
Sejak Derren bertugas sebagai dokter di burford Olivia beberapa kali mengunjungi desa itu, perjalanan di tempuh hanya 2 jam, tidak masalah baginya, Olivia menikmatinya.
Kebetulan Merry juga bertugas di desa itu bersama Derren entah kebetulan macam apa, namun Olivia maupun Derren tidak menaruh pikiran apa pun sebab sejak berita pertunangan Derren dan Olivia tersebar di kalangan Fakultas kedokteran Merry terkesan menjaga jarak dari pasangan itu.
Dan setiap kali mereka berpapasan Merry juga bersikap sangat baik dan ramah, jadi Olivia menyimpulkan bahwa Merry telah menyerah, gadis berambut pirang itu bukan lagi saingan cintanya.
Bahkan waktu berlalu begitu cepat, memang jika kita pikirkan waktu berjalan begitu lambat namun saat kita menjalaninya dengan suka rela waktu berjalan tanpa terasa.
Tiffany....
Ia akhirnya mendapatkan gelar sarjana Ekonominya dalam waktu 3,5 tahun dengan gelar Cum laude.
Sore hari distudio lukis milik Herdiana, ia sedang menyelesaikan lukisannya.
“jadi kau akan kembali ke Tokyo?” tanya Herdiana
“grandmom, aku akan merindukan saat saat seperti ini” Tiffany meletakkan kuasnya, ia memanggil Herdiana grandmom, seperti keempat cucu Herdiana.
“bagaimana dengan Joe? Apa kalian bisa mempertahankan hubungan jarak jauh?”
“aku dan Joe kami hanya berteman” jawab Tiffany jujur
“yang kulihat tidak seperti itu” kata Herdiana “hari ini kau bahkan tidak berkonsentrasi pada lukisanmu, sangat jelas” lanjut wanita itu
“aku hanya tidak sabar ingin kembali tinggal di Tokyo” kata Tiffany mencoba berbohong entah pada siapa, ia juga tidak tau mengapa sejak menerima gelar sarjananya ia justru enggan kembali ke Tokyo, ia begitu resah takut berpisah dari Jonathan.
Herdiana melirik lukisan yang di buat oleh Tiffany.
“aku memintamu melukis seorang pria bermata biru, dan lihat kau justru melukis pria yang mirip dengan cucuku”
Tiffany tergagap, ia baru menyadari saat ia membayangkan seorang pria ia hanya menangkap bayangan wajah Jonathan di dalam imajinasinya dan ia menuangkan imajinasinya dalam lukisan wajah Jonathan!!!
“joe... dia...” Tiffany tidak bisa melanjutkan kata katanya
“dia yang muncul dalam imajinasimu bukan?” tanya Herdiana “tidak perlu sungkan padaku, kau, Olivia, kalian sama seperti keempat cucuku”
“tapi kami hanya berteman....” jawaban Tiffany mengambang.
Teman?
Selama ini, Jonathan sering menciumnya di bibir dan ia juga membalas ciuman Jonathan. Dan kadang.... Jonathan memintanya membantu untuk... menuntaskan hasratnya dengan tangannya.
“*bantu temanmu ini Tiffany” rengek Jonathan setiap mereka hanya berduaan di apartemen yang Tiffany tempati.
“kau tidak waras Joe!”
“kau melarangku bermain main dengan para gadis, kau harus bertanggung jawab”
“itu bukan urusanku!”
“ayolah temanku, aku pria normal dan aku tersiksa” rengeknya terus menerus.
Akhirnya bukan hanya sekali tapi hampir tiap minggu Tifany membantu Jonathan*!!!
Oh tidak!!!!
Teman tidak mencium temannya bukan? Dan teman tidak membantu temannya melakukan.....
Suasana semakin hening....
“kapan kau kembali ke Tokyo?” tanya Herdiana memecah keheningan
“minggu depan, aku akan kesini setiap hari sebelum aku kembali dan aku akan mengunjungimu nanti setelah beberapa bulan di Tokyo” kata Tiffany dengan nada riang, menutupi keresahan hatinya.
“aku akan menunggu kalian mengunjungiku” kata Herdiana.
‘kalian?’ batin Tiffany
Jonathan mungkin akan bersama gadis lain setelah Tiffany kembali ke Tokyo, Jonathan mungkin dengan cepat melupakannya, Jonathan mungkin telah melupakan perasaannya pada Tiffany, Jonathan mungkin.....
“Joe oniisan.....” teriakan Keiko membuyarkan lamunan Tiffany yang sedang melukis, tak jauh darinya Jonathan sedang duduk menghadapi macbooknya
Sudah beberapa bulan Keiko masuk ke University College London dan ia tinggal di mansion kakeknya master Edward pollini. Ia tidak mau tinggal di apartemen bersama Jonathan dan Derren serta Olivia.
Di mansion kakeknya ia di perlakukan bak seorang putri, tentu saja ia sangat senang tinggal di mansion mewah itu.
“kau sangat berisik Kei” jawab Jonathan yang sedang berkutat dengan macbooknya, hampir setiap hari aktivitasnya hanya menatap layar itu.
Pekerjaan dan permainan semua ada dialam benda itu.
Ia sengaja bekerja di bawah paparan sinar matahari siang menjelang sore hari itu di dekat taman bunga milik neneknya Herdiana, di samping menikmati indahnya taman bunga di akhir musim panas ia juga menikmati pemandangan yang tak kalah indah, Tiffany sedang melukis di taman itu.
“kau tau, oniisan aku akan tampil di Paris fashion week untuk pertama kali”
“omedeto” jawab Jonathan acuh
“oniisan kau tak menghiraukanku”
“iya selamat hime-sama”
“aku akan tampil di Paris fashion week” Keiko menari nari berputar putar di depan Jonathan seperti ia masih seorang anak kecil.
Jonathan terkekeh kekeh.
“kapan?”
“bulan depan”
“kuliahmu?”
“Oniisan ketenaranku lebih penting bukan?” jawab Keiko acuh
“Kei?”
“Oniisan bukankah kau pernah berkata kau akan selalu mendukungku?” Keiko mengingatkan kakaknya
“tapi bukan berarti kau mengesampingkan pendidikanmu”
“aku tidak terlalu berminat pada pendidikan, aku sangat enggan berpikir”
“kau terlalu dimanja sekarang Kei”
Keiko memajukan bibirnya, kesal.
“seharusnya kau bangga memiliki adik seorang pianis sejak kecil, seorang model dari asia yang bisa masuk ke kancah International, adikmu ini sangat berbakat!” Keiko dengan bangga berjalan seolah ia berada di atas cat walk.
“dan aku harap kau menambah lagi satu prestasimu, kau bisa lulus dengan nilai terbaik di UCL seperti oneesnamu itu” kata Jonathan sambil menunjuk Tiffany dengan dagunya.
“apa kau sudah mendapatkan hatinya?” tanya Keiko dengan suara pelan
“belum”
“astaga..... sejak berada di sekolah menengah?”
Jonathan mengangguk
“dia gadis keras kepala”
“kau yang terlalu bodoh oniisan”
“tahun depan ia akan menjadi pengantinku, apa kau mau bertaruh?”
“Ayo bertaruh sebuah Marcedes AMG GT”
Jonathan mengepalkan tinjunya, keiko juga mengepalkan tinjunya dan kedua kepalan tinju mereka beradu tanda dimulainya taruhan itu.
Dua hari sebelum Tiffany kembali ke Tokyo
Tiffany melangkah keluar dari mobilnya, sebenarnya itu adalah mobil milik Anthonino sepupunya, namun karena jam terbangnya sebagai pilot sangat padat mobil itu benar benar menganggur dan selama di London Tiffany bebas menggunakannya.
“eeehhemmmmm” Jonathan terbatuk hingga membuat Tiffany menoleh ke arah sumber suara.
“mengunjungi temanku yang akan kembali ke Tokyo”
Tiffany hanya tersenyum dan melangkah menuju lift, Jonathan mengikuti di belakangnya.
Sesampainya di dalam ruang apartemen tempat tinggal Tiffany, suasana mendadak canggung, Tiffany merasa bingung, ia tidak tau harus berbicara apa, ia merasakan begitu tegang.
Ia hanya mengganti ganti chanel televisi yang ia tonton sementara Jonathan duduk disampinginya juga tanpa berbicara sepatah kata apa pun.
Tiffany meletakkan remot control di meja, membiarkan televisi itu menyiarkan acara yang sama sekali tidak dimengerti olehnya.
Merasa bosan Tiffany hendak meraih remote control itu kembali, namun tidak disangka Jonathan juga hendak mengambil benda itu dan Jonathan dengan sigap meraih telapak tangan Tiffany menggenggamnya erat.
Dada Tiffany bergemuruh hebat, tidak biasa ini tidak biasa, degub jantungnya melompat lompat bahkan seluruh tubuhnya kini seperti tak bisa lagi terkontrol. Ia ingin melepaskan telapak tangannya namun terlambat, bukan hanya telapak tangannya yang di genggam oleh Jonathan sahabatnya.
Bibirnya juga telah disegel oleh temannya, dan bodohnya lagi lagi tubuh Tiffany bereaksi, bibirnya membalas ciuman Jonathan yang lembut, manis, memabukkan dan membuat Tiffany akhirnya kehilangan akalnya untuk tidak tergoda pada Jonathan selama ini.
Ketika ciuman mereka terlepas Tiffany memalingkan wajahnya dan berniat bangkit meninggalkan Jonathan namun pria itu menahan nya dan membawa Tiffany ke dalam pelukan. Pelukan Jonathan ternyata sangat hangat dan menenangkan dengan aroma mint yang segar, ‘pantas saja banyak gadis yang telah tenggelam di pelukannya bahkan rela di permainkan oleh seorang Jonathan’ batinnya.
“Joe, kita masih berteman bukan?” tanya Tiffany dengan tergagap
“mmmmm tentu saja”
“tidak ada teman yang mencium temannya”
“anggap saja kita yang pertama”
“jika kau ingin lagi kau bisa cari aku, sebagai teman yang baik aku akan mengajarimu” kata Jonathan dengan nada yang meenggoda
Tiffany mendorong tubuh Jonathan, kemudian ia bangkit
“sebaiknya kau pulang, aku sibuk, aku ingin mengemas semua barang barangku” kata Tiffany mengusir Jonathan, namun sejujurnya ia tidak ingin Jonathan meninggalkan apartemennya
“aku akan membantumu”
“Joe tidak perlu”
“perlu” kata Jonathan lembut sukses membuat jantung Tiffany berdesir
Jonathan menarik pergelangan tangan Tiffany “selama 2 hari izinkan aku menghabiskan waktuku bersama temanku”
“kau memang pemaksa” kekeh Tiffany menyembunyikan kegugupannya.
Lagi lagi Jonathan tidak meloloskan dirinya, mereka kembali berciuman.
Setelah mengemas seluruh barangnya menjadi beberapa koper, Tiffany dan Jonathan memesan makan malam mereka melalui uber eat.
Mereka cukup kelelahan, jadi mereka merasa tak mampu lagi untuk memasak.
“aku akan merindukan London” kata Tiffany sambil memasukkan burger ke dalam mulutnya
“kau akan merindukan temanmu ini” kata Jonathan
“ya merindukan temanku termasuk Anastasya” kekeh Tiffany
Jonathan memandang Tiffany dengan tatapan entah apa
“hey ada apa dengan tatapanmu? Apa aku salah? aku hanya menyebutkan nama salah satu temanku” tanya Tiffany sedikit menggoda Jonathan
“ada saus di bibirmu” kata Jonathan
Reflek Tiffany berniat mengambil tisu untuk menyeka saus di bibirnya, namun Jonathan menahan tangan Tiffany dan menjilati saus di bibir Tiffany dengan lidahnya.
Tiffany tidak menolak, semua perlakuan lembut Jonathan padanya akhir akhir ini memang tidak pernah lagi ia lawan, ia mulai menikmati kebersamaannya dengan Jonathan ciumannya, pelukannya, kehangatannya, Tiffany mulai terbiasa, namun malam ini semuanya mulai terasa tersangat berbeda.
“kau pandai mengambil kesempatan” kata Tiffany sambil menunduk menyembunyikan wajahnya yang terbakar memerah karena malu.
Jonathan menyeringai, ia tau Tiffany gugup dan malu. Jonathan bahkan bisa mendengar degup jantung gadis itu dan degup jantung miliknya sendiri yang tak kalah nyaringnya.
Setelah menyelesaikan makan malam mereka segera membersihkan tubuh dan mereka pergi ke tempat tidur. Tiffany membiarkan Jonathan tidur dikamarnya sedangkan ia tidur di kamar tamu.
Namun ketika Tiffany terbangun ia justru berada di kamarnya dan dalam pelukan Jonathan.
Sesaat ia membeku, ia ingin berontak, namun saat ia menghirup aroma Jonathan yang menenangkan ia mengurungkan niatnya. Ia menikmati aroma ‘temannya’ dan memejamkan matanya kembali.
Paginya ia bersikap seolah olah tidak ada terjadi apa apa di dalam dirinya, ia sebisa mungkin berbicara dengan alami dan normal pada Jonathan. Terus saja berusaha menutupi kegugupannya.
‘shiiiitttttt..... Jonathan berhasil mengalahkan benteng pertahananku’ rutuknya dalam hati
Selama ini ia telah berusaha bertahan dengan berbagai cara tidak boleh kalah, ia tidak boleh jatuh cinta pada Jonathan, setelah kembali ke Tokyo ia berniat akan membuang jauh jauh perasaannya pada Jonathan, itu tidak akan sulit, mereka tidak akan pernah bertemu lagi. Lagi pula Jonathan juga pasti akan menemukan gadis lain di London selama Tiffany tidak melihatnya.
Jonathan tidak akan pernah bisa hidup tanpa menggoda para gadis, dan sekarang Tiffany benar benar merasa ia telah menjadi salah satu korban dari pesona Jonathan, ia sadar bahwa ia telah termakan oleh kata katanya sendiri. Benar kata orang tua, kata kata adalah doa!!!!
Akhirnya Tiffany dengan berat hati mengakui, Jonathan memang mempesona dan ia telah jatuh cinta pada temannya!!!
Tiffany telah kalah dan bahkan ia sendiri yang bertaruh, jika ia jatuh cinta pada Jonathan sebelum pria itu memenuhi syarat yang di ajukan oleh Tiffany sendiri, ia bersedia di tolak oleh Jonathan dan sekarang ia memang telah jatuh cinta pada Jonathan.
‘aku tidak boleh kelihatan jika aku telah kalah’ batin Tiffany.
Hingga keesokan harinya Jonathan mengantar Tiffany ke air Port untuk kembali ke Tokyo, wajah gadis itu terus merona.
“sampai jumpa temanku” kata Jonathan kembut di telinga Tiffany seraya mengecup lembut pucuk kepalanya
“sampai jumpa” jawab Tiffany yang tak mampu menatap wajah Jonathan
Hingga tiga bulan berlalu selama Tiffany telah berada ke Tokyo tak sekalipun Jonathan menghubunginya.
Setiap hari diam diam Tiffany mengecek ponselnya, berharap Jonathan menghubunginya, namun hanya Keiko dan Olivia yang terkadang menanyakan kabarnya.
Sekarang ia benar benar salah satu korban dari Jonathan!!!
Seperti Anastasya dan gadis gadis lain yang sering ia cibir dalam hatinya dulu. Sungguh memalukan, untunglah ia berada di Tokyo, jika ia masih berada di London Tiffany yakin ia akan jadi bahan cemoohan mahasiswa di kampusnya terutama Anastasya.
BURFORD
Sore hari Olivia berniat menemui kekasihnya Derren di Burford, ia mengemudikan mobilnya dengan riang. Perjalanan yang memakan waktu 2 jam baginya sekarang terasa singkat, sudah 9 bulan mereka menjalani long distant relationship. Saling merindukan setiap hari, terasa lebih manis dibandingkan saat mereka tinggal bersama.
Di burford Derren tempati sebuah rumah ukuran kecil dengan 2 kamar, ia tinggal sendiri.
Sedangkan Merry ia menempati rumah bersama temannya yang juga jauh dari tempat itu.
Olivia memegang kunci cadangan rumah itu, biasanya ia tinggal masuk sesuka hatinya meskipun Derren tidak ada di rumah.
Olivia tiba jam 9 malam, perjalanan memang sedikit agak lama karena Olivia sengaja singgah mengambil foto dirinya beberapa kali perjalanan, ada banyak perkebunan lavender di sepanjang perjalanan memuju burford jadi ia merasa sayang melewatkannya.
Ketika Olivia datang ia merasa ada yang janggal, pintu tidak terkunci. Hening dan rumah tampak gelap tanpa cahaya lampu, dan Olivia melihat ada sepasang sepatu wanita....
Perasaan Olivia tidak nyaman, jantungnya berdegup kencang, ia menekan saklar di ruang tamu kemudian menuju kamar Derren meraba raba dimana saklar lampu berada dan bagai di sambar petir saat lampu kamar menyala.
Olivia bahkan menjatuhkan hiasan diatas meja, ia menubruk meja itu saat hendak berbalik badan hingga dua insan yang sedang tertidur itu terbangun.
Merry tertidur lengan Derren yang bertelanjang dada, dan Merry sama sekali tidak menggunakan pakaian.
Derren segera duduk dan menjauhkan tubuhnya dari Merry.
Merry segera menarik selimut dan menutupi tubuhnya.
Hening....
Olivia menatap Derren dengan tatapan kosong, seperti saat ia kehilangan kedua irang tuanya, Gadis itu tidak mengeluarkan sepatah kalimat apa pun.
MENURUT KALIAN DERREN INI MASUK JEBAKAN NENEK SIHIR ATAU MEMANG MEREKA ADA AFFAIR??? (PASTI AUTHOR KENA DEMO NIH) 🤑🤑🤑 NGUMPET AHHHHHH
JAWAB DI KOLOM KOMENTAR 👍😁
JANGAN LUPA TAP JEMPOL KALIAN 😆😆😆💖💖💖💖💖