Cinta Suamiku Untuk Wanita Lain

Cinta Suamiku Untuk Wanita Lain
kembalikan pada ayah


"Maafkan aku, Mas!


Aku janji tidak akan mengulangi lagi, dan akan patuh dengan semua perkataan kamu. Maafkan aku yang tak bisa mengendalikan diriku karena rasa cemburu ku yang besar.


Aku akan berusaha memperbaiki diri dan bersikap lebih baik lagi, ingatkan aku dan selalu bimbing aku untuk jadi istri yang baik buat kamu. Aku mencintaimu, Mas. Sangat mencintai kamu!" Isak Clara yang masih terduduk di lantai, menatap lekat pada Pandu yang mulai tersenyum.


"Istirahatlah, besok pagi aku akan kembali menjemputmu, aku akan mengantarmu pulang ke Kediri. Aku harus kembali, ada orang tua Risma dirumah. Aku harap kamu bisa mengerti.


Asalamualaikum." sambung Pandu, dan langsung berdiri, melangkah pergi meninggalkan Clara yang tak mampu berucap apa apa lagi, perih, tersiksa lahir batinnya. Pandu yang dikira akan menghabiskan malam dengannya, justru datang hanya untuk memberinya peringatan, lalu pergi memilih untuk bersama keluarga istri pertamanya.


"Haruskah sesakit ini mencintai kamu, Mas?" lirih Clara yang kembali terisak.


Menatap kosong kepergian Pandu yang sedikitpun tak menoleh lagi ke arahnya.


"Aku akan belajar menerima takdirku, takdir mencintai dengan segala luka di dalamnya.


Kamu tak perlu kembali lagi, Mas. Karena aku akan pergi, pulang sendiri malam ini juga.


Jika masih ada rasa itu di hati kamu untukku, kamu pasti akan datang mencari ku, tapi jika semua sudah hilang dan harus berakhir, baiklah! Aku akan belajar menerima dari sekarang, tanpa lagi mau bertanya dan meminta apapun lagi darimu. Hatiku sudah benar benar terluka dengan sikapmu hari ini, Mas!


Selama tinggal!"


Clara bangkit, dan berjalan pelan, mengemasi barang-barang miliknya.


Memesan taksi dan segera meninggalkan hotel, tanpa mau berpamitan pada Pandu. Mematikan ponselnya, dan membuang SIM card nya. "Sudah saatnya aku berbenah hati dan mulai kembali menjadi diriku yang dulu, menikmati hidup tanpa cinta yang menyiksa seperti saat ini. Aku ikhlaskan kamu, Mas!


Meskipun semua sangat sulit dan menyakitkan. Selamat tinggal!" batin lara menahan perih, meninggalkan duka dalam setiap langkahnya, pergi menyusuri jalanan yang disertai tetesan tetesan bening yang tak berhenti di sepanjang jalan.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Pandu memarkirkan mobilnya di garasi rumahnya, menyiapkan hati dan diri menghadapi sang mertua.


Semua memang kesalahannya, Pandu siap dengan segala kemungkinan yang terjadi.


"Asalamualaikum." Pandu berjalan memasuki rumah dan terlihat ibu juga ayah mertuanya sedang duduk di ruang keluarga menemani cucu cucunya menonton televisi acara kesukaan anak anak.


"Waalaikumsallm." Sahut semua yang ada di ruangan dan menoleh ke arah Pandu yang tengah tersenyum.


Pandu menyalimi takzim punggung tangan ayah ibu mertuanya.


"Pandu bersih bersih dulu gih, Bu! Pak!" pamit Pandu sopan dan segera berjalan ke arah kamar utama, membersihkan diri dan mengerjakan sholat isya terlebih dulu.


Nampak Risma sudah tertidur pulas di atas ranjang dengan wajah yang masih terlihat sedikit pucat.


Pandu menatapnya dalam. "Maafin aku, Ma! selama ini aku sudah banyak melukai hatimu. Mungkin perasaan ini terlambat untuk aku sadari.


Hingga semua sudah terlalu jauh dan bahkan sudah membuatmu lelah menghadapi aku yang egois. Maaf, hanya itu yang bisa aku katakan. Tapi aku janji, aku akan berusaha memberikan waktu untuk lebih banyak berama kamu dan anak anak. Akan aku tebus waktu yang sempat aku abaikan." ucap Pandu lirih dan tak terasa air matanya menetes, segera Pandu menghapusnya dan pergi meninggalkan Risma yang masih terlelap, menemui kedua mertuanya yang memang sengaja menunggunya untuk berbicara.


"Ayah sehat?" sambung Pandu membuka obrolan.


"Alhamdulillah, baik!" sahut Pak Damar tenang dan menatap Pandu dengan tatapan tak biasa.


"Pandu, ayah sudah tau semuanya. Terus terang, ayah kecewa sama kamu!


Apa yang kurang dari putri ayah, sampai kamu bisa menikahi perempuan lain dan menyakiti hati bahkan hidup putri ayah?


Katakan sama kami, kenapa kamu bisa melakukan ini pada putri kesayangan ayah ibu." Sambung pak Damar dengan masih bersikap tenang dan tegas menatap Pandu yang kini tengah menunduk dalam.


"Maafkan, Pandu. Ayah, Bu!


Pandu akui, Pandu salah. Dan Pandu janji akan memperbaiki kesalahan-kesalahan Pandu." sahut Pandu, berharap kedua mertuanya bisa memahami.


"Lalu, bagaimana dengan wanita yang kamu nikahi itu? Apa kamu masih ingin mempertahankan dia dan membiarkan Risma menanggung luka batinnya lebih lama lagi?


Jangan egois kamu, karena tidak ada satu perempuan pun yang rela membagi suaminya untuk wanita lain." sahut Bu Fatma kesal. Dan membuat pak Damar mengusap pundaknya lembut. "Sabar, Bu!" pak Damar mencoba mengingatkan sang istri lewat usapan lembut tangannya.


"Pandu tidak mungkin meninggalkan Clara begitu saja, Bu!


Pandu sudah menikahinya dan bertanggung jawab atas Clara, bagaimana Pandu meninggalkan Clara tanpa ada kesalahan yang Clara lakukan.


Tapi Pandu janji, Pandu akan bersikap adil." sahut Pandu yakin menatap manik mata kedua mertuanya yang terlihat mengerutkan wajah.


"Apa kamu yakin, bisa adil?" balas pak Damar tegas dengan tatapan tajam yang di arahkan pada Pandu yang terlihat salah tingkah.


"Insyaallah, Pandu akan berusaha." sahut Pandu berusaha bersikap tenang meskipun hatinya sudah tak karuan menghadapi kedua mertuanya yang terlihat sangat kecewa pada diri Pandu.


"Kembalikan pada ayah, jika kamu tak mampu membuat Risma bahagia. Karena ayah tidak rela, putri ayah tersiksa batin dan hidupnya, karena keegoisan kamu ini." sahut pak Danar tegas dengan nada sedikit keras.


Pandu mengusap wajahnya kasar, menghembuskan nafasnya dalam.


"Beri Pandu kesempatan Yah, Bu!" sahut Pandu lemah, tak punya cukup keberanian untuk membantah ucapan mertua yang begitu ia segani.


"Apa kamu lupa, dengan sumpah prajurit yang pernah kamu ucapkan?


Kamu sudah sangat keterlaluan Pandu. Bisa bisanya kamu menikah tanpa membicarakan dulu pada istri kamu. Dan sekarang, dimana perempuan yang kamu nikahi itu?" kembali pak Damar menyahuti ucapan Pandu dengan kemarahan yang berusaha beliau tahan.


"Clara ada di Kediri, Risma sudah tau dan kami sudah membicarakan nya." Sahut Pandu dengan menundukkan kepalanya.


"Selesaikan masalah kalian dengan kepala dingin. Dan pikirkan baik baik apa yang akan kamu putuskan dengan hubungan yang sudah tak sehat ini dalam rumah tangga kamu.


Ayah akan mawa Risma ikut pulang bersama kami, untuk sementara waktu." balas Pak Damar serius. Dan membuat Pandu langsung mengangkat wajahnya pias.