Cinta Suamiku Untuk Wanita Lain

Cinta Suamiku Untuk Wanita Lain
Pandu ketemu lawannya


"Mbak Romlah lagi goreng apa?" Pandu mengalihkan pandangannya ke mbak Romlah yang masih sibuk di depan kompor.


"Goreng ayam sama telor, Pak! Buat anak anak!" sahut mbak Romlah sopan, dan Pandu hanya mengangguk lalu menikmati makanan di dalam piringnya dengan sangat lahap.


"Aku kalau makan urap gini, keinget sama almarhum papa, beliau suka banget dengan urap urap dan kami selalu berebut untuk menghabiskannya. Sekarang aku tidak punya teman berebut, anak anak belum ada yang doyan pedas." Pandu teringat almarhum papanya, dan menatap urap urap yang ada di piringnya dengan senyuman tipis.


"Galang suka kok sama urap urap, pasti nanti pulang sekolah langsung minta makan kalau dibilang mama masak urap urap." sahut Risma sambil menggenggam hari jari tangan suaminya.


"Iyakah?


Apa aku yang terlalu sibuk, sampai gak tau kalau jagoanku juga ikut apa yang jadi kesukaan papanya." balas Pandu dengan tatapan berbinar ke arah istrinya, mengecup punggung tangan Risma penuh cinta.


"Kamu sibuk, kan juga buat kita semua, kamu pahlawan kami, Pa!


Kami semua, aku dan anak anak sangat menyayangi kamu. Terimakasih sudah banyak berkorban untuk membahagiakan kami!" Risma meletakkan kepalanya di pundak Pandu. Saling memuji dan saling mengungkapkan rasa terimakasih dengan peran masing masing. Cinta yang semakin dalam, kasih sayang yang tak pernah hilang membuat mereka semakin dewasa dalam menyikapi persoalan yang ada. Karena mereka selalu menjadikan kesalahan masa lalu sebagai pelajaran dan penyesalan yang tidak harus diulangi.


"Pa!" Risma mengangkat kepalanya menatap dalam ke arah Pandu.


"Aku dengar dari budhe Rosa, Kalau Clara selalu keguguran tiap kali hamil. Dan ini kehamilannya yang ke tiga, katanya kondisinya sangat lemah, sampai harus istirahat total. Aku merasa kasihan, pasti mereka sangat sedih." Risma menatap manik suaminya, mencari rasa yang dulu pernah tumbuh untuk istri sepupunya, namun kini sudah tidak lagi Risma temukan, bahkan Pandu terlihat biasa saja.


"Kenapa kamu bahas Clara denganku, Ma?


Tolong jangan sakiti hatimu sendiri dengan pikiranmu itu." balas Pandu tersenyum dan mengusap lembut pipi sang istri yang langsung menunduk dalam.


Risma menarik nafasnya dalam, dan memejamkan matanya sebelum membalas ucapan suaminya.


"Aku tidak bermaksud apa apa, Pa!


Aku hanya merasa kasihan dengan Sandi pun dengan Clara.


Aku tau, Clara pernah menyakitiku dengan menjalin hubungan dengan suamiku, tapi itu juga bukan murni kesalahannya, karena kamu pun juga bersalah waktu itu. Tapi kalian sudah sama sama berubah dan mengakhiri semuanya.


Bahkan Clara juga tak lagi sekalipun memasuki kehidupan rumah tangga kita lagi. Dia sangat menjaga perasaan semua orang, pun dengan kamu.


Aku sudah memaafkan dia, dan menerima kamu lagi seutuhnya.


Kadang aku berpikir, jika tidak ada salahnya aku menemuinya dan kita saling memaafkan serta menjalin hubungan sebagai sesama keluarga." balas Risma panjang lebar, membuat Pandu memejamkan matanya cemas. Takut jika pertemuan Risma dan Clara hanya akan menghadirkan luka lama di hati istrinya, Pandu tidak mau itu terjadi, karena itulah Pandu selalu menghindari pertemuan keluarga yang didalamnya di hadiri Clara.


"Sayang!


Aku bukan ingin melarang mu bersilaturahmi, aku sangat paham dengan maksudmu.


Tapi aku gak ingin, karena itu akan membuka luka lama dan membuatmu kembali tersiksa, dan itu akan berimbas dengan rumah tangga kita. Ayolah, biarkan Sandi dan Clara menyelesaikan masalah mereka sendiri. Kita cukup mendoakan yang terbaik untuk mereka!" sahut Pandu tegas dengan menatap dalam mata istrinya yang terlihat mengangguk dan tersenyum patuh dengan ucapan suaminya.


Pandu meraih Risma dalam dekapannya, ingin menunjukkan betapa Pandu sangat menyayangi, takut kehilangan cinta dan kepercayaannya lagi. Pandu hanya ingin hidup tenang tanpa lagi dibayangi luka masa lalu. Bukannya tak punya hati dengan apa yang menimpa Clara dan Sandi, Pandu juga punya rasa kasihan dan ikut simpati. Tapi tidak dengan harus datang menemui mereka, semua dilakukan untuk menjaga hati semua orang, terutama hati sang istri, wanita yang sudah begitu dia cintai. Cukup dengan mendoakan.


"Asalamualaikum." teriak Galang yang terdengar berlarian memasuki rumah.


"Itu jagoanmu pulang, Pa!" bisik Risma dengan terkekeh.


"Wah, papa sama mama mesra mesraan, cie!


Ada mbak Romlah loh, apa gak malu?" tunjuk Galang dengan gaya sok imutnya, membuat Pandu juga Risma tertawa dan mereka lupa kalau di dapur masih ada mbak Romlah yang sedang menyiapkan makan siang untuk anak anak. Tapi mbak Romlah cukup paham dengan majikannya, sehingga saat mendengar mereka bicara serius, mbak Romlah pergi ke halaman belakang, bersih bersih disana, dan masuk kembali setelah mendengar deru mesin mobil berhenti, menandakan kepulangan Galang dari sekolah.


"Kan papa sayang sama mama.


Mama juga sayang sama papa kan, ma?" sahut Pandu dengan menatap Risma yang menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Ah mama malu!


Aku lapar, mama masak apa?" Galang melongok ke atas meja makan dan melihat urap urap, tangannya langsung mencomot dan memakannya.


"Cuci tangan dulu sayang, ganti baju seragamnya, baru makan ya!


"Siap papa, tapi jangan di habisin urapnya, Galang mau yang banyak!" teriak Galang yang berlari ke kamarnya untuk berganti pakaian.


Pandu dan Risma tertawa dengan tingkah heboh anaknya yang memang aktif dari kecil.


"Sudah boleh makan kan?


Galang sudah ganti baju dan cuci tangan!" Galang langsung duduk dan mengambil piring. Risma dengan cekatan mengambil nasi ke piring anaknya dan mendekatkan urap urap yang ditaruh di mangkok ke dekat Galang.


"Mau ayam gorengnya, nak?" Risma mengambilkan ayam goreng ke piring Galang.


Tanpa menjawab Galang langsung memakannya dengan sangat lahap, bahkan menghabiskan urap urap yang ada di mangkok, membuat Pandu melongo melihat cara makan jagoannya.


"Wah jagoan papa, hebat ya makannya!


Pantesan gemuk dan sehat." Pandu tak berkedip melihat Galang yang sedang makan, karena jarang dirumah dan jarang melihat Galang sedang makan, membuatnya heran sekaligus senang, Galang memiliki nafsu makan yang luar biasa banyak menurutnya. Risma hanya tersenyum melihat ekspresi suaminya yang terheran.


"Biasa saja mas, lihatnya!" seru Risma menahan tawa melihat suaminya yang melongo melihat Galang makan.


"Iya nih, papa!


Kayak gak pernah lihat orang makan saja!" sahut Galang ikut menimpali dengan gaya cueknya.


"Papa cuma kaget saja nak!


Anak papa gak cuma jagoan, tapi juga hebat makannya.


Mulai besok Galang harus ikut lari sama papa ya, biar Galang sehat dan kuat." sahut Pandu dan meminta anaknya mulai ikut olah raga lari agar tidak menumpuk lemak, karena Galang memiliki nafsu makan yang tidak biasa, dan tubuhnya juga gemuk.


"Siap papa, tenang saja, Galang akan jadi jagoan yang hebat kayak papa. Besok kita balapan, Galang pasti menang kok!" sahut Galang dengan lancarnya, Risma mengulum senyum dengan jawaban anak laki lakinya yang memang punya sifat cuek, mirip papanya.


"Papa ketemu lawannya sekarang." celetuk Risma sambil meringis dan Pandu hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)


#Coretan pena Hawa (ongoing)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)


#Sekar Arumi (ongoing)


#Wanita kedua (Tamat)


New karya Hawa


#Negeri dongeng Alisia


#Kasih sayang yang salah


#Cinta berbalut Nafsu


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️


Happy ending ❤️