Cinta Suamiku Untuk Wanita Lain

Cinta Suamiku Untuk Wanita Lain
kecurigaan Pandu


"Boleh lah, anggap di rumah sendiri. Gak usah sungkan kayak gitu. Aku juga mau mandi, sebentar lagi mau adzan ashar. Kita sekalian sholat di masjid saja, gimana?" sahut Pandu yang berusaha untuk bersikap ramah pada Sandi, meskipun mereka hampir tak pernah bertemu.


"Boleh!" Sandi membalas dengan anggukan dan senyum sumringahnya. Kesempatan untuk ngobrol banyak dengan Pandu Tanpa harus Risma tau.


"Kalau begitu, aku siapin makanannya, nanti pas kalian pulang dari masjid biar langsung makan." Risma ikut berdiri dan menuju dapur untuk menyiapkan bahan bahan yang akan dimasak.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Saat akan kembali pulang, Sandi meminta untuk ngobrol sebentar dengan pandu di pelataran masjid. Agar tidak diketahui Risma, itu alasan Sandi, bicara antara lelaki dewasa.


"Ada apa?" Pandu memilih duduk di pojokan bagian depan mesjid, menatap lurus ke depan orang yang sedang lalu lalang pulang dari menunaikan kewajiban empat raka'at.


"Aku ingin kita bicara sebagai laki laki dewasa. Mungkin kamu gak paham dengan yang aku maksud. Tapi aku harap kamu bisa bicara apa adanya saat hanya denganku.


Saat ini aku adalah suaminya Clara, mantan istri yang kamu nikahi secara siri.


Seperti apa perasaan kamu, saat tau Clara menikah denganku?" Sandi menatap lekat pada Pandu yang terlihat tersenyum tipis mendengar pertanyaan Sandi.


"Kaget itu pasti ada, tapi kembali lagi.


Clara hanya masa lalu yang tak harus aku ratapi dan simpan. Karena bagiku semua itu adalah kesalahan karena keegoisanku.


Percayalah, perasaan ini sudah tidak ada untuk Clara. Jadi kamu tidak perlu khawatir!" Sahut Pandu tegas, dengan tatapan lekat ke arah Sandi yang juga ikut tersenyum menanggapi ucapan Pandu.


"Saat kalian memutuskan untuk berpisah, apa yang membuatmu yakin untuk memilih mengakhiri?


Dan setelah berpisah dengan Clara, apa kalian sudah benar benar putus komunikasi dan tidak sama sekali berkirim kabar?" Sandi kembali melontarkan pertanyaan yang mengganggu pikirannya.


"Karena aku tidak sanggup melihat Risma terluka lebih dalam lagi, dan aku juga tidak sanggup ketika Risma mulai menjauhiku dan bersikap dingin padaku, kita satu rumah tapi seperti orang yang tidak saling mengenal.


Dan keadaan itu, benar benar menyiksaku.


Aku justru menyadari kalau aku lebih takut kehilangan Risma dan anak anak, cinta itu semakin besar saat Risma mulai mengabaikan ku waktu itu, sungguh aku sangat tersiksa." Sahut Pandu menerawang, mengingat saat bagaimana Risma mengacuhkan dirinya. Perasaan takut dan sakit kian membuatnya tersiksa, hingga akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Clara.


"Dan setelah aku memutuskan untuk berpisah dengan Clara, Sejak saat itu, kami sudah tidak lagi berhubungan, tidak sama sekali ada komunikasi diantara kita. Semua sudah berlalu begitu saja. Sampai sekarang, berita pernikahan kalian baru aku dengar juga darimu.


Percayalah, aku sudah benar benar pergi dan meninggalkan masa lalu itu!


Aku tidak mau menyakiti Risma dan juga anak anakku lagi. Dan apa lagi saat ini, Risma telah mengandung anakku. Aku tidak akan pernah ingin membuatnya sakit lagi." Pandu menjelaskan dengan begitu tegas dan berusaha meyakinkan Sandi, jika tidak ada lagi perasaan apapun terhadap Clara. Dia hanya masa lalu.


Sandi menghembuskan nafasnya dalam, mencoba percaya dengan semua yang di ucapkan Pandu. Karena memang Pandu terlihat begitu sungguh sungguh dengan ucapannya, terlihat dari sorot matanya yang begitu tegas.


"Umpama dulu, diantara kalian sudah ada anak, apakah kamu akan tetap memilih meninggalkan Clara?" Sandi memancing reaksi Pandu tentang kehadiran anak diantara mereka, berusaha menggali pikiran laki laki yang pernah ada hubungan dengan istrinya.


Pandu menoleh ke arah Sandi dengan mengerutkan wajahnya, menatap penuh selidik pada Sandi yang langsung salah tingkah.


"Em, masih seandainya kok!


Maksudku, seandainya diantara kalian sudah hadir seorang anak, apakah kamu akan tetap mengakhiri hubungan dengan Clara demi melindungi hati Risma?" Sandi berusaha berkilah dan mencari jawaban untuk mengalihkan keterkejutan Pandu, yang bisa saja langsung merasa curiga dengan ucapan nya.


Pandu menarik nafas kasar, menatap Sandi dengan tatapan penuh selidik. Mencari tau maksud ucapan Sandi, namun Sandi terus menunduk dengan gestur ganjil yang sarat akan kegelisahan.


"Apa kamu tengah menyembunyikan sesuatu, Sand?" Pandu melemparkan pertanyaan yang langsung membuat Sandi mendongak, menatap lekat ke arah Pandu yang masih mengerutkan keningnya, curiga dengan gelagat Sandi yang seperti tengah menyembunyikan sesuatu.


"Gak ada kok, aku hanya ingin tau saja.


"Pertanyaan kamu ambigu, aku punya jawaban soal itu. Namun ini masih seandainya kan? Karena itu tidak sedang terjadi." sahut Pandu tenang dan berusaha berpikir positif dengan sikap Sandi yang dinilainya ganjil.


"Kalau dulu saat Clara masih jadi istriku dan dia hamil, aku akan tetap bertanggung jawab. Karena anak itu tidak berdosa dan dia berhak mendapatkan apa yang menjadi haknya dan itu kewajibanku sebagai ayahnya. Karena ketika hubunganku dengan Clara tak bisa dipertahankan, anak tetaplah anak yang punya hak untuk mendapatkan kasih sayang dan tanggung jawab orang tua nya. Tapi saat kami berpisah, Clara setahuku tidak hamil.


Kalau dia hamil, pasti akan memberitahu ku.


Aku akan tetap bertanggung jawab pada anak itu, karena bagaimanapun dia adalah darah dagingku.


Selepas Kami tidak lagi suami istri, dan aku rasa Risma juga pasti bisa memahami itu." Jawab Pandu dengan begitu lancarnya, membuat Sandi menutup bibirnya rapat. Bingung harus bersikap bagaimana, mengatakan kebenaran tentang Dania, atau tatap diam sesuai permintaan Clara.


"Ada apa kamu tiba tiba bertanya soal itu, Sand?


Apa Clara mempunyai anak dariku, tapi dia memilih untuk menyembunyikan dariku?" tatap Pandu serius dengan pandangan yang begitu tajam pada Sandi yang langsung menunduk dalam, menyembunyikan kegelisahan hatinya.


"Gak ada apa-apa, seperti yang tadi aku katakan.


Aku hanya ingin bicara dari hati ke hati sebagai lelaki dewasa. Dan aku salut sama kamu, Ndu!


Kamu bisa meninggalkan masa lalu dan menatap jauh masa depanmu dengan istri dan anak anakmu.


Semoga rumah tangga kalian langgeng dan selalu bahagia. Jaga Risma, dia kebanggaan di keluarga kami. Jangan lakukan kesalahan yang sama." Balas Sandi dengan senyuman tipis di bibirnya. Berusaha untuk menekan egonya, dan mendamaikan hatinya dengan keadaan yang ada.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)


#Coretan pena Hawa (ongoing)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)


#Sekar Arumi (ongoing)


#Wanita kedua (Tamat)


New karya Hawa


#Negeri dongeng Alisia


#Kasih sayang yang salah


#Cinta berbalut Nafsu


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️


Happy ending ❤️