Found Love In Kyoto

Found Love In Kyoto
#Series 26


Olivia menatap Derren dengan tatapan kosong, seperti saat ia kehilangan orang tuanya. Gadis itu tidak mengeluarkan kalimat apa pun.


Berbalik badan lalu meninggalkan mereka berdua.


“Olivia...” Derren memanggilnya dan melompat dari tempat tidur mengejar Olivia tunangannya.


Olivia tak menoleh sedikitpun, ia masuk kedalam mobilnya menginjak pedal gasnya lalu melaju menyusuri jalan tanpa tujuan.


Derren berhenti di depan pintu, berbalik untuk mengambil pakaian dan kunci mobilnya, melihat Merry masih diam tak bergeming di atas ranjangnya ia berhenti. Menatap Merry dengan tatapan kemarahan yang berkobar.


“Merry... apa yang kau lakukan di tempat tidurku?”


“De... Derren maaf, aku aku....” Merry terisak


“apa yang kau rencanakan?!” bentak Derren


“Derren maaf aku tidak sengaja...” kata Merry sambil bangkit dan mendekati Derren


Derren mundur selangkah


“pakai pakaianmu!!!” bentak Derren lagi


Merry memunguti pakaiannya, dan mengenakannya.


“Derren maafkan aku, aku terlalu mabuk dan aku tidak sadar aku masuk ke dalam rumahmu”


Ada yang janggal... batin Derren tapi ia menepis pikiran itu, ia lebih memikirkan mengejar Olivia ketimbang mengurus Merry. Derren tidak menghiaruakan Merry, ia menyambar kunci mobil dan dompetnya sambil mengenakan pakaiannya.


Ketika sampai di pintu ia berbalik


“keluar dari rumahku sekarang juga dan jangan pernah berbicara padaku lagi selamanya!!!!”


“Derren maafkan aku, maaf, aku akan menjelaskan pada Olivia, Derren maafkan aku” Merry meratap.


“keluar....!” suara Derren begitu berat dan mengerikan.


Merry keluar dari rumah itu dan berjalan menuju rumah yang ia tempati. Sudut bibirnya terangkat, ia menyeringai puas. Ini baru awal permainan. Batinnya.


Sementara Olivia, ia tidak bisa menyetir dengan benar, ia justru telah sampai ke Bibury. Ia memutuskan mencari penginapan kecil dan akan bermalam di Bibury untuk malam ini, ia tidak berani menyetir dalam keadaan kacau.


Malamnya ia memejamkan matanya, memaksa memejamkan mata tepatnya.


sepanjang malam ia terngiang ngiang kata kata cinta Derren, derren selalu mengatakan sangat mencintainya, selalu mengatakan jiwanya raganya semua untuk Olivia, tapi faktanya? Olivia melihat dengan mata kepalamya sendiri Derren di atas ranjang dengan Merry, dan tanpa busana.... Memikirkan itu... Air matanys mendesak keluar, jantungnya terasa membengkak bahkan sepertinya dadanya tidak cukup untuk menampung kesakitannya!!!


Olivia benar benar hancur, dia tidak memiliki siapa siapa lagi di dunia ini, kedua orang tuanya meninggalkannya, Derren menghianatinya, Jonathan juga mengatakan siapapun yang menyakitinya jangan ragu ceritakan padanya, namun jika kakak kandungnya sendiri yang kenyakiti Olivia? akankah kata kata manis Jonathan berarti?


Karena lelah menangis akhirnya ia tertidur.


Paginya setelah sarapan ia memutuskan menikmati pemandangan di desa itu, memandang hamparan bunga canola yang terhampar luas.


Setelah puas memandangi lautan bunga canola dan mulai merasa lelah ia memutuskan untuk menyewa kuda dan mengelilingi kebun canola dengan menunggang kuda. Ia tidak ingin menyiksa hatinya, tidak ingin berpikir terlalu keras, sebenarnya ia ingin menangis lagi, meskipun batinnya terasa hancur berkeping keping dan sangat sakit. Tapi untuk saat ini bukan saatnya ia menangis, Ia perlu tempat yang nyaman untuk menangis, bukan tempat seindah Bibury, karena sudah datang sampai ke Bibury alangkah baiknya ia menikmati keelokan alamnya dulu.



Untunglah ia pernah bergabung dengan club berkuda saat masih tinggal di Yogyakarta.


Setelah matahari naik begitu tinggi Olivia memutuskan untuk berhenti dan kembali menuju London. Menyetir mobilnya dengan hati hati.


Derren berada di apartemen tempat Olivia tinggal, ia tidak tidur sedetik pun, menunggu Olivia.


Ia mengejar Olivia seperti kesetanan, ia menyetir maybachnya dengan kecepatan maximal, ia tak peduli lagi dengan keselamatannya, yang ia pikirkan hanya Olivia.


Namun sesampainya di London calon istrinya tidak ia jumpai, ia mencari ke rumah neneknya, namun nihil.


Di rumah sakit juga gadis itu tidak ada, ia menemui Miranda, namun Miranda juga tidak mengetahui keberadaannya.


Derren memutuskan menunggu Olivia di kamarnya, tidur di ranjang Olivia sambil menghirup aroma Olivia yang tertinggal di bantal dan selimutnya. Baru pada sore hari Olivia datang dan terkejut mendapati Derren berada di atas tempat tidurnya tampak tidur dengan pulas, Olivia membiarkan Derren tidur, ia dengan hati hati mengemasi barang barangnya, memasukkan ke dalam kopernya.


Hanya beberapa yang penting, ia akan kembali mengambil sisanya nanti. Pikir Olivia lalu menyeret kopernya, ternyata roda koper yang mengenai lantai membuat Derren membuka matanya dan bergegas bangkit.


“Olivia dengarkan penjelasanku” kata Derren sambil mendekati Olivia


“jangan mendekat” kata Olivia dingin


“Olivia aku bisa jelaskan, oke? Mari bicara baik baik” kata Derren membujuk Olivia


“sayang sekali, aku lebih percaya dengan apa yang aku lihat” kata Olivia dingin.


Ia mendekati nakas tempat tidurnya meraih benda yang terletak di atas nakas dan mendekati Derren. Meraih telapak tangan Derren, dan meletakkan 4 benda itu di telapak tangan Derren.


“Derren, sejak saat ini aku melepasmu, kita tidak ada urusan apa pun lagi di masa depan” kata Olivia datar. Tangannya bergetar saat kulit mereka bersentuhan. Derren membeku tak percaya dengan pendengarannya.


Sedangkan Olivia secepat kilat melarikan diri dari ruangan itu tanpa sedikit pun menoleh pada Derren yang terpaku di tempatnya dan segera Olivia memanggil taxi


Kali ini giliran Derren bagai di sambar petir, kesadarannya datang dan ia terasa jatuh ke dalam lubang gelap yang sangat dalam.


Olivia memutuskannya?


Ia mengembalikan cincin pertunangan, kalung angsa dan kunci mobilnya, juga kartu bank.


Derren bersimpuh di lantai Air mata Derren turun, jantungnya seperti terlepas dari rongga dadanya dan meninggalkan lubang yang menganga cukup besar.


Untuk pertama kali dalam hidupnya Derren merasakan kehilangan, sakit, sangat sakit!!!


Olivia adalah belahan hatinya, Olivia adalah segalanya bagi Derren, Derren berjuang keras untuk mendapatkan gelar dokternya agar secepatnya dapat memiliki Olivia seutuhnya, ia ingin memiliki Olivia menjaga gadis itu seumur hidupnya.


Bahkan ia sedang merancang sebuah bangunan untuk mewujudkan mimpi Olivia.


“Olivia......” teriak Derren


Ingin ia mengejar Olivia namun ia takut, ia takut Olivia menolaknya, hatinya teramat sakit dengan keputusan Olivia, Derren memutuskan untuk memberikan Olivia waktu untuk berpikir, ia tak bisa memaksakan Olivia, gadis itu pasti tidak akan percaya apapun kata kata Derren meskipun Derren menusuk jantungnya sendiri.


Derren menyesal karena ia tertidur, biasanya Olivia tiba di Burford sore hari atau siang hari.


Ia menunggu Olivia yang tak kunjung datang hingga matanya terpejam, sudut bibir Derren terangkat. nasibnya sungguh sial kali ini, ia lengah hingga masuk ke dalam perangkap Merry dengan mudah, ternyata Merry belum melepaskan dirinya.


Sementara Merry, ia tersenyum puas, sepertinya ia harus mengangkat gelasnya untuk merayakan kemenangannya.


Ia mendentingkan gelas alcoholnya dan meneguk manis anggurnya.


Ia berbicara pada kaca di meja riasnya, ia bersulang dengan bayangan dirinya. Sejak Derren bertunangan dengan Olivia, Merry menderita, ia menjadi Alcoholic, ia sering berhalusinasi dan ia memerlukan obat penenang setiap malam.


Hari itu ketika ia kembali dari London, ia melihat mobil Olivia berjalan lambat dan sesekali saingan cintanya turun dari mobil untuk berfoto.


Jadi Merry berinisiatif mendahului untuk sampai di Burford.


Ia memilik kunci cadangan rumah Derren karena sebelum Derren tinggal di sana ia beberapa hari tinggal di rumah itu sebelum ia di pindahkan.. Dan ia mendapati Derren sedang tertidur pulas bertelanjang dada ia benar benar mujur, ia segera melucuti pakaiannya sendiri dan tidur di samping Derren. Baru ketika suara mobil Olivia terdengar dan Olivia mengklik gagang pintu kamar ia segera naik ke atas lengan Derren dan sesungguhnya Derren terbangun bukan karena suara benda yang jatuh, ia lebih dulu terbangun saat Merry menyentuh lengannya bersamaan dengan lampu yang dihidupkan oleh Olivia.


Ia juga telah mengambil beberapa foto dirinya dan Derren tanpa menyentuh Derren sebelum ia mematikan seluruh lampu di rumah itu.


TOKYO


Hari pertama Kenzo kembali masuk sekolah setelah libur semesternya,


“Ohayou.....” sapa Kenzo pada seluruh teman di kelasnya.


Kenzo tidak terlalu pendiam, namun tidak mudah juga di dekati. Ia seperti remaja normal, terkadang ia juga mengobrol bersama teman temannya di kantin, terkadang ia juga memperhatikan gadis gadis cantik di sekolahnya dan diam diam mengaguminya dalam hati.


Baru saja ia menarik bangkunya tiba tiba Luna datang dan langsung berdiri di depannya. Wajahnya dingin, kaku tidak seperti biasa, tatapan matanya begitu benci pada Kenzo.


“Kau!" kata Luna sambil menunjuk wajah Kenzo "sejak saat ini aku tidak mau lagi berteman denganmu! Bahkan hingga dunia ini berakhir pun kau adalah musuhku, sainganku!!!”


Kenzo terkejut


“apa?” ia perlu mendengar sekali lagi


“kau hanya berpura pura bodoh, kau tidur di kelas! Aku membantumu jika ada tugas! Kau memanfaatkanku!”


Kenzo hanya tersenyum, iya memang!!! Selama ini ia hanya tidur di kelas, ayahnya dan Derren kakaknya adalah guru sains dan matematika terbaik di dunia, ibunya adalah guru bahasa inggrisnya. Semua telah ia peroleh di rumahnya, di sekolah ia tak perlu lagi berjuang hingga mati matian untuk belajar, hanya cukup mengikuti sekolah saja, ia telah mati matian belajar di rumah melalui ayahnya dan kakaknya yang berada di London melalui teknologi.


Sedangkan pelajaran lain? Kenzo meminta orang tuanya mendatangkan guru les khusus yang datang ke rumah mereka, tidak ada waktu bersantai bagi Kenzo, waktunya hanya untuk belajar dan belajar, di sekolah ia tampak bermalas malasan. Itu hanya topengnya karena ia tidak suka terlihat terlalu menonjol di antara teman temannya.


Luna tidak menyangka dan tidak tau latar belakang Kenzo, Kenzo mendapat peringkat pertama di kelas bahkan seluruh kelas 1 nilainya paling tinggi, dan Luna ia mendapatkan peringkat kedua, itu tentu melukainya!!!


Sejak saat itu mereka tidak pernah bertegur sapa lagi, hingga 1 bulan kemudian gadis itu menghilang dan di kabarkan pindah sekolah kembali.


Sudah 6 bulan Tiffany tinggal di Tokyo, ia mulai belajar mengurus bisnis milik ibunya.


“Joe?” Tiffany tentu saja terkejut melihat siapa yang datang, 'temannya'


Jonathan tersenyum dan langsung duduk di depan Tiffany.


“kapan kau datang?” jantung Tiffany berdetak kencang, ia menjadi sangat gugup


“aku sangat merindukan temanku” kata Jonathan langsung menggoda Tiffany


Wajah Tiffany memerah, merona.


Jonathan bangkit dan mendekati Tiffany, sekarang jarak antara mereka sangat dekat bahkan nafas Jonathan terasa berembus lembut di wajah Tiffany.


Tiffany menegang, ia memundurkan tubuhnya hingga tersandar di kursi, Jonathan mengurung tubuh Tiffany dan baru saja bibir Jonathan menempel di bibir Tiffany suara pintu terbuka


“maaf miss” itu suara sekretaris Tiffany.


“Joe, teman macam apa kau ini?” Tiffany menjauhkan tubuh Jonathan dengan kedua telapak tangannya.


“aku ingin berbicara denganmu”


“duduk yang benar dan berbicaralah” kata tiffany dengan nada galak


“tidak disini” kata jonathan sambil mengambil boneka beruang yang memakai toga di atas meja Tiffany.


Itu adalah hadiah dari Jonathan saat tiffany wisuda


“kau merawatnya dengan baik” kata Jonathan sambil membolak balik boneka itu lalu meletakannya di tempat semula


“ya hadiah dari temanku” kekeh Tiffany


“ayo...” ajak Jonathan


“kemana?” Tiffany bingung


“berbicara” jawab Jonathan


“kau tinggal berbicara disini”


“aku ingin mengajakmu kesuatu tempat” kata Jonathan


“hanya 1 jam, aku sangat sibuk” kata Tiffany, ia tidak ingin berlama lama dengan pria yang dapat meruntuhkan imannya ini.


“baiklah”


Tiffany bangkit dari duduknya, bermaksud mengikuti Jonathan.


“bawa beruangmu” kata Jonathan


“Joe, jangan kekanakan” kata Tiffany


“tinggal ikuti apa kataku jangan membantah”


Tiffany mengambil boneka seukuran botol air mineral itu di tangannya dan mengikuti langkah kaki Jonathan dari belakang, namun Jonathan berhenti dan mengalungkan lengannya di pinggang Tiffany, mereka berjalan beriringan dan tampak mesra membuat seluruh karyawan di perusahaan itu melihat ke arah mereka berdua


“Joe, lepaskan tanganmu, karyawanku bisa salah paham” bisik Tiffany


“tidak ada kesalah pahaman” kata Jonathan datar.


Tiffany tidak bisa berbuat apa apa, ia pasrah ke mana pun Jonathan membawanya hingga tiba di sebuah bangunan tinggi mencakar langit.


Mereka tiba di lantai teratas, sebuah pent house di Tokyo dengan harga milyaran yen. Hanya para artis papan atas dan pengusaha kaya di jepang yang mampu membeli satu unit pent house di sini, namun mengingat Jonathan adalah pewaris keluarga Tjiptadjaja, Tiffany sama sekali tidak terkejut.


“sangat indah” guman Tiffany saat ia berdiri di dekat jendela paris memandang kota Tokyo dari ketinggian.


“kita bisa membesarkan putra putri kita di sini”


Tiffany tertawa hambar


“kau pikir aku datang untuk apa? Mmmmm?” tanya Jonathan yang telah kembali mengurung Tiffany dengan lengannya.


Suara Jonathan begitu dekat di telinga Tiffany.


Tiffany tidak berani membalikkan badannya, perasaannya sangat gugup.


“aku datang menemuimu untuk menagih janjimu, aku telah memenuhi semua syarat yang kau ajukan”


Wajah Tiffany terasa memanas


“joe kita.... kita telah menodai pertemanan kita, kita.... kita” Tiffany tergagap


Ia membalikkan tubuhnya, pandangan mata mereka beradu


6 bulan yang lalu di london, dua hari sebelum Tiffany kembali ke Tokyo.


Jonathan mencium bibir Tiffany.


“Tiffany, maafkan aku, maaf untuk semua hal hal buruk yang pernah kulakukan padamu” kata Jonathan malam itu


Mereka berciuman kembali, meneguk manisnya kehangatan yang ada di dada mereka masing masih, berpelukan merasakan detak jantung mereka yang berpacu cepat.


“daaan....” kata Jonathan lagi


“dan apa?” tanya Tiffany dengan suara serak


“hal menyakitkan yang akan kulakukan padamu setelah ini” kata Jonathan


Mereka kembali terhanyut dalam manisnya ciuman hingga Jonathan menekan tubuh Tiffany di bawahnya, membobol penghalang untuk menyatukan dua tubuh, Tiffany melepaskan kesuciannya untuk ‘temannya’ dan mereka melakukannya dengan manis tanpa paksaan, seakan penuh cinta, gairah dan kasih sayang menjadi satu dalam erangan kenikmatan. Menghentak berputar penuh irama, mengulanginya kembali hingga mereka akhirnya benar benar harus berpisah karena Tiffany harus pergi ke airport.


“kau merasa kau telah kalah bukan?” tanya Jonathan dengan suara lembut


Tiffany membuang pandangannya, menundukkan wajahnya.


Berat untuk mengakuinya namun faktanya ia memang telah kalah, ia jatuh cinta pada Jonathan.


“tidak apa apa kau kalah, aku masih bisa memberimu kesempatan untuk menjadi temanku”


“teman yang dengan suka rela memberikan keperawanannya, konyol sekali” Tiffany tertawa hambar sambil memainkan boneka beruang di tangannya


“tidak buruk, friend with benefit” jawab Jonathan, suaranya tetap lembut dan lembut “aku menyukainya terima kasih Tiffany”


“aku harus kembali ke perusahaan” kata Tiffany sambil berusaha menyingkirkan lengan Jonathan yang mengurungnya


Jonatan mengambil boneka beruang di tangan Tiffany,


“tidak ada yang mengalahkan siapa pun dalam permainan pertemanan kita” kata Jonathan sambil membuka pakaian boneka tersebut.


Tiffany mengerutkan keningnya melihat apa yang di lakukan Jonathan.


Ternyata ada resleting kecil di balik pakaian boneka itu dan Jonathan menggeser resleting itu lalu mengambil sebuah kotak perhiasan, membuka kotak beludru berwarna navy lalu mengambil cincin dari sana dan menyematkan di jari manis Tiffany.



Tiffany membeku, Jonathan mengecup jemari Tiffany.


“aku telah mendapatkan gelar sarjanaku, aku juga tidak pernah bermain main dengan gadis mana pun sesuai permintaanmu, sekarang aku minta kau tepati janjimu”


“tapi aku.... aku...”


“aku tau kau jatuh cinta padaku sejak permainan pertemanan kita mulai terjalin dengan baik” kata Jonathan percaya diri


“kau terlalu percaya diri” Tiffany berusaha berkilah, tapi diam diam ia sangat bahagia. ia memandangi cincin yang melingkar di jarinya tanpa ia sadari


“kau merasa kau kalah bukan? Tapi tidak masalah tenang saja aku tidak akan menolakmu” kekeh Jonathan.


“aku aku... aku tidak jatuh cinta padamu, tapi karena aku orang yang tepat janji, baiklah, aku akan menepati janjiku” kata Tiffany dengan nada sombong khasnya di depan Jonathan


“benarkah? Dengan keangkuhanmu itu tidak mungkin seorang Tiffany menyerahkan tubuhnya begitu saja padaku tanpa perasaan cinta” kata Jonathan, tangannya yang berada di pinggang Tiffany dan mengangkat Tiffany membawanya ke atas ranjang mencumbu bibirnya penuh kerinduan,


“katakan jika masih sakit, aku akan berhati hati” bisik Jonathan seraya dengan hati hati menyatukan bagian tubuh nya ke dalam tubuh Tiffany, saling menggumamkan nama masing masing, melepaskan kerinduan yang dalam, hingga berkali kali Tiffany merasakan puncaknya, dan Jonathan masih bekerja keras di atas tubuhnya. Menghentak lembut, keras, lembut lagi. Hingga cairan hangat memenuhi rahim Tiffany.


JOE SELAMAT 😄😄😄


TAP JEMPOL KALIAN 👍😄😄😄