
Hanya lima belas menit, mobil Pandu,sudah berada di pelataran parkir hotel. Melangkah tegap dengan sejuta kecewa pada sosok Clara yang selalu dia puja, kini justru akan menghancurkan segalanya tanpa mau perduli bagaimana susahnya Pandu meraih karirnya.
Pandu tidak menuju ke kantornya, melainkan ingin menemui Clara dan meminta penjelasan pada istri keduanya, karena ulahnya bisa membuat karir dan harga dirinya hancur. Pandu sudah benar-benar kehilangan kesabaran menghadapi Clara yang begitu susah di atur dan itu membuatnya hilang respect dan mengikis perasaan cinta yang besar pada perempuan masa lalunya itu.
Pandu sudah ada didepan pintu kamar, dimana Clara tengah tertidur lelap. Mengetuk pintu hingga berulang namun tak juga ada tanda tanda pintu dibuka. Pandu mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celananya. Dan memencet nomor Clara, hingga baru panggilan ke tiga telepon tersambung.
"Aku ada di depan, buka pintunya." tanpa basa basi Pandu langsung meminta Clara untuk membuka pintu dengan nada datarnya.
Dengan tergesa, Clara berlari menuju pintu dan membukanya dengan senyuman yang dibuat semanis mungkin. Namun sedikitpun Pandu tidak mau menatap wajah Clara. Langsung melangkah masuk dan mengambil duduk di atas kasur dengan memasang wajah dingin. Tak ingin lagi perduli dengan senyum yang dulu selalu menggoda.
"Mas! Aku kira kamu tidak akan menemui ku. Aku kangen banget sama kamu!" Clara duduk disebelah Pandu dan menyenderkan kepalanya manja di bahu milik suaminya. Tak merespon dan terkesan dingin. Hingga Clara mendongakkan kepalanya, menatap lekat wajah suaminya yang terlihat menahan amarah.
"Kamu kenapa, Mas?" tanya Clara tanpa merasa bersalah.
"Keterlaluan kamu, Clara!
Apa yang kamu lakukan tadi di kantor ku?
Apa kamu tidak memikirkan akibat dari ulahmu itu?
Jika kamu memaksa masuk dan membuat ulah, karir dan harga diriku akan hancur, dan bukan itu saja, ibuku juga akan terluka karena aku sudah membuat malu keluarga karena dipecat secara tak hormat. Bagi abdi negara sepertiku, menikahi perempuan yang tak meminta persetujuan istri pertama itu tidak dibolehkan, kami tidak boleh mengkhianati sumpah yang sudah terucap. Tapi kamu, tidak pernah mau mendengarkan kata kataku, dan malah berbuat nekad yang akan membuatku hancur!
Apa mau kamu sekarang, katakan?" sahut Pandu dingin dengan wajah yang sudah memerah, rahangnya mengeras penuh amarah.
Clara menatap Pandu tak percaya, hanya karena dia ingin mendapat pengakuan, Pandu sudah sangat marah, bahkan tak mau menatapnya lagi.
"Apa salahku, Mas?
Aku hanya ingin diakui, aku hanya ingin mendapat hak dan kedudukan sama seperti istri kamu itu. Aku lelah, aku bosan terus terusan seperti ini. Aku ini istrimu juga, aku berhak mendapatkan hak yang sama seperti Risma! Apa aku salah jika menginginkan itu semua, Mas?" teriak Clara tak terima dengan sikap Pandu yang sudah memojokkannya.
"Keterlaluan kamu, Clara! Jangan egois dan merasa diperlakukan tidak adil. Kamu harus tau menempatkan posisi kita masing masing. Aku ini anggota, ada peraturan yang harus aku patuhi. Pahami itu! Kenapa sih, sulit sekali membuat kamu mengerti?" teriak Pandu penuh dengan penekanan, menatap nyalang ke arah Clara yang tengah tersenyum sinis.
"Hebat kamu, Mas!
Setelah aku luluh dan menerima kamu menikahi ku sebagai istri kedua. Kini kamu berbalik menyalahkan aku, hanya karena aku ingin juga di akui dan menerima hak yang sama seperti istri pertama kamu yang serakah itu. Harusnya kamu bisa bersikap adil dan tidak memberikan semuanya untuk dia, lalu aku, kamu anggap apa? Aku dapat apa?
Jahat kamu, Mas!" teriak Clara masih dengan egoisnya dan tak mau mengakui kesalahannya.
"Clara! Cukup!
Jaga bicaramu, jangan buat aku hilang kendali karena sikapmu itu.
Apa aku tidak memberimu nafkah yang cukup, sehingga kamu bisa bicara seperti itu?
Apakah uang sepuluh juta kurang untuk kebutuhan kamu satu bulan?
Jangan pernah membuatku mundur dan memilih melepaskan pernikahan ini, Clara. Rubah cara bicara dan sikapmu itu, sebelum aku benar benar hilang rasa karena ini." Sahut Pandu tersulut emosi dengan tatapan tajam dihujamkan pada Clara yang langsung mematung mendengar kalimat demi kalimat yang terlontar dari mulut Pandu.
"Mas! Kamu?" Clara tak lagi bisa berkata apa apa lagi, tubuhnya luruh, merosot ke lantai, air matanya mengalir deras seiring rasa sakit dengan ucapan sang suami.
"Tega kamu, Mas!
Aku hanya memintamu adil, tapi kamu memperlakukan aku seperti ini, aku tidak menyangka, cinta yang pernah kamu ucapkan nyatanya semu hanya karena egomu yang begitu memuja istri tuamu. Aku tidak terima, Mas! Aku sakit hati dengan sikapmu ini." Isak clara dengan terus mengutarakan apa yang ada dipikirannya dan itu semakin membuat Pandu semakin kesal, karena Clara tak mengerti dengan apa yang sudah diucapkan nya sedari tadi, "benar benar hati batu." bisik hati Pandu jengah pun kecewa yang kian menjalar di relung hati terdalamnya.
"Kamu memang benar benar sulit menerima apa yang aku sampaikan Clara! Jujur aku kecewa dengan sikapmu ini, jangan salahkan aku, jika aku berpikir mundur dan harus mengakhiri pernikahan kita. Aku benar benar menyerah dengan sikap keras kepalamu itu, sebagai istri kamu tidak menghargai aku sama sekali sebagai suami kamu."
Clara terus terisak, berusaha mencerna setiap kalimat yang Pandu lontarkan. Hatinya kian perih, namun tak ingin melepaskan diri dari Pandu yang dia cinta. Dengan menekan ego, Clara memilih mengalah dan menerima apapun keputusan Pandu, karena dirinya belum siap jika harus menjadi janda dalam waktu satu bulan pernikahan. Belum lagi, hatinya juga masih sangat menginginkan Pandu yang begitu sempurna di matanya.
"Apa kamu serius dengan ucapan kamu, Mas?"
Clara berusaha bersikap tenang dan mulai melunak, takut Pandu akan benar benar mengakhiri hubungan diantara mereka.
"Iya, aku sangat serius. Karena bagiku, kamu sudah melebihi batasan kamu sebagai seorang istri. Taat dan patuh mu tidak ada untukku. Padahal kamu tau, kewajiban seorang istri itu seperti apa seharusnya. Berpikirlah dewasa, belajarlah bersikap bijak, Clara!
Jika kamu masih ingin mempertahankan pernikahan kita, rubah sikapmu itu, hargai Risma sebagai istriku bukan sebagai saingan kamu!
Untuk nafkah, kamu tidak perlu khawatir, aku tau apa yang harus aku lakukan untuk kalian. Dan aku akan berusaha adil untuk itu." Sambung Pandu yang masih dengan ekspresi datar nya.
"Maafkan aku, Mas!
Aku janji tidak akan mengulangi lagi, dan akan patuh dengan semua perkataan kamu. Maafkan aku yang tak bisa mengendalikan diriku karena rasa cemburu ku yang besar.
Aku akan berusaha memperbaiki diri dan bersikap lebih baik lagi, ingatkan aku dan selalu bimbing aku untuk jadi istri yang baik buat kamu. Aku mencintaimu, Mas. Sangat mencintai kamu!" Isak Clara yang masih terduduk di lantai, menatap lekat pada Pandu yang mulai tersenyum.
"Istirahatlah, besok pagi aku akan kembali menjemputmu, aku akan mengantarmu pulang ke Kediri. Aku harus kembali, ada orang tua Risma dirumah. Aku harap kamu bisa mengerti.
Asalamualaikum." sambung Pandu, dan langsung berdiri, melangkah pergi meninggalkan Clara yang tak mampu berucap apa apa lagi, perih, tersiksa lahir batinnya. Pandu yang dikira akan menghabiskan malam dengannya, justru datang hanya untuk memberinya peringatan, lalu pergi memilih untuk bersama keluarga istri pertamanya.
"Haruskah sesakit ini mencintai kamu, Mas?" lirih Clara yang kembali terisak.