Cinta Suamiku Untuk Wanita Lain

Cinta Suamiku Untuk Wanita Lain
melemaskan otot-otot yang tegang dengan air


"Iya, Mas! Insyaallah aku paham dengan maksud kamu. Aku juga akan berusaha untuk menjadi istri yang baik untuk kamu. Untuk mas Pandu, Insyaallah aku pun sudah mengubur kenangan buruk diantara kita, yang tersisa hanyalah penyesalan dan rasa bersalahku pada Risma.


Sandi tersenyum dan menganggukkan kepalanya, mencoba percaya dan berusaha memupuk rasa yang dulu begitu membara pada wanita yang kini tengah duduk dihadapannya dengan rambut yang digerai begitu indahnya.


Sebagai lelaki normal, tentu Sandi memiliki syahwat yang mengusik kenyamanannya tatkala melihat leher jenjang sang istri. Namun dengan sekuat tenaga Sandi ingin menahannya, ingin mencari jawaban dan mendamaikan hatinya terlebih dahulu dengan berbicara pada Pandu maupun Risma.


Sandi bukan tipe lelaki yang mudah mengumbar syahwat, meskipun terlahir dari keluarga kaya dan memiliki kesempatan untuk bersenang senang dengan wanita manapun yang dia mau karena uangnya bisa membuat semua wanita bertekuk lutut padanya. Namun Sandi tidak pernah mau melakukan itu semua, justru Sandi memilih hidup sederhana dan tak memperlihatkan siapa dirinya yang sebenarnya. Memilih bekerja di perusahan keluarga dengan menjadi karyawan biasa. Hingga hatinya terpaut pada seorang Clara Prameswari, namun bukan bahagia yang langsung di dapatnya, kenyataan dengan persoalan yang rumit justru menyapa awal rumah tangganya.


Sandi bukan menyesali pernikahannya, namun hanya ingin memastikan perempuan yang kini menjadi istrinya tak lagi menyimpan masa lalu di hatinya dengan masih mencintai Pandu, suami dari saudarinya yang sudah ia anggap sebagai adik kandungnya. Ingin benar benar tau seberapa besar Clara ingin membuang dan berbenah diri dari masa lalunya itu.


Meskipun ada kecewa, namun Sandi tak serta Merta menghakimi istrinya dengan kesalahan masa lalunya. Karena Sandi tau, mati, jodoh dan rejeki Alloh lah yang sudah mengaturnya. Sandi hanya ingin meyakinkan diri dengan keputusan yang sudah diambilnya. Menjadikan rumah tangganya benar benar aman dari salah paham jika nanti, Clara bertemu dengan Pandu dan Risma.


Kalaupun mereka harus bertemu, biarlah itu hanya menjadi kisah masa lalu dan tak lagi menjadi bahasan dalam kisah rumah tangga masing masing antara rumah tangganya dan rumah tangga Risma dengan Pandu.


"Mas! kamu gak papa?


Kenapa dari tadi diem saja?" Clara menepuk pundak suaminya pelan, sedari tadi Sandi hanya terlihat diam dengan pandangan kosong meskipun tangannya tengah memegang mainan yang diarahkan pada Dania.


Sandi yang tengah melamun dengan pikirannya sendiri, sedikit terlonjak dengan tepukan ringan sang istri.


"Oh maaf! aku gak papa, hanya lagi mikirin gimana besok aku memulai obrolan dengan Risma. Karena aku takut, kalau Risma masih terluka saat membahas tentang kamu." Sahut Sandi sambil tersenyum dengan mata kembali fokus pada Dania yang tengah memainkan jari jari tangannya.


Clara mengambil nafasnya dalam, bisa merasakan rasa sakit yang ada di hati Risma sebab kehadirannya dalam rumah tangganya dulu.


"Aku tau, Mas! Ini memang sangat berat untuk kami, apalagi untuk Risma. Aku serahkan semua sama Mas Sandi untuk menyelesaikan masalah ini. Dan aku sudah tidak lagi berharap apapun soal Mas Pandu. Duniaku saat ini hanyalah Dania dan kamu. Karena kamu suamiku, hati dan harga dirimu yang akan aku jaga. Percayalah jika aku sedang berusaha untuk mencintai kamu dan mulai merasakan rasa nyaman saat bersama kamu." sahut Clara bicara jujur mengutarakan isi hatinya untuk meyakinkan Sandi agar tak lagi ragu dalam mengambil keputusan.


"Terimakasih, maafkan aku yang masih ada rasa ragu dan ingin semuanya clear dulu. Itu aku lakukan agar aku tidak menyakiti kamu nantinya.


Soal Dania, aku punya ide, agar Pandu maupun Risma tak curiga." balas Sandi serius dengan menatap dalam pada Clara yang terlihat bersungguh sungguh dengan ucapannya.


"Rencana apa, Mas?


asal tidak membuatku jauh dari Dania aku ikut dan setuju saja!" balas Clara yang langsung mengubah posisi duduknya agar bisa langsung berhadapan dengan sang suami.


"Begini, sekarang kan usia Dania sudah tiga bulan lebih dan hampir empat bulan, sedangkan pernikahan kita baru beberapa hari. Dan selama ini keluarga aku tidak ada yang tau tentang kehadiran Dania, kecuali keluarga inti seperti mama, papa dan adikku. Jadi aku mikirnya, lebih baik kita jangan berinteraksi dulu atau jangan berbaur dulu dengan keluargaku yang lain, setidaknya sampai usia pernikahan kita menginjak setahun lebih, setelah itu baru kita muncul dengan membawa Dania. Agar mereka pahamnya Dania putriku.


Gimana, apa kamu keberatan?


Maaf kalau kamu tersinggung dengan ideku ini." sahut Sandi mengutarakan idenya dan membuat Clara langsung berpikir dan pada akhirnya menyetujui, dan tak keberatan sama sekali.


"Tapi apa kamu gak keberatan Mas, kalau aku gak hamil anak kamu?" Clara dengan menekan rasa malu bertanya pada Sandi yang langsung mendongak menatap lekat wajah Clara yang terlihat memerah.


"Demi kebaikan untuk semua orang, aku iklas. Toh kita masih bisa punya anak setelah berjalan setahun lebih dari pernikahan kita. Kita nikmati saja dulu hubungan ini dengan saling mengenal karakter kita masing masing, saling berusaha memahami dan menjaga hati kita masing masing, anggap saja kita pacaran secara halal." sahut Sandi yang menahan gejolak aneh di dadanya, rasa itu seolah kian mendesak untuk dituntaskan, apalagi saat matanya melihat Clara yang tengah menggigit bibirnya. Nampak begitu seksi dan menggoda jiwa kelakian nya.


"Iya, Mas!" sahut Clara yang masih tetap bersikap tenang karena tidak menyadari Sandi yang tengah tersiksa oleh syahwatnya.


Clara yang kembali fokus pada Dania dan menemaninya bermain dengan selalu mengajaknya berbicara apapun.


"Ya Tuhan, kenapa rasanya harus seperti ini, ini menyiksa banget. Aku tau kamu halal melakukannya, tapi aku juga gak mau egois dan terlihat gegabah, karena akupun juga gak ingin menyakiti hati banyak pihak, kuatkan aku ya Tuhan hingga aku mampu menyelesaikan semua ini agar tidak ada kesalahpahaman nantinya." Sandi bergumam lirih dengan menyandarkan tubuhnya pada tembok kamar mandi, mulai melepas satu persatu pakaiannya, dan nampak ada yang ingin segera dituntaskan, namun Sandi memilih mengguyurnya dengan air dingin untuk melemaskan otot ototnya yang menegang.


Melepaskan dan dilepaskan...sama sama butuh keikhlasan.


Melepaskan berarti iklas menerima yang lebih baik.


Dilepaskan berarti iklas diberi yang lebih baik.


Jangan bertanya mana yang lebih berat..


Sebab dua hal ini sama beratnya juga sama ringannya.


Karena yang kelihatan rumit, nyatanya begitu sederhana. Jika dilalui dengan tawakal.


Sabar Sandi sabar.....


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)


#Coretan pena Hawa (ongoing)


#Pembalasan Istri Yang Terhina (ongoing)


#Sekar Arumi (ongoing)


#Wanita kedua (Tamat)


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️


Happy ending ❤️🔥