
"Clara gak tega sama Dania, Ma!
Kasihan Dania kalau ditinggal terlalu lama. Lagian kalau dirumah sendiri buat pengantin baru bisa bebas mau apapun." sahut Sandi sedikit berkelakar agar mamanya tidak lagi banyak bertanya.
"Yasudah kalau memang itu mau kamu!
Tapi kamu tidak sedang menyembunyikan apa apa sama mama kan?" balas Bu Yesi penuh selidik.
"Gak lah, Ma!
Aku cuma ingin merasa leluasa saja berdua sama istriku dirumah sendiri. Kalau disini sungkan ada mama dan yang lain, gak bebas!" sahut Sandi pura pura tertawa dengan alasan yang dibuatnya.
Bu Yesi tertawa dengan jawaban anak laki lakinya, namun nalurinya sebagai ibu tak bisa dibohongi. Bu Yesi tak mau memaksa dan memilih pura pura percaya dengan jawaban sang anak.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Selama di perjalanan, antara Sandi dan Clara tak ada yang mau mengawali obrolan, kaku, dingin dan memilih saling diam dengan ego masing masing.
Sandi yang bahkan tak sedikitpun menoleh ke arah Clara. Pun dengan Clara yang memilih membisu sambil menatap jalanan ke arah jendela.
Mobil Sandi memasuki pekarangan rumahnya yang lumayan luas dan asri.
Clara hanya diam mematung di dalam mobil, hatinya sudah merasakan ketidaknyamanan dengan sikap Sandi.
"Masuklah! Ini rumahku, kita akan tinggal disini, besok kita jemput Dania, gimana?" Sandi membukakan pintu buat Clara yang terlihat tak bersemangat.
"Iya! terserah kamu saja, Mas!' sahut Clara cuek dan berjalan lebih dulu di depan Sandi.
"Mas!" Clara menghentikan langkah Sandi dan memberanikan diri mendekat pada laki laki yang sudah sah jadi suaminya. Sandi menatap ke arah Clara dengan tatapan tak biasa.
"Sampai kapan kamu akan mendiamkan aku seperti ini?
Bukankah sebelum kita menikah, aku sudah jujur tentang masa laluku padamu, tentang keburukan yang pernah aku lakukan. Kenapa baru sekarang kamu mempersalahkan semua itu?" tanya Clara dengan mata yang sudah di penuhi embun.
Sandi tercekat dengan ucapan Clara. Memang Clara sudah jujur tentang semua masa lalunya yang kelam, bukan perselingkuhan dan terus berzina, menjalin hubungan sebagai istri siri dari seorang lelaki beristri. Tak masalah bagi Sandi saat tidak mengetahui orang tersebut, namun saat kebenaran terungkap dan nama Pandu yang disebut, hatinya mendadak sakit dan terluka.
Entah apa yang dipikirkan, apa yang disesali dan apa yang kini dirasakan, yang pasti hatinya masih merasakan sakit yang menyebabkan dadanya berubah sesak tiap kali mengingat tentang Risma dan luka hatinya. Karena bagaimanapun, mereka adakah saudara yang dibesarkan bersama.
"Maaf!
Beri aku waktu untuk memahami ini.
Jika laki laki itu orang lain, mungkin bagiku akan sangat mudah menerima bahkan tidak perduli.
Tapi laki laki itu, adalah suami dari Risma, perempuan yang sudah seperti adik kandung ku.
Ada rasa sakit saat aku membayangkan tangisannya, sakit hatinya.
Kamu tak sepenuhnya bersalah, Clara. Aku tau itu, karena pengkhianatan dilakukan berdua dan dinginkan oleh keduanya. Pandu juga punya andil besar dalam hal ini. Tolong, beri aku waktu untuk menata hatiku. Bersabarlah!" Sahut Sandi lemah, tau jika memang sikapnya tak seharusnya begitu pada Clara yang sudah berani jujur mengakui kesalahan dan masa lalunya.
Bagi Sandi, dia hanya butuh waktu untuk menata hatinya kembali dan berniat ingin menemui Risma dan Pandu di tempat berbeda. Berbicara dari hati ke hati.
"Baiklah! aku mengerti.
"Katakan! Semoga aku bisa memenuhinya!" Sahut Sandi tegas dengan tatapan dalam ke arah wanita yang selalu membuatnya terpesona namun sekaligus melemahkan hatinya dengan rasa sesak.
"Tolong, jangan pernah katakan apapun tentang Dania pada Mas Pandu maupun Risma.
Karena aku tidak mau, kehadiran Dania kembali menjadi duri dalam rumah tangga kita maupun rumah tangga mereka. Biarlah Dania jadi milikku seutuhnya tanpa harus Mas Pandu mengetahui." Clara menatap sendu pada Sandi yang terlihat menarik nafasnya kasar. Berusaha menyelami ketulusan yang ada di mata wanita cantik di hadapannya.
"Bagaimanapun Pandu itu ayahnya, Dania kelak juga butuh dia untuk jadi walinya saat dia menikah. Apa kamu sudah pikirkan itu baik baik, Clara?" balas Sandi mencari jawaban atas keputusan Clara yang begitu kekeuh mempertahankan keberadaan Dania.
"Sudah! Aku sudah memikirkan itu semua jauh sebelum aku mengenalmu, Mas!
Biarlah Dania hanya tau aku ibunya. Jika di ijinkan, biar cukup kamulah ayahnya. Untuk urusan nanti bagaimana saat dia dewasa, biar kita bicarakan lagi, masih jauh dan panjang perjalanan kesana.
Saat ini, aku hanya ingin menyelamatkan hati semua orang, agar tidak kembali tersakiti karena aku dan juga anakku." sahut Clara dengan suara yang bergetar. Ada perih saat mengatakan semua itu. Namun Clara sudah benar benar ingin pergi dan membuang masa lalunya bersama Pandu.
"Baiklah! aku janji akan menyembunyikan Dania dari mereka. Tapi kamu harus ingat jika suatu saat semua pasti akan terungkap!" balas Sandi menatap dalam wanita yang kini tengah menunduk menahan tangisnya.
"Iya, Mas! aku tau itu!" sahut Clara yang sudah terisak. Sekuat apapun dia berusaha, sisi lemahnya sebagai wanita tetaplah rapuh dan tak kuasa menahan laju air mata yang kian menderas.
Bukan merasa tersakiti, namun Clara selalu dibayangi penyesalan dan kebodohan yang ia lakukan dulu.
"Sudah! Istirahatlah!
Jangan terus menangisi masa lalu, cukup kamu berusaha untuk kembali menjadi pribadi yang lebih baik dan menyesali kesalahan yang pernah di perbuat. Banyak Istighfar agar hatimu selalu menemukan ketenangan.
Beri aku waktu, untuk kembali menata hati." Sandi berusaha untuk menenangkan Clara agar tidak terus menyalahkan dirinya.
Tanpa banyak membantah, Clara mengikuti langkah Sandi untuk menuju kamar yang sudah dipersiapkan untuknya. Mengistirahatkan diri dan pikirannya dari rasa yang telah begitu menyiksanya.
Masa lalu, semua orang punya masa lalu, bedanya, ada yang lurus lurus saja dan ada yang penuh dengan duri. Sebagai makhluk yang sama sama lemah, kita tak harus menghakimi setiap kesalahan yang diperbuat seseorang, asal orang tersebut mau memperbaiki dan benar benar ingin berbenah menjadi pribadi yang lebih baik, dengan menjadikan masa lalunya sebagai ujian.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Pembalasan Istri Yang Terhina (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
Happy ending ❤️🔥