Cinta Suamiku Untuk Wanita Lain

Cinta Suamiku Untuk Wanita Lain
pernikahan Clara dengan Sandi


Sandi tidak pernah menyerah dengan usahanya mendapatkan hati clara. Karena sekeras apapun Clara menolak, ketulusan dan kesabaran sandi mampu menembus ruang di hati Clara.


Setelah Clara melahirkan, akhirnya Clara pun menyerah dan mempercayakan hati dan hidupnya pada Sandi. Restu orang tua dan keyakinan membuat Clara memutuskan mau menikah dengan Sandi. Dan Sandi pun juga berjanji untuk memperlakukan dan menerima anak Clara seperti anak kandungnya sendiri.


Dania Prameswari, nama yang diberikan Clara untuk anaknya. Cantik dan wajahnya begitu mirip dengan garis wajah ayahnya, yaitu Pandu Aditama.


Saat usia Dania menginjak umur tiga bulan, Clara dan Sandi melangsungkan akad nikah yang di gelar sederhana di sebuah masjid. Semua atas permintaan Clara dan Clara juga tidak ingin membawa serta sang anak demi menjaga nama suaminya.


"Selamat ya, Nak! akhirnya kamu sudah tidak jomblo lagi. Maaf kalau Risma dan suaminya tidak bisa hadir, Risma lagi hamil muda ya begitu bawaannya lemas dan pusing terus, sedangkan suaminya sedang dinas ke luar kota untuk beberapa hari ke depan." Bu Fatma memberi selamat pada Sandi dan meminta maaf atas nama putrinya karena tidak bisa hadir di pernikahannya.


Clara yang mendengar nama Risma disebut, langsung menoleh ke arah suara. Hatinya berubah perih mengingat nama istri pertama Pandu Aditama yang sampai saat ini masih setia menghuni sudut hatinya.


"Ini istrinya?" sambung Bu Fatma tersenyum menatap Clara yang terlihat gugup.


Antara Bu Fatma dan Clara tidak saling mengenal, karena memang mereka hanya tau nama saja tanpa pernah bertemu.


"Iya, ini Clara Tante, perempuan yang bisa buat aku jatuh hati!" sahut Sandi berkelakar dan disambut tawa ringan oleh Bu Fatma.


"Semoga samawa ya!" sambung Bu Fatma menyalimi kedua mempelai yang di ikuti pak Damar dibelakangnya tanpa banyak bicara seperti istrinya.


Clara terdiam, menerka ucapan Bu Fatma yang telah menyebut nama Risma. Clara menggabungkan setiap kalimatnya, Risma yang tengah hamil muda, dan suaminya yang sedang Dinas di luar kota.


Pikiran Clara berubah kacau, bayangan masa lalu kembali terngiang di dalam benaknya.


"Kok bengong, ada apa?" tiba tiba suara Sandi membuyarkan lamunannya.


"Gak papa mas, aku cuma capek saja. Apa kita sudah bisa istirahat?" sahut Clara mencoba menutupi kegelisahan hatinya.


"Yasudah kita istirahat ke kamar, lagian juga sudah malam, wajar kalau kamu capek.


Bentar, aku mau pamit sama mama dulu!" balas Sandi dengan tersenyum menatap dalam wajah perempuan yang barus saja dia nikahi.


"Iya, Mas!" sahut Clara lirih dan memaksakan untuk tetap tersenyum dalam hati yang semakin terasa kacau oleh bayangan masa lalu.


Memikirkan tentang kehamilan Risma, membuat dada Clara terasa kian sesak, cemburu itu tetap bersarang dalam hatinya, tak terasa tetesan bening mulai jatuh berlahan membasahi pipinya.


Sandi kaget, tak mendapati istrinya di pelaminan.


"Apa Clara sudah ke kamar?" batin sandi menerka.


Dengan langkah pasti Sandi menyusul Clara me kamarnya. Benar dengan dugaannya, Clara sudah duduk di kursi meja riasnya, melepas aksesoris yang melekat di kepalanya.


Sandi menghampiri sang istri dan membantunya melepas pernak pernik yang ada di kepalanya dengan berlahan.


"Sudah selesai! mau di bantu apalagi?" Sandi menatap kagum wajah cantik sang istri melalui cermin di hadapannya.


"Sudah mas, terimakasih!" sahut Clara pelan, berusaha mati matian untuk tetap bersikap baik baik saja.


"Mas!" panggil Clara pada Sandi yang hendak ke kamar mandi.


"Iya! ada apa?" Sandi kembali menoleh menatap Clara yang tengah menatapnya gugup.


"Tadi ibu ibu yang terakhir memberi selamat siapa?


Masih keluarganya mas Sandi ya?" Clara bertanya dengan hati hati soal Bu Fatma, agar Sandi tidak curiga.


"Oh! anaknya berapa orang?" sambung Clara bertanya lagi, masih penasaran dengan nama yang sudah disebutkan Bu Fatma saat tadi di pelaminan.


"Tiga! yang pertama sedang dinas di Jakarta, yang kedua sedang hamil muda dan suaminya sedang ada tugas luar kota, dan yang ketiga masih kuliah diluar kota juga.


Nanti aku ajak berkunjung, biar kamu juga mengenal keluarga aku.


Paling ya kerumahnya Tante Fatma dulu dan kerumahnya Risma, anak Tante Fatma yang kedua. Mereka tinggal di Madiun. Suaminya Risma anggota TNI angkatan udara, namanya Pandu kalau tidak salah." Balas Sandi menjelaskan secara rinci tentang keluarganya.


Clara terdiam, ternyata dugaannya benar, Risma yang disebut adalah Risma yang sama dalam pikirannya.


"Ya Tuhan, aku berusaha untuk menghindari mas Pandu, tapi kenapa justru sekarang aku harus masuk menjadi salah satu keluarganya yang lain. Kenapa ini harus kujalani. Aku akan berusaha untuk menghindari jika ada pertemuan, agar status Dania tetap aman sampai nanti." batin Clara berbicara sendiri di dalam hatinya.


"Kenapa, lagi mikirin apa?" sambung Sandi menatap ke arah sang istri yang terlihat hanya diam melamun dengan pandangan kosong.


"Gak papa, Mas!


Aku cuma merasa minder saja, sepertinya keluarga mas Sandi orang terpandang. Aku masih belum siap jika harus berkumpul dan bertemu dengan mereka. Apalagi dalam pernikahan kita sudah ada Dania. Jujur aku merasa gak enak." sahut Clara mencoba mencari alasan yang tepat agar Sandi tidak berpikir macam macam.


"Jangan pernah merasa kecil dan minder, nanti kalau kamu sudah bertemu mereka, kamu akan tau bagaimana sikap mereka, mereka itu baik dan tidak pernah melihat orang lain dengan harta dan kedudukannya. Sudah ya, jangan mikir macam macam, aku menerima kamu apa adanya, tulus aku mencintai kamu dan juga Dania.


Aku mau mandi dulu, gerah!" sahut Sandi yang selalu menampakkan wajah teduhnya. Selalu berusaha untuk membuat Clara merasa nyaman berada di sisinya. Sandi tau, meskipun Clara memiliki kisah kelam, namun sebenarnya dia baik dan penurut.


Clara hanya diam dan tersenyum kecil ke arah Sandi yang tengah berjalan menuju kamar mandi.


"Tuhan, kuatkan hatiku. Tetap teguhkan niatku untuk tetap menjauh dan berpaling dari rasaku pada mas Pandu. Semoga aku tidak akan pernah bertemu dengan dia lagi dan biarlah Dania, hanya tau, jika ayahnya Mas Sandi." Clara benar benar ingin memperbaiki hidupnya, merubah pandangnya tentang cinta. Tak ingin lagi melakukan kesalahan yang sama, menyakiti hati wanita lain dan ingin menjadi istri yang baik, patuh dan taat pada Sandi yang mau menerima nya setulus hati.


Mengubur dalam dalam nama Pandu, meskipun cinta itu masih tetap ada, namun hanya cukup disimpan tanpa harus diutarakan.


Hidupnya sudah berubah, bukan lagi Clara yang dulu ambisi ingin memiliki cinta seperti Pandu yang sempurna, namun kenyataan telah memporak porandakan harapannya, kehadirannya telah menyakiti banyak hati, dan pada akhirnya harus kalah dengan dia yang sah Dimata hukum dan masyarakat.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)


#Coretan pena Hawa (ongoing)


#Pembalasan Istri Yang Terhina (ongoing)


#Sekar Arumi (ongoing)


#Wanita kedua (Tamat)


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️


Happy ending ❤️🔥