
Hari berlalu, bulan terus berganti, hubungan Olivia dan Derren berjalan dengan baik.
Seperti nasihat Jonathan, Olivia terus berada di sekitar Derren, berhubungan normal selayaknya keluarga.
Namun berhubungan selayaknya kekasih yang dimabuk asmara jika hanya ada mereka berdua.
Sedangkan hubungan Jonathan dan Tiffany?
Tidak ada kemajuan sama sekali.
“untuk apa kau membuntutiku?”
“apa yang salah? Aku hanya membuntuti temanku pergi ke perpustakaan”
“kau akan bosan di sini lihat saja nanti”
Jonathan tidak mempedulikan ucapan Tiffany
Ia terus membuntuti gadis itu mengitari rak rak buku.
Tiffany berhenti pada sekumpulan buku tentang karya sastra, ia menarik secara acak dan mengambil, sebuah buku berjudul Nana (1881) karya Emile Zola, karya yang dianggap pornografis. Novel ini mengungkapkan gambaran prostitusi secara gamblang sehingga pelukisannya kadang kala terlalu terbuka. Namun Zola bukan menulis tentang pornografi karena yang ingin dikatakannya adalah masalah moral.
Jonathan mengambil buku di tangan Tiffany dan membaca bagian belakangnya
“kau ingin membaca ini?” Bisik Jonathan mereka tidak bisa berbicara secara biasa.
“aku hanya tidak sengaja mengambilnya” jawab Tiffany acuh dengan berbisik pula
“aku bisa mengajarimu cara berporno” bisik Jonathan tepat di telinga Tiffany
Tiffany tidak mengindahkan kata kata Jonathan baginya mulut Jonathan berkata kata seperti itu bukan hal baru yang terdengar di telinganya. Ia kembali memilih beberapa karya sastra yang terkenal di dunia.
“aku yakin aku lebih hebat di banding kekasihmu yang bermata biru itu”
“Joe, lebih baik kau pergi dari sini”
“meninggalkan kekasihnya di perpustakaan sendirian adalah perbuatan tidak terpuji”
“siapa kekasihmu?” Tiffany sedikit terkekeh
Jonathan mencuri ciuman di bibir Tiffany secepat kilat, bahkan Tiffany tidak menduga sama sekali.
Kemudian Jonathan berpura pura sibuk memilih buku, Tiffany mendengus kesal.
Sepertinya bibirnya kini telah menjadi properti milik Jonathan, sudah berpuluh puluh kali pria itu mencuri ciuman darinya dan sekarang ciuman dari Jonathan itu menjadi hal biasa.
Sementara Keiko masih sibuk belajar piano untuk konser terakhir master Edward yang bertajuk ‘AKHIR PERJALANAN’ tinggal satu bulan lagi.
Hari ini Keiko bersama Jonathan pergi ke studio tempat biasa Keiko berlatih, namun di tengah jalan master Edward memanggil dan mengatakan bahwa rencana latihan harus di tunda karena master Edward tiba tiba merasa sedikit kurang sehat.
Jadi jonathan memutar stirnya menuju kediaman master Edward karena Keiko berinisiatif menjenguk orang tua itu.
Mereka berhenti di sebuah mansion yang penuh dengan taman bunga, bunga bunga di taman itu hampir di dominasi oleh bunga berwarna pink dan putih. Jonathan tiba tiba teringat dengan Livia ibunya, selera taman pemilik mansion itu hampir sama dengan selera Livia ibunya.
Kekaguman Jonathan tidak hanya sampai di situ, karena saat mereka berada di bawa masuk oleh istri master Edward pollini di dalam kamar tersebut Tiffany sedang duduk di samping ranjang sambil bercengkerama akrab dan menggenggam tangan master Edward. Sebenarnya Tiffany kebetulan di undang kembali untuk belajar melukis bersama Herdiana, baru saja mereka mulai mencoretkan kuas di atas kanvas tiba tiba seorang pelayan berlari tergopoh gopoh dan memberitahu pada Herdiana bahwa master Edward terjatuh karena merasa kepalanya terasa sedikit pusing.
Segera Herdiana memanggil dokter pribadi mereka dan memeriksa keadaan master Edward, beberapa saat setelah dokter pergi ternyata Keiko dan Jonathan datang menjenguk beliau.
“Keiko... kemari nak” kata master Edward yang duduk bersandar di ranjang
Tiffany melepaskan genggaman tangannya pada pria itu dan beralih, memberikan tempatnya untuk di gantikan oleh Keiko.
“master, bagaimana kesehatanmu?” tanya Keiko khawatir
“aku baik baik saja hanya saja kolesterolku naik, aku sudah tua hahahaa” pria tua itu terkekeh seolah olah tidak terjadi apa apa
“kau sangat keras kepala, kau harus dyet dan menjaga pola makanmu tapi kau makan apa saja sesuka hatimu” gerutu Herdiana
“master, semoga lekas sembuh” kata Jonathan
“aku tidak sakit, aku tidak sakit, besok aku pasti sembuh” katanya dengan nada sombong “Keiko aku harap aku bisa melihatmu menjadi pianis nomer satu di dunia”
“master, aku tidak akan mengecewakanmu” kata Keiko penuh semangat
Mereka kemudian berbincang bincang sedikit hingga master Edward tertidur, kemudian Herdiana membawa ketiga pemuda tersebut duduk di ruang keluarga.
Jonathan cukup terkejut saat ia memandang sebuah lukisan besar yang terpampang di ruang keluarga, tidak hanya dirinya, Tiffany dan Keiko juga tak kalah terkejutnya.
“anak anak ini teh dan kue kalian, kalian bersantailah dulu” suara Herdiana terdengar riang datang dari arah dapur bersama seorang pelayan
“mrs.... ini?” tanya Tiffany ragu sambil menunjuk yang tergantung di dinding. Tiffany bukan pertama kali menginjak mansion itu, namun biasanya Tiffany dan Herdiana hanya berada di ruang lukis Herdiana yang terletak disamping bangunan mansion, di tengah tengah taman bunga.
“itu adalah Edward muda, kebetulan sekali bukan?”
Mata wanita tua itu menatap Jonathan
“ternyata di dunia ini ada kebetulan yang sangat luar biasa, Jonathan kau sangat mirip dengan suamiku ketika muda” kekeh Herdiana
Bukan hanya mirip, namun pria dalam lukisan itu benar benar seperti dirinya sekarang, Jonathan seperti Jonathan sedang bercermin!!!!
Tiba tiba batin Jonathan merasa tidak nyaman ada rasa menggelitik dalam benaknya.
“mrs, dimana anda bertemu master Edward?” tanya Jonathan
“aku berasal dari Indonesia, tepatnya Yogyakarta, aku dulu mengikuti pertukaran pelajar dari Indonesia di sini kami bertemu lalu kami menikah” kata Herdiana sambil tersenyum mengenang masa mudanya bersama suaminya.
Ketiga pemuda itu mengangguk angguk mengerti.
“di mana putra putri anda sekarang? Apa mereka juga seniman seperti anda dan master Edward?” tanya Jonathan penasaran
“tidak, kami hanya berdua sekarang, putri kami meninggal saat aku melahirkannya di Yogyakarta”
“maaf Mrs. saya tidak bermaksud...”
“tidak apa apa, hampir semua orang pernah menanyakan hal itu pada kami, tidak masalah semua yang bernyawa cepat atau lambat pasti akan pergi” potong Herdiana
'semua yang bernyawa cepat atau lambat pasti akan pergi seperti kata kata Derren' batin Jonathan
Suasana hening sesaat
“sekarang ada kalian, ku harap kalian sering seringlah datang kemari” kata Herdiana mencairkan suasana “kau Tiffany, kau selalu menungguku berteriak mengundangmu kau baru mau datang ke sini”
Tiffany tersenyum ramah, jujur saja ia memang merasa segan jika terlalu sering datang ke studio lukis Herdiana meskipun ia sangat menyukai tempat itu.
“ku dengar ibu Tiffany berasal dari Yogyakarta, Keiko? Apa ibumu berasal dari Eropa?”
“tidak Mrs. mommyku berasal dari Yogyakarta, mommyku bersahabat dengan mama Tiffany sejak mereka muda” Keiko menjawab dengan sopan
“oh yaaa... kupikir Keiko keturunan Jepang Eropa" kata Herdiana "jadi orang tua kalian dulu bersahabat dan kalian sekarang bersahabat juga? Manis sekali” lanjutnya
“kedua orang tuaku akan datang nanti saat konser berlangsung, aku akan mengenalkannya padamu” kata Keiko antusias
“baiklah, aku tudak sabar menunggu itu. Keiko, kau juga sering seringlah datang kemari, kau bisa berlatih piano disini, tidak perlu ke studio Edward lagi, jangan pedulikan dia, berlatih disini saja” kata Herdiana nampak sangat menginginkan rumahnya di penuhi kehangatan anak anak.
Sepulang mereka dari kediaman master Edward pollini, Jonathan tidak ikut masuk ke dalam tempat tinggalnya, ia hanya menurunkan Keiko dari mobilnya kemudian ia menuju apartemen tempat Tiffany tinggal. Dan ia telah berpesan pada Keiko untuk merahasiakan kemiripan dirinya dengan master Edward.
“ada apa kau kemari?” tanya Tiffany saat membukakan pintu untuk Jonathan
“aku perlu bantuanmu” kata Jonathan sambil menghempaskan pantatnya di sofa “dimana pacarmu?”
“dia sedang terbang” jawab Tiffany santai
“aku ingin berbicara dengan mamamu, bisa kau panggilkan?”
“hanya itu? Konyol, aku bisa memberi nomer ponsel mamaku padamu”
“ayolah Tiffany lakukan saja”
Tiffany menggeleng gelengkan kepalanya melihat tingkah Jonathan, ia meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja dan memanggil ibunya melalui ponselnya, setelah sedikit bercengkerama bersama ibunya lalu ia memberikan ponselnya pada Jonathan.
Setelah berbasa basi dengan mulut manisnya Jonathan segera menanyakan sesuatu hal yang menggelitik di hatinya
“tante, apa kau tau latar belakang mommyku?”
“Joe? Apa maksudmu? Tante tidak mengerti”
“aku menemukan pria yang berwajah sama denganku disini, maksudku....”
“setahuku saat mommymu melahirkanmu dulu kau tidak kembar” sela Hana
“maksudmu wajahmu sama dengan kakek kakek joe?” seloroh Hana
“tante pastinya tau, mommy dan om Yudha mereka itu kembar, namun mengapa mommy dan om Yudha sama sekali berbeda? terutama warna mata mommy, tidak seorang pun di keluarga artajaya memiliki bola mata berwarna coklat terang seperti mommy”
“Joe, kenapa kau tidak bertanya langsung pada mommymu atau daddymu Naoki?”
“mereka tidak akan menjawab” jawab Jonathan singkat ‘mereka berdua adalah pasangan yang tidak pernah menceritakan kesusahan apa pun dalam hidup mereka, mereka menutup rapat semua rahasia hidup dan masa lalu mereka, mereka hanya berbagi kebahagiaan di dalam rumah mereka’ batin Jonathan
“tante kumohon, tante pasti tau, tante adalah teman baik mommyku sejak umur belasan tahun” rengek Jonathan
Hening.....
Di seberang sana hana sedang berpikir, ‘ini mungkin kesempatan Livia untuk bertemu orang tua kandungnya’, Hana tau Livia dan Naoki beberapa kali mencari informasi di Yogyakarta namun semuanya hingga saat ini kelihatannya tidak membuahkan hasil.
“kenapa kau tak coba bertanya pada nenekmu atau Yudha” Hana masih mencoba bernegosisi
“tidak, aku lebih nyaman bertanya padamu tante”
“baiklah, tapi kau jangan gegabah mencari informasi” pinta Hana
“aku mengerti”
“Joe, jika ini kesempatan mommymu untuk menemukan orang tua kandungnya, maka tante harap ini yang terbaik” Hana menghela nafas “yang pernah aku dengar mommymu dulu di tinggalkan di rumah sakit setelah di lahirkan, kemudian nenek Yunita mengdopsinya, kebetulan tanggal lahirnya sama dengan Yudha hanya berbeda jam” cerita hana sesuai dengan yang ia ketahui dari Livia
Jonathan mengangguk angguk mengerti.
“tante, terima kasih, aku akan menyelidiki ini pelan pelan dan jika aku perlu bantuanmu aku akan menghubungimu lagi” kata Jonathan kemudian mengucapkan selamat tinggal dan mengakhiri panggilan.
Jonathan merebahkan tubuhnya yang kaku di sofa.
“Tiffany.....” panggilnya sambil meletakkan sebelah lengannya menutupi wajahnya
Tiffany yang sedari tadi duduk di samping Jonathan terkejut karena ia sedikit melamun
“ada apa?”
“bantu aku mengurus Keiko dan bantu aku mendapatkan rambut master Edward”
“Joe? Kau gila? Bagaimana mungkin?” Tiffany tidak bisa membayangkan, bagaimana cara ia mendapatkan rambut orang tua itu, dengan menggunting paksa rambutnya? Menarik rambutnya? Atau??? Membawanya ke tukang cukur?
“aku akan ke Tokyo besok, aku akan mengambil sampel rambut mommyku”
“Joe....” kata Tiffany “saat konser tiba orang tuamu akan datang menyaksikan penampilan Keiko, kau tidak perlu terburu buru”
“aku ingin moment itu mereka sudah saling mengenal jika memang benar mommyku adalah putri mereka” kata Jonathan, mommyku harus tau siapa orang tua kandungnya, dan master Edward juga harus tau ia memiliki 3 orang generasi penerus yang tampan”
“cih, kau narsis” kata Tiffany “kenapa kau begitu yakin? Bukankah bisa saja banyak saja kebetulan beberapa orang mirip meskipun tidak ada hubungan darah” kata Tifanya mencoba menganalisa dengan logika
“entahlah, hatiku mengatakan ingin menyelidiki”
“aku tidak percaya kata hatimu Joe” kekeh Tiffany
“Kau selalu tidak percaya padaku” kata Jonathan sambil bangkit dan duduk, kedua sikunya ia letakkan di atas pahanya, wajahnya menunduk dalam.
“dan ini juga masalah masa depan sepasang kekasih” guman Jonathan
Tiffany mengerutkan kening “siapa yang kau maksud?” tanya Tiffany heran
“kau akan tau nanti” Jonathan berdiri “ terima kasih, ingat aku mengandalkanmu mendapatkan rambut master Edward” kata Jonathan sambil melangkah pergi
“Joe.... joeee itu mustahil” Tiffany bermaksud mengejar Jonathan namun pria itu telah menghilang di balik pintu.
Jonathan menginjak pedal gasnya dengan pelan, sepanjang jalan ia berfikir keras.
Livia ibunya memang berpostur tubuh dan berwajah keturunan barat, mungkin saja ibunya memang putri dari master Edward pollini dan Herdiana.
Jika ibunya tidak memiliki gen dari barat mungkin Derren dan Jonathan tidak akan 100% berwajah khas orang barat, tidak ada sedikit pun mereka mewarisi ciri fisik dari Asia.
Jelas sekali Andrew ayahnya memiliki gen separo barat dan separo Indonesia, Livia ibunya mungkin juga berdarah barat hingga lahirlah Dirinya dan Derren yang berwajah dan postur tubuh murni orang barat.
'ya sepertinya analisaku benar 50% +50% \= 100%' batinnya
“Olivia tolong katakan pada Derren, aku akan kembali ke Tokyo, kau urus Keiko dan pakai mobilku untuk mengantarkan ia pergi ke mana pun ia mau” kata Jonathan pada Olivia sambil memasang jaketnya
“Joe ada apa? Kau terburu buru sekali?”
“ada yang harus ku urus”
“Joe oniisan? Kau mau ke mana?” keiko keluar dari dapur sambil memegang mug bergambar mickey mousenya
“sementara kau akan di urus Olivia dan Tiffany, jangan merepotkan Derren, jangan mengganggu dia” kata Jonathan pada adiknya sambil mengacak acak rambut gadis remaja itu “aku ke Tokyo untuk beberapa hari jaga diri kalian” lanjutnya sambil memberikan kunci mobilnya ke tangan Olivia.
TOKYO
Jonathan mondar mandir di kamar Kenzo yang sedang bermain game, sedangkan Luna sedang meringkuk di pangkuan Kenzo dengan manja dan nyaman.
Ia benar benar pusing di buat oleh ibunya, ketika ia sampai di tokyo ibunya sedang berlibur ke Kyoto bersama ayahnya.
'Entah apa kenapa mereka sering sekali pergi ke Kyoto? Ada apa di sana? aku akan membawa Tiffany ke Kyoto suatu saat nanti' batin Jonathan
“kapan mommy kembali?” tanya Jonathan pada Kenzo adiknya
Kenzo hanya mengangkat kedua bahunya, lalu mengelus Luna yang meringkuk di pangkuannya.
“oniisan kau membuatku pusing, bisakah kau duduk?” tanya remaja tampan yang wajahnya terlalu mirip dengan ayahnya Naoki, ia terganggu karena kakaknya sejak dua hari berada di Tokyo hanya mondar mandir tidak jelas di kamarnya.
Jonathan tak mempedulikan adiknya yang mengomelinya, ia sedang berpikir bagaimana cara mendapatkan rambut Livia ibunya, sementara pintu kamar ibunya di kunci!
Benar benar sial!
Sedangkan di Kyoto Livia dan Naoki seperti biasa berjalan jalan berdua menikmati waktu mereka dengan baik seolah mereka masih dalam masa pacaran 23 tahun yang lalu.
Ketika melihat seorang wanita tua yang sedang duduk di kurai roda dan di dorong oleh wanita seusianya Livia memandang dengan tatapan iri.
Naoki yang memahami itu langsung merangkul pundak Livia.
“ada bunda Yunita dan mommy Sofia yang menyayangimu” bisiknya “ada juga mama” lanjutnya
Mendengar kata mama Livia yang tadinya hampir tersentuh hatinya ia justru tertawa geli mengingat mertuanya yang hingga detik ini masih tidak terlalu menerima kehadiran dirinya, meskipun hubungan mereka tidak buruk namun tidak baik juga.
Bahkan baru beberapa hari yang lalu ibu mertuanya pamer padanya makan dan berjalan jalan bersama Nanami, mantan tunangan suaminya!!!
Benar benar menggelikan.
“kenapa tertawa?”
“ku rasa mama pengecualian”
“biarkan saja, yang terpenting hati anaknya hanya untukmu”
“kau memang pandai membuatku bahagia” kata Livia sambil matanya melirik wajah tampan suaminya.
“tentu saja, bagaimanapun kebahagiaan istri adalah prioritas nomer satu dalam hidupku, karena yang akan menemaniku hidup hingga tua adalah istriku, bukan anak”
“ya sekarang anak anak kita bahkan telah dewasa dan mandiri, mereka tak membutuhkan kita lagi, sebentar lagi Kenzo dan Keiko juga meninggalkan rumah untuk melanjutkan study”
“17 tahun kita berumah tangga seperti baru kemarin kita bertemu” kata Naoki sambil mengecup punggung tangan istrinya.
“hubby, aku mencintaimu” kata Livia yang lebih seperti merengek
“aku lebih mencintaimu, Livia”
“hubby kenapa kau semakin tampan?” tanya Livia
“benarkah?”
“atau mungkin mataku yang buram perlu kacamata?” canda Livia
Mereka tertawa bersama, Betapa bahagianya rumah tangga mereka, sempurna.
MENURUT KALIAN USAHA JONATHAN MEMBUAHKAN HASIL GA?
MENURUT KALIAN MEREKA ORANG TUA KANDUNG LIVIA BUKAN?
JAWAB DI KOLOM KOMEN 👇
TAP JEMPOL KALIAN JANGAN LUPA 👍😊