Cinta Suamiku Untuk Wanita Lain

Cinta Suamiku Untuk Wanita Lain
kenekatan Erna


"Aku pastikan, kamu akan bertekuk lutut padaku, Pandu! Hanya laki laki bodoh saja. yang menolak kehadiranku, apa lagi aku menawarkan madu yang begitu manis. Sekali kamu mencecapnya, aku pastikan kamu akan ketagihan!" hahahaa Erna tertawa membayangkan Pandu memujanya, padahal sedikitpun Pandu tak tertarik dengan perempuan yang sudah mengumbar auratnya, secantik apapun dia, Di mata Pandu tak ada artinya sama sekali.


Erna terus melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, hatinya sudah merasakan gejolak yang semakin membuatnya terobsesi pada seorang Pandu Aditama. Pikiran Pikiran liarnya terus berimajinasi dan bibirnya terus menyunggingkan senyum penuh harapan.


Rambut yang diwarnai kecoklatan, dengan memakai baju kurang bahan, Erna turun dari mobilnya, menuju pos penjaga dengan tujuan menanyakan tentang keberadaan Pandu, benar tidaknya bertugas di situ.


"Maaf ada yang bisa di bantu, Bu?" sapa salah satu penjaga yang ada di pos, salah satunya adalah Agung.


"Bu?" Erna memicingkan matanya menatap tak suka pada penjaga yang menyebutnya dengan sebutan, Bu!


Agung yang menyimak hanya bisa menahan tawa dan menatap Erna dari atas sampai bawah dengan terus mengucapkan istighfar. Kagum dengan wanita cantik, pasti. Tapi ada sebagian orang orang yang justru risih dengan penampilan yang terlalu vulgar, sehingga secantik apapun tak membuat orang orang itu terpesona tapi justru merasa risih dan malu sendiri.


"Maaf! Kalau saya salah sebut! Ada yang bisa di bantu?" sambung Farid, petugas yang tengah menyambut kedatangan Erna yang jadi pusat perhatian para mata lelaki yang melihatnya.


"Saya masih single dan belum menikah. Tapi sebentar lagi akan menikah, jadi jangan menggoda saya, karena saya sudah punya calon yang jauh lebih tampan dan kaya dari anda!" balas Erna dengan angkuh sambil menarik bibirnya keatas dan memakai kembali kaca mata hitamnya dengan mengangkat dagunya sombong.


Agung yang sejak tadi hanya diam memperhatikan, hanya bisa menahan senyumnya melihat sikap Erna yang berlebihan.


Bahkan Farid langsung menggelengkan kepalanya menahan geli dan senyumnya.


"Saya ingin ketemu dengan Pak Pandu Aditama, bisa?" sahut Erna masih dengan gayanya yang angkuh.


Agung yang sedari tadi diam langsung menatap Erna penuh selidik dengan mengerutkan wajahnya.


"Ada keperluan apa dengan Pak Pandu?" Agung akhirnya ikut angkat bicara dan meminta Farid untuk diam dengan bahasa isyarat mata. Farid pun langsung paham dan tak lagi ikut angkat bicara, apa lagi menyangkut atasan mereka yang begitu disegani dan jadi idola banyak anggotanya.


"Bilang saja kalau saya temannya waktu sekolah dasar dulu, Erna!" sahut Erna dengan serius dan berharap bisa bertemu dengan Pandu hari ini.


"Pak Pandu sedang tidak ada di tempat, ada tugas di luar. Bisa tinggalkan pesan saja, biar nanti kami sampaikan!" balas Agung tegas dengan ekspresi dingin setelah tau tentang tujuan Erna yang mencari Pandu.


Sebagai anak buah yang sering berinteraksi dengan Pandu dan sedikit banyak tau soal Pandu dan keluarganya, Agung langsung paham dengan tujuan Erna yang mencari Pandu.


Karena Pandu juga pernah bilang, jangan sembarangan menerima tamu untuknya, apalagi wanita.


"Yakin, Pandu nya tidak ada di sini?" Erna memicingkan matanya dan melepas kembali kaca mata yang bertengger di hidung mancungnya hasil operasi plastik.


"Iya, Bu! tinggalkan pesan saja biar kami yang nanti sampaikan!" kembali Agung mengulangi ucapannya.


"Baiklah!


Bilang saja, Erna sedang menunggunya karena ada hal yang ingin dibicarakan, berikan kartu nama saya sama Pandu, agar dia bisa langsung menghubungi saya! Terimakasih!" Erna memberikan kartu namanya pada agung untuk diberikan pada Pandu. Dan kembali ke mobilnya namun hatinya mengatakan kalau Pandu sedang ada di dalam kantornya, Erna paham kalau tidak mudah menemui orang seperti Pandu.


Jadi Erna tau bagaimana mencari informasi tanpa harus bertanya pada anggotanya.


Dengan percaya diri Erna memundurkan mobilnya agak menjauh dari kantor, Erna berniat untuk mengintai Pandu, menunggunya keluar dari markas dan akan mengikutinya. Dengan begitu, Erna bisa tau, dimana tempat tinggal Pandu dengan keluarganya.


Apalagi waktu juga sudah hampir menuju sore, sudah jam dua siang, Erna yakin kalau gak lama lagi pasti Pandu akan keluar.


Erna turun dari mobil, dan pergi ke toko yang tak jauh dari mobilnya di parkir, menemui pemilik toko dan meminta ijin untuk memarkirkan mobilnya di halaman milik pemilik toko dengan memberinya imbalan yang lumayan.


"Bu! boleh saya titip parkir mobil saya disini beberapa jam saja, karena saya ada keperluan!


Akan saya bayar per jamnya seratus ribu." Erna bicara pada wanita yang sedikit gemuk berusia sekitar lima puluh tahunan yang langsung mengangguk senang."


"Boleh! Emang mau kemana mbak cantiknya?" sapa Bu Ikah ramah.


"Saya ada keperluan sebentar saja kok Bu!


Ini saya kasih seratus ribu dulu, nanti lebihannya kalau saya sudah mau pulang ya?" sahut Erna santai dan mencari cara agar bisa melihat Pandu keluar dari gerbang, tanpa harus salah orang saat mengintai.


"Oh iya, terima kasih ya mbak cantik, wah cantiknya, baik lagi." kembali Bu Ikah memuji kecantikan Erna, dan semakin membuat Erna bersikap angkuh dan bangga.


"Makasih Bu, Makasih!" sahut Erna singkat, dan berjalan ke arah warung yang ada di depan kantor Pandu.


Erna mencari tempat duduk yang bisa melihat dengan jelas ke arah pintu gerbang kantor tersebut, Erna duduk dengan manis meskipun sedikit risih dengan tempatnya yang dianggap warung murahan, tapi tidak ada pilihan lain lagi selain disini menunggu Pandu keluar.


Agung yang paham dengan tujuan Erna, langsung memberitahu Pandu soal kedatangan Erna dengan mengirimkan pesan pada Pandu lewat chat watshap.


"Ternyata benar dugaanku, kalau dia wanita yang nekad dan gak tau malu. Ah semoga Risma jauh lebih siap dan tidak salah paham dengan kemunculan Erna. Lagian aku juga tidak tertarik dengan perempuan topeng seperti itu." Pandu bicara sendiri diruangannya dan langsung mengambil ponselnya, mencari kontak istrinya dan memencetnya.


"Hallo, asalamualaikum, istriku!" sapa Pandu yang kini selalu bersikap manis pada Risma, dan selalu menghubunginya saat ada perempuan lain yang hadir menganggu ketenangannya, agar hatinya tetap setia pada sang istri yang begitu mencintainya.


"Waalaikumsallm, Pa! kok tumben telpon jam segini, ini kan waktunya kamu mau pulang ya sebentar lagi?" sahut Risma yang tengah tersenyum dengan perlakuan manis suaminya.


"Iya, kurang satu jam lagi. Tapi akunya sudah rindu saja sama istri yang dirumah, lagi apa sayang?


anak anak gimana?" balas Pandu yang mengalihkan pikirannya untuk memuji dan memuja istrinya agar hatinya tak pernah berpaling lagi dengan godaan seberat apapun.


"Anak anak pada tidur habis dari sekolah.


Aku lagi bikin kue buat cemilan kita. Tumben, ada apa pa?" sahut Risma yang masih penasaran dengan tingkah suaminya yang tak biasa menelponnya di jam segini.


Pandu menghembuskan nafasnya dalam sebelum menjawab pertanyaan sang istri yang memang memiliki insting tajam dan kuat dengan sikapnya.


"Erna baru saja datang ke kantor, ma!


ternyata dia benar benar nekad mencari ku sampai kesini. Semoga kamu gak salah paham ya, karena saat dia nekad mencari ku sampai kantor, pasti tidak menutup kemungkinan dia juga akan mencariku dirumah kalau aku tetap mengabaikannya. Jangan salah paham, dan bantu aku untuk menghadapi perempuan nekad seperti Erna!" sahut Pandu dengan suara sedikit berat, Risma yang ada dirumah tersenyum lega, bersyukur karena suaminya kini sudah berani jujur dan terbuka, kemauannya untuk memperbaiki hubungan, benar benar dibuktikan oleh Pandu melalui sikap dan ucapannya.


"Iya, Pa! Insyaallah aku paham dan mengerti. Kamu jangan terlalu mikirin dia loh, cuekin saja, kalau dia berani kerumah, biar aku yang ngadepin, salahnya sendiri sudah berani mengusik suaminya Bu Risma, iya kan?" sahut Risma sambil ketawa dan membuat Pandu jadi lega karena istrinya tak salah paham.


Karena dalam sebuah hubungan memang sangat diperlukan komunikasi yang baik antara suami istri, jujur dan saling terbuka, lantas mencari solusi bersama saat ada masalah.


Cinta akan semakin menguatkan keduanya.