
Namun kini makhluk Ciptaan Mu hadir begitu indah .
Menyejukkan mata dan juga hati.
Haruskah aku kembali meraihnya dalam sebuah keikhlasan dari kesalahan masa lalunya.
Yang tak seharusnya menjadi duri di jalan yang akan ku lalui.
Sandi tak bisa berucap apapun selain menatap kagum pada istrinya sendiri, berperang dengan hati dan juga pikirannya.
"Mas!" Clara Menaik turunkan tangannya di depan wajah Sandi, seketika Sandi langsung mengerjap kaget, tersadar dari lamunannya.
"Mas Sandi kenapa?" Clara mengerutkan wajahnya, menatap penuh selidik pada Sandi yang terlihat salah tingkah.
"Gak papa, kamu sudah siap?
Aku ganti baju sebentar ya!" Sandi mengelak dan langsung menuju lemari mengambil baju ganti. Padahal Clara sudah menyiapkan baju gantinya di atas kasur seperti biasa.
Tapi karena gugup, Sandi tak memperhatikannya.
"Mas cari apa?
Aku sudah siapkan baju ganti mas Sandi, itu!" Clara menunjuk baju yang ada di atas tempat tidur.
Sandi menoleh dan tersenyum, semakin salah tingkah karena malu dengan tingkahnya sendiri.
"Aku ke kamar Dania dulu ya mas, nanti aku tunggu diluar saja." Clara paham dengan ketidaknyamanan Sandi, memutuskan untuk menghindari dengan alasan Dania.
Sandi mengangguk dan mulai berganti pakaian yang telah disiapkan Clara. Sandi tersenyum menatap baju pilihan Clara untuknya.
Sesuai dengan seleranya, celana jeans dan kaos lengan pendek yang mencetak tubuh atletisnya.
Setelah selesai bersiap siap, Sandi turun dan langsung mengajak Dania juga Clara untuk masuk ke dalam mobil.
Kaku dan hambar itulah yang terjadi selama diperjalanan, hanya celoteh Dania yang mewarnai Susana dingin diantara mereka.
Clara yang tak ingin banyak tanya, karena terkadang dirinya lelah sendiri dengan sikap cuek Sandi terhadapnya. Memilih diam dan menuruti semua yang di katakan suaminya jauh lebih baik dari pada mengeluarkan suara namun tidak ada respon.
Sandi memarkirkan mobilnya di salah satu mall terbesar yang ada di Surabaya.
Mengajak Clara turun dan mengambil Dania dari pangkuan Clara untuk digendongnya.
"Dania dibawakan kereta dorongnya gak?" tanya Sandi sambil menggendong Dania yang terlihat sangat menggemaskan dengan tubuh gembilnya.
"Ada kok, di bagasi." sahut Clara lembut menatap Sandi dengan perasaan yang tak menentu.
Sangat menyukai pemandangan kala Sandi sedang menggendong Dania.
"Nanti Dania naik keretanya ya, biar papa yang dorong. Kasihan kalau harus digendong gini, nanti kakinya sakit kalau kelamaan." Sandi bicara dengan Dania, seolah anak sekecil Dania sudah paham dengan apa yang dia katakan, membuat Clara tersenyum geli menatap Sandi yang terlihat sifat lembutnya.
"Kamu gendong Dania dulu, biar aku keluarkan keretanya." Sandi menyerahkan Dania pada Clara dan mengambil kereta dorong Dania yang ada di bagasi.
'Kita jalan jalan dulu ya, nanti baru cari makan. Atau kita makan dulu baru belanja?" Sandi meminta pendapat Istrinya.
"Mas Sandi maunya gimana?
Kalau mas sudah lapar, kita cari makan saja dulu, baru lanjutin jalan jalannya." sahut Clara dengan lembut sambil menatap ke arah Sandi yang tengah mendorong kereta Dania.
"Tadi aku sudah makan sih sebelum pulang, ada meeting diluar, jadi sekalian makan.
Kamu yang sudah makan apa belum?" sahut Sandi santai sambil mendorong Dania dengan gayanya yang cool.
"Aku sudah makan tadi sore, berarti kita jalan jalan saja dulu." balas Clara tersenyum sambil membuka ponselnya dan memotret Dania yang tengah didorong oleh Sandi.
"Kamu ambillah mana yang cocok dan kamu suka, Clara. Anggap ini cara suami kamu untuk menyenangkan hati istrinya." Sandi menatap Clara dengan tatapan yang tak bisa di artikan.
Menyuruh Clara memilih apapun yang clara mau.
Sandi membawa Clara ke salah satu tempat yang memiliki brand ternama, terkenal dengan gamis gamisnya yang indah.
"Ayo, pilihlah berapapun yang kamu mau, selama Kita menikah, aku belum belikan kamu apapun. Hari ini kamu bebas memilihnya." Sandi kembali meyakinkan Clara yang terlihat masih ragu, merasa sungkan mau ambil salah satu baju yang ada, karena harganya yang fantastis.
Satu persatu Clara mencoba gamis yang sudah dipilih oleh Sandi dan menunjukkannya pada Sandi.
Sandi selalu terpana tiap kali Clara keluar dengan gamis yang berbeda. Terlihat cantik dan begitu anggun, semua gamis pilihannya terlihat sangat pas di pakai oleh Clara, sehingga Sandi menyuruh pegawainya untuk membungkus semua gamis yang sudah di coba Clara.
"Mas, kamu serius ambil semua gamis tadi?" tanya Clara tak percaya, karena Sandi memilih tujuh setel gamis dan satu gamis seharga jutaan. Tapi justru Sandi terlihat begitu santai. Uang baginya tak masalah, karena mungkin hanya Clara yang belum begitu tau siapa Sandi yang sebenarnya, jadi kaget dengan jumlah yang harus dibayar untuk membeli gamis gamis mahalnya.
"Kamu tenang saja, itu tidak akan menghabiskan uang tabunganku. Ambillah ini dan bayar semua gamis gamis itu." Sandi menyodorkan kartu kredit pada Clara yang hanya bisa pasrah dengan perintah suaminya.
Setelah puas belanja baju dan tas untuk Clara.
Sandi menuju baju untuk anak anak, berniat membelikan Dania beberapa stel baju dan sepatu.
Lagi lagi Clara hanya bisa patuh dan menurut.
"Mas! Apa gak sebaiknya uangnya ditabung saja?
Sayangkan, kalau hanya untuk beli baju saja. Lagian bajuku dan Dania sudah cukup banyak." Clara akhirnya mengeluarkan isi hatinya, membuat Sandi menahan tawanya, Clara masih saja memikirkan berapa banyak uang yang sudah Sandi keluarkan untuk membeli kebutuhannya dengan Dania.
Padahal bagi Sandi, uang segitu tidak ada apa apanya.
"Kamu tenang saja, Clara!
Kita belanja kayak gini, gak akan mengurangi uang jatah belanjanya kamu. Alhamdulillah aku punya rejeki lebih, makanya ingin ngajak kalian jalan jalan.
Sekarang kita ke toko perhiasan, aku ingin membelikan kamu perhiasan sebagai ganti mahar yang tak seberapa kemarin."
Sambung Sandi yang terus berjalan mendorong kereta Dania menuju toko perhiasan.
"Tapi, Mas,!" sergah Clara yang benar benar dibuat merasa gak enak dengan sikap baik Sandi yang dinilainya justru sangat berlebihan.
"Sudah ikut saja, jangan banyak protes. oke?" Sandi tak mau dibantah dan meminta Clara untuk tetap mengikutinya. Di dalam hati, Sandi mulai merasa suka dengan kepribadian Clara yang tidak begitu silau dengan kemewahan, Clara sudah benar benar berubah.
Kisah masa lalu yang mematahkan hati juga kebahagiaan di hidup Clara, membuatnya sadar, jika tak baik mengejar sesuatu yang memang bukan miliknya. Kepergian Pandu yang lebih memilih istri dan anaknya, menjadikan Clara tau, jika tak selamanya keinginan itu akan berjalan sesuai dengan apa yang diharapkannya.
Clara benar benar ingin beranjak dari sifat buruknya di masa lalu, mencoba pasrah dan iklas dengan takdir yang kini tengah dijalaninya.
Terus memohon ampun atas khilaf yang pernah dia lakukan, menyadari jika pernah menyakiti banyak hati oleh sikapnya. Dan kini Clara sedikit demi sedikit juga merasakan seperti apa rasanya saat berada di posisi Risma. Berstatus seorang istri yang tanpa dicintai, tersiksa lahir dan batinnya, namun harus tetap bertahan selama Tuhan belum berkata "Berhenti."
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
New karya Hawa
#Negeri dongeng Alisia
#Kasih sayang yang salah
#Cinta berbalut Nafsu
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
Happy ending ❤️