Cinta Suamiku Untuk Wanita Lain

Cinta Suamiku Untuk Wanita Lain
kelucuan Galang


"Jika kamu terus melihat keburukan masa lalunya, maka rasa yang hadir hanyalah sebuah kekecewaan yang lama lama melahirkan kebencian, Sand!


Rubah cara berpikir mu, Clara sudah jadi istri kamu, masa lalunya adalah kenangan pahitnya yang tak harus kamu ungkit lagi. Berdamai Lah dengan keadaan, toh antara aku ataupun dia, sudah tidak ada lagi perasaan apapun. Kami sudah lama tidak saling berkomunikasi, karena sadar, aku maupun Clara ingin menjalani hidup masing masing dan berbenah diri dari kebodohan masa lalu." Pandu menatap lekat pada Sandi yang tengah menunduk dalam, mencerna semua kalimat yang dilontarkan Pandu.


"Aku tau semua mungkin sulit untuk kamu terima. Tapi setidaknya bertanggung jawablah dengan keputusan yang sudah kamu ambil." sahut Risma yang ikut menimpali, berusaha menjadi penengah dalam hubungan rumit yang Sandi jalani l.


"Iya, aku tau. Semoga aku bisa dan mungkin akan memilih menjauh dulu dari pertemuan keluarga untuk sementara waktu. Karena setelah ini, pasti semua akan tau siapa Clara dalam keluarga kita. Dan aku tak ingin itu menjadi beban untuk kami bahkan untuk kalian." sahut Sandi serius dengan tatapan sayu yang diarahkan jauh ke depan.


"Sebenarnya tidak perlu harus seperti itu, Sand!


Hadapi saja semua pertanyaan keluarga kita, lagian itu hanyalah masa lalu. Aku maupun mas Pandu sudah tak ingin terpengaruh dengan semua itu. Bagiku, asal Mas Pandu tak lagi mengulangi kesalahannya, memaafkan dan berusaha untuk melupakan jauh lebih baik. Karena kita butuh rasa nyaman dan tenang dalam menjalani hari hari kita." Sahut Risma yang mengulas senyuman tipis di bibirnya.


"Makasih, Ma! Insyaallah aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama, apalagi kita punya anak perempuan dan kamu sedang hamil anakku. Cukup kalian jadi tujuanku pulang.


Dan jika ada pertemuan keluarga, sebaiknya aku tidak ikut hadir, demi kebaikan bersama." Pandu membalas ucapan istrinya tegas, matanya fokus menatap penuh binar cinta pada Risma yang begitu besar kelapangan hatinya.


Sandi hanya bisa terdiam, memperhatikan Risma dan Pandu yang begitu mudah saling memaafkan dan menerima kesalahan. Dan berusaha meyakinkan dirinya untuk berusaha menerima Clara sebagai istrinya. Mencoba berdamai dengan hati dan keadaan. Karena bagaimanapun Clara adalah pilihannya sendiri.


"Sudah mesra mesranya, aku jadi bingung harus ngapain." Sandi protes karena Pandu dan Risma terus saling melempar tatapan mesra dan senyuman penuh kekaguman.


Pandu tertawa pun dengan Risma yang langsung menoleh dengan senyuman lebar menatap sepupunya yang tengah menutup wajahnya dengan kedua tangan.


"Halah, lebay!


Kamu juga sudah punya istri, praktekin sama istri!" celetuk Risma yang membuat sandi tertawa.


"Iya, nanti aku belajar dulu.


Setidaknya sekarang aku sudah lega, bisa mengutarakan apa yang tengah aku rasakan. Terimakasih jika kalian mau mengerti dan tidak menjadi kesalahpahaman diantara kita." sahut Sandi yang mulai sedikit tenang dan mencoba menerima keadaan.


"Insyaallah semua akan baik baik saja. Kami sudah melalui banyak kepahitan, jadi insyaallah kami bisa mengatasi dan belajar dari masa lalu untuk tidak melakukan kesalahan yang sama." Risma menatap dalam ke arah sandi yang tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


"Asalamualaikum." suara Galang membuyarkan kebisuan antara Risma, Pandu dan Sandi.


Ketiganya menoleh ke arah suara bocah kecil yang menggemaskan.


Galang langsung berlari ke arah papanya dan tertawa riang karena tidak biasanya papanya ada dirumah saat dia pulang sekolah.


"Wah papa sudah pulang?" Galang mencium tangan Pandu senang dan juga meraih tangan Risma menciumnya dengan takzim.


"Salim juga sama om sandi ." Risma meminta Galang salim juga kepada Sandi, dan tanpa membantah Galang langsung menuju ke arah sandi dan mencium tangannya dengan takzim.


Tubuh gembil Galang membuat Sandi menatap gemas pada keponakan nya itu.


"Wah jagoan, pulang sekolah?" Sandi mengacak rambut Galang gemas.


"Sekolahnya pulang jam sebelas om, kan mampir dulu kerumahnya mbak Romlah, main sama teman teman disana." sahut Galang dengan gaya lucunya. Pandu menatap bangga pada anaknya yang semakin pintar dan tumbuh dengan sehat.


"Papa kok sudah pulang?" tanya Galang dan kembali ke pangkuan Pandu setelah menyapa dan menyalimi Sandi.


"Iya, papa ada perlu sama mama dan om Sandi.


Galang sudah makan, nak?" Pandu memeluk putranya dengan gemas, Galang memiliki tubuh yang gemuk dan kulitnya putih, wajahnya mirip sekali dengan Risma, membuat siapa saja pasti gemas kalau berada di dekatnya, apalagi Galang adalah anak yang aktif dan cerdas.


"Sudah, tadi makan dirumahnya mbak Romlah sama telor dadar. Galang dapat nilai A disekolah, tadi disuruh nulis nama papa dan mama, Galang pintar kata Bu guru, terus dikasih nilai A, karena Galang bisa menulis nama papa sama mama." cerita Galang antusias dan membuat Pandu tertawa sekaligus bangga dengan kecerdasan Galang diusianya yang masih lima tahun.


"Galang tulis apa, Nama papa sama mama?" Risma ikut menimpali cerita anak laki lakinya dengan gemas.


"Nama papa, Pandu Aditama.


Nama mama, Risma Ayunindita.


"Pintar anak papa!


Besok kalau udah besar mau jadi apa sih?" tanya Pandu sambil memeluk Galang dalam pangkuannya.


"Mau kayak papa, jadi tentara yang hebat. Biar bisa melindungi mama dan mbak Cinta juga dedek bayi." sahut Galang dengan gaya lugunya.


Membuat Sandi ikut tertawa gemas dengan celoteh Galang.


"Tadi Oma Rosa nitipin oleh oleh buat Galang, kue bikinan Oma Rosa, katanya sih kue kesukaan Galang. Habisin ya!" Sandi ikut menimpali obrolan pandu dengan Galang karena sudah sangat gemas dengan polah anak berusia lima tahun itu.


"Wah beneran om?


Ma, kuenya mana?" Galang langsung merespon dengan girang, Galang memang sangat suka nyemil, pantas kalau berat badannya terus bertambah.


"Ada di dapur, di meja makan. Minta mbak Romlah ambilin ya!" sahut Risma lembut, dan Galang langsung meloncat turun dari pangkuan papanya, lari mencari mbak Romlah untuk minta kue dar oma Rosa.


"Hati hati nak, jangan lari lari." Pandu menegur Galang tapi anaknya sudah terlanjur berlari masuk ke dalam rumah. Memuat Risma m, Sandi dan Pandu sendiri tertawa d Ngan tingkah Galang yang selalu membuat suasana rumah jadi rame.


"Sand! Makan dulu yuk!


Atau kamu mau sholat dulu?"Risma menoleh ke arah sepupunya yang terlihat tersenyum.


"Aku numpang mandi dan sholat dulu ya.


Nanti baru makan, boleh kan?" balas Sandi yang sedikit sungkan karena ada Pandu, padahal Pandu tak masalah kalaupun Sandi harus menginap sekalipun.


"Boleh lah, anggap di rumah sendiri. Gak usah sungkan kayak gitu. Aku juga mau mandi, sebentar lagi mau adzan ashar. Kita sekalian sholat di masjid saja, gimana?" sahut Pandu yang berusaha untuk bersikap ramah pada Sandi meskipun mereka hampir tak pernah bertemu.


"Boleh!" Sandi membalas dengan anggukan dan senyum sumringahnya. Kesempatan untuk ngobrol banyak dengan Pandu Tanpa harus Risma tau.


"Kalau begitu, aku siapin makanannya, nanti pas kalian pulang dari masjid biar langsung makan." ria ikut berdiri dan menuju dapur untuk menyiapkan bahan bahan yang akan dimasak.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)


#Coretan pena Hawa (ongoing)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)


#Sekar Arumi (ongoing)


#Wanita kedua (Tamat)


New karya Hawa


#Negeri dongeng Alisia


#Kasih sayang yang salah


#Cinta berbalut Nafsu


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️


Happy ending ❤️