Cinta Suamiku Untuk Wanita Lain

Cinta Suamiku Untuk Wanita Lain
kegelisahan Risma


"Aku yakin, dengan pesona yang aku miliki, kamu pasti akan jatuh dalam jeratan ku, Pandu!


Besok aku akan mencari tau seperti apa istrimu, sekaligus berkenalan dengan calon maduku." hahahaa Erna tertawa sendiri dengan segala angannya. Menganggap remeh keteguhan Pandu pada kesetiaannya terhadap sang istri. Sekuat apapun Erna menggoda, Pandu sudah menguatkan hatinya hanya untuk mencintai istri dan anak anaknya, apalagi hanya perempuan seperti Erna, yang bahkan sedikitpun tidak ada di kriteria seorang Pandu.


Karena Pandu tidak pernah menyukai wanita yang suka memamerkan auratnya, secantik apapun dia, tidak akan bisa membuat Pandu melirik perempuan itu.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Seperti biasa, setiap pagi Risma pasti akan sibuk menyiapkan segala sesuatu untuk kebutuhan suami dan anak-anaknya. Memastikan semua sudah siap. Seperti baju seragam, sepatu dan sarapan juga bekalnya.


Risma semakin sehat dan jarang mengeluh sakit meskipun kehamilannya kadang membuat dia mual dan sering merasakan pusing, tapi itu hak yang biasa untuk ibu hamil, pertumbuhan calon bayinya juga baik dan sehat.


Saat sedang menyiapkan pakaian dinas sang suami, telponnya berdering, tertera nama Sandi disana.


"Sandi? tumben pagi pagi telpon, ada apa?" gumam Risma lirih dan langsung menjawab panggilan telepon dari saudara sepupunya itu.


"Asalamualaikum, iya Sand, ada apa?" sapa Risma saat memulai obrolannya.


"Waalaikumsallm, maaf kalau pagi pagi udah ganggu. Sedang sibuk?" sahut Sandi diujung sana dengan suara yang terdengar kaku.


"Kaku amat sih bahasanya, ada apa? kok tumben!" balas Risma yang tengah menyimak dan menunggu jawaban dari Sandi yang terdengar tak biasanya.


"Iya sih, sungkan saja sama suami kamu. Pagi pagi udah nelpon saja. Gak papakan?" kembali Sandi mengutarakan rasa sungkannya, dan membuat Risma tertawa lirih dengan sikap kaku Sandi yang tak biasa.


"Gak papa, santai saja. Ada apa?" sahut Risma santai dan penasaran dengan sikap Sandi.


"Gak papa sih, aku cuma mau kasih kabar saja. Aku mau main kerumah kamu, paling siangan. Ada yang ingin aku bicarakan sama kamu. Penting!" Sahut Sandi dengan suara yang sedikit tertahan.


"Ada masalah?" Risma semakin dibuat penasaran dengan ucapan Sandi. Pikirannya menerka nerka apa yang tengah terjadi pada saudaranya itu.


"Nanti aku jelaskan kalau kita sudah ketemu.


Yasudah, aku hanya ingin mengabari itu saja.


Asalamualaikum!" sahut Sandi yang tak ingin terlalu banyak bicara di telpon, dan memilih untuk menjelaskan langsung agar tidak ada salah paham.


"Baiklah, aku tunggu dirumah. Waalaikumsallm!" Sahut Risma yang masih menerka nerka apa yang sedang terjadi, karena sikap Sandi tidak seperti biasanya.


"Siapa yang telpon, Ma!" Pandu keluar dari kamar mandi dan langsung menodong pertanyaan pada istrinya yang terlihat melamun sehingga tidak menyadari kehadirannya.


"Ah kamu, Pa! bikin kaget saja." Risma tersentak dengan kemunculan Pandu yang membuyarkan lamunannya.


"Sandi, katanya mau kerumah nanti siang." sahut Risma jujur dengan menghembuskan nafasnya dalam.


"Sandi? yang kemarin menikah itu ya?


Lalu, kenapa kamu jadi seperti memikirkan sesuatu gitu, apa ada masalah?" kembali Pandu mengeluarkan rasa penasarannya karena perubahan wajah sang istri yang terlihat gelisah.


"Gak tau, Pa! tiba tiba aku kok kepikiran dengan sikap Sandi yang tidak seperti biasanya, terasa aneh gitu. Katanya ada yang ingin dibicarakan, penting bilangnya. Aku kok jadi kepikiran dan ada perasaan cemas gitu ya?" Sahut Risma mengutarakan kegelisahannya pada suaminya.


"Insyaallah semua akan baik baik saja. Berpikir yang baik baik ya, insyaallah semua akan baik baik saja. Sudah, jangan terlalu dipikirkan." Pandu berusaha memberi ketenangan dan kenyamanan pada sang istri, meraihnya dalam pelukan dan mengusap punggungnya lembut, mencium keningnya penuh kasih sayang, menunjukkan kasih sayangnya lewat perlakuan lembutnya. Dan itu membuat Risma merasakan cinta dan perhatian serta rasa nyaman dengan perlakuan suaminya.


"Yasudah, papa ganti baju dulu. Aku mau lihat anak anak. Ditunggu di meja makan ya, Pa!" Risma mulai merasa tenang dan kembali melakukan kewajibannya sebagai istri dan ibu dengan keribetan di pagi hari.


Pandu tersenyum melepas kepergian istrinya untuk anak anaknya. Memakai baju dinasnya dan menyiapkan berkas berkas yang akan dibawanya ke kantor. Namun tiba tiba Pandu terne Nhat dengan Erna dengan sikap nekadnya. Pandu jadi menghubungkan kegelisahan istrinya akan kenekatan Erna. "Apa Erna akan nekad kerumah, karena dia wanita yang begitu nekad dan tak tau malu. Semoga dia tidak bisa mendapatkan alamat rumah ini. Aku gak ingin Risma jadi kepikiran dengan kenekatan Erna itu. Semoga semua tetap baik baik saja." Pandu menatap nanar pantulan dirinya di hadapan kaca, sosok tampan dan gagah yang menjadikan dirinya dikejar banyak wanita.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Setelah semua berangkat, Pandu yang sudah berangkat ke kantor bersama dengan Cinta, sedangkan Galang ke sekolah di antar sama mbak Romlah, Karena Risma ingin dirumah saja, perasaannya sedikit tak nyaman dan memilih menunggu kedatangan Sandi yang sempat membuat nya gelisah.


Risma menghabiskan waktunya dengan membaca dan menikmati cemilan roti bolu hasil buatan sendiri. Sejak hamil, Risma memang sangat suka nyemil, meskipun sering merasakan mual dan pusing tak lantas membuat Risma susah masuk makanan. Dulu memang iya, tapi sekarang sudah tidak lagi, bahkan keinginan ngemilnya makin menjadi, mudah lapar dan berat badannya sudah naik tiga kilo dari biasanya.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Sandi sudah berangkat sejak pagi, namun tidak langsung kerumah Risma saat sudah sampai di Madiun. Sandi memutuskan untuk mampir kerumah orangtuanya terlebih dahulu. Membicarakan tentang Dania dan siapa ayahnya serta keinginan Clara yang ingin menyembunyikan identitas Dania anak dari Pandu Aditama.


"Kenapa kalian punya pikiran seperti itu. Pandu dan Risma berhak tau siapa Dania. Kasihan anak itu, bagaimanapun dia berhak mendapatkan pengakuan dan cinta ayah kandungnya. Apalagi Clara dan Pandu tidak berzina, mereka menikah sah secara agama. Dania bukan aib loh." Bu Rosa, ibunya Sandi berkomentar setelah mendengarkan penjelasan dari sang anak. Dan di iyakan oleh suaminya, pak Hilman yang setuju dengan pendapat istrinya.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Hay kak, haturnuhun sudah membaca karya Hawa.


Yuk baca juga novel terbaru Hawa yang berjudul:


#Cinta Berbalut Nafsu


Yuk kak mampir disana juga ya, dan jangan lupa kasih love, like n komentarnya.


Haturnuhun semua, salam sayang dari jauh ❤️🔥