
"Iya! Clara sudah pisah lama dengan suaminya, mereka sudah bercerai. Dan Clara bahkan tidak memberitahukan kehamilannya pada mantan suaminya, karena tidak mau lagi berhubungan dengannya, apapun alasannya." Sahut Maya pasti dan menghembuskan nafasnya dalam. Berharap Sandi jodohnya Clara yang mau menerima keadaan Clara apa adanya tanpa perduli dengan masa lalunya.
"Terimakasih, May!
Sekarang aku lega, aku akan menunggu Clara melahirkan dan aku ingin melamarnya menjadi istriku, semoga Clara tidak menolak ku nanti." balas Sandi tersenyum lega, berharap Clara mau menerimanya nanti saat dia datang untuk melamarnya.
"Mau aku comblangin?" balas Maya tertawa.
"Boleh! asal tidak merasa direpotkan!" Sahut Sandi tertawa dan kembali memupuk harapannya tentang rasa yang semakin dalam pada sosok Clara yang menurutnya unik.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Semenjak Sandi mengutarakan maksud hatinya pada Maya. Sejak saat itu, Sandi mulai melakukan pendekatan pada keluarganya, mengatakan niatnya untuk menikah dengan wanita yang memiliki status janda. Awalnya keluarga Sandi menolak dan tidak setuju dengan keputusan Sandi, namun berkat kegigihannya dan besar niatnya, akhirnya orang tua Sandi merestui, dan ingin di pertemukan dengan Clara.
Namun Sandi meminta waktu agar Clara melahirkan dulu dan karena Sandi juga belum bicara apapun soal niatnya pada Clara. Diterima apa tidak belum ada kepastian.
Hari ini, Sandi ingin berbicara dengan Clara. Setelah pulang dari kantor. Sandi berniat mendatangi rumah Clara, karena Clara sudah dalam masa cuti melahirkan.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Pukul lima sore, Sandi bertamu kerumah Clara yang berbekal alamat dari Maya.
Rumah sederhana namun terlihat sangat rapi.
Clara nampak duduk di teras rumahnya di temani wanita paruh baya, tak lain adalah ibunya.
"Asalamualaikum." Sandi mengucapkan salam dan bersalaman dengan Clara juga ibunya.
"Waalaikumsallm." balas Clara berbarengan dengan sang ibu.
Clara memicingkan matanya, heran kenapa tiba tiba teman kantornya datang kerumah, dan yang lebih aneh lagi, Clara tidak pernah ngobrol dan kenal baik dengan Sandi, hanya sekedar tahu saja kalau mereka satu kantor.
"Silahkan masuk, ngobrolnya di dalam saja." sambung Bu Desmita ramah, dan Clara hanya diam saja, menerka neraka maksud kedatangan laki laki yang asing baginya.
"Masuk, San! Dari mana tau alamat rumah ku?" Clara mengeluarkan suaranya dengan ekspresi datar dan terlihat dingin.
"Dari Maya, maaf kalau tidak nyaman dengan kedatangan saya." balas Sandi sungkan tapi berusaha tetap bersikap tenang.
"owh.!" balas Clara cuek dan memilih duduk di kursi yang ada di depan Sandi. Sedangkan Bu Desmita ke dapur membuatkan minuman untuk tamunya.
"Ada keperluan apa datang menemui aku?" Clara tak ingin basa basi, langsung menanyakan maksud kedatangan Sandi.
"Aku, aku!" Sandi menjawabnya dengan gugup, bingung harus memulai dari mana untuk mengatakan niatnya jika ingin menikahi Clara.
"Ada apa?
Kenapa kamu kayak orang bingung gitu?" balas Clara mengernyitkan wajahnya heran.
"Baiklah! Aku akan mengatakan maksud kedatanganku menemui kamu, Clara!
Aku ingin mengutarakan niatku untuk menikahi kamu, setelah kamu melahirkan dan habis masa nifas mu. Maaf kalau aku tiba tiba mengatakan ini, sudah lama aku memperhatikan kamu, tapi masih ingin meyakinkan perasaan terlebih dahulu dan sekarang aku yakin dengan perasaanku.
Sandi dengan tegas mengutarakan isi hati dan niatnya pada Clara yang terlihat shock dengan pengakuan laki laki di hadapannya.
"Apa kamu bercanda, San?
Apa kamu sudah tau statusku?
Apa kamu tau bagaimana masa laluku dan siapa aku?" sahut Clara menatap tajam laki laki yang kini juga tengah menatapnya dalam.
"Aku serius, Clara.
"Jangan gila kamu, San! Kamu tidak tau masa laluku yang buruk, aku perempuan yang telah di cap seorang pelakor, aku pernah menghancurkan hati perempuan lain, dan aku juga sudah menyakiti hati banyak orang karena kebodohanku.
Apa kamu tidak malu dengan masa laluku yang buruk itu?" balas Clara tajam, tak mengerti isi pikiran laki laki yang kini tengah duduk dihadapannya dengan semua niatnya yang bahkan justru membuat Clara meradang.
"Aku gak perduli dengan masa lalu kamu, Clara! Aku sudah bicara sama orang tuaku sebelum aku memutuskan untuk menemui kamu. Aku serius dengan niatku ini. Percayalah aku akan menerima kamu dengan segala apa yang ada pada kamu, meskipun dengan masa lalu kamu yang buruk sekalipun." sahut Sandi masih dengan niatnya yang ingin menikahi Clara.
"Pikirkan baik baik keinginan kamu itu, diluar sana masih banyak gadis gadis cantik yang lebih baik dari janda sepertiku, apa lagi aku yang tengah mengandung besar seperti ini. Maaf aku tidak bisa menerima kamu. Karena aku tau, aku bukanlah perempuan baik, aku hanya ingin fokus dengan hidupku bersama calon anakku. Sekali lagi aku minta maaf." balas Clara tegas, menolak sandi karena memang tidak ada cinta di hatinya dan merasa tidak pantas karena statusnya yang janda.
Sandi terdiam, dan tetap kukuh dengan niatnya.
"Aku akan tetap menunggu sampai kamu siap menjadi istriku, Clara. Percayalah aku benar benar ingin kamu jadi istriku. Dan aku akan tetap setia menunggumu hingga kamu benar benar yakin dengan niatku ini.
Aku permisi, karena sudah magrib tak baik dilihat tetangga.
Tolong pikirkan baik baik dengan niatku ini!
Asalamualaikum." Sandi mengatakan semua yang ada di hatinya dan berpamitan pulang karena hari sudah petang.
Clara hanya diam mematung, shock dengan kedatangan Sandi yang tak pernah ia duga sebelumnya.
"Mimpi apa aku semalam, kenapa tiba tiba dia datang dan membuat pernyataan yang bikin hati justru terasa nyeri. Aku hanya akan hidup dengan anakku." Gumam Clara dengan mengelus perutnya berulang ulang.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Sedangkan dilain tempat, Risma sedang berada dirumah sakit, seperti biasa menjalani pengobatan rutin. Namun sudah banyak perkembangan, Risma sudah hampir tak pernah merasakan sakit seperti dulu, semoga penyakitnya segera hilang dan. entar benar sehat kembali.
"Ris! kamu mau langsung pulang?" tiba tiba dokter Abas menghentikan langkah Risma.
Risma menoleh, menatap dokter tampan yang tengah berdiri tak jauh darinya dengan senyuman yang begitu mempesona.
"Iya, Dok! ada apa?" balas Risma dengan senyuman dan sikap ramahnya.
"Aku ingin bicara sebentar saja sama kamu, bisa?" sahut dokter Abas dengan wajah yang dibuat memelas dan Risma dibuat tertawa oleh tingkah jahil sahabat kecilnya itu.
"Gak bisa! Risma akan pergi denganku. Kami akan menghadiri acara di kantorku." tiba tiba suara bariton Pandu mengagetkan Risma dan Abas yang langsung mengalihkan pandangannya ke arah pemilik suara yang terlihat dingin dan penuh cemburu di wajahnya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Pembalasan Istri Yang Terhina (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
Happy ending ❤️🔥