Cinta Suamiku Untuk Wanita Lain

Cinta Suamiku Untuk Wanita Lain
Pandu bertemu dengan Dania


"Apa ini?


Kenapa kalian menutupi hal sebesar ini dariku?" Pandu tak kuasa menahan perasaan kecewanya, dan semua itu membuatnya semakin kalut. Apa lagi ketika Risma harus tau semuanya, apakah dia sanggup untuk menerima kenyataan yang ada. Tapi sebagai ayah kandung, Pandu juga tidak bisa abai dengan keberadaan Dania.


"Astagfirullah, astagfirullah!" Pandu terus melafazkan kalimat Istighfar untuk menenangkan hatinya yang tengah kacau oleh kenyataan yang baru saja diketahuinya.


"Apa aku boleh menemui anakku?" tanya Pandu lirih, tubuhnya mendadak tak memiliki tenaga, pikirannya benar benar kacau.


Namu hatinya tak ingin mengingkari kehadiran Dania dalam hidupnya, darah dagingnya.


"Silahkan!


Tapi, aku tidak ingin, kamu mengambil Dania dariku. Dia anakku, aku yang merawatnya dari kecil, aku terlanjur menyayangi Dania seperti anakku sendiri. Cukup kita saja yang mengetahuinya, karena Risma maupun Dania akan terluka dengan kenyataan ini.


Aku akan membebaskan kamu menemui Dania kapanpun, sebagai om nya, bukan papanya! karena Dania hanya tau, akulah papanya." Sandi memberi penekanan dalam setiap kalimatnya, membuat Pandu mengerutkan wajahnya, ada rasa tak terima dalam hatinya.


"Tapi aku lah papa kandung Dania. Kamu jangan egois Sandi! Aku bukan abai pada Dania, tapi memang karena aku tidak tau Clara hamil anakku! Jadi jangan egois!" bentak Pandu tak terima, harga dirinya terluka saat Sandi mengatakan dirinya yang lebih berhak pada Dania.


"Kamu yang jangan egois!


Ingat Risma! Pikirkan anak anakmu!


Apa yang akan terjadi dengan mereka?


Apa yang akan mereka rasakan setelah mengetahui kebenaran ini, apa kamu sudah siap dengan semua itu, ha?" balas Sandi tak kalah emosinya, geram dengan sikap egois Pandu, yang tak bisa berpikir jernih disaat situasi rumit yang menyesakkan dada.


"Mengertilah! Ini tidak mudah!


Aku tidak akan batasi kamu dengan Dania, silahkan temui dia kapanpun kamu mau, tapi jaga hatinya, jaga mentalnya. Dia masih kecil, belum bisa memahami keadaan ini. Dan kamu juga harus memikirkan hati istrimu, kesehatan istrimu, dan juga perasaan anak anakmu. Berpikirlah jernih, Pandu! Jangan besarkan ego mu itu!" sambung Sandi dengan dada naik turun karena kesal dengan keegoisan Pandu dan takut kehilangan cinta Dania yang sudah dianggapnya anak kandung.


Pandu terdiam, menunduk dalam. Hati dan pikirannya benar benar kacau.


Air matanya jatuh seiring penyesalan dan kecewa yang hadir menyelimuti hatinya.


"Baiklah! Aku akan menahan diri untuk tidak mengatakan apapun tentang Dania. Tapi hari ini, biarkan aku ikut denganmu. Aku harus bertemu putriku, aku ingin melihatnya."


Sahut Pandu dengan suara bergetar, dan Sandi langsung mengiyakan keinginan Pandu untuk menemui Dania, karena Clara tengah dirawat di rumah sakit, jadi Pandu diijinkan bertemu Dania dirumahnya.


"Baiklah! Tapi kamu tidak boleh lepas kendali. Dania hanya tau aku papa nya, dan kamu om nya. Ingat itu!" tekan Sandi dengan sangat tegas.


Pandu hanya bisa mengangguk pasrah.


Pandu mengirim pesan pada Risma, untuk memberi tahu kalau dia akan pulang terlambat karena ada banyak pekerjaan. Padahal dia harus ikut Sandi ke Surabaya untuk bertemu putrinya, Dania!


Setelah membayar pesanannya, Sandi dan Pandu pergi masuk ke dalam mobil masing masing menuju Surabaya, dengan melewati jalan tol untuk mempersingkat waktu.


Hanya butuh waktu dua jam lebih sedikit Pandu, Sandi sampai Surabaya.


Pandu mengiringi mobilnya Sandi dari belakang dengan perasaan yang ia tak pahami, bahkan pikirannya sangat kacau.


Memasuki perumahan elit, dan berhenti di salah satu rumah mewah.


Pandu terpaku di dalam mobilnya, saat kedua matanya melihat gadis kecil tengah bermain dengan seorang wanita yang begitu ia kenal, Bu Desmita, mantan mertuanya.


"Ibu!


Apakah itu anakku, Dania?" lirih Pandu menatap nanar ke arah mereka.


Bu Desmita yang menyadari kedatangan Pandu, hanya bergeming dengan wajah dinginnya.


Hingga Sandi mengetuk pintu mobilnya Pandu, dan memintanya turun.


Pandu keluar dari dalam mobilnya dengan wajah kuyu dan dada yang berdebar kencang. Benar benar sesak, saat melihat Dania dari dekat, wajahnya begitu mirip dengannya.


Sedangkan Dania, hanya diam memperhatikan Pandu di gendongan Sandi. Karena Dania langsung lari mendekati Sandi saat melihat kedatangan papanya.


"Dania, ini om Pandu. Yuk kasih salam dan cium tangan om Pandu, Nak!" Sandi meminta Dania untuk menyapa Pandu.


"Hallo om Pandu. Asalamualaikum!" Danu memberi salam dengan menyapanya akrab, senyuman dan matanya begitu mirip Pandu, hingga Pandu tak bisa menahan diri untuk memeluk gadis kecil itu.


"Waalaikumsallm, Dania sayang!


Om Pandu senang sekali bisa ketemu sama Dania!" Pandu meraih Dania dari gendongan Sandi dan memeluknya erat, tangisnya pecah hingga membuat Dania kebingungan. Namun dengan cepat Pandu berusaha menguasai dirinya, agar tidak membuat Dania semakin bingung karena sikapnya itu.


"Om Pandu nangis?" tanya Dani polos dengan tatapan heran.


"Gak kok, om cuma bahagia ketemu Dania." sahut Pandu mencari alasan.


Pandu mendekati Bu Desmita, dan menyalaminya takzim. "Apa kabar, Bu?" sapa Pandu lirih.


"Masuklah, kita bicara di dalam." Sandi mengajak Pandu memasuki rumahnya, sedang Dania masih dalam gendongan Pandu, Pandu tak ingin melewati moment bertemu dengan anaknya yang selama ini tidak ia ketahui.


Sandi dan Bu Desmita memberi Pandu waktu untuk bercengkrama dengan anaknya, meskipun dalam pengawasan mereka, agar Pandu tidak kelepasan dalam bicara.


Hampir dua jam, Pandu menghabiskan waktu bersama Dania, bermain dan bicara banyak hal sesuai dengan usia Dania. Sampai Dania harus pergi mandi, karena hari sudah sore.


Saat Dania tengah mandi dengan susternya, Pandu, Sandi dan Desmita mengobrol serius.


"Sekarang kamu sudah tau siapa Dania. Tolong jaga rahasia ini. Demi kebaikan semua orang, terutama rumah tanggamu." Bu Desmita mengawali obrolan dengan nada dingin.


Pandu terdiam, berusaha menenangkan hati dan pikirannya.


"Ijinkan saya, memberikan nafkah untuk Dania, sebagai bentuk tanggung jawab seorang ayah untuk anaknya.


Aku tidak bermaksud untuk merendahkan kamu, Sand! Aku tau kamu mampu dan cukup. Tapi ini sebagai tanggung jawabku untuk putriku." Pandu bicara dengan nada tegas dan tak ingin terpancing dengan sikap Bu Desmita yang begitu kentara tidak menyukai kehadirannya. Pandu berusaha tidak perduli itu semua.


"Baiklah, buatkan saja rekening kusus untuk Dania. Kaku bisa mentransfer langsung ke rekening itu. Dan aku akan menyimpannya untuk Dania, suatu saat dia akan tau dan membutuhkan uang itu." sahut Sandi menahan keegoisannya sebagai laki laki.


"Terimakasih, dan ijinkan aku mengirimkan sesuatu untuk Dania s bagai hadiah. Aku berharap kalian tidak membatasi pertemuan kami. Bagaimanapun Dania anakku, maka aku juga akan memperlakukan Dania seperti anak anakku yang lain dalam segala hal." balas Pandu yakin dan. begitu tegas. Bu Desmita hanya diam menyimak saja. Sedangkan Sandi tak bisa mengelak, karena Pandu memang memiliki tanggung jawab seorang ayah pada Dania. Yang penting Pandu tetap bisa menyimpan kebenaran yang ada.


"Baiklah, bagaimanapun kamu ayahnya Dania.


Tapi tolong jaga rahasia ini, sampai saat itu tiba.


Bersabarlah dan jangan egois, demi hari banyak orang." sahut Sandi serius menatap dalam ke arah Pandu yang terlihat berkaca kaca.


"Setelah selesai mandi, dan Dania sudah dandan begitu cantik dan wangi. Membuat Pandu semakin tak kuasa menahan rasa sesak di hatinya.


Perasaan bersalah itu muncul, karena tak ada disamping putrinya di masa masa bayinya.


Mau tidak mau Pandu harus pamit pergi, jauh dari Dania. Untuk mengobati rasa rindunya, Pandu mengajak Dania foto bareng dengan berbagai pose, lalu menyimpannya di file kusus.


"Aku pamit pulang, terimakasih sudah menjaga dan merawat Dania, hingga dia tumbuh begitu cerdas dan sehat!" ucap Pandu terbata menahan sesak di dadanya. Sedangkan Bu Desmita memilih masuk kedalam menemani Dania makan malam.


"Sana sama, kita berdua ayahnya Dania. Biarkan ini tetap seperti itu.


Doakan Clara semoga segera sadar dari komanya." balas Sandi dengan menurunkan egonya.


"Insyaallah, semoga dia cepat sehat.


Aku pamit dulu ya, Asalamualaikum!"


Sandi menatap kepergian Pandu dengan perasaan lega, karena sudah mengatakan apa yang harus dikatakan.


Meskipun hatinya juga harus menahan perih, namun Sandi sudah berjanji untuk tidak lagi egois. Saat ini hidupnya untuk anak dan istrinya, bukan untuk meratapi luka masa lalunya.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)


#Coretan pena Hawa (ongoing)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)


#Sekar Arumi (ongoing)


#Wanita kedua (Tamat)


New karya Hawa


#Negeri dongeng Alisia


#Kasih sayang yang salah


#Cinta berbalut Nafsu


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️


Happy ending ❤️