
"Ya Tuhan, kenapa rasanya harus seperti ini, ini menyiksa banget. Aku tau kami halal melakukannya, tapi aku juga gak mau egois dan terlihat gegabah, karena akupun juga gak ingin menyakiti hati banyak pihak, kuatkan aku ya Tuhan hingga aku mampu menyelesaikan semua ini agar tidak ada kesalahpahaman nantinya." Sandi bergumam lirih dengan menyandarkan tubuhnya pada tembok kamar mandi, mulai melepas satu persatu pakaiannya, dan nampak ada yang ingin segera dituntaskan, namun Sandi memilih mengguyurnya dengan air dingin untuk melemaskan otot ototnya yang menegang.
Melepaskan dan dilepaskan...sama sama butuh keikhlasan.
Melepaskan berarti iklas menerima yang lebih baik.
Dilepaskan berarti iklas diberi yang lebih baik.
Jangan bertanya mana yang lebih berat..
Sebab dua hal ini sama beratnya juga sama ringannya.
Karena yang kelihatan rumit, nyatanya begitu sederhana. Jika dilalui dengan tawakal.
Sabar Sandi sabar.......
Setelah selesai mengguyur tubuhnya dengan air dingin, Sandi merasa lebih segar dan lebih baik.
Kakinya melangkah pelan dimana Clara dan Dania tadi sedang bercengkerama. Namun Sandi sudah tidak melihat keberadaan mereka di ruang keluarga. Sandi memutuskan untuk naik ke lantai atas, barangkali Dania dibawa Clara ke kamar atas karena tukang dekorasinya sudah datang.
Dan benar saja, saat Sandi sampai di kamar atas, Clara terlihat menggendong Dania dan berdiri tak jauh dari pintu masuk kamarnya.
"Sudah sampai?" sapa Sandi yang berjalan mendekati Clara.
"Iya, Mas! baru saja kok sampainya, terus langsung aku antar kesini, sesuai yang mas bilang tadi." sahut Clara dengan tersenyum manis menatap Sandi yang terlihat segar dengan rambut basah nya.
"Owh." hanya jawaban singkat yang keluar dari mulut Sandi menanggapi sahutan sang istri.
"Gimana, pak?
Apa bisa beres hari ini?" tanya sandi pada tukang dekorasinya yang berjumlah tiga orang dan masih muda muda, tapi Sandi memanggilnya dengan sebutan pak untuk menghargai nya.
"Insyaallah bisa, Pak!
Tapi agak malam ya, paling habis magrib baru bisa selesai ini." sahut salah satu dari mereka.
"Baiklah. Aku percaya dengan kalian, semoga bisa sesuai yang aku harapkan, pokok intinya, desain kamar sesuai karakter anakku, anak perempuan yang cantik dan menggemaskan." balas Sandi tersenyum dan meminta alih Dania untuk digendongnya.
"Baik pak, kami akan bekerja semaksimal mungkin agar tidak mengecewakan bapak sekeluarga, insyaallah akan sesuai dengan yang pak Sandi inginkan." sahut salah satu dari mereka yang memang sudah terkenal selalu profesional dalam pekerjaannya.
Sandi tersenyum dan berpamitan untuk meninggalkan ruangan bersama istri dan anaknya.
"Bilang sama bibi buat nyiapin cemilan dan minuman dingin juga kopi buat mereka ya!
Biar Dania sama aku mainnya." Sambung Sandi memberi perintah pada Clara yang terlihat langsung tersenyum menuruti perkataannya dan berjalan menuruni tangga untuk menyampaikan perintah Sandi pada pembantunya.
Sedangkan Sandi memilih untuk membawa Dania ke kamarnya, mengajaknya bermain dan membangun kedekatan bersama Dania, biar instingnya sebagai ayah dan anak bisa terjalin melalui hati dari ketulusannya menyayangi bayi tak berdosa itu.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Sedangkan di lain tempat, Risma tengah sibuk memasak untuk menyambut kedatangan suaminya. Tak perduli dengan tubuhnya yang sempat lemas, hatinya terus berbisik untuk kuat demi bisa menyenangkan suaminya.
Bu Fatma dan mbak Romlah tak tinggal diam, mereka dengan cekatan juga ikut membantu Risma di dapur, Risma hanya dibolehkan untuk mengeksekusi masakan saja, untuk segala urusan seperti mengupas, mencuci dan lain sebagainya sudah dilakukan Bu Fatma dan mbak Romlah.
Mereka gak mau Risma jatuh sakit karena kecapekan.
Ikan lele jadi menu utamanya, karena Pandu sangat menyukai ikan itu. Risma memasaknya dengan bermacam jenis masakan.
Hanya butuh dua jam semua hidangan sudah tersedia di atas meja makan, tak lupa Risma juga membuat bolu kukus keju juga puding untuk makanan tambahan, karena memang Pandu juga sangat menyukai cemilan tersebut.
"Mandi lah dulu, Ris! biar ibu sama mbak Romlah yang menyelesaikan ini. Sudah jam empat sore lebih, gak baik ibu hamil mandi terlalu sore." Bu Fatma mengingatkan putrinya agar segera mandi, karena memang hari sudah sore, kedua anaknya Cinta dan Galang juga sudah pada mandi. Mereka begitu antusias menyambut kepulangan papanya.
Pandu adalah kebanggaan kedua anaknya.
"Pandu naik pesawat ya?" kembali Bu Fatma membuka suaranya, karena kalau Pandu lewat jalur darat pasti sampainya tengah malam bahkan bisa esok pagi.
"Iya, Bu!
Mas Pandu milih naik pesawat biar cepat sampai. Nanti dari Surabaya sudah ada yang jemput, lewat jalur tol hanya satu setengah jam." sahut Risma menjelaskan pada sang ibu yang tengah menatapnya dengan senyuman.
"Kirain bawa pesawatnya yang dari AU gitu, enggak ya?" balas Bu Fatma geli dan ikut merasakan kebahagiaan putrinya saat ini, luka itu berlahan mulai terkikis oleh kegigihan Pandu yang benar benar menyesali kesalahannya dan berusaha menunjukkan cintanya pada anak dan istrinya dengan sepenuh hati.
"Enggaklah Bu, gak segampang itu juga." jawab Risma yang tertawa dengan pertanyaan ibunya, Risma tau kalau ibunya pura pura gak paham hanya untuk meledeknya.
Lengket semua rasanya badan Risma." sambung Risma yang kembali meneruskan langkahnya memasuki kamar untuk segera mandi.
Risma tersenyum di depan cermin meja riasnya, rasa perih itu ada, namun Risma tak ingin lagi membuka luka lamanya. Pandu memang bersalah dan sudah begitu melukainya dengan pernikahan nya bersama Clara, namun Pandu segera menyadari kesalahannya dan mau berbenah dari kesalahan itu.
"Kenapa perasaan ini tiba tiba tidak enak begini, ada apa ya?
Semoga ini hanya sekedar perasaan ku saja, dan kamu Mas, semoga tetap pada janjimu untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama lagi. Karena tidak akan pernah ada kesempatan untuk kesekian kalinya lagi dariku, sekalipun demi anak anak." Risma bergumam lirih sambil menyisir rambutnya yang panjang tergerai begitu indahnya.
Hatinya terasa terusik oleh perasaan yang tiba tiba tidak enak. Berdoa dengan harapan semoga bukan pertanda buruk lagi dalam ujian rumah tangganya.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Seperti penjelajah waktu yang disedot lorong masa depan..
Menghantarkan pada suatu masa..
Tanpa tau bagaimana kembali..
Kadang menjadi tamu
kadang menjadi tuan rumah
Ada kenangan berkesan tentang yamg pernah datang, ditemui dan pergi..
Ada pertemuan indah yang takkan mampu terlerai masa..
Namun lorong waktu terus menukar cerita..
Masa lalu itu takkan luput dari rekaman layar kenangan..
Sepanjang perjalanan dia akan tetap menyala dan doa tetap mengiringinya..
dan terimakasih yamg mendalam atas kehadiran dan penerimaan..
Ada ribuan enigma yang belum terpecahkan, tapi kepergian demi sesuatu yang pasti harus terjadi..
Kadang padi harus berpisah dengan sawah demi menjadi beras..
dan sawah harus kosong demi benih baru.
Demikian juga dengan perpisahan yang mungkin berguna untuk pelengkap hidup.
Membungkus hati agar tak basah mata..
Mengubur rindu agar tak menghantui..
Lalu pergi dengan damai tanpa duka..
Namun bukan tak mungkin jalan waktu akan mempertemukan di atas satu titik, dalam duka atau pun suka... entahlah..
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Pembalasan Istri Yang Terhina (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
Happy ending ❤️🔥