Found Love In Kyoto

Found Love In Kyoto
#Series 7


TOKYO


Keiko terus belajar mengasah jari jemarinya di atas tuts piano, ia juga sering berkomunikasi dengan master Edward pollini melalui face time.


Jonathan sedang sibuk mempersiapkan ujian nasional dan beasiswa untuk masuk ke fakultas ilmu teknologi Oxford University ia terobsesi ingin menjadi IT handal seperti Naoki ayahnya.


Untuk mencapai cita citanya Jonathan bahkan rela jadwal latihan basket dan renangnya di kurangi, ia juga tidak memiliki banyak waktu lagi untuk sekedar merayu gadis gadis di sekolahnya.


Jonathan adalah playboy nomer satu di sekolahnya namun sejauh ini ia belum memiliki pacar, ia hanya gemar mengoleksi penggemar yang dengan suka rela ia suruh untuk mengerjakan tugas dan membelikan ia makanan. Sementara ia memilih tidur di gudang, bermain gitar di atap sekolah atau berkencan dengan gadis gadis dari club tari yang notabene memiliki wajah cantik dan body menggiurkan.


Siang itu Jonathan sedang tidur di atas bangku panjang yang berada di atap sekolah, Jonathan membuka seragam sekolahnya dan meletakkan pakaian itu di wajahnya untuk menghindari sengatan sinar matahari.


Jonathan tiba tiba terbangun, karena sentuhan dingin di lengannya dan ia membuka kain yang menutupi wajahnya.


Ia terkejut karena Tiffany berjongkok di sampingnya


“bikkuri shita”


*ngagetin aja


“sudah jam 5 sore, sekolah akan di tutup” kata Tiffany datar “ini tasmu, cepat kembali, tante Livia pasti mencarimu, ponselmu tidak berhenti berdering” lanjutnya sambil meletakkan tas Jonathan dan air mineral di lantai dan meninggalkan Jonathan yang masih terpana atas apa yang terjadi, mantan wakil ketua osis yang cuek dan acuh itu bisa berbicara banyak dan lembut kepadanya, juga tadi wajahnya ternyata terlihat menarik, Jonathan mengerjap erjapkan matanya mungkin karena matanya buram karena bangun tidur jadi ia melihat Tiffany menjadi agak menarik, bukankah mereka telah mengenal sejak bayi, dan gadis itu sedari dulu terlihat biasa saja? Jonathsn duduk dan memasang pakaiannya, membuka tutup botol air mineral dan menikmati setiap tetesnya.


Kemudian mengambil ponselnya dan memanggil ibunya, lalu sekejap saja telinganya memanas karena mendengar ocehan ibunya yang khawatir karena ia tidak menjawab panggilan dari ibunya yang berjumlah 66 kali dan pesan teks dengan kata ‘dimana?’ Sejumlah 35 kali.


Ibunya benar benar luar biasa andai berprofesi menjadi seorang peneror!


Kemudian Jonathan menuruni tangga dan menuju stasiun kereta terdekat untuk kembali ke rumahnya.


Besok paginya di kantin sekolah Jonathan melihat Tiffany yang sedang makan bersama teman temannya, ia menghampiri Tiffany dan meletakkan sekotak instant juice.


“terima kasih untuk kemarin Tiffany-chan” kata Jonathan dengan gaya khas yang riang dan ramah.


“doushimashta” jawab Tiffany santai


Setelah Jonathan pergi teman teman Tiffany memandanginya penuh selidik, Tiffany mengacuhkan teman temannya yang mungkin bisa mati penasaran karena seorang Jonathan mengajak bicara Tiffany.


“Tiffany apa kau mulai masuk jebakan Joe dan akan berkencan denganya?” tanya salah satu dari mereka


“M U R I” jawab Tiffany singkat padat dan jelas.


mustahil


Seusai mata pelajaran terakhir Jonathan memilih tidur sebentar di mejanya hingga seseorang menyentuh pipinya dan ia terbangun.


Ternyata Kaori mantan salah satu teman kencannya


“Joe... Ayo pulang kerumaku dulu, orang tuaku tidak ada di rumah” rengeknya menggoda Jonathan


Jonathan menggeliatkah badannya dan menguap lalu menanggapi kata kata Kaori dengan manis


“Kaori chan kau cantik sekali, apa kau akan memakai bikini di kolam renang jika aku pergi ke rumahmu hari ini?” tanya Jonathan sambil matanya memandang dada Kaori di mana kancing baju di dadanya di biarkan terbuka.


“ayolah kita bisa melakukan sesuatu yang lain Joe” kata Kaori dengan nada manja


“Kaori-chan di sini juga bisa, lihat... tidak ada orang lain” kata Jonathan sambil mendekatkan wajahnya pada Kaori


Baru saja Jonathan hendak mencium bibir Kaori suara langkah terdengar


Ternyata Tiffany memasuki ruang kelas itu, dengan wajah datar dan dingin ia meraih tasnya lalu dengan tenang berbalik meninggalkan ruangan itu seolah olah tidak melihat ada manusia lain di dalam ruangan kelas itu.


Reflex Jonathan juga meraih tasnya dan meninggalkan Kaori, ia ingin memastikan wajah Tiffany sekali kali dari dekat, 'benarkah wajah Tiffany menadi lebih cantik setelah dewasa?' batinnya


“mata ne Kaori-chan”


sampai jumpa


Jonathan mengejar Tiffany, mengikuti langkah gadis itu dari jarak yang agak jauh, Jonathan mengira Tiffany akan pulang tapi justru gadis itu memasuki ruang seni dan membuka sebuah bingkai lukisan yang masih tertutup kain, dengan cekatan gadis itu mengambil kuas dan mulai menyelesaikan lukisan yang tampak setengah jadi itu.


Jonathan memperhatikan semua gerak gerik Tiffany, hampir satu jam Jonathan berdiri di depan jendela seperti seorang penguntit.


Tiffany melirik jam di pergelangan tangannya dan memutuskan untuk berhenti, ia kembali menutupi papan lukisan itu dengan kain dan membereskan alat lukisnya.


Tiffany menutup ruangan itu dan menguncinya


“Tiffany chan...” sapa Jonathan dengan nada riang iekanak kanakan.


Tiffany mengacuhkannya, berjalan melewati Jonathan yang menyandarkan tubuhnya pada dinding


Gadis itu berjalan menuju ruang guru untuk mengembalikan kunci ruang club seni lukis pada tempatnya, Jonathan mengikutinya seperti anak anjing mengikuti induknya ia bahkan terus mengikuti gadis itu naik kereta dan berjalan kaki hingga mereka tiba di rumah orang tua Tiffany.


Hana, ibu Tiffany yang melihat Jonathan datang sangat terkejut


“Joe tumben kau datang ke rumah tante?”


“kami ada tugas belajar kelompok tante” jawab Jonathan berbohong dengan nada manis


“jadi kalian satu kelas tahun ini?”


“iya tante kami satu kelas”


“oooowwwh baguslah, Tiffany tidak pernah cerita” kata Hana


Tiffany hanya diam memandang jijik pada Jonathan, mereka tumbuh bersama dan hubungan mereka juga semula baik baik saja namun Tiffany mulai tidak menyukai sahabat masa kecilnya sejak mereka duduk dibangku sekolah menengah atas, Jonathan yang ceria dan ramah menjadi seorang playboy yang sok tampan di sekolahnya.


“Sayang bawa jua ke lantai atas kalian belajar di sana saja, mama akan siapkan kue dan cemilan untuk kalian oke...” kata Hana


Tiffany melangkah menuju tangga dan Jonathan dengan patuh mengikutinya


Jonathan menghempaskan pantatnya di sofa dengan nyaman, seolah olah itu adalah rumahnya sendiri.



“untuk apa kau mengikutiku sampai ke rumahku?” tanya Tiffany dengan nada sinis


“untuk apa lagi? tentu saja aku rindu rumahmu, terakhir aku ke sini mungkin 4 tahun yang lalu” jawabnya santai


“lebih baik kau pulang, tante Livia pasti mencarimu”


“aku sudah memberi tahu mommy aku akan menginap di sini” jawab Jonathan santai dan dengan santai merebahkan tubuh tingginya di sofa panjang dan memainkan ponselnya


Sedangkan Tiffany ia tidak peduli lagi pada Jonathan ia memilih masuk ke dalam kamarnya.


Ketika hana mengantarkan kue dan teh untuk Tiffany dan Jonathan di ruangan hanya ada Jonathan yang sedang bermain game di ponselnya


“Joe mengapa kau sendirian? Di mana Tiffany?” tanya Hana saat melihat hanya Jonathan yang sedang tiduran di sofa.


“tante, setelah lulus sekolah nanti ke mana Tiffany akan kuliah?” tanya Jonathan seraya bangkit dan menegakkan punggungnya


“kenapa kau tidak bertanya langsung padanya?”


Jonathan tidak menjawab pertanyaan ibu Tiffany, ia memikirkan cara untuk mendekati Tiffany yang selalu mengacuhkannya.


Tiba tiba ia merasa tertantang menaklukkan gadis sombong itu.


“aku akan menanyainya nanti, tante apa ini kue buatanmu?” tanya Jonathan mengalihkan pembicaraan


“bagaimana rasanya?”


“oishi” kata Jonathan sambil melahap kue yang ada di tangannya “andai mommy bisa memasak seperti tante” lanjutnya


*Oishi = enak


Hana tertawa mendengar kata kata Jonathan


“zetaiai nai muri” jawab hana sambil tertawa, Jonathan juga tertawa.


*mustahil banget


Akhirnya setelah mengobrol bersama Hana dan memakan berbagai masakan dan kue buatan Hana, Jonathan pamit untuk kembali ke rumahnya, ia tidak serius menginap karena hanya ingin menggoda Tiffany.


Gadis itu terus mengacuhkannya, tidak memberinya kesempatan untuk mengajaknya berbicara meskipun mereka berada di rumah Tiffany. Yang jelas Jonathan semakin kesal, gadis itu ternyata hanya dingin kepadanya, ia selalu ramah dan hangat kepada teman temannya yang lain.


Di sekolah, beredar gosip Jonathan pria tertampan di kelas dan di seluruh sekolah dengan mata coklat, rambut coklat, tubuh atletis, tinggi dan seorang pemain basket idola para gadis kini ia mengejar cinta mantan wakil ketua osis.


Jonathan tidak mempermasalahkan gosip itu, ia memang sangat penasaran dengan Tiffany, semua gadis di sekolah mengejar cinta Jonathan namun tidak dengan Tiffany, ia dingin, acuh pada Jonathan tampak tidak tertarik dan sepertinya membencinya, mereka tumbuh bersama sejak kecil, dan selama 6 tahun terakhir berada dalam sekolah yang sama. 'apa salahku?' batin Jonathan


Di Jepang sekolah anak anak yang akan masuk sekolah dasar tidak bisa memilih dimana akan sekolah, pemerintah telah menentukan dimana anak anak bisa masuk sekolah berdasarkan data tempat tinggal mereka, itu di lakukan agar mereka bisa berjalan kaki menuju sekolah mereka.


Baru pada saat sekolah menengah mereka dapat memilih di mana mereka akan melanjutkan sekolah, dan mereka berdua satu sekolahan semenjak sekolah menengah pertama hingga kini menginjak semester akhir sekolah menengah atas.


Hari itu sepulang sekolah Jonathan menunggu Tiffany di depan ruang club seni lukis


Ketika Tiffany keluar seperti biasa ia tidak menganggap keberadaan Jonathan, ia melangkah seolah olah tidak melihat siapa pun yang sedang berdiri menyandarkan tubuhnya di dinding.


Jonathan menangkap pergelangan tangan Tiffany.


“Joe jangan kurang ajar” kata Tiffany dingin


“kau selalu mengabaikanku”


“kau mengikutiku sepanjang waktu, apa maumu?”


“aku ingin kau menjadi pacarku” kata Jonathan langsung



Tiffany tertawa hambar “baka...” katanya sambil melepaskan pergelangan tangannya yang di genggam oleh Jonathan, kemudian ia melangkah meninggalkan Jonathan yang terpaku.


*baka : bodoh


‘Apa yang terjadi barusan? ditolak????!!!!’


Ini pertama kalinya ia meminta seorang gadis untuk menjadi pacarnya dan di tolak mentah mentah oleh Tiffany, padahal gadis gadis di sekolah itu 90% ingin berpacaran dengan Jonathan.


‘benar benar menginjak injak harga diriku!!!’ batin Jonathan geram ‘awas kau Tiffany’


Besok paginya “Kaori-chan” panggil Jonathan


“Joe...” kata Kaori dengan gaya centil “ohayou” sapanya


“ohayou Kaori-chan” kemudian Jonathan merangkul pundak Kaori dan dengan sengaja berjalan melewati Tiffany yang setiap pagi selalu memegang bola basketnya di lapangan.


Tiffanny bahkan tidak melirik dan tidak terprovokasi, ia justru semakin jijik dengan tingkah Jonathan yang semakin tampak sok paling tampan dan merasa semua gadis bisa di permainkan olehnya.


Bahkan ketika sekolahan mengadakan pungkasai (festival budaya) mereka di daulat menjadi sepasang MC tetap saja tak bisa mencairkan kebekuan diantara mereka meskipun di atas panggung mereka dengan profesional bekerja sama.


Empat bulan berlalu, dan Jonathan telah berganti ganti teman kencan sebanyak puluhan kali. Jonathan dan Tiffany tidak pernah saling bicara lagi sejak penolakan Tiffany.


Hari itu adalah hari yang paling di nanti sekaligus hari yang paling mengharukan, upacara kelulusan. Di sisi lain mereka senang karena akan meninggalkan bangku sekolah menengah namun di sisi lain berpisah dengan teman teman mereka adalah sesuatu yang terasa sangat berat.


“Tiffany oneesan...” panggil Keiko, Keiko tidak satu sekolah dengan kakaknya Jonathan, ia lebih memilh home schooling karena kesibukannya di dunia modeling dan music.


Kebetulan ia dan Kenzo di bawa oleh kedua orang tua mereka untuk menjemput Jonathan di hari kelulusannya.


“omedeto Tiffany oneesan” lanjut Keiko seraya memeluk Tiffany


“Keiko-chan, terima kasih. Oh astaga lihat dirimu Kei-chan iau tinggi sekali, kau juga bertambah cantik” puji Tiffany


“kau juga cantik” kata Keiko tulus “ney oneesan apa kau akan pergi juga ke London?” tanya Keiko, ada nada sedih dari pertanyaannya


“kenapa kau tampak sedih?” tanya Tiffany sambil tertawa ringan


“aku juga ingin segera belajar di London, aku telah menemukan guru piano di sana, tapi mommyku ingin aku menyelesaikan sekolahku dulu” jawab Keiko murung


“Kei-chan, mommy mu benar kau harus menyelesaikan pendidikan formalmu terlebih dahulu” kata Tiffany


“aku akan menyelesaikan dengan baik, sebenarnya aku tidak sabar lagi, apalagi Joe oniisan juga akan pindah ke London” keluh Keiko “semua tinggal di London, menyebalkan sekali, aku hanya tinggal berdua dengan Kenzo” lanjutnya


Tiffany tertawa ringan lagi


“masih ada Ayumi, Shizuku dan Vicky”


“Vicky sangat sibuk dengan dunianya, Ayumi dan Shizuku mereka seumuran Kenzo mereka terlalu kekanakan bergaul denganku”


“ya Vicky ingin menjadi seorang chef seperti kakek kami” kata Tiffany


“ya Vicky sangat berbakat, neeee Tiffany oneesan ke mana kau akan melanjutkan kuliahmu?”


Tiffany tersenyum.


“himitsu....” jawabnya


*rahasia


“ayolah.... beri tahu aku, aku janji aku akan merahasiakannya juga”


rengek Keiko


“sebenarnya aku ingin melanjutkan studyku di bidang seni rupa, tapi mamaku tidak mengizinkannya” kata Tiffany santai


“kau tidak marah?”


“marah untuk apa Kei?” Tiffany tertawa


“karena mamamu tidak mengizinkannya”


“mamaku benar, aku bisa menjadikan melukis sebagai hoby ku tapi aku mungkin tidak bisa hidup dengan lukisan, jadi aku akan memilih melanjutkan studyku di bidang bisnis, untuk melanjutkan bisnis papa dan mama, untuk melukis aku masih bisa melakukan kapan saja” kata Tiffany bijak.


Keiko mengangguk angguk mengerti


”jadi kau akan kuliah di sini atau di Shanghai?”


“papa ingin aku ke Guangzhou pendidikan di sana juga sangat baik”


“jadi kau ingin ke sana?”


“entahlah” kata Tiffany matanya menerawang.


Kedua gadis itu sesaat terdiam dalam lamunan masing masing, keheningan menyeruak beberapa saat


“Tiffany neesan, boleh aku bertanya sesuatu?”


tanya Keiko membuka suaranya


“tanyakanlah, aku akan menjawabnya jika aku bisa”


“kenapa kau membenci kakakku Joe?”


“kenapa kau berpikiran demikikan Kei-chan?” Tiffany mengerutkan keningnya


“beberapa hari yang lalu Joe oniisan membuka buka album kenangan masa kecil kami, ada banyak foto foto kita di sana dan Joe oniisan berkata ia sebenarnya menyukaimu tapi kau membencinya”


“hahahaaha” Tiffany justru tertawa ringan “aku tidak membencinya, hanya saja sekarang kita sama sama telah dewasa mungkin sifat kami bertolak belakang dan tidak cocok satu sama lain lagi seperti dulu ketika kami masih anak anak” jawab Tiffany


Keiko mengangguk angguk meskipun ia tidak paham, usianya baru 15 tahun Keiko tidak mengerti urusan orang dewasa.


Kenapa begitu susah payah kakaknya meminta tolong untuk menyelidiki kemana Tiffany akan melanjutkan kuliah? ‘Kan hanya bertanya? Kenapa tidak bertanya sendiri? Atau meminta bantuan orang tua? Apa urusan orang dewasa selalu serumit itu?’ batin Keiko bungung.


Hellooooooooowww 😍😍😍😍


TAP TOBOL JEMPOLNYA DONG JANGAN LUPA 👍👍👍


JANGAN LUPA KRITIK DAN SARANNYA


MAKASIH MAN TEMANKU 💖💖💖