Cinta Suamiku Untuk Wanita Lain

Cinta Suamiku Untuk Wanita Lain
pertemuan dua sahabat


"Risma sehat, nak?


Sudah berapa bulan kandungannya, sehat sehat ya sayang." Bu Sonia menggenggam jemari menantunya penuh dengan kasih sayang. Merasa bahagia, anak lelakinya memiliki istri yang begitu santun dan lembut dan juga memiliki hati yang baik dan pemikiran yang luas. Pandu berada di sisi yang tepat dalam menuju arah yang lebih baik.


Bu Sonia selalu menatap bangga pada menantunya itu.


Bahagia itu letaknya ada di dalam hati dan gak perlu dicari.


Selama bisa ridha dengan segala ketetapan Alloh, maka disanalah akan mendapatkan kebahagiaan.


Dan itulah makna sedalam dalamnya tentang keikhlasan.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Selama dua hari Pandu dan keluarga kecilnya menghabiskan waktu bersama mama juga keluarga kakaknya, Permadi.


Permadi senang, karena akhirnya rumah tangga adiknya kembali baik baik saja. Dan Pandu mampu merubah sikap dan pikirannya dari kesalahannya.


"Aku bangga sama kamu, Pandu!


Aku kira aku akan kehilangan adikku waktu itu, kalau kamu memilih perempuan selingkuhan kamu dan mengabaikan istri juga anak anakmu. Seumur hidup, aku tak pernah Sudi mengenalmu lagi.


Tapi ternyata kamu memilih pilihan yang tepat. Itu baru namanya laki laki, aku ikut senang melihatmu bahagia dengan istri dan anak anakmu. Tetaplah pertahankan sikapmu itu." Permadi mengungkapkan isi hatinya pada sang adik yang terlihat mencebik kesal.


"Kamu ini, Mas!


Masak gak mau anggap aku adik lagi, apa gak nyesel kalau kehilanganku?" sahut Pandu dengan wajah tak suka karena ucapan kakaknya, tapi hanya untuk menggoda sang kakak, ingin tau reaksi Permadi.


"Buat apa punya adik kalau sikapnya kayak banci, ogah, Ndu!" sahut Permadi dengan tawa renyahnya.


"Sembarangan kamu, Mas!


Aku masih laki laki maco. Masak keren begini dibilang banci. Sialan!" Pandu mencebik kesal pada Permadi yang justru semakin tergelak.


Mereka adalah saudara kandung yang begitu dekat dan sama sama sangat menyayangi satu sama lain, memiliki sifat berbeda, tapi punya ketegasan yang hampir sama.


"Lagi ngomongin apa, kok seru begitu ketawanya?" Bu Sonia ikut bergabung dengan kedua anak lelakinya yang sedang asik tertawa sambil duduk di teras belakang.


Sedangkan Risma dan anak anak Serta istri Permadi juga tengah asik ngobrol di ruang tengah yang memiliki ruangan luas, membuat anak anak bebas bermain dengan polah yang menggemaskan.


"Ini loh, Ma!


Masak mas Permadi bilang aku ini banci, nyebelin banget tuh!" lapor Pandu pada mamanya yang justru ketawa mendengar aduannya dan semakin membuat Permadi senang menggoda adiknya.


"Mama aja setuju kok, Iya kan ma?" sahut Permadi dengan senyuman mengembang.


"Eeh, aku gak tau kalian bicara soal apa loh ini.


Kenapa sampai kamu katain adikmu banci segala?


Mama kok jadi penasaran!" sahut Bu Sonia menatap lembut kepada dua anak lelakinya yang sama sama tampan dan gagah, bahkan keduanya hidup mapan dan sukses dalam karirnya.


"Kalau Pandu, lebih memilih perempuan selingkuhannya waktu itu, ya berarti dia laki laki banci yang tidak bisa menilai Perempuan, mana batu kali dan mana permata. Buktinya, meskipun Risma sudah disakiti bertahun tahun dan puncaknya adalah dengan Pandu yang selingkuh, dia tetap memilih bertahan dengan sikap tegasnya, bahkan kini sudah menerima dan memaafkan Pandu, demi menjaga kehormatan keluarga dan kebaikan untuk semuanya." Permadi menjelaskan pikirannya kepada sang ibu yang mengangguk setuju.


"Untuk itu, jangan pernah kamu ulangi lagi kesalahan yang sama, jaga hati istri dan anak anak kamu. Mama percaya, anak mama bukanlah laki laki pengecut, kalian luar biasa dan akan bisa menjaga kehormatan keluarga. Jangan pernah tergoda oleh iming iming perempuan diluar sana, istri dirumah jauh lebih indah dan pantas untuk dicintai, ingat itu selalu. Seperti papa yang begitu mencinta mama sampai akhir hayatnya. Kalian juga harus begitu." Bu Sonia menatap lekat pada kedua anaknya, dan tersenyum lembut pada akhirnya.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Sedangkan di Surabaya, Erna tengah melakukan pemotretan dengan pakaian sangat minim dengan pose yang begitu menantang, tidak ada lagi perasaan risih dan malu bagi Erna. Justru itu adalah sebuah kebanggaan, semakin mahal dia di bayar, semakin angkuh dia dalam bersikap.


Namun Erna masih belum tertarik, masih merasa puas dengan pencapaian yang didapat sebagai modal. Sehingga tidak tergiur dengan iming iming para pria hidung belang.


Setelah selesai mengadakan pemotretan, Erna langsung bersiap untuk meluncur kerumah Clara. Berbekal alamat yang dikirim Clara melalui map.


Erna membelikan Clara hadiah tas mewah, otaknya masih teringat bagaimana dulu Clara yang mau menerimanya meskipun teman yang lain selalu menjauhi Erna gendut yang selalu jadi olokan.


"Clara, seperti apa kamu sekarang?


Terimakasih, sudah jadi teman terbaikku saat tidak ada yang mau berteman denganku. Semoga saat ini hidupmu bahagia!" gumam Erna dalam hatinya. Menatap tas yang baru saja dibelinya sebagai hadiah untuk Clara, sahabat yang tak pernah bisa dilupakan kebaikannya oleh Erna.


Dengan mengendarai mobil jazz merah, Erna menyusuri padatnya jalan Surabaya, menuju perumahan elit tempat Clara tinggal.


"Ini perumahan elit, pasti suami Clara bukan orang sembarangan. Kamu sangat beruntung Clara, semoga aku juga punya keberuntungan yang sama nantinya." Erna bergumam lirih sambil matanya fokus menatap ke depan dengan senyuman tipis terukir di bibirnya yang indah.


Erna terpaku, menatap rumah mewah yang ada di didepannya, turun dari mobilnya menuju pos satpam dan bertanya apakah benar alamat yang dituju rumahnya Clara, sahabat kecilnya.


"Oh iya mbak, benar! ini rumah Bu Clara sama pak Sandi. Ini dengan mbak siapa? biar saya sampaikan pada Bu Clara!" sambut satpam dengan sangat ramah.


"Bilang saja Erna, pak. Nanti Bu Clara pasti paham!" sahut Erna dengan muka judesnya namun masih terlihat tetap cantik untuk laki laki yang kagum dengan wanita seksi.


"Baik mbak, ditunggu sebentar ya!" sahut penjaga yang langsung menghubungi Clara dengan telepon, tersambung langsung di ruang tamu dan diangkat sendiri oleh clara yang memang sudah menunggu kedatangan Erna.


"Suruh masuk saja, Pak!


Dia teman saya!" jawab Clara yang meminta penjaganya untuk mempersilahkan Erna masuk ke dalam rumah.


Clara maupun Erna sudah tak sabar untuk bertatap muka, jerit bahagia dan saling peluk membuat mereka hanyut dalam kisah masa lalu, rindu dan saling melempar bahagia mewarnai pertemuan mereka setelah bertahun tahun tidak bertemu.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)


#Coretan pena Hawa (ongoing)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)


#Sekar Arumi (ongoing)


#Wanita kedua (Tamat)


New karya Hawa


#Negeri dongeng Alisia


#Kasih sayang yang salah


#Cinta berbalut Nafsu


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️


Happy ending ❤️