
"Kamu gak usah khawatir, Mas! Aku sudah tau apa yang akan aku lakukan. Setelah yang disini selesai, aku akan mencari tau, harta kamu yang lain. Aku yakin kamu masih memiliki aset aset yang tidak aku tau, dan aku akan mencari tahu, sebelum kita benar benar berpisah, aku ingin semua jatuh atas nama anak anak kita. Dan aku juga ingin melihat, apakah cinta pertama kamu itu akan sanggup hidup tanpa harta kamu. Batin Risma mengatur rencana dengan sangat rapi dan tetap bersikap elegan. Berlahan lahan Pandu akan hancur dan menyesali perbuatannya.
Risma tidak ingin lagi rapuh dan tidak ingin kalah. Poligami memang dibolehkan tapi pahami dulu adabnya, bukan menikah diam diam demi atas nama cinta tanpa memikirkan hati dan perasaan istri.
Risma tidak lagi berharap Pandu mencintainya, Risma tidak lagi mau terus pasrah dan diam tanpa adanya tindakan. Masa depan anak anaknya sangat penting, setidaknya meskipun nanti lebih memilih wanita selingkuhannya, Anak anaknya tetap mendapatkan haknya sebagaimana mestinya. Dan untuk itu, Risma harus kuat dan juga harus cerdas.
"Mbak, boleh bikini aku teh hangat, gulanya sedikit saja ya." Risma menemui mbak Romlah di dapur yang sedang mencuci piring.
"Iya, Bu. Sekedap, saya bikini dulu." Sahut mbak Romlah sopan dan segera merebus air untuk membuat teh hangat kesukaan Risma dengan aroma melati.
Risma mendudukkan bokongnya di kursi dapur sambil mengupas buah apel yang ada di meja.
"Mbak, selama aku dirumah sakit, anak anak rewel gak?" sambung Risma sambil tangannya sibuk mengupas.
"Alhamdulillah, Bu!
Anak anak pinter, gak ada yang rewel. Dan mereka terus nanyain Bu Risma kapan pulangnya." sahut mbak Romlah mengatakan yang sebenarnya tanpa ada yang dikurangi atau ditambahi.
"Alhamdulillah. Makasih ya mbk, maaf kalau akhir akhir ini, sudah merepotkan mbak Romlah." balas Risma merasa sungkan dan menatap lembut sama pembantu yang sudah menemaninya selama ini.
"Bu Risma ini, ngomong apa to, kan memang sudah kewajiban saya to, wong saya disini bekerja. Dan saya itu sayang banget sama anak anak, mereka itu pinter dan baik. Jadi Bu Risma jangan merasa sungkan begitu." sahut mbak Romlah terharu. Risma lah yang selama ini menolongnya, memberi pekerjaan saat tidak tau harus bagaimana menyambung hidup setelah suaminya meninggal. Mbak Romlah menikah muda dan saat usia pernikahan nya memasuki tahun ketiga, suaminya meninggal karena kecelakaan kerja. Mbak Romlah menjadi janda di usia yang sangat muda.
Dan Risma kasihan lalu memberikan pekerjaan untuk bantu bantu dirumahnya sampai saat ini.
"Iya, mbak. Terimakasih ya!" sahut Risma lembut dengan wajah yang terlihat teduh.
"Minggu depan ikut saya ke Kediri ya mbak, nanti saya yang nyetir, mbak Romlah temani anak anak." sambung Risma megungkapkan apa yang jadi rencananya.
"Minggu depan ya,. Bu?
emm kenapa tidak besok saja atau lusa gitu." balas mbak Romlah ragu dan takut jika salah bicara.
"Ada apa mbak?
Sepertinya ada yang ingin mbak Romlah sampaikan?" Risma menatap penuh selidik wajah mbak Romlah yang berubah pucat. Ada takut terlihat jelas dari sorot matanya.
"Itu, Bu!
eem gimana ya, saya bingung ngomongnya." balas mbak Romlah bingung dan ragu, takut kalau apa yang akan dikatakan semakin membuat hubungan majikannya memburuk, tapi jika tidak dikatakan, mbak Romlah akan dihantui perasaan tidak tenang, karena tidak ingin membenarkan ulah pandu yang sudah berselingkuh.
"Katakan saja mbak, gak usah takut.
Apakah ini tentang pak Pandu?" sahut Risma menyelidik dan dijawab anggukan oleh mbak Romlah.
Risma menghembuskan nafasnya dalam. Sudah bisa menebak apa yang terjadi. Pasti pandu melakukan sesuatu yang membuat kelakuannya di lihat orang lain.
"Katakan saja, mbak. Gak usah sungkan apalagi takut. Mungkin mbak juga sudah tau seperti apa rumah tangga ku dengan Mas Pandu selama ini." sambung Risma dengan mimik yang sulit ditebak.
"Pak Pandu, di kamar telponan dengan seorang perempuan, Bu!
Pak Pandu berjanji dengan perempuan itu, kalau beliau akan menemuinya setelah, Bu Risma keluar dari rumah sakit." sahut mbak Romlah semangat.
Risma menghembuskan nafasnya kasar. Dan pikirannya langsung memiliki ide untuk menangkap basah suaminya dirumah istri mudanya.
"Makasih ya mbak, saya tidak menduga akan menjalani kisah seperti ini.
Tapi kalau ke Kediri besok, aku belum kuat bawa mobilnya sendiri." Sahut Risma sendu dengan tatapan matanya yang sayu.
"Saya tau apa yang ibu rasakan, yang sabar, insyaallah semua akan ada balasannya.
Apalagi ibu adalah seorang istri yang baik, patuh dan tidak pernah neko neko.
Kalau Bu Risma belum sanggup perjalanan jauh, nanti kapan kapan saja. Jangan dipaksakan kalau itu membuat kesehatan Bu Risma tidak baik." Balas mbak Romlah, panjang lebar.
"Tapi aku ingin segera membuat mereka menyesal , mbak!
Apa mbak Romlah ada pandangan, orang yang bisa menyetir, untuk dimintai tolong mengantarkan kita ke Kediri. Kalau ada besok sore kita berangkat." Sahut Risma yakin dan ingin segera menyelesaikan apa yang sudah direncanakan.
"Apa Bu Risma yakin?
Pikirkan kesehatan ibu, saya gak mau ibu nanti kenapa-kenapa." balas mbak Romlah ragu dan cemas akan kesehatan Risma.
Risma tersenyum dan berusaha menguatkan hatinya, meyakinkan diri kalau tidak akan lemah dan bisa melewati semua ujiannya dengan tabah.
"Insyaallah, Yakin mbak. Kan nanti dijalan aku bisa tiduran di mobil. Lagian aku juga harus segera mencari tau kebenaran tentang harta Mas Pandu, sebelum perempuan itu mengambil nya." sahut Risma menatap miris ke arah depan dengan pikiran yang tak menentu.
"Baiklah, besok akan saya tanyakan sama Waluyo ya Bu, ponakan saya. Dia sedang libur kuliah dan sekarang tinggal dirumahnya ibu. Anaknya baik dan bisa dipercaya, bawa mobilnya juga sudah jago." balas mbak Romlah yakin dan semangat.
Risma tersenyum dan mulai menyusun cara di otaknya, agar bisa mendapatkan informasi dari keluarga Pandu.
"Semoga, ibu dan saudaranya Mas Pandu tidak ada yang menyembunyikan kebenaran." batin Risma teriris dan tak terasa ada buliran bening jatuh membasahi wajahnya.
"Bu Risma menangis?
Maafkan saya, Bu!
Saya tidak bermaksud membuat ibu sedih begini. Harusnya saya tidak cerita kalau buat Bu Risma sedih seperti ini." Mbak Romlah panik dan merasa cemas melihat Risma yang mulai terisak.
"Gak papa mbak, bukan salah mbak Romlah.
Dikatakan atau tidak, rumah tangga ku dengan Mas Pandu sudah sakit sedari dulu, akunya saja yang bodoh yang tetap memilih diam diperlakukan dingin oleh suami sendiri.
Biarlah untuk kali ini saya menangis, menangisi nasib yang sudah begitu mengumbang ambingkan hati ini. Insyaallah setelah ini aku akan kuat tanpa ada lagi air mata." Sahut Risma datar dengan air mata yang menetes membasahi wajah mulusnya.
"Sing kuat, sing sabar ya, Bu!
Insyaallah, Alloh akan berikan balasan yang setimpal untuk semua perbuatan." balas mbak Romlah dengan mata yang sudah berkaca kaca.