
"Insyaallah, semoga dia cepat sehat.
Aku pamit dulu ya, Asalamualaikum!"
Sandi menatap kepergian Pandu dengan perasaan lega, karena sudah mengatakan apa yang harus dikatakan.
Meskipun hatinya juga harus menahan perih, namun Sandi sudah berjanji untuk tidak lagi egois. Saat ini hidupnya untuk anak dan istrinya, bukan untuk meratapi luka masa lalunya.
Pandu yang masih tak bisa mengendalikan emosinya, merasa tertekan oleh perasaan bersalah sekaligus kecewa pada Clara yang sudah menyembunyikan Dania dari dirinya.
Belum lagi, Pandu masih belum tau bagaimana cara menjelaskan pada Risma jika dia mengetahui hal ini.
Pikiran Pandu benar benar buntu, kacau dan tak bisa konsentrasi dengan baik, mengemudikan mobilnya.
Berperang dengan hati dan pikirannya terus menerus, membuatnya kadang kehilangan kendali.
Mobil kian melesat begitu kencang, sedang fokus tak lagi hanya pada jalanan, melainkan pikirannya sudah bercabang dan hatinya juga terasa begitu sesak.
Hingga tanpa Pandu sadari mobilnya sudah menabrak mobil yang ada di depannya begitu kencang, dan kecelakaan pun tak bisa di hindari.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Risma yang tengah minum air putih tiba-tiba gelas yang ia pegang jatuh begitu saja, padahal tidak ada yang menyenggolnya.
"Astagfirullah, ada apa ini ya Alloh?
kenapa perasaan ku tiba tiba gak enak banget. Semoga bukan pertanda buruk. Aamiin!" lirih Risma, sambil membersihkan pecahan gelas yang telah berserak.
Saat fokus membersihkan pecahan gelas, tiba tiba Hamzah menangis kencang dan Risma langsung kaget hingga jarinya terkena pecahan kaca dan mengeluarkan darah.
"Alloh, ada apa ini?
Kenapa perasaanku semakin tidak enak dan kayak gak tenang begini." Risma memegangi dadanya, dan meringis merasakan sesak.
Sedangkan Hamzah sudah digendong oleh mbak Romlah dan ditenangkan.
Risma menatap ponselnya yang berbunyi nyaring, dan nampak nomor tidak dikenal telah melakukan panggilan telepon.
Dengan ragu Risma mengangkatnya dan seketika langsung lemas dengan tetesan air mata.
"Baik!.Saya akan segera kesana. Terimakasih!" sahut Risma, setelah mendengar kabar kecelakaan suaminya dari polisi.
"Ada apa, Bu?" tanya mbak Romlah cemas, saat melihat Risma mendadak lemas dan terlihat pucat, bahkan air matanya sudah berjatuhan membasahi pipinya.
"Mas Pandu kecelakaan, mbak!" sahut Risma masih tak percaya dengan kabar yang baru saja ia terima.
"Aku titip anak anak ya mbak, karena mas pandu ada dirumah sakit yang ada di Jombang." sahut Risma dengan suara yang bergetar.
"Ibu kesana sendiri?" tanya mbak Romlah hawatir.
"Tidak, aku akan minta ayah menemani, dan ibu biar di rumah jaga anak anak sama mbak!" balas Risma berusaha untuk tegar dan kuat.
Sambil menunggu orangtuanya datang, Risma bersiap siap, membawa beberapa helai baju untuknya dan juga buat Pandu. Menyiapkan apa yang dibutuhkan untuk nanti. Lalu berganti pakaian.
Setelah hampir setengah jam, orang tuanya datang. Risma langsung memeluk ibunya erat, dan menangis mengeluarkan perasaan yang terasa begitu perih. "Kita berangkat sekarang saja, biar tidak terlalu malam." Pak Damar berusaha untuk tetap bersikap tenang, agar putrinya juga tidak semakin cemas.
Melajukan kendaraannya dengan cukup kencang melewati jalan tol, pak Damar berusaha memfokuskan diri pada jalanan di hadapannya.
Hanya butuh waktu dua jam, akhirnya sampai di tempat tujuan.
Langsung menuju ke resepsionis untuk menanyakan keberadaan suaminya, dengan jantung yang terus berdebar kencang, Risma melewati tiap koridor rumah sakit menuju ruang rawat sang suami yang sudah dipindahkan. Segala sesuatu sudah diurus oleh kesatuannya. Menunggu keadaan Pandu sedikit membaik baru akan dibawa kerumah sakit yang ada di Madiun, rumah sakit kusus untuk anggota.
Pandu masih belum sadarkan diri, dengan kepala yang diperban. Risma menatap lembut dengan lelehan air matanya, berharap suaminya dalam keadaan yang tidak terlalu parah. Sedangkan pak Damar memilih menemui dokter untuk menanyakan keadaan menantunya. Dan kemungkinan besar, Pandu akan mengalami cidera yang cukup parah akibat benturan keras di kepalanya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Sedangkan di rumah sakit berbeda, Clara baru saja sadar dari komanya, namun dengan kondisi yang memprihatinkan, Clara di vonis dokter jika sudah tidak bisa memiliki anak lagi, dan karena pengangkatan rahim. Namun keadaan bayinya sudah membaik meskipun bisa jadi pertumbuhannya sedikit terlambat.
"Ini ujian rumah tangga kita. Bismillah!
Insyaallah aku iklas dan menerima kalian dengan sepenuh hatiku." Sandi memeluk istrinya erat, tak lagi ingin egois karena percaya, jika apa yang terjadi sudah adalah kehendak dariNYA.
"Maafkan aku, Mas!
Aku akan fokus merawat Dania dan Fajar. Percayalah aku iklas jika harus berbagi dengan perempuan lain." isak Clara berusaha untuk menerima takdirnya dan menjalaninya dengan iklas.
Bersyukur masih diberi nafas hingga detik ini, untuk meneruskan perjuangannya menjadi seorang ibu untuk anak anaknya.
Sandi hanya terdiam, tak ingin menimpali ucapan sang istri yang tengah terpuruk. Meskipun hatinya juga kecewa tapi semua juga bukan salah Clara. Takdir sudah menentukan jalan hidup seseorang. Dan Sandi berusaha untuk menyadari semua itu.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
❤️Di real kehidupan nyata saat ini.❤️
Pandu menghabiskan waktunya di kursi roda, dengan memilih melepaskan Risma dan tinggal dirumah orang tuanya, karena merasa tak bisa lagi menjadi suami yang sempurna. Dari perpisahannya dengan Pandu.
Setelah tiga tahun menjanda Risma akhirnya memutuskan untuk menikah dengan seorang pengusaha dan memiliki satu anak.
Sedangkan Clara memutuskan untuk mengijinkan Sandi menikah lagi dan rela dimadu karena merasa tidak bisa melayani Sandi dengan sempurna.
Fokus merawat kedua anaknya, menepis perasaan cemburu dan sakit hati.
Dengan rumah terpisah, Clara menjalani hari harinya dengan menghabiskan banyak waktu bersama buah hatinya, Dania dan Fajar. Serta mengelola butik miliknya hadiah ulang tahunnya dari Sandi.
Meskipun memiliki istri lain, Sandi tetap berusaha menjadi suami yang baik dengan mencukupi semua kebutuhan Clara dan anak anaknya.
Serta memberikan jadwal kunjung yang adil pada Clara dan Mitha istri keduanya.
Inilah kehidupan yang kadang tak sesuai dengan apa yang di inginkan.
Mau setampan, secantik dan sekaya apa, kalau takdir sudah berkata, tak ada yang bisa menolaknya bahkan mengingkari.
Sekali lagi, saya menulis ini karena memang permintaan dari seseorang dan sesuai dengan aoa yang beliau ceritakan. Untuk kehidupan kedepannya kita tidak pernah tau akan seperti apa. Untuk itu tetaplah menjadi orang baik, dengan terus berbuat baik. Karena kebaikan kebaikan yang lain akan mengikutinya.
Terimakasih banyak untuk para pembaca cerita "Cinta Suamiku Untuk Wanita Lain", terimakasih sudah mengikuti cerita ini hingga sampai bab akhir, semoga tidak kecewa dengan ending dari cerita ini.
Dan insyaallah akan ada cerita lanjuran jika sang pemilik cerita mengijinkan kisahnya ditulis kembali.
Sekali lagi, haturnuhun dan jangan lupa ikuti cerita cerita saya yang lain, dan dukung dengan memberikan like, komentar serta love nya. Karena semua itu sangat berarti untuk kami Author ❤️🙏
Salam sayang dari Author....
Peluk dari jauh untuk kalian semua ❤️😍🙏
END
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)
#Coretan pena Hawa (Tamat)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)
#Sekar Arumi (Tamat)
#Wanita kedua (Tamat)
New karya Hawa
#Negeri dongeng Alisia
#Wanita Berkubang Dosa
#Cinta berbalut Nafsu
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️