Cinta Suamiku Untuk Wanita Lain

Cinta Suamiku Untuk Wanita Lain
Mengulur Waktu


"Kenapa ini gak adil, Bu?


Kenapa Clara harus mengalami ini? sakit hati Clara!" Clara menangisi dirinya sendiri, karena sudah terlalu berharap dengan sesuatu yang ternyata tak sesuai dengan mimpi dan harapannya.


"Sudahlah Clara, Istighfar. Ini sudah jadi keputusan kamu kan? menikahi lelaki beristri, itu artinya kamu harus siap untuk mengalah dan iklas menerima semua konsekuensinya. Bicarakan baik baik sama Pandu dan minta maaflah pada istri Pandu dan berusahalah untuk bersikap baik padanya." Bu Desmita menatap lekat wajah putrinya yang sudah basah oleh air mata kekecewaan. Karena tidak mudah menjalani sesuatu yang diawali dengan kebohongan dan ketidak baikan dalam menjalin sebuah ikatan, akan ada konsekuensi yang harus ditanggung. Lalu sesak pasti akan datang menemani setiap waktu yang berjalan.


"Clara gak tau, Bu! Clara kecewa!" Sahut Clara lemah dan mulai menyerah dengan apa yang terjadi.


"Sudahlah, jangan nangis lagi dan jangan terlalu meratapi nasib yang bahkan kamu sendiri yang memutuskannya. Jalani saja dan mulai lah belajar bersikap dewasa dan legowo. Tunggu Pandu, tanyakan dan bicara baiknya gimana, ibu harap kamu tidak lagi menyalahkan dan berkata kasar pada istri Pandu, karena semua wanita pasti akan melakukan hal yang sama saat ada wanita lain yang masuk dalam kehidupan rumah tangganya."


Bu Desmita hanya bisa sekedar mengingatkan dan menasehati semampunya, sadar jika anak pertamanya memiliki sifat keras kepala.


"Iya, Bu!


Nanti Clara akan bicarakan sama Mas Pandu. Clara ingin kerja lagi seperti dulu, dan Clara juga ingin menabung untuk masa depan, nanti kalau Clara sudah punya anak, agar bisa untuk persiapan buat masa depan nya." Sahut Clara lemah dengan mata berkaca kaca, berusaha mengikuti perkataan ibunya untuk tidak memaksakan diri dalam bersikap.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Sedang ditempat lain, Pandu sedang menikmati paginya bersama kedua anaknya, mengambil ikan lele di kolam belakang rumah. Ada tujuh kolam ikan. Canda tawa dan kebahagiaan terpancar dari wajah Galang dan Cinta. Itu semakin membuat Risma semakin merasakan perih. Menatap kebersamaan anak dan papa nya dibalik pintu dapur, membuat Risma meneteskan air mata.


"Tega kamu, Mas!


Lihatlah anak anak kita, mereka sangat menyayangi dan begitu bahagia berada di dekat kamu, tapi kenapa kamu tega memilih hati lain untuk kau masukkan dalam rumah tangga kita. Aku tidak tau, bagaimana perasaan mereka saat tau, papanya sudah memiliki istri lain selain mamanya. Apakah mereka masih seceria itu?


Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan, aku tidak mungkin menyakiti hati anak anakku dengan menuntut perpisahan, pasti mental mereka akan terguncang. Apa yang harus aku lakukan?


Haruskah aku bertahan dalam kehampaan dan luka hati yang semakin dalam." Risma bergumam lirih disertai isakan kecil agar tangisnya tak terdengar oleh siapapun.


Sedangkan Pandu masih asik bersama kedua anaknya mengambil ikan ikan di kolam untuk di goreng. Saat matanya tak sengaja melihat bayangan Risma, Pandu tertegun dan langsung merasakan getaran aneh di dalam dadanya, ada rasa bersalah dan sesak yang hadir ketika melihat air mata Risma di wajah teduhnya.


Menyadari kalau pandu tengah memperhatikannya, Risma langsung memilih pergi dan kembali ke dapur membantu ibu mertuanya memasak dengan berusaha bersikap baik baik saja, menyembunyikan rasa yang menyiksa batinnya.


"Bu, mau masak apa?" tegur Risma menghampiri sang mertua yang tengah mengupas bawang.


"Gak ikut ambil ikan di kolam sama anak anak?" sahut Bu Sonia yang ganti bertanya.


"Ini mau bikin sambel tomat, tadi Pandu minta dibuatkan menu lalapan dan mau dimasakin bumbu rujak lele. Kamu mau ibu buatkan apa?


Hari ini sepesial ikan lele pokoknya." sambung. Bu Sonia yang di iringi tawa renyahnya.


"Risma apa aja suka, Ma!


"Kita masak berdua saja, biar lebih syahdu." Sahut Bu Sonia dengan senyuman mengembang dan dibalas anggukan oleh Risma yang sedikit terhibur dengan perlakuan mertuanya.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Tak membutuhkan waktu lama, lele goreng, sambal tomat, lalapan, gobis goreng, tahu tempe goreng, bumbu rujak lele, dan lele sambel ijo. Sudah tertata rapi di meja makan.


"Biar ibu panggilkan Pandu dan anak anak. Kamu buatkan teh manis sama kopi buat Pandu ya, dan susu jahe buat Permadi. Permadi sedang menuju kesini sama istri dan anak anaknya. Katanya mumpung kalian juga ada disini, jadi ingin ngumpul." Bu Sonia bicara dengan Risma yang langsung mengiyakan perintahnya tanpa banyak bicara.


Namun, sebelum Bu Sonia melangkahkan kakinya, terlihat Pandu dan kedua anaknya sudah memasuki dapur dengan membawa dua kantong keresek berisi buah buahan dan kelapa muda.


"Baru saja ibu mau memanggil kalian, kalau masakan nya sudah siap, eeh udah pada kesini duluan. Itu bawa apa mbak Cinta?" Bu Sonia menghampiri cucunya dan menatap kantong kresek ditangan cinta.


"Buah pear, apel sama jeruk. Papa juga beli kelapa muda. Nanti kita mau makan bareng bareng kayak piknik gitu, iya kan Pa?" balas Cinta ceria dan terlihat begitu menggemaskan.


"Wah, Yasudah, buahnya biar nenek cuci dulu ya, terus di taruh di wadah." sahut Bu Sonia tersenyum bahagia dan Risma hanya diam melihat keakraban anak anaknya dengan mertua dan papanya, itu semakin membuatnya dilema.


"Kita gelar karpet di teras belakang saja, Ma!


Bawa makanan nya kesana, nanti kan katanya ada Mas Permadi juga sama Istri beserta anak-anaknya. Lebih leluasa dan bisa santai." Pandu ikut menimpali dan ingin membangun suasana keakraban bersama keluarganya setelah ketegangan yang terjadi semalam.


Tidak menaruh dendam dan marah pada kakaknya yang sudah bersikap keras dan memukulnya, Pandu meskipun kesal tetap berusaha memahami kekecewaan sang kakak.


"Baiklah!


Kalau begitu kamu pasang karpetnya, tadi juga sudah disapu Risma. Biar mama sama Risma pindahin makanan nya nanti." Sahut Bu Sonia menatap Pandu dengan sorot yang tak biasa.


"Iya, Ma!" sahut Pandu dan langsung mengerjakan tugasnya memasang karpet yang diikuti kedua anaknya.


"Nduk, kamu taruh kelapa mudanya di ceret warna biru itu, dan sekalian siapin gelas sama sendoknya ya. Kita lihat, seberapa besar, suami kamu itu mau berusaha memperbaiki kesalahannya.


Mama sengaja, mengulur waktu, agar Pandu tetap disini, karena Mama yakin, pasti wanita itu sedang menunggu Pandu kembali kesana.


Nanti panggil juga mbak Romlah dan mas Waloyo, biar ikut makan bersama sekalian, kita masaknya juga sangat banyak kan. Mari kita buat Pandu betah di rumah, dan mama yakin perempuan itu pasti akan bingung menunggu Pandu yang tak kunjung datang." Sambung Bu Sonia panjang lebar, menjelaskan maksud dan niatnya.


Risma hanya tersenyum dan bersyukur memiliki ibu mertua yang sangat baik dan penuh perhatian seperti Bu Sonia.


"Kan satunya bisa buat orang orang yang kerja di sawah Ma!" sahut Risma sopan dengan senyuman tipis terukir di bibirnya.


"Soal itu gak usah hawatir, mama sudah minta mbok Yem buat masakin pekerja yang ada di sawah. Tadi sama Pandu juga sudah dikirimin ikan lele juga. Kita fokus nikmati kebersamaan yang jarang jarang ini." balas Bu Sonia dengan senyuman.