Cinta Suamiku Untuk Wanita Lain

Cinta Suamiku Untuk Wanita Lain
kedatangan mertua


"Sialan!


Kenapa sih sulit banget buat masuk saja, aku ingin buat mas Pandu mengakui kalau aku juga istrinya di hadapan para anggotanya. Dan aku juga ingin atasannya mas Pandu tau, tentang pernikahanku dengan Mas Pandu, agar aku tidak terus terasing.


Tapi kenapa sulit sekali. Aaargh!" Clara menggerutu di sepanjang jalan, kesal dan juga lelah. Ternyata tidak mudah untuk bisa masuk kedalam kantor tempat Pandu bekerja.


"Awas kamu, Mas!


Kamu sudah membohongiku, katanya kamu akan kembali ke kantor. Tapi justru kamu bersama Risma.


Aku tidak suka kebohongan kamu, lihat saja, aku akan membuatmu kembali perduli padaku atau aku akan membuatmu malu di hadapan semua orang. Aku benci kamu Pandu Aditama!" sungut Clara membenci nasibnya sendiri dan kecewa dengan kebohongan yang sudah Pandu ciptakan.


Clara memutuskan untuk kembali ke hotel dan menunggu kedatangan Pandu, seperti yang Pandu sudah janjikan, kalau akan menemuinya setelah usai jam kerja.


"Mau tak mau, aku harus menunggu Mas Pandu datang menemui ku, membicarakan semuanya lagi. Aku butuh kejelasan dan pengakuan, agar tak terus dipandang sebelah mata oleh semua orang.


Harusnya aku tau alamat rumah mas Pandu bersama istrinya, agar aku tidak menjadi seperti orang bodoh disini, menunggu dan hanya menunggu. Menyebalkan!" omel Clara di dalam kamar hotel dan mulai merebahkan dirinya di kasur empuk dan mencoba melelapkan diri dengan memejamkan matanya, menghindari prasangka yang menyakiti hatinya sendiri.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Pandu masih menemani Risma. Duduk di sofa tak jau dari tempat Risma berbaring. Risma kembali memejamkan mata, berusaha mengalihkan rasa sakitnya dengan tidur. Agar tidak begitu terasa menyiksa tubuhnya.


Saat Pandu membuka ponselnya, ada salah satu pesan masuk di ponselnya dari kontak yang diberi nama Agung olehnya.


Pandu memicingkan matanya. Membaca setiap kalimat yang ditulis oleh Agung dan mampu menyulut api amarah pada diri Pandu.


"Kamu benar benar lancang, Clara! Kenapa aku semakin muak dengan sikapnya itu. Kalau saja Risma tidak sedang di rawat, aku akan membuat perhitungan dengan kamu. Tunggu saja, setelah nanti aku mengantar Risma pulang, aku akan menemui kamu, Clara! dan kamu harus mempertanggung jawabkan perbuatan kamu ini." Pandu bergumam kesal di dalam hatinya pada istri keduanya yang sudah berani bersikap diluar batas.


Pukul tiga sore, Risma sudah diperbolehkan pulang. Dan dengan sabar Pandu menemani dan menjaga Risma di sepanjang jalan. Membuat dokter Abas merasakan perih di hatinya, saat menatap kepergian wanita yang selalu ada di pikirannya itu. "Semoga, kamu kembali menemukan kebahagiaan kamu, Ris! Aku iklas melepas mu, asal kamu bisa bahagia. Karena aku akan juga ikut bahagia saat kamu bahagia." ucap dokter Abas lirih dan memilih memutar arah kembali menuju ke ruangannya.


Sesampainya di rumah, Risma disambut kedua buah hatinya dan mbak Romlah. Namun ada yang membuat Risma tertegun, kehadiran perempuan cantik yang tengah menatapnya sendu, berdiri tak jauh dari pintu masuk ke dalam rumahnya.


"Mama! Papa!" teriak Cinta dan Galang yang langsung berhambur memeluk mamanya rindu.


Pandu tersenyum melihat ke arah istri dan anak anaknya. Saat matanya menatap kehadiran ibu mertuanya, Pandu langsung merasakan dadanya berdetak lebih cepat dari biasanya.


"Waalaikumsallm!" Sahut Bu Fatma sendu dan langsung memeluk erat putri kesayangannya.


"Istirahat dulu, nduk! Kita bicara nanti saja. Ibu datang dengan bapak, beliau sedang tidur di kamar tamu, karena di perjalanan mabuk. Tau sendirikan bapak kamu itu, paling gak bisa kalau lama lama ada di dalam mobil." Sambung Bu Fatma lembut dan memperlihatkan senyumannya untuk anak perempuannya.


"Iya, Bu!


Tapi Risma sudah baik baik saja, tadi saat dirumah sakit, Risma tidur terus. Sekarang ingin duduk dan ngobrol banyak sama ibu saja. Risma kangen banget sama kalian." balas Risma bahagia, kehadiran kedua orang tuanya membuat semangat dan kekuatan di hidupnya kembali muncul.


"Baiklah, kita ngobrolnya di dalam saja." sahut Bu Fatma tersenyum dan melirik ke arah menantunya yang sedari tadi memilih diam dan menunduk, tersirat kecemasan di wajahnya.


Bu Fatma yang sudah tau semuanya tentang masalah yang menimpa rumah tangga anaknya, masih menahan diri untuk diam dulu, marah dan kecewa pada Pandu yang selama ini dianggapnya pria sempurna yang selalu memperlakukan anaknya dengan baik, namun ternyata semua hanya topeng untuk menutupi sifat aslinya.


Pandu menemani sebentar mertua dan istrinya. Kaku, dan terlihat jelas wajah kecewa sang ibu mertua, bahkan sangat enggan membuka obrolan dengannya, padahal dulu selalu banyak bicara dan tanya ini itu ketika bertemu dan terlihat begitu bangga pada sosok Pandu Aditama.


"Ma! Aku akan kembali ke kantor lagi, insyallah nanti pulang sekitar jam delapan malam, mau meyelesaikan laporan yang tertunda hari ini." Pandu berpamitan pada sang istri yang terlihat mengangguk ringan dengan senyuman tipis dibibirnya.


"Bu, Pandu tinggal ke kantor sebentar ya, insyaallah Pandu akan kembali cepat. Titip Risma, dan maafkan Pandu, Bu!" sambung Pandu dengan mengalihkan pandangannya pada Bu Fatma yang menatapnya lekat dengan pandangan yang tak bisa di artikan.


"Iya, hati hati. Dan kami menunggumu cepat pulang, karena ada yang ingin bapak dan ibu bicarakan pada kalian." sahut Bu Fatma datar dengan tatapan tak lepas pada sosok Pandu yang terlihat salah tingkah, Pandu tau maksud ucapan ibu mertuanya, Pasti kedatangannya menyangkut perselingkuhan yang sudah ia lakukan.


Setelah berpamitan dan mengucap salam, Pandu melangkah dengan tegap menuju garasi, menaiki mobilnya dan kembali menyusuri jalan raya dengan pikiran kacau dan hati yang begitu resah.


"Apa yang nanti harus aku katakan pada orang tua Risma?


Aku yakin mereka datang karena memiliki maksud tertentu. Dan itu berkaitan dengan apa yang terjadi saat ini, antara aku dan Risma.


Ya Tuhan, kenapa harus serumit ini?


Belum lagi, dengan Clara yang sulit sekali di ajak bicara." batin Pandu berbicara sendirian dengan sejuta pikiran yang kini membuatnya benar benar frustasi.


Hanya lima belas menit, mobil Pandu,sudah berada di pelataran parkir hotel. Melangkah tegap dengan sejuta kecewa pada sosok Clara yang selalu dia puja, kini justru akan menghancurkan segalanya tanpa mau perduli bagaimana susahnya Pandu meraih karirnya.


Pandu tidak menuju ke kantornya, melainkan ingin menemui Clara dan meminta penjelasan pada istri keduanya, karena ulahnya bisa membuat karir dan harga dirinya hancur. Pandu sudah benar-benar kehilangan kesabaran menghadapi Clara yang begitu susah di atur dan itu membuatnya hilang respect dan mengikis perasaan cinta yang besar pada perempuan masa lalunya itu.