
"Aku tunggu kamu dirumah mama, pulang sekarang! kita harus bicara!" sambung Permadi dengan sikap tegasnya dan Pandu tidak bisa membantahnya, karena sangat paham siapa kakak laki lakinya itu. Meskipun bukan aparat, tapi Permadi adalah pebisnis yang sukses dan sangat disegani dikalangan pejabat. Memiliki sifat keras dan tegas, juga sangat menyayangi ibunya.
"Risma, kita pulang!" ajak Permadi dengan wajah datarnya dan langsung melangkah keluar tanpa menunggu jawaban dari adik iparnya itu.
Risma tanpa berpikir dua kali, mengikuti langkah kakak iparnya melangkah keluar meninggalkan rumah dimana suaminya sedang memadu kasih dengan wanita lain.
"Kenapa harus rumit begini!
Argh!" Pandu mengacak rambutnya frustasi, menatap kepergian istri dan kakaknya.
Meninggalkan beban yang begitu berat dengan apa yang harus dia putuskan nanti, pasti dirumah ibunya sudah menunggu, belum lagi harus menghadapi kemarahan kakak laki lakinya yang tadi sudah terlihat emosi.
"Mas!
Maafkan aku ya, gara gara aku kamu harus mengalami ini." Clara mendekat, menyentuh dada suaminya dan menyenderkan kepalanya di dada bidang milik Pandu.
Pandu memilih bergeming, pikirannya sudah kacau dengan segala kemungkinan yang akan terjadi.
"Aku mau mandi dulu, setelah itu akan pulang kerumah mama, aku harus menyelesaikan semua masalah kita." sahut Pandu datar dan melepaskan diri dari pelukan Clara, melangkah gontai menuju kamar mandi.
Clara hanya bisa menatap pedih punggung suaminya, tak ada yang bisa dia lakukan selain berharap pada Pandu agar bisa adil dalam memberi nafkah dan berlaku adil dengan sikapnya terhadap Risma dan dirinya.
Setelah selesai membersihkan diri, Pandu mengganti pakaiannya dengan celana jins dan kaos pendek warna hitam yang membuat dia kelihatan tampan dan gagah.
"Aku akan kerumah mama, kamu kunci pintunya.
Mungkin aku tidak kembali malam ini, tapi besok pagi aku akan menemui kamu.
Aku harap kamu bisa mengerti situasi ini." Pandu menatap Clara yang tengah duduk di atas sofa empuk yang ada diruang tamu dengan tatapan khawatir.
"Mas!"
Clara berdiri menghampiri Pandu yang sudah bersiap akan pergi.
"Ada apa?" sahut Pandu lembut, dengan hati yang tak baik baik saja, tidak tega melihat istri keduanya terluka.
"Kalau istri kamu mengambil seluruh harta kamu. Apa kamu akan memberikannya, maaf kalau aku sudah lancang menanyakan ini. Karena aku juga berhak untuk kamu nafkahi, aku juga istri kamu, Mas!" Ucap Clara menahan tangis, jika Pandu mengabulkan keinginan Risma, pasti Pandu tidak akan bisa apa apa, dan itu artinya Clara tidak akan mendapatkan jatah nafkah yang layak, karena seluruh pemasukan masuk semua ke dalam rekening istri pertamanya Pandu. Dan itu sungguh tidak adil, itulah yang kini ada dalam pikiran Clara.
"Aku tidak tau, tapi aku akan berusaha untuk mencari jalan tengah, karena seluruh gaji pokok dan tunjangan sudah di alihkan ke rekening Risma.
Jika Risma tetap menuntut untuk membawa masalah ini ke kantor, aku juga tidak bisa apa apa, karena akibatnya akan sangat fatal. Selain menghancurkan karirku, juga akan menghancurkan hati orang tuaku dan itu pasti akan membuat kakakku murka.
Jujur, saat ini kepala ku sudah mau pecah, aku tidak menyangka Risma akan berbuat nekad seperti ini." Sahut Pandu frustasi.
"Aku ijin kerja lagi ya, Mas! Karena tidak mungkin aku mengandalkan kamu, sedangkan peluang itu sangat tipis bagimu. Aku tau, kamu pasti akan memilih mempertahankan karir kamu, dan memberikan seluruh harta kamu atas nama Risma dan anak anak kamu, lalu aku?" Balas Clara yang mulai menangis merasakan nyeri di hatinya.
Pandu meraih Clara dalam pelukannya, tak tega melihat yang dicinta berduka, sedih dengan dirinya yang tak bisa beri bahagia. Baru dinikahi tapi sudah harus melewati masalah yang rumit dan pahit.
Aku janji, aku akan tetap berusaha untuk bertanggung jawab padamu, kamu istriku, kamu tanggung jawabnya aku, kamu yang tenang ya, kamu percaya sama aku kan?" sahut Pandu meyakinkan istri keduanya dan yakin kalau bisa membuat Risma mengerti dan mendengarkan maunya.
"Iya, Mas!
Aku percaya sama kamu kok!
Maafkan aku ya, sudah menambah beban kamu." balas Clara terisak dan memeluk pinggang Pandu erat.
"Jangan bilang aneh aneh Clara, aku cinta sama kamu, kamu istriku, kamu bukan beban buat aku. Sudah jangan mikir macam macam. Doakan aku bisa menyelesaikan ini dengan baik dan agar adil buat kamu dan Risma." Balas Pandu menatap wajah sembab istri keduanya.
"Aku sayang kamu, Mas!
Aku cinta sama kamu, aku takut kamu ninggalin aku!" Balas Clara membalas tatapan Pandu dengan penuh pengharapan.
"Jika aku tidak punya apa apa, dan kita hidup sederhana, apa kamu masih mau jadi istriku, Clara?" Pandu melontarkan kalimat yang tak pernah Clara duga, kalimat yang membuatnya langsung merasakan sesak di dadanya.
"Kenapa kamu ngomong begitu, Mas?
Bukankah kamu punya gaji yang cukup besar, dan bisnis yang lumayan banyak. Apa kamu mau menyerahkan semua itu sama istri pertama kamu, tanpa menyisakan untukku yang hanya istri siri kamu?
Tega kamu, Mas!" Clara langsung melepaskan diri dari pelukan Pandu, wajahnya memerah menahan kesal.
"Itu bisa saja terjadi saat ini, Clara!
Kamu tau kan aku ini siapa, tak mudah menghadapi aturan kantor, di sini posisiku yang salah, aku tidak bisa mengelak apalagi melawan.
Kita harus tanggung konsekuensinya atas perbuatan kita ini." Sahut Pandu tegas dan menatap dalam sang istri yang terlihat memalingkan wajahnya kesal.
"Terserah kamu, Mas! Aku juga bisa apa, aku terlanjur mencintai kamu, dan aku juga tak bisa hidup tanpa kamu. Ijinkan aku bekerja, agar aku tetap bisa memenuhi kebutuhanku sendiri." Sahut Clara ketus dan membuat Pandu menggelengkan kepalanya.
"Sudahlah, percaya sama aku. Aku janji tidak akan membuat hidup kamu kekurangan, aku tau apa yang harus aku lakukan. Kamu yang tenang, kamu sabar. Aku janji akan buat kamu bahagia dan memenuhi kebutuhan kamu. Percaya sama aku." Balas Pandu dengan sedikit mengeraskan suaranya, kesal karena Clara terus meminta untuk kembali bekerja, seolah dirinya sudah tidak sanggup mencukupinya.
"Baiklah, tapi kamu janji gak akan ninggalin aku apapun yang terjadi, aku cinta kamu tulus. Aku iklas kalau harus mengalah dengan istri kamu yang serakah itu!" sungut Clara kesal mengingat sikap Risma yang begitu sombong dihadapannya.
"Clara, stop!
Jangan bicara kasar tentang Risma. Dia begitu karena dia merasa kita mengkhianatinya. Dia perempuan baik dan istri yang lembut selama ini, perubahan sikapnya karena aku sudah banyak melukai hatinya. Jadi tolong, jangan bicara kasar, aku gak suka itu!" Balas Pandu sedikit keras, karena bagaimanapun Risma istri yang baik untuknya selama ini. Ada rasa tak rela jika ada yang menjelekkan di depannya.
"Kamu membelanya, Mas?
Jahat kamu!" Clara lari kedalam kamar setelah mengucapkan rasa kecewanya karena Pandu membela istri pertamanya. Menutup pintu dengan keras dan terisak di dalam sana.
Pandu hanya bisa membuang nafasnya kasar dan memilih melangkah pergi kerumah mamanya.
Tak perduli dengan Clara yang merasa terluka dengan sikapnya.