
"Semoga kamu tumbuh jadi anak yang kuat ya, Nak! Jadi semangat untuk ibumu! Sehat sehat terus dan semoga Sandi bisa menerima kehadiran kamu sebagai anaknya dengan tulus. Nenek berharap kalian berada di tangan laki laki yang tepat." Bu Fatma berbicara pada Dania yang masih belum tau apa apa, belum bisa memahami apa yang diucapkannya. Namun Bu Fatma berharap Dania bisa merasakan ketulusan dan harapannya.
Sejak semalam perasaan Bu Desmita tak enak, bahkan bermimpi Clara yang sedang menangis mendekap Dania. Firasatnya sebagai seorang ibu mengatakan jika putrinya sedang tidak baik baik saja, namun akalnya berusaha menolak dan berharap itu hanya sekedar bunga tidur.
"Kalau Clara ada apa apa, pasti dia akan pulang kesini dan memberitahuku. Semoga ini hanyalah pikiranku saja, mungkin aku lelah karena beberapa hari ini mengurus Dania sendirian." batin Bu Desmita menguatkan hatinya sendiri.
Karena bagaimanapun insting seorang ibu itu begitu tajam.
Saat larut dengan pikirannya, Bu Desmita dikagetkan dengan suara deringan ponselnya dan nampak Nana Clara muncul di layar datarnya dengan melakukan panggilan video call.
"Panjang umur, Nak!" Bu Desmita tersenyum menatap ke arah ponselnya dan langsung menjawab panggilan dari orang yang sejak tadi memenuhi pikirannya.
"Hallo Asalamualaikum." sapa Clara dari ujung sana dengan senyuman yang dibuat sumringah, rasa kangennya pada sang anak tak lagi bisa dibendung, apalagi Dania sedang lucu lucunya.
"Waalaikumsallm!
Dania, itu bunda nak, yuk kasih senyum ke bunda." Bu Desmita mengarahkan ponselnya pada Dania yang langsung tertawa lucu melihat bundanya, Dania memang telah mampu menjadi obat segala perih untuk Clara, dan membuat Clara ingin merubah dirinya menjadi lebih baik.
"Hallo sayang, bunda kangen Dania. Dania kangen bunda?" sapa Clara menahan perih di hatinya dengan hanya memperlihatkan senyuman di wajahnya.
Dania hanya bisa memarkan senyuman lucunya dengan gayanya yang menggemaskan, semakin membuat Clara di Landa rindu pada anak perempuannya, kekuatannya.
"Bu! Clara boleh minta tolong?" Clara mengalihkan tatapannya pada sang ibu yang tengah tersenyum sambil memangku cucunya.
"Iya, nak! ada apa?" sahut Bu Desmita sambil mengerutkan wajahnya menatap penuh pada Clara.
"Tolong! ibu siapin semua kebutuhan Dania, nanti sore, aku sama mas Sandi akan menjemput Dania. Aku gak kuat menahan rinduku pada anakku Bu!" balas Clara tersenyum tipis, mungkin dengan kehadiran Dania diantara dirinya dan Sandi, ketegangan dan kebekuan bisa sedikit mencair dan membuatnya merasa lebih baik menghadapi sikap dingin sang suami.
"Loh, kok sudah diambil saja, katanya mau di sana sampai satu minggu." sahut Bu Desmita dengan rasa herannya.
"Clara kangen sama Dania, Bu!
Clara gak bisa lama lama jauh dari Dania.
Clara minta tolong ya, ke ibu, tolong siapin semua kebutuhan Dania yang nanti harus dibawa, minta mbak Inah untuk membantu ibu." Balas Clara sungguh sungguh, dan membuat Bu Desmita menganggukkan kepalanya, meskipun banyak pertanyaan di hatinya.
"Baiklah, nanti ibu akan siapkan!
Clara! Kamu tidak sedang ada masalah dengan sandi kan, Nak? Kalian baik baik saja kan?" Bu Desmita menatap penuh ke arah putrinya, mencoba mencari kebenaran dari sorot matanya, namun Clara seolah tau jika sang ibu tengah mencurigainya, sehingga tak berani menatap balik ke arah ibunya.
"Insyaallah Clara baik baik saja, Bu!
Mas Sandi juga baik kok, kami gak ada masalah, cuma aku pingin bersama Dania, ingin dekat terus dengannya, itu saja." Clara berusaha meyakinkan ibunya jika baik baik saja. Baginya cukup dirinya yang tau dan merasakan perih dari pernikahan nya, tak mau menambah beban sang ibu lagi.
Kadang seorang wanita terlalu ahli menyembunyikan peristiwa yang sedang bergejolak di hatinya. Apalagi menyangkut perkara tentang sirnanya segenggam cinta yang menyisakan kepedihan panjang dan mendalam.
Pautan hati yang pergi tak selalu membunuh cintanya, meski terkubur dalam pusara asmara.
Bak menanam bibit bunga, tumbuh tak disirami, mekarnya tanpa disiangi, hanya berhujan harapan dan terpupuk penantian, akhirnya masak dan gugur, kemudian tumbuh lagi, masak lagi dan gugur lagi, sampai tandus daratan hati, tapi bibit tak kunjung mati.
Apakah semua pria mengerti hal itu?
Kenapa mereka datang tiba tiba dan pergi seketika?
Padahal mendengar nama dan kedatangannya dapat membuat meronta bibit di lahan tandus itu.
Hingga sang wanita bergumam, "Utk apa kau hadir di sini, sementara hatimu kau tinggalkan di sana. Luka lama yang kau toreh, sekarang telah mengering. Jangan gores luka baru di atas luka lama."
Rumit diungkapkan, hingga sulit dimengerti karena kata kata terlalu miskin untuk mewakili perasaan.
Perjuangan untuk menjalani ujian hati bukanlah perkara ringan.
Kadang mereka lari, menjauh dan diam bukan karena benci, tapi karena tak kuasa menahan perih.
Banyak yang tak mampu bangkit karenanya, kecuali mereka yang bertaqwa.
Sebijak bijaknya seorang pria, tapi kebijakan itu akan cacat ketika tak mampu bertanggung jawab atas hati seorang wanita yang tak bersalah.
Don't be a player of heart, because itsn't a game!
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Bicara panjang lebar dan sekedar melepas rindu karena lama tidak bertemu.
Saat tengah asik mengobrol, ponselnya berbunyi dan terlihat nama Cinta sedang melakukan panggilan telepon. Pandu meminta ijin temannya untuk mengangkat telepon dari anaknya di luar. Karena tidak enak harus bicara di hadapan teman temannya, takut mereka tidak nyaman pun dengan dirinya.
"Aku mau angkat telepon dari anakku dulu ya, sebentar!" pamit Pandu dan berjalan keluar mencari tempat duduk tak jauh dari halaman restoran tempatnya berkumpul bersama teman-temannya.
Pandu tertawa mendengar celotehan kedua anaknya yang kadang berebut ingin bicara dengannya. Apa lagi Cinta yang begitu cerewet bertanya apapun tentang kegiatan sang papanya, Pandu dengan gemas mengatakan semua yang dilakukannya. Dan di akhir obrolan, Risma juga ikut bicara dengan nada lemah, Pandu sempat khawatir, Namun Risma meyakinkan jika dirinya baik baik saja. Dan Pandu pun mengakhiri obrolan karena tidak enak terlalu lama meninggalkan teman temannya.
Saat Pandu ingin kembali memasuki pintu masuk restoran, tiba tiba ada suara seorang wanita yang memanggil namanya. Reflek Pandu langsung menoleh ke arah suara yang memanggilnya.
"Pandu Aditama." perempuan cantik dengan kulit seputih pualam tengah menatapnya tanpa kedip, tubuhnya yang sintal dengan rambut tergerai yang diwarnai brown, terlihat cantik dan pasti banyak mata pria yang menatapnya kagum, pun dengan Pandu yang langsung tercekat melihat wanita yang ada di hadapannya.
"Masih ingat aku?
Erna Safitri!
kita dulu satu sekolah saat masih di sekolah dasar.
Ingat gak?" sambung perempuan cantik yang kini lebih berani berdiri begitu dekat dengan Pandu yang masih mematung.
"Maaf, Erna siapa?
Maaf sekali lagi, saya benar benar lupa!" balas Pandu sopan dan berusaha mengingat nama yang telah disebutkan oleh perempuan ayu yang kini tengah memainkan rambutnya dengan gayanya yang genit dan menantang.
"Huh! Kamu ya!
Dulu pas aku masih sekolah dasar, teman teman sering mengejekku dengan sebutan Erna gendut.
Dulu aku memang gendut, rambutku ikal dan kulitku putih. Aku selalu bersama sama dengan Erina, tetanggaan dengan guru matematika kita.
Masih belum ingat juga?" balas Erna cemberut dengan gayanya yang dibuat buat.
"Oh iya! Ingat!
Erna itu ya? Maaf karena sekarang jadi beda banget." sahut Pandu tersenyum ramah, karena ingatannya sudah kembali pada masa itu, masa saat masih anak anak.
"Bisa nanti kita bicara?" balas erna yang semakin mendekatkan tubuhnya ke arah Pandu yang langsung mundur karena kaget dengan keberanian teman SD-nya dulu.
"Maaf, aku harus masuk kedalam. Gak enak sudah ditunggu teman disana. Permisi!" balas Pandu yang terlihat langsung menjaga jarak.
"Silahkan!
Aku akan menunggu kamu, ingin bicara banyak hal. Rindu saat masih anak anak dulu." sahut Erna yang terlihat terus menggoda Pandu dengan sikapnya yang genit dan manja.
Pandu tersenyum tanpa menjawab dan langsung berjalan cepat kembali ke meja dimana teman temannya tengah menunggunya.
"Sombong banget! Lihat saja, sebentar lagi, kamu akan jadi milikku. Karena tidak ada satupun laki laki yang bisa menolak pesona seorang Erna, model yang selalu jadi pujaan para pria pria tampan dan mapan." Erna bergumam lirih dengan tatapan tak lepas dari Pandu dengan menarik bibirnya keatas dengan sinis. Erna model majalah dewasa yang terkenal, selalu merasa kecantikannya selalu mampu menaklukkan semua pria yang di inginkannya, tak terkecuali dengan Pandu Aditama yang kini tengah jadi incarannya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Pembalasan Istri Yang Terhina (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
Happy ending ❤️🔥