Cinta Suamiku Untuk Wanita Lain

Cinta Suamiku Untuk Wanita Lain
perubahan


"Iya sayang, papa gak akan macam macam kok. Papa disini cuma kerja. Pulang kerja papa langsung ke hotel istirahat, terus telpon anak papa deh!" Pandu meyakinkan anak perempuannya yang mulai cemburu dan tak ingin papanya macam macam. Merasa begitu dicintai sang anak, membuat Pandu semakin merasa bersyukur dan terus berjanji untuk tidak lagi menyakiti mereka.


Karena keluarga adalah cinta yang benar benar sempurna untuknya, kasih sayang anak dan istrinya adalah kekuatan terhebat yang ada padanya.


Bahkan Pandu rela tidak kuasa dengan harta yang dimilikinya, menyerahkan semua pada istrinya untuk dikelola, bahkan Pandu menerima berapapun jatah yang diberikan istrinya untuk jadi pegangan dirinya. Tak masalah baginya, karena kini Pandu sudah benar benar iklas dan menyerahkan dirinya untuk anak dan istrinya, mencinta dan menjaga mereka dengan segenap hatinya.


Setelah puas bercengkrama dengan kedua anaknya, kini giliran Pandu bicara dengan istrinya, mereka saling menatap dalam dari layar datarnya masing masing, mengatakan perasaan cinta dan rindu lewat mata dan senyuman.


"Kamu sehat sehat ya, jaga anak anak kita. Aku sayang kalian!" Pandu menatap dalam ke arah istrinya yang tersenyum dengan manisnya dengan rambutnya yang terurai indah.


"Itu pasti, Mas. Aku akan jaga mereka dengan baik. Mereka begitu merindukan papanya.


Kamu jangan telat makan ya disana!" sahut Risma penuh dengan perhatian.


"Anak anak saja yang rindu?


mamanya nggak rindu?" Pandu menggoda istrinya yang langsung tertawa dengan pertanyaan yang dia lontarkan.


"Namanya juga kangen, tapi masih bisa ditahan, biar papa nya gak kebingungan, iya kan?" sahut Risma jahil, dan mereka langsung tertawa karena sama sama paham kemana arah pembicaraan.


"Kamu tidak bertemu dengan Sandi, Mas?" Risma menatap lekat pada suaminya yang tersenyum tipis, mencoba masuk dalam perasaan istrinya, karena bisa saja pertanyaan Risma hanya ingin menguji keteguhan hatinya. Karena sama sama tahu kalau Sandi menikah dengan Clara, meminta untuk bertemu Sandi, bisa saja cara Risma menguji kesetiaan dan keteguhan di hati Pandu.


"Belum, lagian aku juga gak mungkin berkunjung ke rumahnya Sandi. Itu bisa menyakiti banyak hati. Hati Sandi, hati Clara, juga terutama hati kamu,dan itu gak akan aku lakukan. Percayalah, aku tidak ingin membuat kesalahan yang akan membuatmu menangis. Aku sayang kamu, Ma!" sahut Pandu jujur, dan tidak berniat sama sekali menemui Clara, sengaja maupun tidak sengaja.


Risma tersenyum dan mengucap syukur di dalam hatinya, suaminya benar benar meneguhkan hati untuk meninggalkan masa lalunya.


"Iya Mas, aku mengerti. Terimakasih sudah memikirkan hatiku. Jika ingin bertemu dengan Sandi, kamu bisa ke kantornya, atau janjian bertemu diluar berdua saja dengan Sandi, itu jauh lebih baik. Untuk menghargai dia, karena kamu sedang berada di Surabaya. Tidak enak kan, kalau tidak menemuinya." sahut Risma bijak dan membuat Pandu semakin yakin bahwa cintanya tak salah, karena wanitanya begitu memahami dan memiliki hati yang begitu luas dan lembut.


"Iya, nanti aku akan cari waktu yang tepat.


Kamu mau apa dari Surabaya, mintalah sesuatu biar aku bersemangat mencarinya." bujuk Pandu pada istrinya, yang selalu bilang terserah saat ditanya apapun yang diinginkan, membuat Pandu suka pusing sendiri memilihkan hadiah yang cocok untuk sang istri.


"Apa saja, Mas! Bagiku kamu setia dan menyayangi kami dengan tulus, itu sudah lebih dari cukup!" Sahut Risma dengan kerlingan manjanya dan membuat pandu seketika tertawa sekaligus terpana dengan sisi lain istrinya yang terkadang senang menggodanya dengan nakal, membuat sensasi berbeda dalam perasaan Pandu.


"Kamu ya! Sudah tau suami jauh, bikin sakit kepala. Gak boleh jail ah, pusing aku mah!" sahut Pandu yang disambut tawa renyah oleh Risma, hingga mengundang kedua anaknya berlari dan ikut bergabung kembali ngobrol dengan papanya.


"Mama sama papa lagi ngomongin apa, kok ketawa mama seru banget?" Cinta yang langsung duduk di samping Risma dan bertanya dengan ekspresi yang menggemaskan. Pandu hanya tertawa melihat Risma yang langsung bingung mencari jawaban dari pertanyaan anak perempuan.


"Itu, papa katanya sudah kangen sama mbak Cinta dan jagoan Galang, sampai papa kepalanya pusing sangking rindunya!" sahut Risma mencari jawaban yang lain.


"Bener kan? papa kangen kami sampai kepalanya pusing?" Cinta menatap ke arah papanya dengan mengerutkan wajahnya, membuat Pandu kembali ketawa dengan jawaban konyol istrinya.


"Iya sayang, papa pusing karena rindu kalian!" sahut Pandu pada akhirnya.


"Oh papa, kasihan sekali. Kami juga kangen papa. Cepat pulang biar kami pijat kepalanya papa, pusingnya biar ilang!" sahut Galang dengan wajah yang begitu menggemaskan, Pandu semakin melebarkan tawanya dengan tingkah lucu anak lelakinya.


"Wah, jagoan papa, terimakasih sayang. Sekarang pijat dulu kepalanya mama ya, biar gak pusing karena merindukan papa!" Pandu melirik ke arah Risma yang tengah menahan tawanya.


"Siap Papa!" Galang langsung naik di atas sofa dan mulai memijat kepala mamanya dengan khas gaya anak anaknya.


"Papa matikan dulu telponnya ya, papa harus menyelesaikan pekerjaan papa. Oke?" Pandu mengakhiri obrolan dengan keluarga kecilnya dan harus membuat laporan dan menyelesaikan tugasnya.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Erna pergi ke mall terdekat, dan berniat membeli beberapa stel gamis dan hijabnya, mencobanya satu persatu, awal memakainya ada rasa risih, tapi Erna sudah berniat untuk mencoba dan berharap bisa memakai pakaian yang menurutnya aneh dan asing baginya.


"Aku akan belajar untuk terbiasa dengan pakaian yang tertutup, tidak harus seperti Clara yang memakai hijab lebar. Aku akan belajar dari awal dulu." batin Erna saat menatap pantulan dirinya di depan cermin.


"Cantik sekali mbak nya, warna yang ini cocok dengan kulit mbak yang putih bersih." salah satu pegawai toko memberikan komentarnya dan membuat Erna tersipu.


"Em, mbak. Boleh saya lihat model jilbab yang mudah dipakai, karena ini pertama kali saya pakai kerudung, aku mau jilbab yang simpel saja, tapi tidak terlihat kampungan. Ada?" sahut Erna yakin, dirinya akan memulai dengan kehidupan yang baru.


"Ada kok mbak, sebentar saya ambilkan contohnya." pegawai toko memberikan beberapa contoh jilbab instan pada Erna, dan Erna mulai mencobanya satu persatu.


Erna akhirnya membeli beberapa stel gamis dan jilbabnya, tersenyum sumringah dengan membawa beberapa paper bag di kedua tangannya. "Bismillah, semoga aku bisa. Semua karena kamu Clara! Kamu selalu bisa menyentuh hatiku dengan kelembutan dan ketulusan kamu." gumam Erna di dalam hatinya dan melangkahkan kakinya keluar dari mall kembali menuju ke hotel tempatnya menginap.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)


#Coretan pena Hawa (ongoing)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)


#Sekar Arumi (ongoing)


#Wanita kedua (Tamat)


New karya Hawa


#Negeri dongeng Alisia


#Kasih sayang yang salah


#Cinta berbalut Nafsu


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️


Happy ending ❤️