Cinta Suamiku Untuk Wanita Lain

Cinta Suamiku Untuk Wanita Lain
gelisah


"Apa ini ya Alloh?" Pandu meremas rambutnya frustasi, karena sungguh jika di dalam hatinya sedang merasakan tidak baik baik saja tapi tidak mengerti apa itu.


Pandu bangkit dari duduknya, dan pergi ke kamar anak perempuan nya, berbaring disamping Cinta dan berusaha memejamkan mata. Karena Pandu tau kalau Risma juga tengah tertidur bersama dua jagoan nya.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Pagi pagi sekali Sandi sudah bersiap siap akan pergi ke Madiun untuk menemui Pandu.


Namun sebelum berangkat ke Madiun, Sandi terlebih dahulu menemui anaknya di ruangan kusus bayi, meskipun belum bisa menyentuhnya, tapi dengan melihatnya saja, sudah cukup untuk Sandi. Bayinya masih harus menjalani perawatan khusus untuk menguatkan jantungnya, Sandi terus membisikkan doa kebaikan dan berharap kesembuhan untuk bayinya.


Setelah itu Sandi menemui Clara diruangan ICU dengan memakai pakaian khusus.


Sandi mengatakan niatnya jika ingin menemui Pandu dan mengatakan kebenaran tentang Dania. Sandi juga mengatakan jika itu demi kebaikan untuk semuanya. Meminta Clara untuk tetap bertahan dan kuat.


"Aku pergi dulu, Ra!


Bukalah matamu dan cepatlah sehat, lihat anak kita, dia butuh kamu, pun dengan diriku, juga inginkan kamu mendampingiku menjaga anak anak kita.


Meskipun pada akhirnya Pandu harus tau, tapi percayalah, Dania itu tetap putriku, anak kita.


Tidak ada yang akan berubah, Dania akan tetap bersama kita dan milik kita. Percayalah!" Sandi mengusap lembut pucuk kepala istrinya, lalu menciumnya dalam.


"Aku pergi, kamu berjuanglah untuk kembali membuka matamu. Kita akan hadapi dunia bersama sama, aku janji akan terus mencintai dan menerima kamu di hidupku." Sandi melangkahkan kakinya keluar ruangan. Tanpa Sandi sadari jari tangan Clara bergerak pekan, dan di sudut matanya meneteskan air mata.


"Ma! Pa!


Sandi berangkat dulu ya, titip Clara dan jagoan.


Kalau ada apa apa segera hubungi Sandi." Sandi berpamitan dengan kedua orang tuanya.


Bu Rosa memeluk anak laki lakinya erat, dan membisikkan semangat serta doanya sebagai orang tua. Pun dengan Papanya, meskipun banyak memilih diam, namun doanya juga tak pernah putus untuk anaknya.


Sandi melangkah meninggalkan rumah sakit dengan perasaan yakin, jika ini adalah keputusan yang benar, memberitahu kebenaran tentang Dania pada Pandu, semoga bisa mengurangi beban pikiran istrinya yang terus di hantui perasaan bersalah dan berdosanya.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Sedangkan Pandu melalui malamnya tanpa bisa tidur nyenyak, bahkan saat lagi Pandu juga terlihat seperti orang bingung.


Selalu berperang dengan pikirannya sendiri, terus menerka apa yang sedang terjadi, sampai Sandi mengajaknya bertemu tanpa sepengetahuan istrinya.


"Pa!


Kok aku perhatikan sedari tadi kamu kayak melamun gitu, ada masalah?" tegur Risma saat melihat Pandu termenung dan tak menyentuh makanannya.


"Iya, Ma!


Lagu banyak kerjaan di kantor dan sedikit masalah.


Tapi kamu gak usah khawatir, hanya masalah pekerjaan kok!" sahut Pandu berusaha bersikap tenang.


"Kamu yakin, cuma masalah pekerjaan?" balas Risma penuh dengan selidik, dan matanya lekat menatap suaminya yang langsung menundukkan wajahnya, menyembunyikan kegelisahan yang terus mengusik hatinya.


Pandu menghembuskan nafasnya kasar. Membalas tatapan istrinya dengan senyuman. Senyuman yang ia ukir dibibirnya setulus mungkin.


"Iya, sangat yakin.


Kamu gak usah khawatir, doakan saja semua bisa teratasi." sahut Pandu tenang dan mengontrol gejolak di dalam hatinya. Lalu mulai menyendok makanan yang ada di piringnya dengan lahap seperti biasanya.


"Yasudah kalau memang gak ada masalah yang serius, karena aku akhir akhir ini melihatmu sering melamun dan gak fokus.


"Iya sayang, selama aku bisa hadapi dan menyelesaikan sendiri, insyaallah semua pasti masih aman. Kamu tenang saja, lagian juga masalah pekerjaan." sahut Pandu dengan tersenyum dan menatap kedua anaknya yang sedang makan dengan lahap sebelum berangkat ke sekolah.


"Mbak Cinta sekolahnya bareng papa atau tunggu jemputan?" tanya Pandu pada anak perempuannya yang sudah tumbuh remaja dan menjelma menjadi gadis kecil yang begitu cantik dan lembut tapi sangat ceria.


"Bareng papa saja!" sahut cinta antusias dan memarkan giginya yang putih.


"Aku juga mau ikut bareng papa juga!" Galang juga gak mau kalah, ikut minta diantar papanya, meskipun arah sekolahnya tidak satu arah dari kantornya Pandu.


"Oke siap, habisin dulu sarapannya dan siap siap. Nanti papa tunggu di depan ya.


Papa mau ambil tas dulu." sahut Pandu tersenyum menatap kedua anaknya yang tumbuh jadi anak anak yang cerdas dan sehat.


Risma menggendong Hamzah dan mengikuti langkah suaminya memasuki kamar.


"Mas! kamu yakin, kamu gak papa?" Risma menatap suaminya dalam, mencari kejujuran dari kedua matanya. Namun Risma tak menemukan apapun selain pancar kegelisahan.


"Percayalah sayang, aku gak papa. Hanya sedikit gelisah saja, semoga ini bukan firasat buruk. Doakan semoga baik baik saja ya." Pandu mengecup pucuk kepala istrinya lembut dan tangannya mengusap kepala jagoan kecilnya.


"Hamzah gak boleh nakal ya, temani mama dirumah. Hamzah harus jadi jagoan buat mama kalau pas papa dan mas Galang sedang tidak di rumah. Oke jagoan?" Pandu mengajak bicara anak balitanya dengan seru, dan Hamzah yang belum begitu fasih mengeja Kalimat tertawa senang dan mengiyakan ucapan papanya dengan bahasa planet nya.


"Aku berangkat ya, kasihan anak anak nanti bisa terlambat. Asalamualaikum!" Pandu melangkah pergi setelah mencium istri dan anaknya. Diluar sudah ada Galang dan Cinta yang sudah menunggu, mereka tadi sudah pamitan dengan mamanya sebelum Risma menyusul Pandu ke dalam kamar.


"Yuk berangkat." ajak pandu pada kedua anaknya yang langsung berlari masuk ke dalam mobil.


Risma menatap kepergian suami dan anak anaknya dengan senyuman dan doa.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)


#Coretan pena Hawa (ongoing)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)


#Sekar Arumi (ongoing)


#Wanita kedua (Tamat)


New karya Hawa


#Negeri dongeng Alisia


#Kasih sayang yang salah


#Cinta berbalut Nafsu


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️


Happy ending ❤️