
"Iya, Ma! Doakan Pandu dan terus ingatkan Pandu jika Pandu ada di jalan yang salah!
Pandu sayang, Mama!" Kembali Pandu memeluk manja mamanya, dan di sambut usapan lembut di pipinya dari sang ibu tercinta.
"Risma dan anak anak, dibawa ibu dan ayah. Pandu kesepian dirumah sendirian." sambung Pandu mengadu pada mamanya yang tertawa dengan rengekan sang anak.
"Itu karena kamu sudah nakal, jadi harus di kasih pelajaran. Gak enak kan, jauh dari anak dan istri. Apalagi istri secantik Risma dan anak anak selucu dan pintar pintar seperti Galang dan Cinta. Apa yang kamu rasakan saat jauh dari mereka?" balas Bu Sonia menatap dalam pada sang anak yang terlihat memejamkan mata.
"Tersiksa lahir batin."
Sahut Pandu jujur, dengan membayangkan wajah istri dan anaknya saat tertawa dalam pejam matanya.
Bu Sonia mengusap rambut anaknya lembut, saat ini posisi Pandu sudah tiduran di pangkuan sang mama. Ingin bermanja dan di perhatikan oleh wanita yang begitu dia cintai. Saat gundah, saat sedih dan saat tak baik baik saja, mamanya yang selalu jadi tempat ternyaman nya dalam melepaskan semua beban dan masalahnya.
"Banyak banyak istighfar, Nak!
jangan pernah lagi ulangi kesalahan yang sama, hati perempuan itu lembut, kalau sudah hancur, sulit untuk di bentuk lagi, kalaupun bisa, tentu tidak akan bisa sama. Jadi berpikirlah sebelum bertindak, jadilah laki laki yang baik untuk anak istrimu, Mama ingin kamu bisa mencontoh papa dalam memperlakukan mama, lakukan itu sama Risma. Cintai dia, perlakukan dia istimewa dan hormati, jaga perasaannya. Kamu paham, Nak?" balas Bu Sonia lembut dan terus memberi pengertian pada anaknya yang memang sedikit memiliki sifat keras kepala.
"Iya, Ma! Insyaallah, Pandu akan ingat selalu pesan mama!" sahut Pandu yang masih memejamkan matanya, hatinya masih belum bisa berdamai, bayangan wajah Clara yang menangis, bayangan wajah Risma yang penuh luka dan bayangan wajah anak anaknya yang tertawa, masih mempermainkan pikirannya.
"Apa yang kamu rasakan saat ini?
Apa Clara masih ada di hati kamu?" kembali Bu Sonia mengeluarkan suaranya, mencari tau apa yang ada di hati sang anak.
"Aku mencintai Clara, Ma!
Tapi aku juga tidak mungkin bertahan dengan sikap Clara yang terus menuntut untuk di akui dan meminta untuk disamakan dengan Risma, apa lagi dia sudah nekad mendatangi kantor dan ingin bertemu dengan atasan ku. Entahlah, aku tidak menyangka dia bisa senekat itu, aku kira dia bisa memahami keadaanku." Sahut Pandu jujur pada mamanya.
Bu Sonia membuang nafasnya kasar. Menatap lurus ke depan dengan pandangan teduh.
"Keputusan kamu sudah benar, Pandu!
Clara tidak bisa menghargai kamu dan terlihat egois, ingin di utamakan dan ingin di pahami, tanpa mau memahami. Lupakan rasa cinta kamu itu, fokus pada Risma dan anak anak saja.
Tapi kamu harus tetap menjalani kewajiban kamu, tetap beri dia nafkah selama masa Iddah. Tapi putus komunikasi, dan jangan buka obrolan apapun, kalau kamu ingin memberikan nafkahnya, cukup transfer ke rekeningnya, nanti dia akan tau sendiri. Kamu paham dengan maksud mama kan, Pandu?" balas Bu Sonia sedikit menekan suaranya. Dan Pandu langsung mengangguk paham.
Sedangkan di lain tempat, Clara masih menangis. Tak menyangka Pandu begitu mudah mengiyakan keinginannya untuk pisah.
Padahal Clara berharap, Pandu masih memperjuangkan dirinya, merengek dan memohon untuk tetap bersama, namun nyatanya tidak, justru Pandu dengan cepat mengiyakan keinginan tanpa lebih dulu memohon padanya untuk bertahan.
"Sudah, jangan menangis lagi!
Ini keputusan kamu, dan benahi semuanya. Kembalilah jadi Clara anak ibu yang dulu, Clara yang ceria dan tangguh." Bu Desmita berusaha menghibur anaknya, agar tak terpuruk lebih dalam lagi.
"Biarlah aku menangis sepuasnya hari ini, Bu!
Dan aku janji, setelah ini, aku tidak akan pernah menangis lagi. Minggu depan, aku akan ke Surabaya, aku akan menerima tawaran kerja disana. Aku ingin kembali menata hidupku. Semoga dengan fokus sama pekerjaan dan menjauh sejauhnya dari kehidupan mas Pandu, aku akan jauh lebih baik. Doakan aku, Bu!" sahut Clara yang masih diiringi oleh Isak tangis, matanya sudah sembab, karena terlalu banyak menangis.
"Apa kamu sudah siap?
Sudah kamu pikirkan baik baik, Surabaya bukan kota kecil, Clara. Disana juga kamu tidak punya siapa siapa. Ibu takut, kamu.....!" Sebelum menyelesaikan ucapannya, Clara sudah memotong ucapan sang ibu.
"Insyaallah Clara bisa, ibu gak usah khawatir.
Clara dapat fasilitas rumah dari kantor, dan Clara juga gak sendirian, ada dua orang teman Clara dari sini, dan perempuan semuanya.
ini kesempatan untuk Clara, Bu! Clara ingin kembali membangun karir Clara. Ibu cukup doakan dan restui langkah Clara. Clara mohon!" balas Clara serius dan sudah memantapkan hatinya untuk pergi jauh dari sosok Pandu Aditama.
Meskipun perasaan cintanya masih begitu dalam, namun rasa kecewa dan sakit hatinya jauh lebih besar, Clara tak ingin lagi mau tau apapun yang berkaitan dengan Pandu. Menjauh adalah pilihan yang tepat untuk saat ini.
"Baiklah, ibu restui dan doa ibu selalu yang terbaik untuk semua anak anak ibu. Jaga diri baik baik, jangan pernah lagi terjebak pada cinta laki laki yang sudah beristri. Kamu cantik, pintar dan kuat, tentu banyak pasang mata yang menginginkan kamu, kamu harus bisa menjaga diri kamu. Cukup apa yang terjadi dengan Pandu, sebagai pelajaran kedepannya, agar jangan sampai terulang dengan kisah yang sama. Mau kan dengarkan ibu?" sahut Bu Desmita tegas dan dengan sorot dalam menatap putri nya yang cantik.
"Insyaallah, doakan Clara, Bu!
Clara tidak punya pikiran untuk jatuh cinta lagi, biarlah untuk sementara seperti ini. Clara hanya ingin fokus sama karir Clara. Clara juga akan mengembalikan rumah dari Mas Pandu, tapi lewat orang tuanya, karena Clara tidak mau lagi berhubungan dengannya. Masih sakit, hati Clara!" balas Clara menunduk dan tetesan tetesan bening dari kedua matanya masih berjatuhan membasahi wajahnya yang terlihat sedikit tirus.
"Ikhlas, nduk! Insyaallah Alloh akan ada ganti yang lebih baik. Satu lagi, jangan simpan dendam di hatimu lantaran rasa sakit dan kecewamu. Semua sudah jadi garis takdir yang harus di jalani.
Pandu bukan jodoh mu, anggap saja begitu. Luka dan rasa sakit di hatimu, akan sembuh seiring waktu yang berjalan. Cukup perbaiki diri dan jadikan pelajaran untuk menjalani hidup yang lebih baik. Ibu percaya, anak ibu pasti bisa!" Bu Desmita meraih Clara dalam pelukannya, menyalurkan kekuatan melalui kasih sayangnya. Tidak perlu menghakimi kesalahan sang anak, cukup di ingatkan dan di rangkul dengan cinta dan kasih sayang, insyaallah yang terjadi akan memberinya banyak pelajaran dalam dia menjalani hidupnya setelah ini.