Cinta Suamiku Untuk Wanita Lain

Cinta Suamiku Untuk Wanita Lain
kehangatan keluarga


"Siapa tau, kamu yang akan masuk jadi menantunya pak Danu, Er!


Kamu kan masih sendiri, dan denger denger anaknya juga masih belum menikah, wah siapa tau kan, namanya juga jodoh!" Bu Ranti dengan semangat berharap Erna jadi jodoh anak tetangganya, Erna dibuat bengong dengan celoteh ngawur budhenya.


"Budhe, budhe!


Bisa bisanya punya pikiran begitu. Kenal saja belum loh, haduh!


Lagian Erna kesini itu ingin belajar dan cari ilmu.


Jodoh biar nanti saja, manut apa jare Gusti Alloh, budhe!" Sahut Erna sopan dan tersenyum geli dengan tingkah lucu Bu Ranti.


"Berharap itu yang baik baik, siapa tau jodoh kamu tetangga depan. Sekarang Aamiinkan saja dulu. Sambil berdoa memohon diberikan jodoh yang baik." sahut Bu Ranti semangat, dan terus menatap ke arah rumah pak Danu yang terlihat sepi dari luar.


"Yasudah yuk masuk, sudah mau magrib.


Sebentar lagi, pakde kamu juga pulang.


Gak papa kan kita makannya nunggu pakde sekalian?" sambung Bu Ranti yang beranjak dari tempat duduknya dan di ikuti Erna dibelakangnya.


"Gak papa budhe!


Kita Maghriban dulu sambil nunggu pakde pulang!" sahut Erna santai dengan senyuman manis dibibirnya yang tipis.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


"Akhirnya kamu pulang juga, Bas!" mama sudah sangat merindukan kamu." Bu Santi menyambut anak lelakinya dan memeluknya penuh rindu, pun dengan pak Danu yang juga memeluk Abas bangga. Abas selalu jadi kebanggaan di keluarganya.


"Papa harap, kamu pulang ke Bandung dengan hatimu yang baru. Menutup perasaan kamu pada istrinya orang. Dia bukan jodoh kamu.


Lupakan! dan mulailah membuka hati untuk wanita lain. Kapan kapan berkunjunglah ke pondok Abah Faisal, pamannya papa!


Disana banyak santriwati yang tidak hanya shalihah tapi juga cantik." sambung pak Danu dengan menatap putra kesayangannya penuh harap.


"Pa!


Abas baru sampai, bahas itunya nanti saja.


Jangan rusak moment kangen kita sama anak, hanya karena bahas hal yang sensitif baginya." sahut Bu Santi tak suka, karena Abas pasti akan langsung sedih dan diam saat papanya membahas soal jodoh apalagi tentang Risma.


"Gak papa, Ma!


Papa benar kok, Abas akan belajar melupakan Risma dan menutup semua harapan untuk memilikinya, karena sekarang dia sudah bahagia dengan keluarganya.


Abas akan mulai belajar membuka hati, semoga ketemu jodohnya disini." sahut Abas tenang dan memaksakan diri untuk tersenyum menutupi luka patah hatinya.


"Aamiin." sahut Bu Santi dan pak Danu berbarengan, bahagia mendengar jawaban anaknya yang tidak seperti biasanya. Biasanya Abas akan langsung tersinggung dan memilih pergi jika membahas masalah jodoh apalagi pernikahan.


"Kamu yakin, nak?


Masyaalloh, mama senang dengarnya.


Semoga segera menemukan jodoh yang sesuai dengan hatimu." sambung Bu Santi dengan mata yang berkaca kaca, tak menyangka kepulangan anak lelakinya kali ini membawa perubahan dan menutup keinginannya untuk terus berharap pada wanita yang sudah jadi milik laki laki lain.


"Iya, ma! Abas yakin dan bantu Abas untuk bisa melupakan dia dan menata hati Abas kembali.


Tapi untuk saat ini, biarkan Abas fokus pada karir Abas. Abas akan fokus membantu orang orang yang membutuhkan Abas.


Mulai besok, Abas akan langsung masuk kerja." balas Abas semangat dan ingin menenggelamkan dirinya dengan kesibukannya sebagai seorang dokter di klinik papanya.


"Papa akan dukung niat kamu, disana kamu bukan hanya seorang dokter, tapi pemimpin. Papa percaya, kamu bisa mengelola klinik itu dengan baik." sahut pak Danu bangga dan menatap Abas dengan sorot matanya yang teduh.


"Makan dulu yuk, tadi mama sudah masak makanan kesukaan kamu." ajak Bu Santi yang langsung menggandeng putranya menuju meja makan yang di ikuti pak Danu di belakangnya, dengan menggelengkan kepalanya dengan tingkah sang istri yang pasti akan melupakan dirinya kalau anak kesayangan nya sudah pulang kerumah.


"Papa dilupakan nih, ma?" pak Danu pura pura cemberut, melihat istrinya begitu memanjakan sang anak, meladeninya dengan penuh kasih sayang.


"Ah papa, pasti tidak mau mengalah sama anaknya.


"Iya! Iya! Papa ngalah deh!" sahut pak Danu yang meraih piringnya dan akan mengisinya dengan nasi, tapi dengan cekatan, Abas menggantikan tugas mamanya untuk melayani papa tercintanya.


"Biar Abas yang menggantikan mama, pa!


Abas akan melayani papa!" Abas mengambilkan nasi ke piring papanya, dan mengisinya dengan sayur dan lauk pauk kesukaan sang papa.


Mereka larut dalam kebahagiaan karena saling memberi perhatian dan kasih sayang yang tulus.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


"Mas!


Aku minta ijin untuk tinggal disini selama beberapa hari lagi ya?" Clara menatap suaminya serius saat sedang duduk berdua di teras belakang rumahnya.


"Kenapa?


Apa kamu masih belum memaafkan aku, Ra?" Sahut Sandi menatap lekat ke arah istrinya yang tengah menunduk dalam.


"Aku ingin disini sebentar, rindu bersama ibu dan juga menenangkan hatiku. Beri aku waktu sebentar saja, semoga ini tidak membuatmu salah paham dengan keinginan ku ini." balas Clara dengan senyuman tipis, menutupi sendu di hatinya yang masih terasa perih meskipun sudah berusaha memaafkan Sandi.


"Baiklah! Aku juga akan tinggal disini dengan kalian. Biar kita terbiasa dengan keadaan ini. Mari sama sama belajar memaafkan kesalahan kita dan belajar menerima keadaan ini, demi masa depan kita dan anak anak kita nantinya." sahut Sandi dengan menatap lembut ke wajah sang istri yang masih terlihat sorot kecewa di kedua bola matanya.


"Kamu yakin akan ikut menginap disini, mas?" balas Clara menatap Sandi dalam.


"Sangat yakin, gak papa kan?" sahut Sandi dengan senyuman tulus, berusaha mengerti perasaan sang istri dan tidak mau melakukan kesalahan untuk kesekian kalinya hanya karena keegoisan nya.


"Boleh, aku senang kalau mas Sandi tidak keberatan." balas Clara tersenyum dan kembali menatap pemandangan yang ada di depannya.


"Maafkan aku Clara!


Semua yang terjadi karena keegoisanku. Semoga aku tidak lagi mengulangi dan ingatkan aku jika kembali bersikap buruk padamu." Sambung Sandi yang di balas senyuman manis dari sang istri.


"Iya, mas! kita akan saling mengingatkan setelah ini!" sahut Clara singkat.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)


#Coretan pena Hawa (ongoing)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)


#Sekar Arumi (ongoing)


#Wanita kedua (Tamat)


New karya Hawa


#Negeri dongeng Alisia


#Kasih sayang yang salah


#Cinta berbalut Nafsu


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️


Happy ending ❤️