
Livia memposting sebuah foto besama andrew, di foto itu ia memegang sebuah buket bunga di depan altar pernikahan sementara andrew membelakangi kamera hingga hanya punggungnya yang terlihat. Ia menambahkan caption “we are divorced”
Ia juga mematikan kolom komentar, melatakkan ponselnya, berusaha meemejamkan matanya dan tidak lama livia tertidur.
Di sisi lain...
Sakura menjatuhkan ponselnya ke lantai hingga tempered grass di ujung layarnya retak. Ia segera bergegas mengambil kunci mobilnya dan menginjak pedal gasnya meluncur menuju apartemen dimana kakaknya tinggal.
“oniisan.....” panggilnya dengan suara nyaring sambil mendatangi naoki yang sedang menghisap rokoknya di balkon apartemen yang mereka tinggali
“kau berisik sekali sakura” jawab naoki dengan nada santai
“niisan *mite mite...!” sakura menunjukkan foto livia di instagram
*lihat
“livia oneesan telah bercerai...!” kata sakura dengan nada antusias
Naoki melihat foto itu dengan dingin, tampak tidak tertarik.
“terus..?” tanya naoki santai
“dapatkan dia lagi, aku ingin oniisan menikah dengan livia oneesan...!”
Naoki mematikan rokoknya di asbak dan membuangnya ke tempat sampah, lalu berjalan melewati sakura “kembalilah sudah malam”
“niisaan...” panggil sakura sambil mengikuti langkah kakaknya “kau tidak mencintainya lagi? Apa kau sudah jatuh cinta pada mio-san sekretarismu itu?” sakura memberondong naoki dengan pertanyaan
“bukankan itu yang kau inginkan dulu, kau yang ingin aku bersama mio?” tanya naoki dengan nada menggoda adiknya lalu mendudukan pantatnya di sofa
“aku akan memecat mio dari perusahaanmu...!” kata sakura
“coba saja kalau kau berani melakukannya sakura” kata naoki sambil melipat lengannya kebelakang kepalanya dan memejamkan mata.
“kau harus menikah dengan livia oneesan, aku tidak mau tau..!” kata sakura sambil menutup pintu apartemen naoki dan kembali ke kediaman orang tuanya.
Setelah sakura pergi naoki hanya tersenyum sedikit di ujung bibirnya lalu mengambil ponselnya dan mendownload sebuah aplikasi buatannya sendiri, itu adalah aplikasi rahasia yang telah di beli dengan harga tinggi oleh badan intelegen negara, hanya orang orang tertentu yang mengetahui dan bisa mengaksesnya.
Besok paginya sakura memanggil livia dengan ponselnya
“livia oneesan aku ingin bertemu denganmu aku rindu padamu” kata sakura ketika livia menjawab panggilannya
“sakura bagaimana kalau kita makan siang bersama?” tanya livia
“baiklah oneesan, aku akan kirim lokasi restoranya aku akan mentraktirmu kali ini” kata sakuta antusias dan mematikan sambungan telfonnya
Jam 12 siang sakura dan livia bertemu dengan sakura di sebuah restoran, mereka makan dan mengobrolkan banyak hal
“neesan aku ingin melihat keponakanku” kata sakura
“datanglah, tempat tinggalku masih sama”
“keponakanku sangat kawaii”
“tentu saja, mereka sangat kawaii mereka pasti akan senang jika kau mengunjungi sakura” livia menceritakan kelucuan kedua putranya pada sakura yang tampak sangat antusias mendengarkan cerita livia
Sebenarnya sakura gelisah, ia telah memberi tahu naoki dan berpura pura dompetnya tertinggal tidak bisa membayar makanannya namun kakaknya tidak juga muncul hingga mereka hampir selesai makan.
bahkan Sakura benar mulai kehabisan bahan pembicaraan dengan livia
“neesan kapan kita bisa berbelanja bersama lagi?” tanya sakura mencari bahan pembiacaraan
“kau saja yang atur sakura, tapi jangan mendadak aku memiliki kesibukan sekarang” jawab livia dengan nada riang
“baiklah oneesan...” kata sakura senang
Dari jauh sakura melihat kakaknya datang, namun kakaknya tidak sendirian ia datang bersama sekretarisnya. ‘Oh astagaa.... apa yang di pikirkan pria itu, adiknya sedang mengatur kencan butanya tapi ia datang membawa seorang wanita’ gerutu sakura dalam hati
“ada apa sakura?” tanya livia yang melihat wajah tegang sakura
“ti tidak, kakakku datang” jawab sakura tergagap
“......?” livia menyapukan pandangannya dan melihat naoki telah berdiri di samping meja mereka, ia bersama seorang gadis.
“sakura? kau benar benar ceroboh, kenapa pergi makan tidak membawa dompet?” tanya naoki dengan nada tenang “hey livia apa kabar? Lama tidak bertemu” tanya naoki pada livia, ia tampak tidak terkejut bertemu livia.
“baik, kau sendiri apa kabar?” tanya livia canggung
“baik” jawab seraya mengulurkan dompetnya pada sakura, sakura menerimanya dan pergi ke meja kasir “kami juga akan makan, kau nikmatilah waktumu dengan sakura”
“baiklah sampai jumpa” jawab livia sedikit gugup ia bahkan tidak berani menatap wajah naoki
“oh iya, livia apa nomer ponselmu masih yang dulu?” tanya naoki tiba tiba sebelum ia berbalik pergi
“iya, masih” jawab livia semakin gugup
“ok. Sampai jumpa” naoki pergi meninggalkan livia dan gadis itu mengikuti naoki, mereka duduk jauh dari meja livia dan sakura
“neesan... di mana kakakku?” tanya sakura yang telah kembali ke mejanya
Livia menunjukkan arah dimana naoki berada, “sakura kau tidak membawa dompetmu, kau tidak harus merepotkan kakakmu aku akan akan membayarnya” kata livia tidak senang
“maaf oneesan, aku berkata akan mentraktirmu, mustahil aku membiarkanmu yang membayarnya” jawab sakura dengan ekspresi bersalah qcfingnya terlihat sangat baik hingga ia berhak mendapatkan penghargaan oscar.
“baiklah, sakura aku harus kembali bekerja, terima kasih atas traktirannya”
“baiklah oneesan sampai jumpa lagi”
“sampai jumpa lagi sakura” livia kemudian bangkit dan meninggalkan restoran itu
Sakura juga bangkit dan mendatangi kakaknya, ia meletakkan dompet kakaknya dengan kasar di meja
“ada apa?” tanya mio gadis yang bersama naoki
“entahlah” jawab naoki sambil menjepit sushinya dengan sumpit dan memasukkan ke dalam mulutnya, sudut bibirnya terangkat menyunggingkan senyum tipis.
Di mobil livia memegangi dadanya yang berdegub kencang, gugup karena merasa tidak siap bertemu naoki
"oh tuhaaan...." gumannya
Livia memukul mukul kepalanya pelan, ‘bodoh bodoh, kenapa jadi deg degan gini’ batinya
Malam hari di apartemen tempat naoki tinggal
“oniisan baka!” umpat sakura pada kakaknya yang sedang merebahkan tubuh di ranjangnya
“ada apa sakura? ” kata naoki sambil tertawa ringan
“aku mengatur kencanmu dengan livia oneesan tapi kau menggagalkannya... kau membawa mio-san!”
“aku tidak perlu kencan kekanakan seperti itu sakura”
“kau sudah tua, kau sudah 31 tahun kau belum menikah apa kau mau mau jadi bujang tua?” tanya sakura
“Sakura, kau sangat menyebalkan seperti Livia” kata naoki seraya menyeret sakura dan mengusir adiknya dari dalam kamarnya.
“aku? Menyebalkan? Menyebalkan seperti livia oneesan? Apa maksudmu?” sakura berteriak sambil berusaha masuk lagi ke dalam kamar kakaknya, namun naoki menutup pintu kamarnya dan menguncinya.
“oniisan.....oniisan keluar aku belum selesai bicara...!” sakura menggedor pintu kamar kakaknya berulang kali, namun naoki tidak menghiraukannya, hingga sakura menyerah dan pergi dari apartemen itu untuk kembali ke rumahnya.
Di dalam kamar naoki membuka laptopnya membuka folder foto foto yang berisi fotonya dan livia di berbagai tempat di penjuru dunia yang pernah mereka datangi.
Ia kemudian mengambil ponselnya dan memasukkan nomer telfon livia pada aplikasi yang telah ia download kemarin malam.
Sejak pertemuannya dengan naoki entah kenapa livia jadi sering bertemu naoki kembali secara tidak sengaja, namun livia dan naoki saling tidak bertegur sapa karena mereka berjauhan, dan naoki juga selalu bersama gadis yang seolah olah terkena lem karena selalu ada berada di samping naoki.
Kadang livia mencuri curi pandang pada mereka kemudian merasa kesal sendiri pada gadis yang bersama naoki, sebenarnya ia ingin menanyakan pada sakura siapa gadis yang selalu bersama naoki itu namun ia merasa gengsi.
Seperti saat ini, livia sedang makan bersama beberapa orang client dan marco sekretarisnya, meja mereka bahkan sangat dekat dengan meja naoki, lagi lagi naoki membawa gadis itu.
Livia bahkan beberapa kali terpergok sedang mencuri curi pandang kepada naoki hingga wajahnya merona terbakar karena malu.
“sialan....” guman livia
“miss livia ada apa?” tanya marco sekretarisnya, livia memang masih memakai marco sekretaris andrew sebagai sekretarisnya, ia tidak berniat menggantinya.
“gak apa apa marco” jawab livia salah tingkah sendiri, ia ingin sekali mengacak acak rambutnya tapi di depannya masih ada clientnya Livia harus menjaga citranya sebagai seorang CEO.
ACT COMPANY
ACT \= Andrew charles tjiptadjaja livia sedang memikirkan untuk mengganti nama perusahaan itu , ia sedang mencoret coret beberapa nama yang mungkin cocok. Tiba tiba sekrteraisnya marco memberitahu bahwa dokter tommy ingin bertemu dengannya
“dokter tommy? Aku gak punya kenalan dokter tommy”
“dia dokter yang menangani andrew selama di sini” kata marco
“jadi kamu tau semuanya marco? kamu tau andrew sama zakia?” tanya livia livia mengira dokter tommy adalah dokter kandungan yang menangani zakia.
Marco menggeleng “zakia siapa livia? Aku gak tau sama zakia” tanya marco bingung, livia meminta marco memanggilnya livia saja karena ketika livia masih menjadi sekrtetaris andrew mereka adalah rekan kerja, jadi livia merasa dirinya tua jika marco sekarang memanggilnya bu atau mrs. Livia hanya mau di panggil miss livia jika dalam suasana formal.
Livia menghela nafas ia menyimpulkan marco memang tidak tau “baiklah bawa dokter tommy masuk, sekalian bawakan juga kopi buat bapak tua itu”
Marco memasuki ruang kerja livia kembali ia bersama seorang pria tampan, tampan bagaikan dewa yunani (mungkin) rambutnya dengan gaya slick black, postur tubuh tinggi dan dengan perawakan yang proporsional, matanya coklat, alisnya sangat indah, bibirnya tipis berwarna merah cherry, hidungnya juga tak kalah menawan, bahkan kacamata yang ia kenakan tak mampu menghalangi ketampanan di wajahnya dan umurnya mungkin sekitar 35 atau 37 saja.
'Apakah ini asisten dokternya?' pikir livia
Namun ketika pria itu mengulurkan tangannya seraya berkata “Tommy hilton”
Livia merasa mungkin ia tuli dan ingin bertetiak ‘hah????!!!’ Ia membayangkan dokter tommy adalah pria tua setengah kakek kakek dan membosankan, satu satunya bayangan livia yang benar tentang dokter tommy adalah pria berkacamata, dan lebih terkejutnya lagi ketika tommy melanjutkan kata katanya
“aku masih berkeluarga dengan andrew sekaligus dokter yang menanganinya di sini”
‘oh pantesan sekilas mirip andrew’ batin livia agak kecewa ternyata ia adalah anak dari kakak tertua dari sofia ibunya andrew, begitu kira kira penjelasan tommy.
“senang bertemu anda” jawab livia sopan menyembunyikan keterkejutannya.
“livia santai aja, kita keluarga” kata tommy “maaf saat pernikahan kalian di kyoto kami gak bisa datang, pernikahan kalian terlalu mendadak saat itu istriku juga sedang hamil tua” kata tommy sambil mendudukkan pantatnya di sofa dengan anggun
“baiklah tommy, oh jadi istri anda juga disini?”
“iya” katanya santai “ia putri pemilik rumah sakit di sini”
“oooh” hanya itu yang livia bisa ucapkan
“begini livia, apa kau tau tujuanku kesini?” kata tommy
Livia menggeleng pelan
“aku ingin memberitahu kamu untuk membawa derren dan jonathan memeriksakan kesehatan mereka, andrew yang memintaku untuk menyampaikan hal ini”
“maksudmu derren dan joe sakit?” tanya livia polos
😆 menurut kalian perasan naoki pada livia gimana?
jawab di komen !!!
nih lihat wajah zakia dulu
😎