?” tanya Jonathan lagi
“Theo”
“Ooliiviiaa”
“Joe jangan paksa aku atau aku akan melompat?” Olivia mengancam hendak membuka pintu mobil namun Jonathan mengunci secara otomatis dari bagian center.
“aku akan membawamu ke Tokyo bertemu Derren hari ini juga jika kau tidak berkata jujur”
“Joe, kumohon dia keluargaku satu satunya, aku tidak ingin kalian mengambilnya”
“jadi benar ia milik Derren?”
Tangis Olivia telah pecah
“jadi ini alasanmu menghindari kami?”
Olivia mengangguk
“kenapa? Apa salah kami?”
“aku hanya tidak siap bertemu Derren”
“Derren berkata kau yang ingin menjauhinya, kau berkata Derren tidak menginginkanmu lagi kalian harus saling bertemu untuk meluruskan semua kesalah pahaman kalian” nada suara Jonathan meninggi.
“Joe oke, aku akan datang ke Tokyo, oke aku akan datang tapi tolong jangan beritahu pada siapa pun tentang Crystal” Olivia mencoba berunding
“Olivia, Crystal juga milik kami”
“dia milikku, dia anakku, dia satu satunya yang aku miliki, keluargaku satu satunya” nada suara Olivia meninggi air matanya membanjiri wajahnya seperti anak sungai yang mengalir deras.
Jonathan meminggirkan mobilnya
“Olivia, kau selalu berkata kau tidak memiliki siapa siapa lagi di dunia ini, kau anggap kami siapa? Kau anggap aku apa?” Jonathan tidak terima
“papi meninggalkanku, mami juga meninggalkanku, Derren menghianatiku, aku yakin kalian semua juga sama” Olivia berkata dengan nada tinggi sambil terus bercucuran air mata
“kau selalu mengatakan Derren menghianatimu, apa kau pernah mendengarkan penjelasan Derren?” suara Jonathan begitu putus asa
“aku lebih percaya dengan apa yang kulihat ketimbang mulut manusia” kali ini kalimat Olivia penuh tekanan dan kekecewaan.
‘Derren selalu mengatakan mencintaiku tapi faktanya ia tidur dengan Merry, ia juga tidak sekalipun mencariku’ lanjutnya dalam hati.
“bawa Crystal ke Tokyo” kata Jonathan dengan suara berat, percuma ia mencoba meyakinkan Olivia kalau Derren tidak berkhianat, Olivia tidak akan percaya.
“aku belum siap” jawab Olivia di sela isakannya
“kapan kau siap?”
“aku akan membawanya setelah internsipku selesai”
“Bisakah aku memegang kata katamu?”
“ya aku berjanji akan membawa Crystal kembali pada keluarga saat izin praktik mandiriku keluar, untuk saat ini tolong rahasiakan ini Joe aku mohon” pinta Olivia dengan tatapan mata Penuh harap.
Jonathan membelai rambut Olivia, merengkuhnya ke dalam pelukannya, Menciumi pucuk kepala gadis yang selalu ia anggap sebagai adiknya.
“maafkan aku, aku tidak tau kau hamil, andai aku tau kau hamil aku sendiri yang akan membawamu dengan berbagai cara agar kau tidak menanggung semuanya sendirian” Jonathan benar benar merasa bersalah
“Joe, ini semua keputusanku, dan aku tidak merasa sedikit pun terbebani”
“kenapa kau keras kepala sekali Olivia? Kenapa kau memilih menanggung semua ini sendirian?” bahkan air mata Jonathan pun tumpah di depan Olivia, ini pertama kali Jonathan menitikkan air mata di depan wanita.
“aku takut kalian mengambil Crystal” isaknya penuh ketakutan
“kami tidak sekejam itu Olivia tapi Crystal perlu mengenal ayahnya dan keluarganya” kata Jonathan mencoba meyakonkan Olivia sehalus mungkin
“aku sudah cukup untuk Crystal”
“Olivia kembalilah pada keluarga”
“aku tidak bisa”
“kenapa?”
Olivia menggeleng, ia tidak sanggup untuk melihat Derren.
“baiklah, aku dan Tiffany menunggumu di Tokyo“ kata Jonathan lembut sambil mengeratkan pelukannya, membiarkan Olivia menangis hingga puas di dadanya, sekeras apapun Jonathan membujuk dengan kata katanya itu percuma, Olivia tetap keras dengan keegoisannya, seperti saat orang tuanya masih ada, apapun benda yang ia minta itu tidak akan bisa di gantikan dengan benda lain walaupun benda itu yang hampir sama, tidak jarang ia akan menyesali di kemudian hari namun ia tidak akan pernah mengalah.
Kenapa wanita di sekitar Jonathan begitu gigih dengan keanehannya?
Tiffany dengan kesombongannya,
Keiko dengan kegigihannya terhadap musik,
Olivia dengan kegigihannya menjauhi keluarga,
Dan ibunya Livia... ibunya juga wanita yang aneh...
Sekarang harapan Jonathan hanya pada keponakannnya yang cantik itu.
'semoga Crystal menjadi jembatan Derren dan Olivia untuk kembali' batin Jonathan penuh harap.
AUTHOR MEWEK SAMBIL NGETIK DI CHAPTER INI 😭😭😭
NGEBAYANGIN OLIVIA ITU DIRI SENDIRI 😅😅😅
BUAT GANTIIN KEMARIN KESALAHAN TEKNIS PAS UPDATE HARI INI AKU CEPETIN UPDATENYA 😙
TAPI MOHON MAAF YA BESOK AUTHOR LIBUR KARENA JUMLAH KATA PERBULAN UDAH OVERDOSIS 😘😘😘
UPDATE LAGI TANGGAL 1 💖💖💖💖
**LIKE MENURUN DRASTIS😏
TOLONG BANTU AUTHOR TAP JEMPOL KALIAN 😭😭😭😭**